Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 73


__ADS_3

Hari pernikahan antara Sandi dan Tara tiba. Semua sanak saudara sudah berkumpul ditempat prosesi pernikahan. Para tamu juga sudah terlihat mulai berdatangan dan disambut bahagia oleh orang tua Sandi dan juga Sandi sendiri.


Didalam ruang tunggu pengantin perempuan. Tampak Tara tengah duduk di sofa mengenakan gaun pengantinnya. Wajahnya terlihat bahagia dimana bibirnya tak bisa berhenti tersenyum baik ketika dimintai foto bersama oleh kerabat atau pun sedang diam sendiri.


"Mas, ..." seru Tara menyambut Mas Ilham yang ada di depan pintu.


"Adiknya Mas ini, emang cantik ..." puji Mas Ilham sambil berjalan mendekat. Sementara Tara menjawab dengan melempar senyum atas pujian yang diberikan kakaknya.


Mas Ilham kemudian jongkok dihadapan Tara. Tangannya mengelus pipi sang adik lembut.


"Akhirnya, sekarang kamu bisa menikah sama orang yang kamu cintai." desisnya, dimana diujung matanya sudah menggenang air mata.


"Sekarang Mas Ilham lega. Mas Ilham udah gak perlu lagi ngerawat kamu sama Randi. Mas Ilham juga gak perlu lagi, jengguk kamu kesini 3 bulan sekali. Sekarang Mas Ilham, kalau kangen kamu, kangen Randi, udah tinggal perintah, suruh suamimu nganterin kamu ke jakarta." lanjut Mas Ilham.


"Iya, Mas ..." jawab Tara meskipun tersenyum tapi diujung kelopak matanya juga iku menggenang air mata.


"Ini, kalau ibu sama bapak masih ada. Mereka pasti juga pasti seneng melihat kamu menikah sekarang." ucap Mas Ilham lagi, yang kali ini sudah tak bisa menahan air matanya. Begitu juga Tara.


"Tar, Mas bahagia, kalau kamu bisa bahagia ..." Ucap Mas Ilham begitu tulus, untuk kebahagiannya adiknya.


"Iya, makasih ya Mas, ... Mas Ilham udah jagain aku sama Randi. Maafin aku juga ya Mas, selama ini aku udah buat Mas Ilham kepikiran aku terus ..." jawab Tara ditengah guyuran air mata diwajahnya.


Ketika, kakak dan adik itu tengah dilanda rasa sedih sekaligus bahagia. Datanglah seseorang yang menghampiri keduanya.


"Mas ..." sapa Sandi pada Mas Ilham, yang setelah kedatangan Sandi langsung berdiri sambil menghapus air matanya.


"Hei, iya ..." saut Mas Ilham.


"Mas Ilham jangan khawatir lagi. Tara sama Randi pasti aku bahagiakan. Mereka gak akan aku sia - siakan lagi. Dan pasti aku jaga baik - baik." ucap Sandi sambil menatap sang istri dengan tangan yang sibuk menghapus air matanya. Sementara sang istri membalas sang suami dengan senyum.


"Ya memang kamu harus seperti itu, jangan sampai kamu sia - siakan mereka lagi. Kalau enggak kamu bakalan berhadapan sama Mas lagi." balas Mas Ilham, memasang badan melindungi sang adik.

__ADS_1


"Tenang Mas, tenang. Aku pastikan gak sampai berhadapan lagi sama Mas Ilham. Ngeri soalnya, udah pernah." celetuk Sandi membuat Mas Ilham dan Tara jadi tertawa kecil.


Acara prosesi pernikahan dimulai. Tara yang ditemani mas Ilham berjalan dialtar dengan diiringi lagi pernikahan dan juga tepuk tangan dari para tamu undangan. Didepan mereka, juga ada Randi dan Sofia dengan bahagia menaburkan bunga.


Sampai di depan podium. Randi dan Sofia turun. Begitu juga Mas Ilham setelah menyerahkan Tara pada Sandi yang sudah berdiri menunggu kedatangan pengantin wanita.


Sandi dan Tara mengucap janji suci. Setelah itu, keduanya saling mengaitkan cincin dijari manis masing - masing. Tak lupa juga, sebuah ciuman manis dilepas ditengah kehadiran para hadirin. Seolah menandai, jika keduanya kini sudah resmi sebagai sepasang suami istri.


Resepsi pernikahan akhirnya selesai. Para kerabat yang datang mulai berkumpul dibawah podium menunggu pengantin melempar bunga.


