Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 20


__ADS_3

Tok ... tok ... tok...


"Masih lama gak nih yang didalam?" Suara seseorang yang mengetuk pintu toilet.


"Oh, iya sebentar" jawab Tara sedikit terkesiap. Kemudian menghapus air matanya cepat sambil menghembuskan nafasnya agar bisa bersikap sewajarnya saat keluar.


Pintu dibuka oleh Tara, dan dihadapannya sudah berdiri Mita yang sudah menunggu untuk masuk kedalam menggantikannya.


"Lo, kamu Tar," ucap Mita, membangunkan cengangan Tara karna tak menyangkah akan bertemu Mita adik pacarnya dalam kondisi begini.


"Eh, iya, Mit, sorry, lama ya, nunggu?" jawab Tara yang gugup berusaha tersenyum meskipun tahu tak berhasil karna dari ekspresi Mita yang mengernyit curiga, tahu kalau dia habis menangis.


"Oh, enggak kok." jawab Mita menahan rasa penasarannya.


Tak ingin berlama - lama bertemu Mita, Tara pun segera pamit agar bisa pergi lebih dulu.


"Eh, aku duluan ya..."


Tara yang sudah tak sabar malah menyenggol Mita saat hendak keluar membuat tespek yang ada digenggamannya jatuh.


Klotak ...


Tara membatu menatap tespek itu dan Mita secara bergantian. Badannya seolah tak bisa bergerak untuk beberapa saat karna lebih besar rasa kagetnya dari pada refleknya.


Tak segera diambil oleh sang pemilik, Mita pun akhirnya memungut tespek tersebut. Sontak saja matanya menyipit untuk memperjelas penglihatannya, apa benar yang dilihatnya ada 2 garis merah yang artinya ada yang sedang hamil.


"Bukan punyaku" Tara reflek merebut tespek tersebut dengan cepat dari tangan Mita dengan gusar, membuat Mita semakin curiga.

__ADS_1


Karna rasa gusarnya semakin parah, Tara kemudian langsung bergegas meninggalkan Mita yang diam tak berkomentar dan hanya memandangi kepergiannya dengan tatapan tak percaya.


Secepat mungkin Tara kemudian meninggalkan kampus, dan pulang kerumah. Rasa gelisah, resah, bingung dan takut mulai menghantui dirinya. Hingga malam menjelang Tara mengurung diri didalam kamarnya dengan duduk meringkuk diatas ranjang dengan tubuh bergetar.


Berkali - kali dicobanya menghubungi Sandi tapi sampai saat ini tak ada jawaban. Hanya suara operator saja yang terdengar yang menandakan kalau nomornya sedang tak aktif. Merasa sudah sangat frustasi, tak terasa air matanya kembali mengucur dipipi.


Jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam. Tara mencoba kembali menelpon Sandi. Akhirnya panggilan telponnya kali ini tersambung. Dan tak lama telponnya diterima.


"Hallo ..."


Suara itu bukanlah suara Sandi melainkan suara seorang perempuan yang tak lain adalah Sasa yang membuat Tara kembali tercengang.


"Hallo ... Hallo ..." seru Sasa beberapa kali.


"Hallo" ucap Tara dengan berat.


"Ini bukannya nomor Mas Sandi? kenapa yang ngangkat ..."


"Aku tunangan Sandi, kamu siapa?" potong Sasa cepat.


"Tunangan?" tanya Tara dengan nada tak percaya. Tidak mungkin yang didengarnya benar.


"Iya, aku tunangannya, kamu siapa? kenapa malam - malam telpon tunanganku?"


Tara syok. benar - benar syok mendengar ucapan Sasa. Secara perlahan Tara menjauhkan hpnya dari telinganya dan memutus panggilannya. Matanya mulai bergetar kembali begitu juga dengan tubuhnya. Tara memejamkan matanya lalu mulai menangis pilu kembali.


***

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini Tara jatuh sakit. Dengan telaten Mbak Desi, Mas Ilham bahkan Kila merawat dirinya yang demam di atas ranjang. Hingga akhirnya demamnya turun dan merasa badannya sudah lebih baik.


Hari itu rumah sudah sepi. Mbak Desi dan Mas Ilham sudah berangkat ke kedai dan meninggalkan sebuah catatan di meja rias yang ada didalam kamar. Disamping catatan, sudah ada bubur yang dibuatkan Mbak Desi. Sejenak bubur itu ditatap oleh Tara sebelum akhirnya dia makan sampai habis. Hari ini Tara memutuskan tidak akan bersedih lagi. Dia akan menjalani hidupnya sesuai dengan kemauannya. Tanpa memikirkan yang lain.


