
Nadia tersadar ketika merasakan tubuh ibunya terasa hangat.
Dilihatnya ke arah samping, ternyata Bu Rita sang Ibunda tengah menggigil.
"Ma, mama kenapa, Ma ?" tanya Nadia dengan khawatir
Nadia coba menepuk-nepuk pipi mamanya agar tersadar.
" Mah bangun Mah, bangun mah," ucap Nadia berkali kali.
Karena panik, ia mencoba merasakan denyut nadi di pergelangan tangan mamanya.
"Denyut nadinya lemah sekali," gumam Nadia.
"Bangun Ma.. bangun…," panggil Nadia untuk membuat Bu Rita agar tersandar . Namun ibunya masih juga tak membuka mata.
"Ma, jangan bikin aku panik Ma, bangun Ma."
Nadia semakin khawatir.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Nadia bermonolog sambil menjambak rambutnya .
"Ma,bangun Ma!"panggil Nadia dengan nada hampir menangis.
Nadia pun coba untuk mencari keberadaan kotak obatnya.
Tapi kotak obat tersebut kosong. Bahkan tablet penurun panas pun tak ada .
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan. "
Nadia kembali lagi melihat mamanya di dalam kamar.
"Aku tak mungkin membiarkan mama seperti ini.Aku harus cari bantuan!"
Karena tak mempunyai siapapun di rumah, Nadia segera berlari mencari pertolongan .
Di hari yang masih gelap itu, Nadia berjalan keluar rumah menghampiri Jalan Raya.
Setibanya di jalan raya Nadia mencoba memberhentikan beberapa pengemudi mobil dengan melambaikan tangannya. Namun, tak ada satupun yang berhenti untuk sekedar bertanya.
Maklum saja waktu kala itu baru pukul tiga pagi, sementara kawasan tempat tinggal Nadia begitu sepi.
Nadia tetap berusaha menghentikan mobil-mobil yang melintas, karena hanya itulah cara agar ia bisa menolong mamanya.
Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil Nissan x-trail berwarna hitam dengan kecepatan sedang, perlahan mendekatinya.
Nadia dengan nekat berjalan hampir ke tengah jalan untuk menghadang mobil tersebut .
Sretttt suara mobil berhenti karena mengerem secara mendadak.
"Hei ! kenapa kau menghentikanku ?" tanya pria itu bernada kesal.
"Maaf Mas, bisakah anda membantu saya ?"tanya Nadia sambil menakup dua tangannya.
"Kenapa ?" tanya pria itu yang ternyata adalah Zein.
"Tolong saya Mas, mama saya sakit .Saya butuh kendaraan untuk pergi ke rumah sakit terdekat," ucap Nadia dengan sedikit memelas.
Zein menepikan mobil ke bahu jalan.
Zen melihat wanita itu yang terlihat panik karena itu ia berniat membantunya.
"Baiklah, dimana rumah mu?" tanya Zein sambil membuka pintu mobilnya.
"Terima kasih, kalau begitu ayo ikut saya mas ."
Dengan tergesa-gesa Nadia menuntun menuju rumahnya.
__ADS_1
"Silakan masuk Mas ,"ucap Nadia sambil membuka pintu yang tak dikunci dengan memperhatikan keadaan rumah itu. Tak ada satu harta benda yang ada di rumah itu .
"Di sini Mas," ucap Nadia sambil menunjukkan kamar mamanya.
Zein pun menghampiri ruangan tersebut.
Zen merasa miris melihat seorang wanita paruh baya yang terbaring dengan wajah yang pucat pasih.
"Tolongin mama saya Mas," pinta Nadia dengan sedikit memelas.
Tanpa berpikir lagi, Zen mengangkat tubuh Bu Rita, kemudian membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Mereka langsung menuju mobil,kebetulan saat itu Welly yang baru pulang melihat Zen dan Nadia dari kejauhan.
" Zein? Kenapa Zen ada di sini."
"Wah kalau begitu gawat, Jika dia menemukan ku."
Welly yang ketakutan sembunyi di rerumputan Tetangga.
Zen meminta Nadia membuka pintu belakang mobilnya, kemudian ia meletakkan Bu Rita di atas jok mobil.
"Masuk," ucap Zein pada Nadia .
Setelah Nadia masuk, Zen kembali ke kursi kemudi,dengan segera ia membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil Bu Rita terus menggigil. Ia mengigau dan meracau , hal itu membuat Nadia semakin khawatir.
"Mah sadar mah," ucap Nadia sambil mengguncang pelan tubuh mamanya.
"Mama kamu sakit apa ?" tanya Zein sambil menoleh sebentar ke arah belakang.
"Mama mengalami infeksi saluran pencernaan."
"Oh kalau begitu kenapa tidak dari kemarin dibawa ke rumah sakit ?"
"Kamu hanya tinggal berdua di rumah itu ?" tanya Zein kembali.
