Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 69


__ADS_3

"Mana Randi?!. hardik Sandi.


"Randi? Randi siapa? emang ada yang namanya Randi? setahu gue yang ada cuma seseorang yang namanya San-di!." saut Sasa yang secara perlahan melangkah mendekati keduanya.


"Lu jangan main - main!."


Sasa tertawa. "Yang main - main siapa? bukannya yang main - main duluan itu lu?."


"Cepet jawab, mana Randi?!" hardik Sandi, tak sabar.


"Hai, ..." Sasa malah menyapa Tara dengan gaya menyebalkan. "Kita ketemu lagi ..."


Sementara Tara hanya membalas dengan tatapan tajam.


"Ups!. Kok jadi emosi gitu sih?" ucap Sasa lagi.


"SASA!!" bentak Sandi tak sabar. Sikap Sasa itu benar - benar menjengkelkan.


"Dimana Randi?!" hardik Sandi lagi, tapi Sasa cuma mencebik dengan bibir tersenyum sembari mengangkat bahunya seolah tak tahu.


"Lu," Sandi menatap tajam Sasa. "Kalau sampai terjadi apa - apa sama Randi. Gue gak bakalan maafin lu. Jadi sekarang lebih baik lu bilang dimana dia. Atau kalau enggak, lu rasain sendiri akibatnya."


Sasa menyeringai melihat reaksi Sandi. Dia kemudian tertawa jahat.


"Lu, kira gue bakalan takut sama ancaman lu? Asal lu tahu didunia ini udah gak ada yang gue takutin. Jadi ancaman lu percuma. Dan untuk anak kecil itu. Mungkin sekarang dia udah gak hidup. Karna tadi udah gue kasih makan sama racun." pekik Sasa.


Ucapan Sasa jelas memprovoskasi Sandi. Saat itu, Sandi hendak maju menarik kra baju Sasa, tapi tindakannya berhenti saat didahului oleh Tara.


"DASAR BRENGSEK!!! DASAR WANITA JAHAT!!!" Tara langsung menghantam Sasa.


Secara membabi buta Tara mulai memukuli Sasa. Tapi karna Sasa tak mau kalah, keduanya pun akhirnya berkelahi. Ditengah Sasa dan Tara yang berkelahi, Sandi mendengar suara ketukan dari ruang sebelah.


"Randi ..." seru Sandi, yang langsung bergegas ke ruang sebelah. Begitu juga dengan Tara yang mendengar pekikan dari Sandi. Dia mencoba menyusul tapi terhenti karna Sasa yang menarik kakinya.


"Mau kemana lu!!! Berani - beraninya lu mukul gue. Dasar lon**!!!" maki Sasa.


Sandi berusaha mendobrak pintu ruang sebelah. Berkali - kali dicoba tapi pintu itu tetap tak terbuka. Sampai akhirnya Sandi pun memukulkan meja kecil ke gagang pintu.


BRAKKKK


Pintu pun terbuka. Terlihat Randi yang tangannya sedang diikat dan mulutnya dplester. Tatapan anak itu, menunjukkan kalau sedang ketakutan.

__ADS_1


"Papa ..." seru Randi lirih, setelah ikatan tangan dan plesternya dibuka.


"Ran, kamu gak apa - apa, kan?" Sandi memeluk erat sang anak. Dan sang anak mengangguk sambil menangis. Sementara Sandi mengeratkan pelukannya.


"Bunda ..." pekik Sandi yang teringat pada Tara. Mereka kemudian berlari menghampiri Tara lagi.


"Bunda ..." seru Randi, mengalihkan perhatian Tara dan Sasa yang sedang berkelahi.


"Randi ..." Tara berusaha menghampiri Randi, tapi terhenti karna pukulan Sasa. Melihat itu, Sandi dengan sigap langsung mendorong Sasa.


"Ran, kamu gak apa - apa?" tanya Tara dengan suara bergetar dan memegang wajah dan tubuh anaknya. Setelah itu memeluknya erat.


"Maafin bunda, Ran. Maafin bunda. .." ucap Tara dengan derain air mata.


"Heh," Sasa kembali menyeringai. Secara perlahan dia mengeluarkan cutter dari saku bajunya sambil menatap tajam Tara.


"Gue gak bakal biarin kalian bertiga bahagia!!!" pekik Sasa, menerjang Tara. Tapi, dengan gesit Sandi yang melihat gerakan Sasa. Sontak langsung berlari untuk menyelamatkan Tara.


