
Nadia menghampiri Yura yang tengah sibuk mengurus putra dan putrinya.
Meski sibuk di kantor Yura selalu datang lebih awal untuk mengurus 2 bayinya, sementara sang suami yang menggantikan pekerjaan yang di kantor. Nadia membantu menggendong salah satu dari mereka, sambil membantu memakaikan mereka pakain keduanya berbincang-bincang.
"Shena, boleh aku tanya sesuatu padamu?"
"Tanya saja," sahut Yura.
"Apa kau sering melakukan hubungan suami istri?"tanya Nadia.
"Sering sekali, bahkan dalam satu bulan cuma sekali libur, " jawab Yura asal, padahal setelah kelahiran si kembar mereka sangat jarang melakukannya.
"Kenapa tanya?" Yura balik.
"Ah tidak apa-apa. Apa kau tak terasa sakit dengan belalai suamimu yang besar seperti itu?"tanya Nadia dengan sedikit bergidik.
Haha
"Ya sakit lah, tapi mau bagaimana, resiko jadi istri," cetus Yura iya tahu pertanyaannya Nadia mengarah ke mana.
"Seperti apa rasanya?" tanya Nadia.
"Ya seperti kemasukan belalai gajah," sahut Yura sambil tersenyum.
Glek ..Nadia menelan ludah kasarnya membayangkan apa yang baru saja dikatakan oleh Yura.
Sementara Yura tersenyum melihat sepupunya itu terlihat khawatir.
''Apa punya Mas Zen juga sebesar itu?" tanya Nadia dengan wajah yang sedikit memucat
"hahaha tentu saja, berhati-hatilah terhadap Zen, kau lihatkan badannya kekar dan besar seperti itu pasti belalainya juga besar, "sahut Yura.
Nadia semakin khawatir.
Setelah itu Nadia tak lagi bertanya ia membantu Yura memandikan dan memakaikan pakaian keponakannya.
"Aku kerjain kau!' batin Yura tersenyum geli.
Leon baru pulang dari kantor ia langsung menghampiri kamar.
Melihat kedalam Leon, Nadia yang awalnya menggedong Nessa langsung meletakkan Nessa di atas tempat tidur.
"Sheina, suami mu datang, aku permisi ya," ucap Nadia.
Nadia terus saja menundukkan wajahnya ketika berpapasan dengan Leon.
Leon mengamati Nadia yang berjalan melewatinya tersebut.
"Mommy, Nadia kenapa?"
"Gak tau, Sawan kali habis melihat belalai mu," cetus Yura.
Leon mengarukan kepalanya yang tak gatal.
"Kasihan, baru melihatnya saja sudah sawan, apalagi kalau merasakannya, bisa kejang-kejang dia," cetus Leon.
Haha, suami istri yang usil itupun mentertawakan ke polosan Nadia.
"Daddy kau bawa Nessa bermain, aku belum mandi," perintah Yura.
Meskipun Nessa cengeng, tetapi Leon memang sangat menyayangi putrinya itu, dengan senang hati ia menghampiri sang putri yang terlihat lucu dan menggemaskan yang sedang tiarap.
Apalagi Nessa saat itu menggunakan gaun serba pink dengan bandana berbentuk love yang melingkar di kepalanya.
Sementara Nathan saat itu baru saja tertidur.
"Nessa sayang! Yuk ikut daddy main!"
Leon menghampiri Nessa. Baru melihat Leonard Nessa sudah menangis.
Oek oek oek, bukannya tak menyukai Leon, tapi Nessa memang manja jika bersama Daddynya.
"Cup cup, diam ya. Yuk kita jalan ke taman di belakang rumah, kamu mau kan ?" tanya Leon pada Nessa.
__ADS_1
Oek oek Nessa menangis, seolah itu caranya berkomunikasi pada daddy jika ia tak ingin jalan ke taman di belakang rumah mereka.
"Gak mau ya, lihat koleksi ikan hias daddy aja Yuk?"
Oek oek..
"Gak mau, jadi kita kemana ?"
Oek oek Nessa masih menangis.
"Daddy! di bujuk dong Nessa-nya! Nanti Nathan bangun, mommy gak jadi mandi!"seru Yura dari dalam kamar mandi.
"Iya mommy!"
Oek oek Nessa masih menangis sampai mereka keluar dari kamar. Sambil menggendong Nessa Leon memikirkan cara untuk membujuk putrinya tersebut.
Oek oek
"Oh daddy tau, kita keliling kota naik Lamborghini daddy saja, mau?" tanya Leon pada Nessa.
Seketika itu juga Nessa berhenti menangis, ia langsung menjadi tenang dalam pelukan Leon.
Leon menghempaskan napas panjang
"Astaga, masih kecil saja putriku ini sudah matre," ucap Leon sambil menggelengkan kepalanya.
Sheon melihat Leon yang menuju ke arah garasi. "Daddy mau kemana?"tanya Sheon.
"Mau bawa adik jalan-jalan keliling kota naik Lamborghini," sahut Leon.
