Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 35


__ADS_3

Sandi dan Gilang baru saja sampai di mall. Mereka dengan di ikuti beberapa orang pegawai dibelakangnya berjalan dengan langkah cepat menuju bagian gedung mall yang katanya rusak berat. Bagian mall yang rusak itu ada disisi paling kanan mall dan katanya hanya bisa dilihat dari luar gedung.


"Waduh ..." Sandi yang langsung mengeluh melihat kondisi retakan bangunan yang memang parah. Tak lupa juga dia mengusap kasar wajahnya dengan ekspresi khawatir.


"Parah banget kan?" celetuk Gilang.


"Huft" Sandi tak menjawab malah menghembuskan nafas kasarnya.


Sandi memperhatikan sekitar bangunan yang rusak. Diatasnya terdapat sebuah blower mesin AC yang lumayan besar dan berat. Dan dibawahnya terdapat jalan pintas yang biasanya digunakan para distributor.


"Itu, blower pindahin dulu kesisi sana" perintah Sandi.


"Kalau itu dipindahin otomatis kita harus instalasi ulang, dan butuh waktu juga" jawab Gilang.


"Tapi kalau itu gak dipindahin, bisa ambruk nih gedung!" jawab Sandi tegas. "Kamu mau sampai ada korban jiwa?"


"Ya, emang gak ada pilihan lain" Gilang juga tampak pasrah.


"Jangan lupa hubungi kontraktornya, suruh urus itu dulu. Dan juga nanti kasih pemberitahuan ke mereka pemilik stand biar kita gak disalahin."


Sandi kembali melangkahkan kakinya sambil memeriksa sekeliling bangunan mall dengan masih diikuti mereka para karyawannya. Para karyawan terlihat sibuk mencatat semua permasalahan yang mereka temui.


Selesai dengan sisi luar gedung. Mereka kemudian memeriksa sisi dalam gedung. Ditengah keramaian para pengunjung. Sandi mengamati setiap sisi bangunan mulai dari lantai dasar sampai lantai paling atas yaitu lantai 4.


Sandi menghentikan langkahnya ketika sampai di sisi kanan mall yang tadi terlihat rusak para dari luar gedung. Didalam gedung, efek dari kerusakan itu adalah terjadinya kebocoran yang parah.


"Waduh, gak bisa gini ini Lang, secepatnya harus udah diperbaiki ini." kata Sandi dengan wajah mengeras menahan emosi.


"Kayaknya iya," jawab Gilang yang sama - sama mengeras.


"Terus ini bocornya sampai kelantai berapa ini?" tanya Sandi lagi.


"Kayaknya dilantai 2, kemarin aku liat disana selain bocor, blower juga gak fungsi. Yang punya stand udah pada protes."


Sandi manggut - manggut dan menggaruk keningnya yang tak gatal.


"Panggil si Yogi, setelah ini kita rapat, sama kontraktornya sekalian. Sekarang kita liat yang dilantai 2 kayak apa, aku pengen tahu."


Sandi dan rombongan kembali melangkahkan kakinya menuju lantai 2. Mereka kemudian menuju bagian lantai yang rusak.


"ckck" Sandi mendecak, yang kemudian diiringi nafas kasar lagi.

__ADS_1


"Gak beres nih, tau gitu, gak gue ambil nih mall kemarin" gerutu Sandi penuh penyesalan.


"Ya siapa yang tahu, kalau ternyata kayak gini, padahal kemarin hasil inspeksinya bagus."


"Siapin tim hukum juga, kita ajuin tuntutan ganti rugi pelanggaran kontrak kerja. Terus ini hitung berapa stand yang terdampak juga"


"Oke. Gas, tolong catet." perintah Gilang pada salah satu karyawan bernama Bagas.


"Siap pak" jawab Bagas, yang langsung sigap melaksanakan perintah.


"Terus untuk blower yang acnya ngadat terus gak sekalian diperiksa?" tanya Gilang. "Tuh, yang stand sana yang parah, yang punya juga rada bawel" Gilang menunjuk stand butik milih Kila.


"Oke, ayo"


Mereka pun kemudian berjalan menuju butik milik Kila. Sampai di butik, mereka hanya mendapati Nila dan Yuni. Gilang yang merasa sudah kenal Kila, berjalan lebih dulu menghampiri Yuni yang posisinya lebih dekat dengannya saat masuk.


"Kila mana?" tanya Gilang.


"Mbak Kila gak ada, hari ini gak kesini"


"Oh iya, lupa gue" kata Gilang yang baru ingat kalau Kila sedang bersih - bersih apartemen Sandi.


