Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 26


__ADS_3

Jam di dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Saat itu masakan sudah tertata di meja makan. Tara juga sudah berpakaian rapi dan kini sedang sibuk mencuci peralatan masaknya yang kotor. Kila baru saja keluar dari kamarnya, dengan mata masih setengah memejam lalu duduk dimeja makan disamping Randi yang sedang makan.


Randi menjulurkan segelas air putih pada Kila yang duduk disampingnya. Karna setiap kali baru bangun tidur Kila selalu minum air putih.


"Terima kasih, sayang..." Kila senyum senang karna perhatian Randi.


"Mami, hari ini gak anterin Randi sekolah?" tanya Randi diselah makannya.


"Hari ini Bunda yang anterin ke sekolah" jawab Kila, setelah minum dan kemudian meraih tempeh dihadapannya.


"Beneran Bunda yang anterin?" Randi tampak antusias, karna selama ini Bundanya selalu sibuk kerja jadi jarang mengantarnya ke sekolah.


"Iya, hari ini sama Bunda, sekalian Bunda mau ke Pak Gurumu" saut Tara menoleh sejenak pada Randi dan kemudian melanjutkan aktifitasnya.


"Yeehhh..." Randi berseru girang. "Bunda, Bunda, Kalau gitu nanti aku kasih tahu yang namanya Sofia, ya ..."


"Iya," jawab Tara senyum, sementara Kila mencebik sambil geleng - geleng.


Setelah selesai sarapan, Tara dan Randi berangkat ke sekolah dengan naik angkot. Sekitar 15 menit perjalanan, keduanya pun sampai disekolah. Saat mereka sampai, jam masih menunjukkan pukul 6.30.


"Bunda, Bunda, itu lihat Bunda." Randi menunjuk ke arah gerbang sekolah pada anak cewek bertubuh gembul dengan kulit putih dan rambutnya kriting tapi tetap terlihat cantik.


"Mana?" Tara mengikuti arah pandang Randi. "yang gembul itu?"


"Iya, yang gemuk rambutnya kriting..."


"Iya, lucu ... imut ..." Tara tersenyum, pantas saja anaknya begitu suka, karna memang Sofia sangat imut mirip boneka.


"Cantik kan Bunda?"


"Iya cantik."


"Bunda. Bunda bisa buat adik kayak gitu? aku mau punya adik kayak Sofia." tanya Randi polos, membuat Tara jadi sedikit kaget.


Bagaimana mungkin dia bisa punya anak lagi, suami saja dia tak punya. Jangankan suami untuk memulai suatu hubungan saja rasanya masih belum siap. Hatinya baru saja sembuh dari luka. Dan juga belum tentu ada orang yang mau menerimanya yang sudah berstatus punya anak.


"Kok kamu ini tiba - tiba minta adek..." timpal Tara.


"Bisa gak Bunda?" tanyanya lagi.


"Kak Randi ..." suara Sofia memanggil Randi, membuyarkan Randi dan Bundanya yang sedang mengobrol.


"Sofia" saut Randi bahagia. Yang kemudian berhambur menghampiri Sofia dan mengajaknya ke sang Bunda yang tengah duduk didepan salah satu kelas.

__ADS_1


"Bunda, ini Sofia" Kata Randi memperkenalkan Sofia yang berdiri disampingnya.


"Hallo, Sofia" Tara dengan rama menyapa Sofia dan mencubit sedikit pipi gadis kecil itu.


"Hallo Tante," jawabnya lembut dan polos.


"Sofia kelas berapa?"


"Sofia kelas 1"


"Sini duduk sini, biar gak berdiri" Tara menepuk bangku disebelahnya agar kedua anak dihadapannya duduk disampingnya. Dan keduanya pun duduk.


"Sofia rumahnya dimana?" tanya Tara kemudian.


"Di jakarta"


"Jakarta?" Tara berpikir sejenak. Mungkin karna dia pindahan dari Jakarta. "Kalau disini, rumahnya dimana?" tanyanya lagi.


"Gak tahu, Oma belum kasih tahu" jawabnya polos, sembari menaikan bahu keatas.


"Disini tinggal sama Oma ya?"


"Iya, sama Oma sama Opa. Mama sama Papa ku kerja."


"Kerja di Jakarta" Tara manggut - manggut, mengusap rambut Sofia sambil senyum.


"Sofia gak nangis, ditinggal Mama Papa?" Tanyanya lagi kemudian.


"Enggak kan ada Oma sama Opa."


