
"Hem. Udah capek - capek nyobain semua baju. Eh, ujung - ujungnya gak ada yang dibeli." dengus Gilang, saat mereka menyusuri mall untuk kembali ke butik, dengan tangan membawa beberapa paperbag milik Kila.
"Huft, mau gimana lagi, orang mahal!."
"Ya namanya juga branded, ya pasti mahal lah!" timpal Gilang. "Lagian lu juga, sok - sokan masuk kesana, tapi dompet tipis!."
"Ih!" Kila mendengus dengan wajah masam. Sementara Gilang geleng - geleng kepala.
"Oh iya Kil." Gilang merubah topik pembicaraan. "Lu kok gak bilang sih, kalau temen lu itu ternyata si Tara."
"Lah, emang lu nanya?"
"Ya ... mau nanya gimana, orang lu kalau belum ditanya udah nyolot duluan. Jadi gue kan gak berani mau nanya - nanya."
"Hem, terus lu beraninya cuma ngelirik doang, gitu?" Kila mencebik.
"Eh, siapa yang ngelirik!."
"Ya siapa lagi, elu lah!" jawab Kila cepat. "Asal lu tahu, muka lu, kalau udah ketemu Tara langsung noh berubah, senyum - senyum gak jelas."
"Eh, mana ada! lu ini jangan ngada - ngada!."
"Alah udah deh, gak usah ngeles. Udah jelas - jelas juga. Bahkan, lu gak percaya kan kalau Randi anaknya si Tara? terus lu ngiranya dia itu anak gue, kan? ngaku deh lu!."
"Aish! lu ini! mana ada gitu. jangan ngada - ngada! Gila kali kalau gue sampai naksir Tara."
"Ya, mangkannya. Jangan lirak - lirik lagi kalau gak mau dimakan sama pawangnya!."
"Uh! nih orang. Gak percayaan banget." dengus Gilang gregetan.
"Udah, ah, mana. udah nyampek!" Kila menyaut paksa paperbag yang ada ditangan Gilang.
"Aish! gak bisa ya pelan - pelan. Perempuan gak ada lembut - lembutnya sama sekali."
"Gak bisa kalau sama lu!" pekik Kila langsung melenggang pergi.
"Aish, lu gak mau ngucapin terima kasih dulu gitu, udah gue temenin?" pekik Gilang dengan nada sedikit keras karna jaraknya dan Kila kian jauh.
__ADS_1
"Enggak!" Kila berbalik dan menghentikan langkahnya sejenak. "Benerin dulu tuh blower biar gak bocor terus, baru deh gue bilang makasih. Weekkk!!" imbuhnya lagi mengejek Gilang, menjulurkan lidahnya dan kemudian kembali melangkah masuk kedalam butiknya.
"Aish! dasar! huh!." dengus Gilang kesal, yang ikut menghentakkan kaki bergegas kembali ke kantor.
Kila menghempaskan bokongnya ke atas kursi di ruang belakang. Tubuhnya bersandar ke tembok. Tangannya sibuk melepas tas, sementara kakinya bergerak - gerak melepas sepatu hak tingginya.
"Dari mana kamu Kil? habis shoping?" seru Tara menghampiri sahabatnya.
"Iya, capek banget ..."
"Belanja apa aja? kok banyak banget?" Tara melirik paparbag yang terjejer rapi dibawah kaki Kila.
"Eh, iya, itu," Kila menegakkan kembali badannya dan menaikkan paperbagnya ke atas meja. "Coba kamu liat."
"Lo, kok?" Tara mengernyit.
"Iya, buat Randi." saut Kila cepat, sambil mengeluarkan semua isi dari dalam paperbag yang rata - rata semuanya untuk Randi.
"Ini semua buat Randi?" Tara semakin mengernyit.
"Kil, ini, bukan, kan?" selidik Tara curiga.
"Bukan apa?"
Tara tak menjawab wajahnya semakin mengeras dan menatap lekat sabahatnya menanti jawaban darinya.
"Kalau iya kenapa?"
"Kila!."
"Aduuhhh!!!!" Kila tak mau kalah, dia juga menekan suaranya. "Udah deh Tar, terima aja. Lagian juga bukan kamu yang minta, tapi dia yang ngasih."
