
Sandi terbangun karna rasa gerah yang sudah menjalar keseluruh tubuhya. Tubuhnya sudah dipenuhi keringat, sampai selimut dan spreinya juga terlihat melembab.
Jam didinding sudah pukul 11 malam. Randi sudah terlelap disampingnya dengan memeluk guling. Diusapnya rambut sang anak dengan sayang sambil tersenyum lembut.
Sandi hendak turun dari ranjangnya. Tapi matanya tertuju keruang tengah dimana Tara sedang tidur di atas sofa. Senyumnya mengembang mengingat perhatian yang sudah diberikan oleh wanita itu untuknya.
Puas menatap dari jauh. Sandi turun dari ranjang. Dia membuka lemari dan mengeluarkan selimut. Tak lupa juga Sandi memungut bantal untuk dibawah ke ruang tengah.
Perlahan, Sandi mengangkat kepala Tara dengan harapan Tara tak bangun. Dia kemudian menidurkannya kembali kepala Tara dibantal yang tadi sudah diletakkan dibawahnya. Setelahnya, Sandi juga menyelimuti tubuh Tara. Puas dengan hasil kerjanya. Sandi lantas duduk meringkuk dihadapan Tara dengan menompang kepala dikaki.
Lagi - lagi wajah Tara membuat Sandi terpana. Garis wajah wanita dihadapannya begitu tegas tapi terlihat begitu cantik. Apalagi bibir tipis yang berwarna merah itu. Andai bisa, ingin sekali rasanya dia merasakannya lagi. Sungguh, betapa rindu sebetulnya hatinya.
Beberapa saat memandang wajah ayu Tara. Secara perlahan mata Sandi mulai tak bisa menahan kantuk. Rasa kantuk kembali menyerang dirinya. Hingga akhirnya dia pun terlelap dalam posisi duduk menyandar ke sofa.
***
Suara adan mulai terdengar dari speaker masjid. Meskipun suaranya samar - samar tapi mampu membangunkan Tara yang sedang terlelap.
Tara menggeliatkan badan. Matanya perlahan terbuka. Wajahnya langsung mengernyit. Tiba - tiba saja dirinya sudah memakai bantal dan juga selimut. Tapi kemudian Tara langsung paham. Ada sosok lelaki yang sedang tertidur disebelahnya.
Tara menatap lembut wajah tampan lelaki dihadapannya. Tangannya terlihat bergerak mengikuti garis wajah Sandi. Alis yang tebal, hidung yang mancung, bibir yang merah sedikit tebal. Dan pipi yang menyembunyikan lesung pipit. Dan terlebih, dia ini kaya raya. Jadi, rasanya tak mungkin orang seperti ini bisa mencintainya.
Sudah puas memandangi wajah Sandi. Tangan Tara mulai bergerak lembut menyentuh kening sang lelaki. Demannya sudah turun. Sudah tak terasa panas seperti tadi lagi.
"Mas," seru Tara membangunkan Sandi dengan pelan. Sementara Sandi tak bergerak.
"Mas, ..." Tara menggoyangkan badan Sandi, dan kali ini Sandi menggeliat.
"Mas Sandi..." ulangnya lagi, hingga akhirnya Sandi mengerang.
"Hmmm ..." Sandi masih berusaha mengembalikan kesadarannya. "Aku ketiduran, ya?"
Tara mengangguk.
"Jam berapa sekarang?" tanya Sandi yang kemudian menengok pada jam yang ada di dinding. Ternyata masih jam 5 pagi. Dan dia pun kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa yang lainnya.
"Mas, tidur di kamar." pekik Tara.
"Mas," seru Tara lagi karna tak dihiraukan.
__ADS_1
"Mas Sandi!." ucap Tara sedikit menekan.
"Aku udah gak apa - apa, aku udah baikan." jawab Sandi yang matanya tertutup, tapi melipat tangannya ke dada agar tak terlalu dingin.
"Nanti kamu masuk angin lagi."
"Enggak, gak akan, nanti juga bisa minum obat lagi." Sandi masih membantah.
Tapi kemudian matanya terbuka. "Kalau gitu, biar gak masuk angin, aku ambilin selimut, ya? Sama bantal juga kalau bisa..." tambahnya sambil meringis.
Tara mendengus. Wajahnya berubah masam. Karna sekali lagi tak percaya dengan sikap Sandi padanya.
