Positif Denganmu

Positif Denganmu
ban 16


__ADS_3

Jam 12.30 malam Tara terbangun. Suasana kamar sudah sepi. Semua orang terlelap di sofa. Tara yang merasa tak bisa tidur, kemudian meraih ponselnya yang sedari tadi dimeja tak disentuh. Tara yang awalnya ragu memutuskan untuk mengaktifkan ponselnya. Didekapnya hp yang ada digenggamannya saat layar mulai hidup sampai hp itu bergetar sebagai tanpa kalau sudah aktif.


Ada banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Tara mulai menggerakkan jarinya menekan satu persatu pemberitahuan di layar hpnya. 100 lebih panggilan tak terjawab dari Sandi membuat hatinya seolah tersayat. Kemudian dengan menggerakan jemarinya pelan, Tara mulai menggeser layar untuk membaca pesan masuk dari Sandi satu persatu.


"Tar, kamu kenapa? kamu sakit? please angkat telponku"


"Tar, kamu dimana? aku sekarang ada didekat daerah kamu, ada di gang yang waktu itu aku antar kamu, rumahmu sebelah mana? ayo kita ketemu"


"Tara, please jawab telponku ..."


"Sayang, maaf, aku harus balik kekorea hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus segera. Yang, setelah aku kembali, ayo kita menikah"


Tanpa terasa air matanya mulai menetes saat membaca kalimat terakhir dari pesan yang di kirim Sandi. Pesan ajakan menikah untuknya seolah memberitahu kalau Sandi sudah siap bertanggungjawab untuknya jika nanti ada apa - apa dengannya.


Ditengah tangisnya yang berusaha ditahan agar tak membangunkan yang lain, ponsel Tara kembali bergetar. Dilihatnya nama Sandi terpampang dilayar hpnya. Sandi sedang menelponnya dan kemudian menghilang saat tak diangkat.


Bergetar lagi ponselnya yang kali ini adalah pesan WA yang dikirimnya kali ini.


"Sayang, please angkat telponku ya ... aku mau bicara, aku mohon ..."


Tak lama ponsel digenggamannya bergetar lagi, Sandi kembali menghubunginya.


"Hallo, yang ..." Sandi berucap dari diujung telpon.


"Sebentar" Tara meminta Sandi menunggu karna dia akan berpindah tempat agar bisa leluasa berbicara.


Tara berjalan keluar kamarnya sambil menggeret tiang infus dan kemudian duduk di bangku taman yang tak jauh dari kamarnya. Tak lupa juga dia menghapus air matanya.


"Hallo ..." Tara mulai berbicara.


"Yang, akhirnya kamu angkat telponku. Yang kamu kenapa?"


"Aku, aku gak apa - apa" Tara dengan suara sengaunya.


"Tapi kenapa hpmu gak aktif? kata temenmu kamu pulang dulu karna sakit. kamu sakit apa? aku khawatir banget sama kamu yang.."


"Enggak, aku gak apa - apa, aku cuma kecapekan aja"


"Beneran kamu gak apa - apa? tapi kenapa suaramu sengau? Kamu pilek? atau kamu lagi nangis?"

__ADS_1


"Iya, aku gak apa - apa"


Jawaban Tara yang singkat membuat Sandi jadi curiga.


"Yang, kamu gak lagi nyesel kan?" pertanyaan Sandi membuat Tara sedikit terperajat. "Yang, kalau ada apa - apa sama kamu, aku siap tanggung jawab. Aku pasti akan langsung nikahi kamu, karna memang itu tujuan hidupku saat ini"


"Yang, kamu harus ingat aku melakukan itu ke kamu karna memang aku udah yakin sama kamu. aku sayaaannnggg banget sama kamu. aku juga cinnnta banget sama kamu. jadi kamu jangan pernah punya perasaan menyesal sedikitpun setelah apa yang kita lalui. ya ..." Tara tak menjawab dia hanya diam menahan tangis.


"Yang, ayo kita menikah setelah aku pulang dari korea. Yang, kamu mau kan?" Sandi tak dapat jawaban tapi tahu kalau Tara pasti sudah tak bisa menahan tangisnya.


Panggilan itu kemudian beralih ke panggilan video call.


"Yang, videocall..." pinta Sandi.


"Jangan" tolak Tara yang tak ingin Sandi melihat dirinya berwajah sembab dengan air diujung matanya.


"Terima ya ..." pinta lagi dengan lembut.


"Jangan"


"Yang..." Yang kali ini tak dapat ditolak.


"Yang, jangan nangis..." Tara diam tak berani menatap Sandi dan sibuk menghapus air mata yang tak disuruh malah mencucur.