"Eh, ini buat kamu. Cobain dulu." Kila mencoba merubah topik pembicaraan. "Cocok kayaknya."
"Kila!."
"Huh!!!" Kila menghembuskan nafas kasarnya, matanya juga menatap kelat Tara. "Emang kenapa sih Tar? emang apa salahnya terima sesuatu dari dia? dia kan juga orang tuanya Randi. Apa salahnya orang tua pengen ngasih sesuatu ke anak sama pengen membahagiakan juga?"
__ADS_1
"Tapi aku gak suka, dan aku juga gak mau!. Jangan sampai nantinya gara - gara semua ini, aku sama Randi dicap sebagai perebut harta mereka!."
"Ya Tuhan Tar, kamu kok masih kemakan sama omongannya si Sasa sih?" timpal Kila. "Kamu masih takut sama Sasa? padahal sekarang udah ada aku, udah ada Sandi."
"Meskipun ada kamu ada Mas Sandi, tapi masih gak menutup kemungkinan kan buat Sasa ngelakuin apa yang dia omongin?"
"Emang semua omongannya udah kebukti? bukannya selama ini dia cuma gertak? cuma bikin kamu takut? Jadi, udahlah Tar, jangan punya pikiran negatif lagi. Terima ini semuanya, anggap ini sebagai bukti dari ketulusan si Sandi yang pengen bertanggung jawab atas kamu sama Randi, karna selama ini dia gak bisa. Oke?"
"Enggak! pokoknya aku gak mau. Aku minta kamu balikin ini semuanya ke Mas Sandi." tampik Tara mendorong paperbagnya.
"Ih, aku juga gak mau! kalau kamu mau ini dibalikin, kamu balikin sendiri sana!." Kila ikut mendorong paperbag itu dengan kasar. "Enak aja nyuruh - nyuruh. Aku ini udah capek yang belanja, sekarang mau kamu suruh - suruh juga. Udah ah, udah cukup! aku udah gak mau jadi penengah antara kamu sama Sandi lagi. Mulai sekarang aku udah gak mau lagi, terserah kamu mau balik sama dia kek, atau kamu masih mau pertahanin ego kamu kek, yang jelas aku udah gak peduli."
"Terus ini lagi," Kila meletakkan dengan kasar blackcard yang dikeluarkan dari dalam tasnya.
"Balikin sendiri!." dengus Kila dengan wajah masam, yang setelahnya melenggang pergi, tapi kemudian langkahnya diputar untuk kembali lagi kehadapan Tara. "Oh iya, lupa. Sandi udah tau soal Sasa yang ngancam kamu. Aku udah cerita semuanya. Jadi, sekeras apapun kamu mau melarikan diri, kayaknya udah gak bakalan bisa. bye!"
****
Malam harinya. Tara duduk termenung didalam kamarnya. Matanya sedang menatap paperbag yang diletakkan diatas kasur. Pikiranya sedang menimbang - nimbang antara mengembalikan atau menerima.
"Bunda, mana hpku?" seru Randi tiba - tiba membuka pintu kamar dan langsung berhambur masuk ketika matanya melihat paperbag diatas kasur.
"Jangan!" Tara menghentikan sang anak yang akan mengeluarkan isi paperbag itu. "Ini mau bunda balikin."
"Kok dibalikin bunda?" jawab Randi kecewa.
"Iya, ini bukan punya kita." jawab Tara sambil meletakkan semua paperbagnya kebawah meja rias.
"Tapi itu kan dari papa, Bunda." ungkap Randi lirih, dengan wajah sedih. Membuat Tara sebetulnya tidak tega.
"Tapi, kita gak boleh terima apapun dari papamu."
"Tapi, aku kan pengen telpon - telponan sama papa bunda." sanggah Randi lagi.
"Randi, kamu kan masih kecil. Gak boleh bawah hp. Nanti kamu malah main hp terus kamu lupa waktu, lupa makan, gak mau belajar."
"Em, kalau aku gak boleh bawah hp, berarti aku pakai hpnya bunda, ya ... telpon papanya, bolehkan?" tanya Randi, membuat Tara terpengarah.
__ADS_1