Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 8


__ADS_3

"Tar, sarapan dulu ..." seru Mbak Desi yang saat itu berdiri di tengah pintu kamar Tara.


"Iya Mbak, bentar ..." Tara menjawab tanpa menoleh. Saat itu Tara sedang fokus mencari lembar KHS miliknya dan juga blanko formulir beasiswa.


"Lagi cari apa?" tanya Mbak Desi sambil masuk kedalam kamar karna melihat Tara yang kebingungan.


"Ini Mbak, lembar KHS sama formulir beasiswa. Aku lupa naruhnya dimana." jawab Tara, memegang dahinya.


"Emang hilang? coba di inget -inget lagi."


Mbak Desi kemudian membantu Tara. Dia ikut membokar beberapa kertas dan buku yang tertumpuk dimeja belajar milik Tara.


Aku bener - bener lupa, Mbak."


"Coba di inget - inget lagi, siapa tahu ketinggalan dimana gitu."


Untuk beberapa saat keduanya terlihat sibuk. Membongkar dan membolak balik seluruh isi kamar.


"Mending makan dulu aja Tar, sambil diinget - inget. Siapa tahu ketinggalan dimana gitu." celetuk Mbak Desi, sudah menyerah karna tak bisa menemukan berkas yang dimaksud.


"Iya, Mbak."


***


KKRRREEEEEEKKKKKK ...


Suara gorden yang sengaja dibuka dengan kasar oleh seorang wanita paru baya. Suara itu, membuat Sandi yang tengah tidur pulas langsung menyipit meskipun sedang terpejam. Silau matahari dari kaca jendela kamar benar - benar mampu membangunkannya dalam sekejab.


"Bangun!." Bu Yanti, memukul anaknya dengan bantal.


"Eeeuuummmm ..." erang Sandi. "Mama!"


"Heh! bangun! udah pagi ini!"


"Eummm, Mama. Nanti dulu." jawab Sandi malah menarik selimut yang dikenakan sampai menutupi semua tubuhnya sambil merubah posisi tidurnya memunggungi cahaya sekaligus ibunya.


"Eh, nih anak, gak mau bangun!." omel Bu Yanti membalas dengan menarik kasar selimut tadi sampai tak sedikit pun tubuh Sandi ditutupi oleh selimut lagi.


"Ayo cepet bangun, ini udah jam 8 pagi lo San, nanti kamu telat berangkat kerjanya."


"Gak apa - apa Ma, kan bisa ijin telat ke Papa." jawab Sandi enteng, merebut kembali selimutnya dari tangan sang ibu.


"Enak aja ijin telat." Bu Yanti memukul lengan Sandi. "Ayo bangun! bangun! cepet bangun!" omel Bu Yanti memperbanyak pukulannya itu.

__ADS_1


"Aduhhh ... aduhhh ... Mama! sadar Ma, sadar. Aku bukan anak kecil lagi Ma, jangan ditabokin!"


"Sadar! sadar! kamu yang sadar! mau jadi apa kamu kalau males - malesan terus. Ayo sekarang cepat bangun!." decak Bu Yanti.


"Awas kamu kalau gak bangun! Mama suruh potong gajimu ke papa bulan depan!." ancam Bu Yanti hendak melangkah pergi tapi langsung dihentikan oleh sang anak.


"Yah, Mama!!! jangan dong." Sandi langsung tercekat bangun dan memasang muka memelas, memegang lengan sang mama.


"Mangkannya bangun!."


Mau tak mau, walau malas begitu menghujani. Sandi bangkit dari atas kasur. Sandi berjalan kearah meja kerja dengan memeriksa ponsel. Tak ada notif yang muncul dilayar depan. Yang ada cuma notif warna baterai yang berganti merah dan bertuliskan 7% disisi kanan atas.


Merasa baterainya tinggal sedikit. Sandi lantas membuka laci meja dimana biasanya digunakan untuk menyimpan cas.


"Lo, kok gak ada." gumamnya sendiri, yang lantas keluar dan menuju mobil miliknya yang terparkir di samping halaman rumah.


"Ini dia." gumamnya lagi, setelah menemukan cas itu di laci dasbor mobil.


Tanpa sengaja, mata Sandi terpengarah pada lembaran kertas yang berada di atas dasbor. Lembaran itu adalah lembaran KHS dan formulir pendaftaran beasiswa milik Tara yang ternyata tertinggal disana.


