
Setelah mengantarkan Randi kembali. Sore itu, Sandi dan Kila sudah ada di dalam cafe yang letaknya masih di dalam mall. Mereka duduk berhadapan dengan minuman yang sudah ada di meja.
"Kil, makasih, ya ... udah mau bantuin, aku jadi bisa ketemu Randi tadi." ucap Sandi tulus.
"Iya, sama - sama." jawab Kila dengan meneguk jus mangganya dengan sedotan.
"Randi sekarang udah mau terima aku."
"Oh iya? syukur kalau gitu." Kila meletakkan kembali gelas jusnya dimeja. Dan turut bahagia. Sementara Sandi mengangguk sambil senyum.
"Em, Kil," Sandi menggeser duduknya keujung kursi. "boleh aku tahu satu hal lagi dari kamu?"
"Iya, apa Mas?"
"Tadi, Randi bilang, katanya beberapa minggu yang lalu, Sasa datang ke butik. Terus katanya mereka berdua ngobrol. Kira - kira kamu tahu apa yang mereka obrolin? karna setahuku Sasa dan Tara itu gak saling kenal."
Kila menghela nafasnya kasar. "Iya, bener."
"Iya?" Sandi mengernyit. "Terus, bisa kamu ceritain apa yang terjadi diantara mereka?"
Kila diam sejenak. Diliriknya Sandi saat otaknya menimbang - nimbang, mau cerita atau tidak. Dan setelah merasa ******* Kila pun memilih mengangguk. Toh memang seharusnya Sandi tahu tentang apa yang sudah Sasa lakukan pada Tara selama ini.
Kila menatap Sandi serius. Dia juga ikut memajukan duduknya keujung kursi agar bisa lebih leluasa kalau sedang bercerita. Kila mulai bercerita. Dia menceritakan semua rentetan kejadian yang ada tanpa ditutupi satu pun.
*"AIISSSHHHHH!!!! *erang Sandi, mengepalkan tangannya sampai semua uratnya keluar yang kemudian mengayun - ngayun hendak memukul meja tapi masih berusaha ditahan. "ARRGGGHHHH!!!!"
Sandi memalingkan wajah dan mengusapnya kasar. Matanya menatap jauh kedepan seolah sedang memecahkan kaca tembok cafe hanya dengan pandangannya. rasanya emosinya langsung memuncak setelah mendengar apa yang Kila ceritakan.
"Jadi, selama ini, Sasa yang gangguin Tara, dan buat dia jauhin aku?"
"Iya..." jawab Kila,
__ADS_1
"ARGGHHHHH!!! BRENGSEK!" pekiknya lagi.
Setelah pertemuannya dengan Kila tadi. Sandi kembali ke kantornya. Langkahnya terlihat tak sabar saat memasuki ruangan miliknya. Dengan gerakan kuat Sandi kemudian melepas jas yang sedari tadi dikenakan dan menghempaskannya dengan kasar.
"AISHHHHH!!!! F***!!!!"
"AISSHHHHHH!!!!"
Sekali lagi Sandi melampiaskan emosinya yang kian memuncak didalam kantornya yang sepi itu.
"Lang, buku hijau, lu simpan dimana?" tanya Sandi tak sabar pada Gilang yang sedang ditelponnya.
"Buku hijau? ada di brankas ruang lu,Tapi buat apa?" jawab Gilang sekaligus bertanya, tapi langsung diputus begitu saja oleh Sandi.
Sandi melangkahkan kakinya pada brankas yang dimaksud oleh Gilang. Masih dengan wajah tak sabar, Sandi menekan paswod brankasnya.
Buku hijau itu disaut kasar dari dalam brankas. Yang kemudian langsung dibawah pergi keluar dari dalam ruangannya.
Sandi melajukan mobilnya dengan kencang. Dia menyalip semua mobil yang ada didepannya. Hingga hanya sekitar 15 menit perjalanan, Sandi bisa sampai di rumahnya.
"Lo, San, ada apa malam - malam gini? tumben?" Bu Yanti mengernyit, tak biasanya anaknya itu datang kerumah malam - malam, apa lagi ekspresi wajah yang ditunjukkan terlihat tak sabar.
"Ma, Papa mana?" tanya Sandi lagi tak menggubris pertanyaan sang ibu.
"Itu, diruang kerja." Tunjuk Bu Yanti.
Sandi berjalan kearah ruang kerja sang ayah dan lantas langsung membuka pintu tersebut.