Didorongnya kuat tubuh Tara sampai wanita itu terjatuh dan perutnyalah yang terkena sayatan dari cutter yang dipegang Sasa. Dan sementara Randi yang melihat Sandi terluka dengan cekatan ikut menyelamatkan sang ayah.


Randi mendorong Sasa sekuat. Sambil berteriak memanggil sang papa.


"AAHHHHH ..." jerit Sasa.


"MAS SANDI ..." seru Tara.


Dan tepat saat itu. Gilang dan beberapa polisi juga baru masuk kedalam vila. Gilang, bergegas menghampiri Sandi sementara para polisi langsung menangkap Sasa.


Sasa digiring polisi. Wanita itu tampak merontah - rontah menolak dimasukkan ke dalam mobil. Sementara Sandi juga baru saja dibopong ke dalam ambulan ditemani Gilang. Dan tak jauh dari mereka. Tampak Kila, Tara dan Randi yang menyaksikan.


"Ini, kamu minum dulu ..." Kila menjulurkan sebotol air putih pada Tara dan juga Randi. Saat itu Tara dan Randi masih berpelukan erat karna masih merasa syok.


"Udah, jangan takut lagi. Sekarang udah aman, Sasa udah dibawah polisi." ucap Kila menenangkan, sementara Tara mengangguk kecil.


"Kita pulang juga yuk ..." ajak Kila.


Tara, Randi dan Kila sudah berada dalam perjalanan. Suasana begitu sunyi. Randi sudah tertidur dalam pelukannya. Kila sedang konsentrasi mengemudikan mobil milik Sandi yang mereka tumpangi. Sementara Tara masih menerawang jauh memandang lampu jalanan lewat kaca samping mobil. Hingga akhirnya, beberapa jam dalam perjalanan. Mobil itu berhenti di depan rumah.


"Tar, udah sampai." ucap Kila menyadarkan Tara dari lamunannya. "Turun yuk ..."


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam. Dan Randi baru saja tertidur. Secara perlahan, Tara menarik tangannya yang sejak tadi dipegang erat oleh anaknya.

__ADS_1


"Udah tidur?" tanya Kila, yang masih duduk di depan TV saat melihat Tara baru saja keluar dari kamar Randi.


"He'e, baru aja." jawab Tara sambil duduk disamping sahabatnya.


"Aku gak kebayang gimana takutnya Randi tadi. Diskap sama di iket kayak gitu, semoga aja dia gak trauma."


"He'em, aku harap juga gitu ..."


"Huft!! untung aja Randi masih baik - baik aja. Coba aja kalau tadi sampai kenapa - napa bakal aku habisin ditempat tuh Sasa. Huft!!! greget aku sama dia!." Kila mulai emosi sendiri.


"Terus gimana bisa juga ada orang kayak dia? Dia itu, bener - bener melewati batas imajinasiku. Udah galapin dana, jual narkoba sekarang penculikan. Bener - bener penjahat kelas kakap. Ckckckck." Kila mendecak.


"Kerja bagus!. Orang kayak gitu emang pantes di hajar." Kata Kila sambil menepuk bahu Tara. "Ya, walaupun kamu juga di pukul ..." celetuknya kemudian.


"Yang penting kan udah berhasil aku pukul." jawab Tara sambil tertawa kecil.


"He'e betul..." saut Kila.


"Huft, lega rasanya. Akhirnya semuanya udah berakhir." Kila menghempaskan kepalanya ke sofa. "Sekarang Sasa udah ditangkep, dan dia pasti bakal mendekam di penjara. Jadi mulai sekarang kamu gak perlu khawatir lagi. Gangguan hidup kamu sama Randi udah menghilang, kamu udah bisa hidup bahagia lagi."


"Jadi Tar, ..." Kila mendekatkan tubuhnya ke Tara, mencoba menggoda sahabatnya. "Gimana?"


"Gimana? gimana apanya?" Tara mengernyit.


"Ya gimana, bapaknya Randi??"


"Bapaknya Randi? emang kenapa?"


"Kamu mau terima dia gak?" tanya Kila penasaran.


"Emmm ...." Tara menggumam.


"Jangan bilang kamu masih gak mau terima dia? padahal dia udah sampe terluka gitu." dengus Kila.


"Kok kamu jadi ngegas sih?"


"Ya kamu masih aja, sok jual mahal. Aku kan jadi greget!."


Tara tertawa. "Udah, ah ... malem, aku mau tidur..."


"Ih, dasar gak punya ati!!"

__ADS_1


"Terserah, kamu mau bilang apa!." jawab Tara meninggalkan Kila masuk kedalam kamar dengan senyum yang menyungging diwajah.


__ADS_2