"Yang, kamu mau kan nikah sama aku?" Tara masih tak bergeming.


"Yang, liat aku" Tara masih tak bereaksi.


"Yang, I love you. Kamu mau kan nikah sama aku?" ucap Sandi sekali lagi.


"Tara, didunia ini gak ada wanita yang bisa bikin aku bahagia selain kamu. Jadi tunggu aku, 1 bulan lagi. Aku janji 1 bulan lagi, aku pasti pulang dan aku pasti akan nikahin kamu, entah kamu nantinya hamil atau tidak. Hamil pun malah bagus kita bisa cepat punya anak. Karna itu memang yang aku pengen. Menikah sama kamu, punya anak dari kamu, hidup bahagia bareng kamu dan anak - anak kita sampai kakek nenek. Kamu mau kan?"


Kata - kata Sandi begitu manis terdengar di telinga Tara membuat dinding hati yang sedari tadi ditahan runtuh seketika.


Tara yang sudah tak kuasa dan memang juga mencintai Sandi mengangguk pelan dengan tangis yang kali bukan tangis sebuah penyesalan tapi tangis kelegaan.


Melihat Tara yang mengangguk, Sandi tersenyum manis, ada kelegaan juga dalam batinnya karna bisa merubuhkan ego Tara.


"Tunggu aku ya, sampai aku pulang" ucap Sandi dan Tara mengangguk.

__ADS_1


Keduanya pun saling melempar senyum, merasa sudah baikan tak perlu berdebat lagi.


"Yang? kamu ini dimana? kamu beneran sakit?" Nada suara dan wajah Sandi berubah cemas saat tak sengaja melihat selang infus ditangan Tara.


"Hah, iya" aku Tara akhirnya.


"Mulai kapan kamu dirumah sakit? kenapa kamu gak bilang? harusnya kamu bilang ke aku kalau lagi sakit. kamu sakit apa? apa kata dokter? gak parah kan? terus ini kamu dimana? diluar? ini kan udah tengah malam kenapa diluar? nanti masuk angin, kalau sakit lagi gimana? ayo cepat balik ke kamar, terus istirahat"


Beberapa pertanyaan Sandi dan juga omelannya mulai dilontarkan dari mulutnya dengan wajah yang cemas.


Melihat reaksi Sandi Tara pun tersenyum.


"Aku udah gak apa - apa, udah baikan" Tapi Sandi tak percaya wajahnya berkerut dan cemberut.


"Kenapa kamu gak bilang kalau lagi dirawat dirumah sakit?" Sandi lesu. "Maaf ... aku gak bisa nemenin kamu" Sesal Sandi dan Tara tersenyum.


"Mas, aku ini gak apa - apa. Besok aku juga udah boleh pulang. Terus besok aku juga ada ujian beasiswa S2"


"Ujian? kamu masih mau ikut ujian? kamu lagi sakit gini" Sandi mengernyit.


"Emang aku kenapa? aku udah sehat, demamnya juga udah turun. Dokter juga pasti bakalan ijinin buat pulang besok."


"Tar, kamu lagi sakit, aku gak ijinin kamu besok pulang terus ikut ujian. Aku mau kamu istirahat tetep di rumah sakit sampai bener - bener sembuh. Lagian kalau cuma mau nerusin kuliah S2 bahkan sampai S3 tanpa beasiswa aku juga mampu biayain kamu."


"Iya, tahu kalau Mas Sandi emang banyak uang. Tapi maaf, tapi aku pengen ngelanjutin kuliahnya dari hasil kerja kerasku sendiri bukan bantuan dari orang lain" Tara yang mulai kesal mendengar ucapan Sandi.


"Orang lain?" Sandi menautkan alisnya. "Aku ini calon suami kamu Tar, aku bukan orang lain. jadi, pokoknya besok kamu harus tetep di rumah sakit sampai dokter bilang kamu bener - bener sembuh, urusan kuliah S2 nanti aku yang urus"


"Ih, masih calon suami udah ngatur - ngatur. Gimana nanti kalau udah jadi suami?" Tara mendengus kesal.


"Ya kalau jadi suami, lain lagi ceritanya, kamu harus nurut ke aku."


Jawaban Sandi membuat mata Tara membelalak tak percaya.


"Astaga, Mas Sandi jangan posesif dong!"


"Ini bukan posesif, tapi ini itu sebuah ketegasanku sebagai kepala keluarga!"


"Ih, kok gitu" Tara berwajah masam. "Ya udah kalau gitu, gak jadi! aku gak mau nikah sama Mas Sandi!"

__ADS_1


Tara mengakhiri panggilannya dengan kasar.


__ADS_2