"Pa," sapa Sandi, memberitahu kedatangannya dimana saat itu sang ayah sedang duduk di meja kerjanya memeriksa dokumen dengan kaca mata yang biasanya dikenakan.
"San," saut Pak Dani mengangkat pandangannya kearah Sandi. "Ada apa? Tumben datang malam - malam?" tukasnya melepas kaca mata yang dikenakan dan bangun dari duduknya menghampiri sang anak.
__ADS_1
"Iya Pa, ada yang perlu aku omongin ke papa." jawab Sandi berjalan mendekat dan kemudian duduk disalah satu sofa berhadapan dengan sang ayah.
"Apa? ada masalah apa di kantor?"
"Pa, ini," Sandi meletakkan buku berwarna hijau itu dimeja dan kemudian menggesernya kehadapan sang ayah. Sementara Pak Dani meraih buku itu sambil melirik Sandi.
"Ini, dari mana kamu dapat ini?" Pak Dani mengernyit dan wajahnya mengeras. Bagaimana bisa Sandi memegang buku besar catatan penggelapan dana milik perusahaan saingannya.
"Dulu, pas waktu proses akusisi marina toserba. Secara gak sengaja Pak Liung naruh dokumen di berkas perjanjian kerjanya, jadi karna itu aku selidiki, dan aku dapat semua itu. Mangkannya waktu itu wiraka gak berani ngulik - ngulik lagi anak perusahaan kita." jelas Sandi.
"Terus sekarang, kenapa kamu tunjukin ini ke Papa? pasti ada yang sedang kamu rencanakan, kan?"
"Pa, aku mau ungkapin ke publik salah satu foundation yang ada disitu. Buku itu aku serahkan ke Papa, karna sekarang banyak proyek besar yang kita kerjakan bersama sama wiraka grup. Jadi seandainya ada apa - apa, kita gak ikut rugi."
"Ini terlalu bahaya. Papa gak setuju." pekik Pak Dani, meletakkan buku itu dimeja dengan sedikit kasar sembari menatap sang anak.
"Tapi kalau gak begini kita akan selalu dipermainkan wiraka, Pa!" protes Sandi dengan suara yang sedikit dinaikkan.
"Mengungkap ke publik bukan pilihan baik. Apa lagi harus perang dengan wiraka grup. Jadi, harus kamu pikir ulang. Jangan karna kemarin kamu kalah di persidangan terus kamu jadi gegabah. Kita sudah rugi, jangan sampai gara - gara emosi sesaat kamu kita malah semakin merugi."
"Ini bukan tentang karna emosiku yang sesaat atau karna aku yang kalah di persidangan, Pa!. pekik Sandi dengan nada frustasi. "Tapi, Ini itu tentang anakku sama wanita yang aku cintai. Gara - gara apa yang dilakuin Sasa, aku jadi terpisah sama mereka sampai sekarang. Gara - gara dia sampai - sampai saat Tara hamil dia gak berani bilang dan milih kabur."
"Dan, Bahkan. Kemarin. Sasa juga datang buat ngancam mereka." pekiknya lagi dengan mata bergetar, tak mampu memikirkannya lagi.
"Jadi, Pa ... aku mohon, tolong Papa bantu aku kali ini. Bantu aku buat balas apa yang udah Sasa lakukan ke kita." tukasnya lirih dengan wajah memohon dan penuh keputusasaan.
Pak Dani menghembuskan nafasnya kasar. Otaknya berfikir tentang apa yang harus dia putuskan. Antara harus melawan Wiraka grup. Atau menuruti kemauan anaknya.
"Jadi, selama ini Sasa gangguin mereka?" tanya Pak Dani.
"Iya,"
__ADS_1
"Oke, tapi papa minta hanya So Ra foundation saja, jangan sampai merembet kemana - mana. Karna terlalu beresiko juga buat perusahaan kita." jawab Pak Dani akhirnya setelah tadi diam berfikir untuk beberapa saat.
Dengan perasaan lega. Sandi meninggalkan rumahnya malam itu. Dia kemudian berhenti di depan rumah yang Tara dan Randi tinggali. Rumah itu sudah sepi dan gelap. Hanya lampu terasnya saja yang sengaja dihidupkan oleh sang pemilik. Tapi meskipun begitu, Sandi masih tetap disana memandangi rumah itu dengan tatapan penuh kerinduan.