Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 10


__ADS_3

Sandi menatap Tara dengan penuh cinta. Diraihnya jemari tangannya lagi yang kemudian di genggam erat dengan kedua tangannya hingga membuat gadis yang duduk di hadapannya jadi kikuk.


"Tar, mungkin ini terlalu cepat buat kamu karna kita yang baru ketemu dan kenal. Tapi, meskipun gitu, perasaanku ke kamu itu tulus Tar,"


"Tara. Aku rasa aku cinta sama kamu lebih dari pada yang aku rasa. Rasanya aku udah pengen hidup bareng kamu. Karna itu Tar, kamu mau gak jadi istriku?"


Tara mengernyit mendengar permintaan Sandi kala itu. Rasanya kali ini dia bukan hanya sekedar ditembak tapi juga langsung di lamar.


"Bentar Mas," Tara menautkan kedua alisnya. "Istri? serius?"


"Hah?" Sandi melongo. "Eh, sorry, sorry, pendamping hidup maksudnya" Sandi salah omong lagi.


Tara semakin mengernyit dan menatapnya lekat.


"Aiishh! Bukan, bukan. Itu lo maksudnya apa sih?" Berfikir sambil menggaruk keningnya yang tak gatal karna lupa akan kata pacar.


"Em. Pacar! He, ..." celetuknya beberapa saat kemudian sambil nyengir.


Tara pun tertawa melihat Sandi tiba - tiba jadi linglung. Sadar kalau sebenarnya dalam situasi seperti ini tak boleh tertawa, Tara kemudian mengatupkan kedua bibirnya sambil mengarahkan pandangannya ke sisi lain untuk menutupi sikapnya agar tak terkesan sedang menertawai.


"Jadi. Tar, Gimana?" tanya Sandi hati - hati. "Kamu mau kan jadi pacarku?"


"Cuma pacar? Gak jadi nih jadi istri?" hardik Tara membuat Sandi jadi salting lagi.


"Yah... maunya sih gitu langsung nikah..." Katanya yang nyengir sambil garuk - garuk kening lagi.


Tara manggut - manggut sambil senyum. Dalam hatinya serasa ada desiran angin yang sejuk sedang menyapu berkat keinginan Sandi yang tak disangkah - sangkah.


"Jadi gimana?" desak Sandi lagi.


"Emmmm...."Tara yang masih berfikir kemudian ditimpal oleh Sandi.


"Tar, jangan dijawab sekarang" timpalnya "Nanti aja deh kalau kamu sudah siap terus ngasih jawaban yes baru kamu bilang. Aku siap tunggu kamu sampai kamu siap. Tapi, jangan lama - lama, ya ..."


"Kok gitu? katanya siap nungguin sampai kapanpun. Tapi kok jangan lama - lama?"


"Ya ... takutnya nanti kelamaan. Sampai aku tua baru dijawab" celetuk Sandi dengan wajah sedikit cemberut.


"Oh, terus batas waktunya sampai kapan?" tanya Tara.


"Em, seminggu?" Sandi tanya dan .Tara menggeleng.


"Dua minggu?" Tara tetap menggeleng

__ADS_1


"Tiga minggu?" Tara menggeleng lagi.


"Sebulan? dua bulan? tiga bulan?" Tapi Tara masih saja menggeleng.


"Terus kapan? 1 tahun?" Sambil menunjukkan wajah yang sudah putus asa.


"Sekarang! Aku mau jawab sekarang!" kata Tara tegas.


"Sekarang?" Sandi yang wajahnya berubah jadi tegang. "Terus jawabannya?" Sandi memperhatikan dengan seksama mulut Tara.


"Jawabannya ..."


Emmuucchh


Sebuah kecupan mendarat di pipi sebelah kiri milik Sandi. Membuat wajahnya jadi merona merah dan tersipu. Ditatapnya lekat gadis yang ada disampingnya dengan tatapan penuh cinta hingga Tara jadi salting dan lantas bergegas keluar mobil sambil menutupi wajahnya yang serasa terbakar dengan kedua telapak tangannya.


Beberapa langkah setelah keluar dari mobil, Tara berbalik sambil senyum dengan kode tangan agar Sandi segera pulang. Sandi yang mengerti memberi balasan mengangguk beberapa kali sambil mengacungkan tangannya memberitahu kalau dia akan menghubunginya. Tara mengangguk dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan hari ini.


****


Pagi sudah tiba kembali. Mas Ilham dan Mbak Desi pagi itu sudah ada di meja makan dan sarapan. Tara yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian mendekat mengambil air minum yang letaknya di atas meja makan.


"Gak sarapan dulu Tar?" tanya Mas Ilham sambil menyuap nasi kemulutnya


"Hari ini ya interviewnya?" sambung Mbak Desi yang tahu kalau hari ini Tara ada interview sebagai asdos di kampus.