***


Tara hari itu sudah ada didalam perpustakaan kampus mengerjakan tugas akhir. Satu persatu buku yang ada dihadapannya mulai disalin kedalam laptop. Merasa tugasnya belum sempurna, dia kemudian memilih lagi buku yang ada di rak dan membawanya ke meja. Fokus dengan apa yang dikerjakan, membuat Tara tak mengidahkan panggilan yang masuk ke hpnya. Pada layar hpnya, terlihat notifikasi ada ratusan pesan dan puluhan panggilan dari Sandi yang sengaja tak digubris mulai beberapa hari yang lalu.


Sore sudah datang. Tara meregangkan badannya dan menarik nafasnya dalam. Tugasnya sudah selesai. Tara memeriksa ponselnya bukan untuk memeriksa pesan tapi hanya untuk melihat jam. Sudah jam 5 sore, batinnya.


greeeettt.. greeettt ...


Suara getar Ponselnya yang saat itu ada diatas meja. Sandi kembali menghubunginya. Tapi Tara sedikitpun tak bergeming dan hanya menunjukkan wajah datarnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kemudian berjalan keluar perpus hendak pulang.


Sesampainya diparkiran kampus, suara seorang perempuan yang tak asing memanggilnya. Dia adalah Sasa yang baru saja keluar dari dalam mobilnya dan kini menghampirinya.


Tara menghentikan langkahnya, menunggu Sasa mendekat. Entah apa yang akan dibicarakan Sasa terhadapnya.


"Jadi kamu yang namanya Tara?" tanya Sasa dengan tatapan merendahkan. Sementara Tara tak bereaksi hanya menunjukkan wajah datarnya meskipun dalam ingatannya mengingat siapa Sasa. Sasa adalah selingkuhan Aga sekaligus mantan pacar Sandi.


"Aku gak akan berlama - lama, langsung aja. Aku datang buat kasih kamu peringatan. Aku minta kamu akhiri hubungan kamu sama Sandi. Aku tahu kamu sekarang lagi pacaran sama Sandi, tapi kamu harus tahu juga kalau aku dan Sandi sekarang sudah balikan dan udah bertunangan lagi. Terlebih bulan depan kita juga bakalan nikah. Jadi aku harap kamu ngerti apa yang harus kamu lakukan dalam situasi ini!"


"Bukannya seharusnya kamu minta langsung ke Mas Sandi? Kenapa kamu malah datangin aku? apa karna kamu tahu kalau Mas Sandi gak mungkin mutusin aku? karna kamu tahu dia cintanya sama aku bukan ke kamu?" dengus Tara tak mau diintimidasi walaupun sebetulnya hatinya gusar.


Sasa menyeringai. Lalu tertawa mengejek.


"Kamu bilang cinta? kamu masih percaya cinta? Hahaha" Sasa kembali tertawa sinis. "Didunia kami itu gak ada yang namanya cinta? Seandainya Sandi cinta ke kamu pun dia gak akan bisa milih kamu. Dia gak akan pernah bisa ngorbanin perusahaannya hanya demi kamu yang ..." menghentikan sejenak ucapannya untuk memperhatikan Tara dari atas ke bawah. "Gak selevel dengan kita. Apa lagi sekarang, perusahannya lagi limbung, beberapa bisnisnya terus rugi dan banyak yang gagal. Jadi, kalau bukan aku siapa yang akan menyelamatkan perusahaan mereka?" lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Jadi, sekali lagi aku peringatkan. Kamu, harus segara putus sama Sandi. Buang jauh - jauh keinginan kamu jadi mantu konglomerat karna itu gak akan mungkin. Kalau tidak, kamu akan lihat Sandi yang akan jadi tumbal karna udah jadi penyebab kebangkrutan perusahaannya karna memilih kamu. Aku harap kamu bisa bijak, dan aku tahu kamu pasti bijak, karna katanya kamu mahasiswa paling pintar disini. Jadi kamu pasti paham kan bagaimana sebetulnya kondisinya sekarang. Oh ya 1 hal lagi, sorry, malam itu kita lagi berdua" kata Sasa mengakhiri kalimatnya yang kemudian pergi meninggalkan Tara sedang menahan emosinya sambil meremas kain roknya.


__ADS_2