"Sheon mau ikut?"tanya Leon.
"Gak, Sheon bantu mommy jaga Nathan saja, kasihan mommy gak ada yang bantuin-nya."
"Loh, Onty Nadia kan ada?"
"Onty mau pergi, tuh sudah di tunggu sama uncle Zein."
Leon tersenyum, "Anak daddy memang pintar. Kamu jaga adik ya, lihatin mommy siapa tau mommy butuh bantuan,"ucap Leon sambil mengusap putranya itu.
Karena tak ada yang menyetir mobil kesayangannya.
Leon menghampiri Zein, yang sedang menunggu Nadia bersiap di ruang tamu.
"Zein, tolong aku sebentar!"
"Ada apa Tuan?"
"Zein tolong, bawa mobil ku! Nessa minta jalan-jalan keliling kota naik Lamborghini."
"Baik Tuan."
***
Nadia kembali ke kamarnya.
"Ih apa benar yang dikatakan oleh Sheina ya. Jika sudah menikah belalainya mas Zen setiap hari akan keluar masuk, bagaimana kalau gak muat, pasti sakit banget," gumamnya.
Nadia jadi down mendengar penuturan Yura tersebut.
Sebuah panggilan masuk terdengar di telinga Nadia. Ia langsung meraih Handphonenya.
Halo Sayang, kamu siap-siap ya Sebentar lagi aku jemput, ucap Zen.
'Iya," sahut Nadia singkat .
"Loh kenapa kok sepertinya tidak bersemangat? kamu sakit ya ?" tanya Zain ketika mendengar suara Nadia yang terlihat datar.
"Nggak papa Mas," jawabnya.
"Sudah aku dalam perjalanan kamu siap-siap ya."
"Iya Mas," Nadia pun menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Nadia berdiri bangkit dan berdiri di depan cermin, bayangan milik Leon masih nari-nari di pelupuk matanya dan itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Nadia.
Setelah selesai bersiap-siap Nadia turun menemui Zein.
Ekspresi Nadia terlihat begitu datar, seperti orang yang sedang bersedih.
"Kamu kenapa ?" tanya Zain.
"Kenapa tidak bersemangat, padahal Sebentar lagi kita akan menikah?" tanya Zein lagi.
Mereka menuju mobil dan masuk kedalam mobil.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya gugup," ucap Nadia.
"Katakan saja apa yang membuatmu tidak bersemangat seperti ini, apa aku terlalu memaksamu ?" tanya Zein sambil menyetir mobilnya keluar dari arah parkiran.
Nadia melihat ke arah jendela sambil menggigiti kukunya.
"Sayang, kau kenapa sih?" tanya Zein.
Nadia hanya diam.
Zein meraih pundak Nadia dan mengusapnya.
"Aku ini calon suamimu, kau harus terbuka jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu atau apapun itu," ucap Zein.
Nadia melirik ke arah Zein .
"Jika kau tanya sesuatu, apa kau akan marah ?" tanya Nadia.
"Tentu tidak, kau nervous ya, karena Minggu depan kita akan menikah?"
"Ehm Mas, jika kita menikah apa setiap hari kita akan melakukan hubungan suami istri?" tanya Nadia dengan wajah polosnya.
"Ehm mungkin," sahut Zein sambil tersenyum mesum.
Nadia mengkerucutkan bibirnya.
"Katanya kau tak mau menyakiti ku," ucap Nadia bernada kecewa.
"Loh memang iya aku takkan pernah menyakitimu," sahut Zein heran.
"Tapi jika belalai mu masuk setiap hari, itu sama saja menyiksa ku," cetus Nadia.
"Haha, jadi itu rupanya yang membuatmu murung begitu," cetus Zein sambil tertawa-tawa.
"Sayang, kau tenang saja. Itu tak akan sakit," imbuh Zein sambil tertawa kecil.
"Masak sih? tapi Sheina bilang rasanya sakit seperti kemasukan belalai gajah."
Hahaha tawa Zein semakin besar.
"Dia hanya mengerjai mu! jika rasanya sesakit itu, mana mungkin dia punya anak sampai tiga," cetus Zein.
Nadia berpikir sebentar.
'Iya juga ya, Sheina dan Leon terlihat bahagia, tak sedikit terlihat tersiksa,' batin Nadia.
"Tenang saja, aku akan membuatmu ketagihan, mau coba sekarang?"tanya Zein sambil mengulum senyumnya.
"Ihs, nanti saja, aku tak tahu siapa yang benar antara kita berdua," cetus Nadia.
***
Yura menceritakan pada Leon tentang pertanyaan Nadia.
"Lalu kau jawab apa Sayang?"tanya Leon.
"Ya aku jawab rasanya sakit seperti kemasukan belalai gajah, Haha."
Hahaha, Leon ikut tertawa.
"Pasti Nadia trauma duluan. Semoga saja dia tak membatalkan pernikahannya karena itu," cetus Leon.
__ADS_1
Haha " Semoga saja," sambung Yura.
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya. Terima kasih.