
Didalam kamarnya, Sandi terlihat sedang sibuk bersiap untuk berangkat kerja. Sandi berdiri didepan kaca. Sambil mengawasi penampilannya saat mengenakan kemeja, dan dasi dileher.
"Gimana Lang, udah siap semuanya?" tanya Sandi, yang berbicara dengan Gilang lewat airpod yang ada ditelinga.
"Iya, semuanya udah beres, hari ini kita udah bisa ngeliris berita terus klaim ganti rugi."
"Oke kalau gitu, berarti hari ini kita langsung ke kantor pusat. Jangan lupa semua dokumennya kamu bawah. Hari ini kita pasti bakal sibuk."
*"He'em*, oke, siap."
Sesuai dugaan. Setelah berita tentang skandal penggelapan dana dan juga kegiatan distribusi narkotika yang dilakukan Sasa dirilis. Seluruh jagat raya jadi heboh. Kantor berita jadi sibuk, kejaksaan sibuk, begitu juga dengan prima grup dan wiraka grup.
Para petinggi prima grup terlihat langsung mengadakan rapat darurat, begitu juga dengan wiraka grup. Nilai saham wiraka tiba - tiba anjlok. Dan perusahaan akan diaudit.
Sementara itu, disisi lain. Di sebuah baseman mall. Sebuah mobil sport baru saja berhenti dengan kasar. Tak peduli mobilnya yang melintang dijalan, dengan kasar juga Sasa keluar dari dalam mobil itu. Langkah kakinya menghentak dengan cepat naik kelantai paling atas .sebuah gedung.
"Lo, bu, mau kemana?" Bagas menghentikan Sasa yang hendak menerobos ke ruangan Sandi.
"Minggir!." hardik Sasa dengan menatap sinis.
"Tapi maaf, ibu tetep gak boleh masuk."
"Gue bilang minggir!!!" hardik Sasa mendorong Bagas sampai Bagas terpental.
"Bu ..." pekik Bagas tapi keburu Sasa mendobrak pintu ruangan.
BRRAAAKKKKKK!!!!
Suara pintu yang didorong dengan kasar oleh Sasa mengalihkan perhatian beberapa karyawan yang ada disana. Begitu juga dengan Sandi dan Gilang yang sedang berbincang di dalam ruangannya.
"BRENGSEK!!!" Sasa melangkah masuk sambil melepas tas yang diselempangnya dan kemudian langsung dilempar ke arah Sandi.
Braakk!!!
Untung saja lemparan itu meleset. Sandi bisa menghindar.
"DASAR BRENGSEK!!! berani - beraninya lu ikut campur sama urusan gue!!." pekik Sasa berang. "Sekarang gue minta lu tarik semua berita yang beredar itu. Atau kalau enggak semua perjanjian kerja antara prima sama wiraka bakal gue cabut. Lu bisa bayangin kan gimana kerugian prima grup kalau sampai kerjasama kita terputus."
"Heh," Sandi tersenyum sinis. "Lu ini datang - datang langsung emosi."
"CEPET TARIK BERITA ITU SEKARANG JUGA!!!!" erang Sasa dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1
"Kenapa? lu takut?" jawab Sandi santai sambil mendekat pada Sasa. "Masak baru begini udah takut? padahal ini masih belum seberapa."
"Bukannya prima grup juga sama. Yayasan prima luhur. Itu tempat kalian kan?" Sasa mencoba mengancam.
"Yayasan prima luhur? kamu lupa kalau itu sekarang yang jadi ketua yayasannya ibu lu?" Sandi tersenyum sinis lagi. Sementara Sasa terdiam.
"Astaga... kamu lupa?" pekik Sandi lagi dengan tawa mengejek.
"Sa, dari pada lu marah - marah disini. Mending sekarang lu cepet kabur aja. Kejaksaan sudah cari lu kemana - mana. Jangan sampai karna lu kelamaan disini, lu jadi ketinggalan pesawat buat kabur."
"DASAR BRENGSEK!!" Sasa mengayunkan tangannya untuk menampar Sandi. Tapi tangannya terhenti karna ditangkis oleh Sandi.
"BRENGSEKKKKK!!!" Sasa mencoba lagi dengan tangan yang satunya. Tapi ditangkis lagi oleh Sandi dan kemudian dihempaskan dengan kasar.
Sandi melangkah maju selangkah. Wajahnya didekatkan ke wajah Sasa dengan tatapan tajam. Dan mulutnya mulai menyeringai.
"Ini pembalasan dari gue karna lu udah gangguin orang yang gue sayang."