"Kila, ayo ..." ajak Tara yang saat itu sedang bersama Sandi hendak naik kepodium untuk melempar bunga. Tapi yang diajak cuma menggeleng dengan wajah murung dan masam.


"Kenapa? ayo dong ikutan, Bunganya biar aku lempar kearah kamu." ucap Tara.


"Gak usah, percuma." jawabnya malas. Dan malah menompang kepala dengan tangan dimeja. Membuat Tara tak enak hati.


"Ayo dong, Kil. Sebentar aja ..." Kali ini Sandi yang meminta.


"Ogah!" Kila malah memalingkan muka, dan pura - pura memainkan kukunya.


"Aku bilang enggak Tar!. Percuma. Lagian aku juga gak punya pacar. Jangankan pacar temen cowok aja aku gak punya." dengus Kila.


"Mbak Tara ... Mas Sandi... ayo ..." suara dari sebrang sudah tak sabar memanggil Tara dan Sandi untuk segera datang. Membuat keduanya menoleh sejenak


"Tuh, udah dipanggil." tukas Kila dingin, tanpa menatap kedua pengantin yang berdiri dihadapannya. Tapi keduanya tak segera beranjak.


"Kila, ikut yuk ..." seru Tara yang terdengar lirih dan penuh harap.


"Mbak ... Mas ..." Lagi - lagi yang di sebrang memanggil.


"Udah sana jalan, udah dipanggil lagi, tuh." tukas Kila lagi.

__ADS_1


Tara menghela nafasnya berat. Entah apa yang membuat sahabatnya ini mulai kemarin ngambek padanya. Tapi karna yang disebrang terus - menerus memanggil. Dengan berat hati. Tara dan Sandi pun meninggalkan Kila yang berwajah murung sendiri.


Tara dan Sandi, naik podium. Dengan dipndu oleh MC, mereka berdua mengambil ancang - ancang untuk melempar bunga. Dimana saat itu ternyata keduanya diawasi oleh mata dingin, sedih dan tak rela dari Kila disebrang.


"1...2...3..." sang MC memberi aba - aba.


Tara dan Sandi melemparkan bunganya.


SEEETTTT ...


Tangan seorang lelaki menerima bunga tersebut. Lelaki itu adalah Gilang, yang langsung tersenyum bahagia dengan bunga ditangannya.


"Hahahaha, bentar lagi giliran gue, nih!." gumamnya sendiri, tapi saat itu ada Sandi dan Tara yang baru turun.


"Heh, lu tangkap juga percuma. Mau nikah sama siapa lu? pasangan aja gak punya."celetuk Sandi. Dimana saat itu, sambil mengangguk pada Tara yang pamit padanya untuk menghampiri Kila.


"Eits, jangan salah, gue udah punya target! tunggu aja, begitu berhasil langsung gue ajak nikah si Kila."


"What? Kila? jadi lu naksir Kila selama ini?" Sandi terperajat.


"Iya! emang kenapa? gak boleh gue naksir dia?" dengus Gilang, pengakuan ini jelas membuat Sandi tertawa.


"Hahaha, lu ini. Padahal tiap kali ketemu Kila, lu selalu emosi. Tapi ternyata lu suka juga."


"Aishh! tahu deh, Soalnya dia nyablak sih orangnya." Gilang malah frustasi, sambil garuk - garuk kepala jika memikirkan sifat Kila yang menggebu - gebu, gak sabaran.


"Lang, gue kasih bocoran. Rencana, mulai besok Kila bakal tinggal di apartemen juga. Dia bakal nempatin unit yang ada didepan gue. Jadi,besok lu datang, bantuin dia pindahan, oke?" ungkap Sandi.


"Serius lu?"


"He'em. Karna gak mungkin juga dia tinggal sendiri diperumahan. Jadi, memang sengaja gue bawah juga. Jadi, kalau seandainya lu beneran serius sama Kila, gue juga jadi lega. Paling enggak, Kila juga ada yang jagain." ungkap Sandi. Sementara Gilang manggut - manggut mantap.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu, besok gue ijin ya, gak ngantor. Besok, tolong lu suruh si Bagas aja yang ke prima toserba. Soalnya ini lebih penting..." tukas Gilang kemudian, menepuk bahu Sandi dengan gaya sok bosnya, sambil melipir pergi.


"Aiishh!! gak bisa! gue gak ngijinin!" dengus Sandi kesal, Kelakuan Gilang membuatnya jengah.


__ADS_2