Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 44


__ADS_3

Pagi itu, di meja makan, saat sarapan. Suasana yang biasanya ramai dan penuh dengan obrolan berubah menjadi sepi sunyi. Tara yang masih ngambek ke Kila tak memandang atau pun menegur sekali pun pada sahabatnya tersebut. Begitu juga dengan Kila, walaupun sebetulnya dalam hatinya ingin, tapi ditahannya.


Si anak kecil yang duduk didekat Bundanya. Diam memperhatikan. Wajahnya terlihat memelas menatap secara bergantian pada kedua orang dewasa yang ada didekatnya. Entah apa yang sudah terjadi diantara kedua orang tuanya tersebut.


"Randi ... ayo berangkat ..." suara Tara yang berteriak dari teras rumah, menunggu Randi yang tak kunjung keluar. Saat itu Randi masih berdiri disamping Kila yang sibuk membersihkan meja makan.


"Mami, Mami sama Bunda lagi marahan ya?" selidik Randi ke Kila.


"Enggak, siapa yang lagi marahan."


"Mami sama Bunda."


"Enggak kok, bunda sama Mami gak marahan."


"Kalau gak marahan kok diem - dieman?"


"Ya, karna emang gak ada yang mau di omongin Randi sayang." Kila yang akhirnya menatap Randi dan mencubit pipinya pelan, untuk meyakinkan.


"Tapi biasanya meskipun gak ada di omongin, Mami sama bunda tetep ngomong, tetep ngobrol."


"Randi ..." teriak Tara lagi dari luar.


"Tuh, bundamu udah nungguin. Kamu cepat berangkat sana, udah mau setengah 7 lo, nanti telat." perintah Kila sekaligus mengalihkan pembicaraan agar tak dibombardir sejumlah pertanyaan lagi dari Randi, sementara Randi masih mendang Kila dengan wajah tak lega.


"Udah sana berangkat, nanti malah marah beneran lagi bundamu." tandasnya lagi.


Dengan terpaksa, dan wajah cemberut, Randi akhirnya menurut dan berjalan keluar. Dia menghampiri bundanya yang sudah menunggu diteras lalu mengenakan sepatu dan berangkat kesekolah bersama.


Didalam perjalanan. Didalam angkot.


"Bunda," panggil Randi.


"Hem, apa?" Tara menatap anaknya.

__ADS_1


"Bunda lagi marahan ya sama mami?"


"Marahan? kenapa kok marahan?" Tara juga menutupi.


"Ya, aku gak tahu. Tapi keliatannya Bunda sama mami lagi marahan."


"Emang kelihatannya gitu? Padahal Bunda sama mami gak kenapa - kenapa."


"Tapi bunda sama mami, kok diem - dieman dari kemarin?."


"Itu cuma perasaan kamu aja, anak Bunda." Tara menoel hidung Randi dengan sikap sedikit gemas. "Oh, ya, semalam kamu udah ngerjain PR kan?" Tara mengalihkan pembicaraan, yang dijawab dengan anggukan.


"Ada yang susah gak PRnya?" tanya Tara terus mengalihkan pembicaraan hingga keduanya sampai dan turun dari angkot.


"Bunda, aku berangkat dulu, ya ..." pamit Randi hendak mencium tangan bundanya tapi Tara tak menerima malah membetulkan dasi yang dikenakan anaknya.


"Sama Bunda aja masuknya, hari ini bunda mau ketemu Pak Danu." jawab Tara yang setelah selesai membetulkan dasi anaknya, langsung jongkok dihadapan Randi dan menatap lekat anaknya.


"Kenapa harus pindah Bunda? kan masih ada mami yang bisa anter jemput aku?" Randi yang menunjukkan wajah keberatan.


"Kamu kan tahu kalau mamimu juga sibuk. Ini, biar kamu lebih deket aja sama bunda. Biar Bunda gak kepikiran kalau Bunda gak bisa jemput kamu. Kalau kamu sekolah disana kan enak, kamu bisa jalan kaki ke butik."