Sandi meraih lembaran tersebut. Seutas tawa kecil tersirat di mulutnya, sampai cekungan lesung pipitnya kembali muncul. Nilai Tara benar - benar sempurna tanpa cacat sedikit pun. Semuanya A. Dan IPKnya menunjukkan 4.00.


Sandi memfoto lembar nilai tersebut, dan kemudian mengirimkannya pada Tara tanpa caption apapun.


"Ya Tuhan, ketinggalan disitu ya Mas? aku dari tadi nyariin."


"He'e, ada dimobilku."


"Em, Mas Sandi hari ini sibuk? kalau gak sibuk bisa gak ketemu? aku butuh blanko beasiswanya soalnya."


Sandi berfikir sejenak sebelum membalas.


"Hari ini aku free. Gimana kalau kita ketemu siang ini? sekalian makan siang bareng, gimana?"


"Em, makan siang? boleh deh ..." jawab Tara, sementara Sandi langsung senyum.


"Oke, nanti aku jemput ya?"


"Iya Mas, nanti kabarin lagi kamau udah mau jemput..."


Sandi tertawa senang. Memikirkan akan bertemu lagi dengan Tara membuat mood paginya jadi baik.


Sandi bersiul masuk dalam rumah. Wajahnya tampak sumringah sampai membuat Bu Yanti yang tengah duduk dimeja makan bersama Pak Dani jadi heran.

__ADS_1


"Kenapa kamu senyum - senyum?" tanya Bu Yanti.


"Ini lo Ma, lagi liatin nilainya calon binik" jawab Sandi menunjukkan lembar nilai milik Tara kehadapan Ibunya sambil bergabung untuk makan bersama.


Calon Binik?" Bu Yanti yang lebih tertarik dengan kata itu dari pada kertas yang ditunjukkan Sandi.


"Iya, coba liat Ma, bagus kan nilainya?."


"Wah, kok bagus, cumlaude lo ini." sahut Pak Dani, ayah Sandi yang tadi ngintip nilai Tara. "Punya siapa? pacar kamu yang baru?"


"Belum jadi pacar, masih mau. Terus nantinya kalau udah kegait rencananya mau langsung aku jadikan istri. Jadi mama sama papa siap - siap, unduh mantu bentar lagi." ceplos Sandi mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya.


"Hem," Bu Yanti mencebik. "Kamu ini, belum - belum udah udah PD duluan. Emang dia mau sama kamu?."


"Ya emangnya kenapa sampai gak mau ke aku, Ma? emang apa kuranganku?"


"Kamu mau Mama sebutin kekurangan kamu?" Saut Bu Yanti, menatap anaknya yang tak sadar diri.


"Iya, boleh. Emang apa kekuranganku? gak ada, kan?"


"Kamu, males. Bangunnya siang, gak tanggung jawab, kerjanya gak niat, masih sering minta uang, masih suka main terus, gak dewasa. Sedangkan dia, dari nilainya aja udah keliatan kalau pinter banget. Ini juga dapat beasiswa sampai S3. Apa lagi kalau anaknya cantik ... makin sempurna kan dia" tanya Bu Yanti menjeda untuk bertanya.


"Dia memang cantik banget, Ma." jawab Sandi yang malah fokus ke kata cantik, sambil membayangkan wajah Tara.


"Itu, berarti kan, kamu sama dia bagaikan langit sama bumi." timpal Bu Yanti memberi penilaian. Semetara Sandi malah manggut - manggut.


"Oh gitu ya Ma. Terus Ma kalau gitu aku harus gimana biar dia bisa luluh ke aku? biar kita gak kayak bumi sama langit?"


"Ya kerja dong yang benar, jangan cuma main - main." timpal Bu Yanti lagi.


"Em,gitu, ya ..." Sandi angguk - angguk lagi. Rasanya memang apapun harus dilakukan supaya bisa mendapatkan Tara.


"Pa, kalau gitu, tawaran Papa yang kemarin tentang mall prima apa masih berlaku?" tanya Sandi mengarahkan pandangannya pada Pak Dani yang sedari tadi makan.


"Emang kenapa? kamu mau ambil?"


"Iya, aku mau" jawab Sandi mantap.


"Beneran? Nanti kamu cuma main - main aja."


"Iya, beneran, serius."


Pak Dani pun tersenyum sambil geleng - geleng. Sedangkan Bu Yanti mencebik. Kelakuan anaknya itu sungguh diluar dugaan keduanya. Hanya demi mendapatkan wanita yang dicintai Sandi jadi rela melakukan apa aja. Padahal sebelumnya Sandi selalu menolak kalau disuruh mengambil ahli salah satu anak perusahaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2