"Heh," Sasa ikut menyeringai. "Jadi karna itu, kamu bocorin rahasia gue yang udah lama lu pendam? Lu, tunggu aja, gue gak bakal biarin lu nginjek - nginjek gue kayak gini. Gue bakal bales lu lebih kejam dari pada ini. Camkan itu!"
"Silahkan kalau lu bisa." Sandi menjauhkan dirinya dengan santai. "Tapi gue kira lu gak bakalan bisa, karna sebentar lagi lu bakalan mendekap dipenjara!."
Sasa terdiam menatap tajam lelaki yang berdiri dihadapannya. Emosi sudah memenuhi sekujur tubuh dengan tangan yang menggenggam kuat sampai semua uratnya keluar.
Setelah dari kantor Sandi. Sasa kini sudah bersama dengan sang ayah. Saat ini, dia sedang dimarahi habis - habisan oleh sang ayah. Menangis, memohon bahkan bersujud rupanya tak mampu membuat hati sang ayah melunak.
"Pak, orang kejaksaan sudah datang.." kata sekertaris Pak Wiraka yang menerobos masuk kedalam ruangannya.
Pak Wiraka menghembuskan nafas kasarnya. Dia menatap berang Sasa yang menyembah dirinya.
"Kamu, serahkan diri kamu. Nanti papa bantu agar hukumanmu gak terlalu banyak" ucap Pak Wiraka pasrah.
"Enggak, Pa aku gak mau. Kirim aku keluar negeri aja. Jangan suruh aku untuk masuk penjara Pa, tolong ..."
"Kalau kamu tidak mau seperti ini kenapa kamu menggelapkan dana sama jual narkotika? dimana akal sehat kamu?"
"Aku gak bermaksud begitu pa, aku cuma ikut - ikutan karna katanya menghasilkan banyak uang."
"Itu sama saja Sasa! papa gak mau tahu, kamu serahkan diri kamu. Karna kalau kamu tidak menyerahkan diri nama perusahan jadi taruhannya. Dan papa gak mau kalau sampai perusahan semakin merugi."
"Oke kalau papa gak mau bantu aku. Aku hancurin aja semuanya sekalian. Biar bukan cuma aku aja yang menderita!" pekik Sasa yang kemudian benar - benar kabur dari kejaran jaksa.
__ADS_1
***
"Kil, si Randi mana ya? aku kok gak kelihatan sama sekali?" tanya Tara pada Kila yang sedang asik mengecat kuku diruang belakang.
"Randi? bukannya tadi di depan?"
"Gak ada, aku belum ketemu dia sama sekali mulai tadi."
"Main kali ke timezone."
Sudah beberapa kali Tara menghubungi ponsel Randi. Tapi ponsel sang anak tak aktif. Karna sudah tak sabar. Tara akhirnya berangkat mencari Randi. Dia berjalan ke timezone tapi Randi tak ada. Tara kemudian juga ke playground. Tapi Randi juga tak ada.
"Kemana ya Kil? di timezone gak ada di playground juga gak ada. Padahal ini udah jam 3 sore, dia belum makan." Tanya Tara cemas.
"Sama papanya kali Tar."
"Ya kalau sama papanya kenapa gak bilang?" tanya Tara terdengar sedikit marah dan kesal.
"Ya mana ku tahu!."
Tara akhirnya memilih untuk menunggu. Tapi, sampai jam 5 sore Randi masih belum kembali juga.
"Randi belum balik Tar?" tanya Kila.
"Belum." jawab Tara dengan raut muka cemas.
"Udah kamu telpon si Sandi?"
"Belum."
"Belum? Astaga ..." dengus Kila jadi kesal sendiri. "Kenapa belum ditelpon?"
Tara terdiam. Sementara Kila yang melihat reaksinya jadi sebal, dan sontak merebut ponsel ditangan Tara untuk menyalin nomor ponsel Sandi dari ponselnya.
"Ini, kamu tanya sendiri. Soalnya Randi itu bukan anakku, atau kalau enggak kamu tetep kepikiran karna gak tau Randi ada dimana." pekik Kila dengan tegas.
"Hallo ..." suara Sandi terdengar dari balik telpon.
"Hallo," jawab Tara lirih.
"Tar, ada apa?"
__ADS_1
"Mas, Randi, sekarang apa lagi sama Mas Sandi? soalnya dia gak ada disini."
"Randi? enggak, dia gak disini. Aku sedari tadi dikantor. Tar, apa Randi gak ada?"