"Iya mbak, doain lancar ya mbak" jawabnya setelah menegak air yang ada di tangannya sampai habis.


"Iya pasti di doain kok. Lancar ya bu dosen ... semangat ..." Kata Mbak Desi memberi semangat.


"Iya mbak semangat!" jawabnya sambil membuat gerakan tangan.


Tinnn ... Tinnn... Tinnn ...


Suara klakson mobil dari luar yang saat itu baru berhenti di depan gerbang rumah mengalihkan perhatian ketiganya.


"Siapa tuh?" tanya Mas Ilham yang arah matanya sudah pada mobil didepan begitu juga dengan Tara dan Mbak Desi.


Tara yang saat itu tahu siapa pemilik mobil tersebut pun tersenyum.


"Mbak, Mas aku berangkat dulu ya ..." pamit Tara tanpa memberi penjelasan pada kedua kakaknya.


"Tara ...." Sapa Kila dari kursi kemudi yang kaca jendelanya sudah terbuka.

__ADS_1


"Kil, kok udah nongol aja pagi - pagi?" saut Tara yang tanpa di suruh langsung membuka pintu mobil dan duduk disebelah Kila.


"Ya iyalah harus, secara hari ini adalah hari bersejarah buat kamu. Jadi khusus untuk hari ini kamu akan dapat layanan antar jemput plus traktiran di Cafe Are, oke ..." kata Kila dengan gaya centilnya.


"Weeesss, asikk dong ..." Jawab Tara sambil senyum lebarnya.


"Pasti dong"


Keduanya pun tertawa riang di pagi itu. Bagi Tara, begitulah Kila sabahat satu - satunya. Dia akan selalu ada untuknya dan akan selalu memberi dukungan padanya apapun yang terjadi seperti hari ini.


25 menit perjalanan dari rumah Tara, akhirnya mobil yang dikendarai keduanya kini sudah sampai di halaman kampus dan di parkir berjejer bersama dengan mobil lainnya yang ada disana.


"Tar, tahu gak, aku dapat info terbaru nih soal selingkuhannya Aga, kamu mau tahu gak?" Kila yang mulai bicara saat keduanya sedang berjalan beriringan menuju ruang interview yang lumayan jauh dari tempat parkir.


"Males ah Kil, I dont care" jawab Tara yang sudah tak mau tahu.


"Yaelah, I know. But, aku masih mau cerita, jadi kamu harus dengerin!" kata Kila yang diakhir kaimatnya sedikit ditekan.


"Hehehe, Oke ... oke ..." saut Tara pasrah sambil menyungging senyum.


"Tar, ternyata nih ya, selingkuhannya si Aga itu anaknya konglomerat lo. Denger - denger yang punya perusahaan Wiraka grup. Namanya Sasa" Kila yang mulai bergosip.


"Terus Tar, gosipnya lagi si cewek itu sebetulnya udah punya tunangan. Dan kamu tahu gak siapa tunangannya?" Kila mengarahkan pandangannya sejenak menunggu reaksi Tara.


"Siapa?" Tara bertanya walaupun malas.


"Yang punya Prima grup! alias abangnya si Mita" celetuk Kila sementara Tara cuma manggut - manggut, karna sudah tau dari awal dan sudah ketemu juga.


"Huft..." Kila menarik nafas dan membuangnya keras.


"Kenapa?" tanya Tara karna Kila tiba - tiba membuang nafas.


"Kasian" Kila yang menunjukkan wajah iba.


"Kasian?" Tara menautkan alisnya karna penasaran.


"Kasian sama keluarga Mita. Gara - gara si Sasa, mereka harus bayar finalty gede karna udah ngelanggar kontrak memutuskan sepihak pertunangan mereka. Padahal yang salah kan bukan abangnya si Mita tapi si Sasa. Ya ... meskipun katanya abangnya si Mita sendiri juga sering gonta ganti pacar. Tapi karna ketemu si Sasa dan kebetulan anaknya yang punya Wiraka grup jadi langsung tuh ditunangin. Ya, mungkin karma juga kali ya sering nyakitin hatinya cewek jadinya sekarang imbasnya sampek ke perusahannya juga."


"Oh ya?" Tara mulai bereaksi mendengar cerita Kila.


"Iya. Tapi Tar," Lanjut Kila. "Kemarin si Mita cerita. Katanya abangnya lagi kesemsem sama cewek, sampai - sampai demi dapetin restu dari orang tuanya dia langsung mau dudukin jabatan CEO dan jadi penerus bisnis keluarganya."


"Oh ya? Mita bilang gitu?" Tara yang jadi kikuk, karna dirinyalah gadis yang dimaksud oleh Mita.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran deh, siapa cewek yang mampu meluluhkan hati si penggoda wanita sampai rela kayak gitu" celetuk Kila.


__ADS_2