"Tapi Bunda, aku gak mau sekolah disana, temen - temenku kan disini. Nanti Sofia juga gimana? gak ada yang jagain kalau dia digangguin anak - anak."


"Randi, kamu lebih kasian Sofia atau lebih kasian sama Bunda?" tanya Tara seolah memberi ultimatum sebuah pilihan yang sulit dijawab.


"Bunda." desis Randi menjawab dengan lirih.


"Kalau kasian sama Bunda, berarti kamu harus nurut ke Bunda." tekan Tara akhirnya. Sementara Randi menunduk sedih dan cuma bisa mengangguk pasrah.


Dan pagi itu. Setelah berbicara dengan Randi. Tara pun berbicara dengan Pak Danu dan Kepala Sekolah menyampikan maksudnya untuk memindahkan sekolah Randi.


Seharian itu, Tara sibuk mengurus kepindahan sekolah Randi. Beberapa kali dia tampak wira wiri dari sekolah lama Randi ke sekolah Randi yang baru. Sampai tak terasa, siang pun datang.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Tara menunggu kepulangan Randi didepan gerbang sekolah. Tak lama muncullah anaknya itu dengan wajah murung ditengah riuhnya anak - anak yang lain yang juga turun pulang.


Tara dan Randi, baru sampai butik. Saat itu, Kila sudah terlihat berdiri menanti bersandar di meja kasir. Dari sorot mata sahabatnya, sudah tampak sekali kalau sedang murka.


"Tar, ikut aku!." decaknya, melirik sebentar ke paperbag yang berisi seragam sekolah Randi yang baru. Membuat Nila, Yuni, Randi dan beberapa pengunjung lain memperhatikan keduanya.


Tara meletakkan paperbag tersebut dibawah meja kasir. Setelah itu, dia mengikuti Kila dengan masih diiringan pandangan bertanya - tanya dari orang sekitar. Terutama Randi, yang wajahnya terlihat khawatir takut terjadi pertengkaran kembali.


Braakkkkk ...


Pintu ditutup sedikit kasar oleh Kila sampai tulisan yang tertempel di pintu sedikit bergoyang.


"Randi kamu pindah sekolahnya?" tukas Kila sedikit emosi.


"Iya, kenapa?" jawab Tara dingin.


"Kamu gila, ya ... Kamu gak mikir dulu?"


"Aku harus mikir gimana lagi, Kil? cuma ini jalan satu - satunya biar Randi gak berhubungan dengan keluarga itu."


"Tapi paling enggak kamu cari sekolah yang lebih baik!" potong Kila cepat dengan nada sedikit naik. "Padahal kamu yang paling tahu gimana kondisi SD sebelah."


Tara membuang muka, sadar apa yang dikatakan sahabatnya benar adanya. Kebetulan sekolah baru Randi adalah sekolah yang lumayan terkenal banyak anak - anak didiknya yang nakal.


"Tar, kali ini kamu keterlaluan. Aku kecewa sama kamu!." ungkap Kila dan lantas langsung meninggalkan Tara yang wajahnya sudah memerah sembab, begitu saja.


Sementara Randi yang sejak tadi berdiri didepan pintu, hanya bisa menatap secara bergantian kepergian maminya dengan murung dan juga pintu ruangan dimana didalamnya ada Bundanya seorang diri.


Randi yang murung karna kedua orangtuanya bertengkar. Berjalan sendirian di dalam mall. Langkahnya berhenti saat ada sebuah meja yang ada disamping depan stand permainan timezone.


Sambil menompang kepalanya dengan kedua tangannya. Randi duduk sendiri disana dengan pandangan sedih yang menatap stand timezone yang ada dihadapannya.


"Kenapa pengen main?" tanya seorang lelaki dewasa yang tiba - tiba duduk disampingnya, membuat Randi mengangkat arah pandangnya yang ternyata adalah Sandi.

__ADS_1


__ADS_2