"Oh ya ini kita mau liat blower yang gak fungsi" lanjut Gilang.


Dengan gerakan wajah, Gilang menyuruh Sandi dan yang lain mendekat lalu mengikuti dirinya dan Yuni yang masuk keruangan dimana dipintunya tertempel khusus karyawan.


Didalam, Gilang dengan sigap mengecek blower dan beberapa hal yang lain yang ada di bagian langit - langit. Setelah selesai, Gilang memberi kode dengan menggelengkan kepala yang menandakan kalau semuanya memang harus diganti dan sudah tak layak pakai.


"Oke, lu bilang sama yang punya" perintah Sandi yang kemudian berjalan keluar dari butik sementara Yuni dan Nila saling mengkode karna baru pertama kali melihat Sandi yang katanya adalah pemilik baru mall.


"Eh, nanti kalau si Kila datang, bilang ya kalau saya tadi habis dari sini, nanti rencana semua alat yang gak fungsi mau kita ganti" pesan Gilang pada Yuni.


"Iya Pak, terima kasih Pak" jawab Yuni.


"Oke" jawab Gilang yang kemudian menyusul rombongannya.


Sepeninggalan para rombongan pemilik gedung. Yuni dan Nila saling mendekat dengan wajah yang tersenyum genit dan tawa kikikan.


"Eh, itu pasti yang punya ya ..." Yuni mulai mengadu.


"Iya, iya, itu pasti yang punya... uh,, ganteng banget.. wangi juga" ungkap Nila dengan tubuh yang sengaja digetarkan karna merasa bahagia bisa liat cowok ganteng.

__ADS_1


"Uh, iya ganteng banget..." Yuni yang ikutan girang juga.


Saat keduanya asik mengobrol tentang Sandi. Kila dan Randi baru saja memasuki butik.


"Aduh, kok pada heboh? emang ada apaan si?" celetuk Kila yang mendekat pada keduanya.


"Eh, Mbak Kila, he.." Nila meringis.


"Mbak, tadi ada Pak Gilang sama yang punya mall datang, yang punya ganteng Mbak," cerita Yuni.


"Iya mbak ganteng banget.." tambah Nila.


"Serius? kayak siapa gantengnya? gosipnya kayak artis korea emang bener?" Kila ikut nimbrung penasaran sementara Randi yang sejak tadi diam saja hanya geleng - geleng mendengar omongan para wanita dewasa dihadapannya.


"Iya, mbak bener, putih, bersih, mulus, hidungnya mancung punya lesung pipit terus wangi lagi... gak tega aku mbak, pengen aku emek - emek" jawab Yuni gatel diiringi tawa semuanya.


"Emang beneran ganteng banget? duh aku kok jadi penasaran"


"Iya.. beneran mbak. guanteng buanget. Rada mirip" seru Nila yang ketika itu matanya tak sengaja melihat Randi yang sedang duduk membaca buku.


"Eh, kok, bentar - bentar" Nila mengerutkan kedua alisnya memperhatikan Randi.


"Yun, kok kayak mirip Randi ya?" lanjutnya yang kali ini secara bergantian memandang Randi dan Yuni. "Coba deh liat dahinya, hidungnya sama bibirnya"


Semua jadi ikut memperhatikan.


"Eh, kok iya ya, kok jadi kayak Randi ya .. persis, hampir sama. kayaknya Randi ini kalau gede jadinya kayak yang punya mall" celetuk Yuni.


"Ih, kalian berdua ini, jadi ngerusak fantasiku. Kalau kayak Randi males ah!." Kila tak bersemangat lagi.


"Tapi Randi menurutku emang ganteng banget sih Mbak cuma sayangnya, masih kecil" timpal Yuni diiringi tawa olehnya dan Nila, sementara Kila cuma melirik pada Randi sambil mencebik.


Memang iya, faktanya memang anak temannya satu ini memang tampan. Selain itu dia juga pinter banget. Karna memang bibitnya dari orang yang cantik dan juga orang yang tampan.


"Oh iya Mbak, Mbak Kila udah bersih - bersihnya?" tanya Nila ingin tahu.


"Belum, biarin Tara aja" jawabnya dengan senyuman nakal.


"Hem, Mbak Kila" Nila geleng - geleng kepala, bosnya satu ini emang begini.


"Aku mau istirahat bentar aja ya, capek" kata Kila.

__ADS_1


"Randi, Mami tidur dulu ya, kamu kalau mau makan bisa beli sendirikan di foodcourt?" serunya pada Randi.


Dan dijawab dengan anggukan datar oleh Randi, karna fokus belajar untuk cerdas cermat besok.


__ADS_2