Dengan kasar, Tara kemudian melempar bantal dan juga selimut yang sempat di gunakan semalam. Lemparan itu, tepat mengenai wajah Sandi. Hingga membuat Sandi jadi terperajat.
"Aish..." pekik Sandi kaget. Tapi kemudian tertawa kecil.
"Hm, dasar..." gerutu Sandi dengan sisa tawanya, dan kemudian kembali meringkuk di sofa.
"Ran, bangun, Ran ..." desis Tara menggoyangkan tubuh Randi yang tidur di dalam kamar.
"Ran ayo bangun, ayo kita pulang. Ini udah pagi, bentar lagi kamu harus sekolah."
"Emmm, Bunda ..." Randi mengerang dan merubah posisi tidurnya.
"Bunda, masih ngantuk."
"Iya, tapi kita harus pulang, ini udah pagi."
"Itu masih jam 5 bunda." jawab Randi setelah melirik jam di dinding.
"Iya, mangkannya itu kita harus cepet pulang. Kalau enggak nanti telat sekolahnya. Hari ini kamu ada olimpiade, kan?"
"Emmm ..." Randi mengerang lagi dan hendak membaringkan badannya lagi.
"Randi!." pekik Tara.
Randi menghela nafasnya berat. Wajahnya masih lesu dan matanya setengah terbuka. Tapi meskipun begitu Randi akhirnya bangun dan mengikuti langkah sang bunda.
"Ayo pakai jaketnya." perintah Tara saat sudah ada diruang tengah.
__ADS_1
"Pa, papa sudah sembuh?" Randi menyapa Sandi lebih dulu. Dia lalu memegang keningnya untuk mengukur suhu tubuh ayahnya. "Udah gak panas, berarti papa sudah sembuh."
"Iya, papa udah sembuh. Tapi ini kalian mau kemana?"
"Mau pulang." jawab Randi.
"Pulang?" Sandi langsung tersentak bangun.
"Iya aku mau sekolah. Hari ini aku mau lomba olimpiade." jawab Randi.
"Udah siap kan Ran? Ayo ..." ajak Tara pada sang anak tanpa berpamitan pada Sandi.
"Sebentar," Sandi menghentikan langkah kaki Tara dan Sandi.
"Aku anter..." seru Sandi cepat.
"Enggak, kita bisa pulang sendiri." tolak Tara.
"Aku anter, ini masih pagi, angkot masih jarang begitu juga sama taksi. Jadi biar cepet biar aku antar."
"Kalau aku bilang enggak, enggak Mas!."
Sandi menatap lekat Tara dengan tangan dilipat ke dada. Secara perlahan Sandi mendekati Tara.
"Tapi, meskipun kamu bilang enggak, aku tetap mau nganter, soalnya yang mau aku anterin itu Randi. Bukan kamu." ucap Sandi merangkul sang anak meninggalkan Tara yang wajahnya berubah masam.
Sandi dan Randi sudah duduk di dalam mobil. Begitu juga dengan Tara duduk dikursi belakang meskipun awalnya menolak akhirnya ikut juga.
"Huh, papa bau keringet, ya Ran?" Sandi mendengus bajunya sendiri karna tadi tak sempat ganti baju.
"Hem, iya, bau ..." Randi ikut mendengus baju sang ayah.
"Apa papa ganti dulu? tapi kalau ganti nanti kesiangan." gumam Sandi. "Jadi biarin aja ya, gak apa - apa kan sekali - sekali, biasanya yang bau kayak gini biasanya ngangenin." Sandi melirik spiyon didalam mobil untuk melihat reaksi Tara yang duduk dibelakang. Sementara yang ditengok sedari tadi memalingkan muka menatap lurus keluar lewat kaca samping mobil.
Beberapa saat diperjalanan. Akhirnya, mobil Sandi sampai didepan rumah. Ketiga orang itu kemudian turun dari mobil. Dan terlihat Randi yang langsung berlari masuk kedalam rumah terlebih dulu.
"Tar," Sandi meraih tangan Tara untuk menghentikan langkahnya.
"Tar," Tangan itu turun kejemari - jemari Tara. "Tunggu, sebentar lagi. Sebentar lagi kamu gak perlu takut lagi. Sebentar lagi kita bisa sama - sama lagi."
__ADS_1
"Tar, setelah semuanya selesai. Ayo kita menikah ..." ajak Sandi menggenggam jemari Tara dengan lembut tapi terasa kuat.
"Kamu mau, kan? menikah sama aku?"