Nadia kembali diam sambil menggelengkan kepala
"Ya sudah, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
Sekitar 30 menit mereka tiba di klinik kecil, maklum saja, rumah yang Nadia tempati berada di pinggiran kota .
Zen kembali mengangkat tubuh bu Rita menuju ruang perawatan IGD.
Ia pun menunggu Bu Rita sampai selesai dilakukan pemeriksaan .
Kemudian seorang suster menghampiri Nadia.
"Maaf maaf mbak, sepertinya ibu anda harus dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Nadia semakin panik.
" Memangnya kenapa suster ?"tanya Nadia.
"Karena kondisi ibu anda sudah semakin parah, jika terus dibiarkan dan tidak mendapat perawatan yang intensif, nyawanya bisa terancam," ujar suster tersebut menjelaskan.
Saat itu Nadia hanya bisa meneteskan air matanya, karena sepeser uang pun, ia tak punya.
Melihat itu zen yang duduk di kursi tunggu segera menghampirinya.
"Ada apa? bagaimana dengan keadaan ibumu?" tanya Zain .
Nadia tak menjawab bola matanya berkaca-kaca
Karena tak mendapat respon, Zain langsung menghampiri seorang suster, kemudian menanyakan keadaan pasien yang dibawanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Nadia melihat Zein menuju kasir , setelah itu ia menghampiri Nadia.
"Ayo kita bawa ibumu ke rumah sakit yang lebih besar," ucap Zain dengan nada tegasnya.
Nadia menoleh ke arah Zen dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Tapi… tapi .."
"Ah sudahlah, kita bawa dulu nyawa ibumu lebih penting ," ucap Zein.
"Masalah biaya, nanti biar aku yang ngurus ."
Nadia merasa semakin tak enak hati dengan pria yang baru saja ia kenal itu, tapi apa boleh buat. Jika tidak menerima uluran tangan dari Zein, mungkin saja ibunya bisa tidak tertolong.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara parau.
Karena keadaan bu Rita tak memungkinkan untuk dibawa dengan mobil pribadi. Zen menyewa mobil ambulance untuk membawa ke rumah sakit terdekat.
" Kau pergilah dengan ambulans itu, aku akan menyusul dari belakang," ucap Zein.
"Iya Mas."
Nadia ikut masuk mobil ambulans tersebut, sementara Zein mengiringi dari belakang.
Zen yang baru saja dari lokasi proyek begitu lelah, rasanya ingin istirahat.Namun dia tak bisa membiarkan orang lain yang membutuhkan pertolongan nya.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit yang ada di kota
Bu Rita langsung mendapatkan tindakan dokter spesialis sesampainya di ruang UGD.
Sementara Zein mengurus administrasinya.
Setelah mendapatkan penanganan Bu Rita dibawa ke ruang perawatan, sambil menunggu pemeriksaan selanjutnya.
Waktu menunjukkan pukul 6.30 Nadia merebahkan kepalanya di samping sang mama sedang tertidur.
'Ya Tuhan semoga tidak terjadi apa-apa pada mama. Semoga segera sembuh.Aku gak tahu harus dapat uang dari mana untuk biaya pengobatan mama,'batin Nadia.
Pintu ruang perawatan dibuka oleh seseorang, Zen datang membawa 2 bungkusan plastik
"Makanlah," ucap Zein sambil menyodorkan sebuah styrofoam yang berisi sarapan untuk Nadia.
Selain itu Zen juga membawa beberapa roti dan aneka minuman.
"Kau makanlah dulu, nanti kau bisa sakit. Jika bukan kamu, siapa yang akan menjaga dan mengurusi ibumu," nasehat Zein ketika Nadia terlihat sungkan memakan makanan yang ia bawa.
"Soal biaya kau jangan khawatir , karena aku yang akan menanggung ya ".
Nadia menatap Zein dengan tatapan berembun.
"Terima kasih Mas, saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Mas, tapi setelah Ibu saya sembuh, saya janji akan mencicil uang yang telah mas keluarkan untuk pengobatan ibu saya."
" Tidak usah, aku ikhlas kok.Yang penting kau jaga saja ibumu."
Zein kemudian membuka dompetnya mengeluarkan sejumlah uang.
"Ini untuk pegangan mu, selama di rumah sakit. Sebentar lagi aku harus pergi kerja. Nanti sore jika ada waktu aku akan kembali kemari," Ucap Zein.
Nadia termenung menatap uang itu, rasanya Ia tak enak hati, tapi di satu sisi saat itu dirinya memang membutuhkan uang tersebut.
Dengan tangan yang sedikit bergetar Nadia meraih uang yang Zein berikan.
"Terima kasih," ucap Nadia.
" Ini kartu nama ku, hubungi saja aku jika kau butuh sesuatu." Zein tersenyum sekilas kemudian keluar meninggalkan Nadia.
Bersambung dulu gengs. terima kasih atas dukungan. maaf akhir-akhir ini otor sibuk belum sempat balas komentar satu persatu 🙏😁
__ADS_1