"Pinter dong kalau gitu, udah gak nangisan lagi." puji Tara. "Gak kayak Kak Randi meskipun udah gede masih suka nangis" Tara berbicara dengan nada sedikit berbisik tapi bisa didengar Randi.


"Aaaahhhhh ah" Rengek Randi yang dengar. "Enggak, aku gak nangisan"


"Lah, itu, liat udah mau nangis kan" goda Tara yang diiringi tawa Sofia.


"Aaahhhhh Bunda" Randi merajuk.


"Iya, Kak Randi suka nangis ya Tante" Sofia masih dengan tawanya melihat Randi yang tengah cemberut begitu pula dengan Tara.


Ditengah obrolan mereka. Pak Danu, wali kelas Randi datang menghampiri mereka. Pak Danu adalah sosok guru muda yang tampan yang masih mungkin lebih tua 1 tahun dari Tara. Dia juga masih single.


"Bundanya Randi ya?" Pak Danu menyapa Tara kala itu dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Oh, iya Pak. Saya Bundanya Randi" jawab Tara sopan kemudian menyambut jabatan tangan Pak Danu.


"Mari Bu, kita ngobrolnya di kantor saja"


"Oh, iya Pak" jawabnya.


"Bunda ke kantor dulu ya" pamit Tara pada Randi dan juga Sofia.


Saat berjalan mengikuti Pak Danu ke kantor. Terdengar bel masuk berbunyi membuat semua murid berhamburan masuk ke kelas dan seketika suasana halaman sekolah jadi sepi.


"Silahkan masuk Bunda" Pak Danu yang mempersilahkan Tara masuk begitu sampai di depan kantor, yang dijawab dengan anggukan dan badannya yang sedikit membungkuk.


"Monggo, silahkan duduk" kata Pak Danu yang kemudian juga duduk di kursi tamu.


"Iya Pak, terima kasih"


"Monggo, ini sambil di nikmati" Pak Danu menyodorkan air mineral gelasan dan beberapa camilan yang ada dimeja.


"Maaf ya Bunda, saya mengganggu waktunya." Basa basi Pak Danu. "Ini bentar lagi apa masih mau kerja atau gimana?"


"Iya gak apa - apa Pak, kebetulan tadi sudah ijin, jadi bisa santai"


"Oh gitu. Kalau boleh tahu, Bunda kerja dimana?"


"Saya kerja dibutik Pak, di mall"


"Oh, iya, iya" Pak Danu manggut - manggut.


"Oh iya, maaf ini dengan Bunda siapa?" Tanya Pak Danu.


"Saya Tara pak"


"Oh, Bunda Tara. Jadi Bunda, gini" Pak Danu menjeda sejenak. "Yang pertama yang ingin saya sampai kan, Randi, minggu depan mau saya ikutkan cerdas cermat di SD harapan 5, acaranya hari rabu tanggal 14 februari jam 8. Ya memang Randi masih kelas 3 dan lomba cerdas cermat ini biasanya diikuti sama anak kelas 5 tapi Randi itu cerdas dan menurut saya mampu mengikuti materi di kelas tinggi jadi saya ikutkan. Itung - itung juga untuk pengalaman" jelas Pak Danu.


"Jadi Bunda Tara bagaimana? Bunda mengijinkan atau tidak Randi ikut cerdas cermat?" tanya Pak Danu kemudian.


"Saya mengijinkan sekali Pak kalau memang dia mau ikut cerdas cermat. Bagaimana baiknya buat anak saya, saya dukung Pak."


"Baik kalau gitu, kalau memang bersedia Bunda tanda tangani ini dulu sebagai surat ijinnya" Pak Danu menyedorkan berkas dihadapannya yang kemudian ditandatangani oleh Tara.


"Lalu yang kedua. Bunda, disekolah kita ada program akselerasi, dan rencananya juga Randi mau kita ikutkan. Kemarin, saya dan beberapa guru serta kepala sekolah melakukan beberapa penilaian secara tidak langsung ke Randi yang dimulai dari semester lalu. Penilaiannya itu dimulai dari penilaian sikap, keterampilan, kepekaan, dan pengetahuan dan kebetulan nilai Randi bisa melebihi diatas rata - rata nilai ambang batas yang sudah ditentukan. Jadi jika Bunda Tara tidak keberatan, Randi akan kami daftarkan sebagai siswa program akselerasi begitu"


Tara manggut - manggut. Dalam hatinya ada rasa begitu bangga pada anaknya yang ternyata lebih pintar dari dugaannya selama ini. Randi, bisa tumbuh seperti sekarang, menjadi anak pintar benar - benar merupakan suatu anugrah terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2