Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 52


__ADS_3

Seorang wanita baru saja turun dari dalam mobil mewah yang berhenti di lobi gedung pengadilan. Penampilannya bak sosialita dengan semua barang branded di tubuhnya. Wanita itu melepas kaca mata hitam yang dikenakan dan kemudian tersenyum ketika matanya memandang Sandi.


"Sandi ..." Sasa si wanita itu, memanggil ditengah langkahnya yang menghampiri Sandi.


Sandi menoleh. Tapi kemudian langsung melengos dan mengajak Gilang menghindar dari Sasa yang kian dekat.


"Sandi tunggu ..." Sasa berusaha mengejar. Dan Sandi semakin mempercepat langkahnya.


"Sandi, sayang ..." pekik Sasa lagi.


"Sandi, kamu kenapa sih?" kata Sasa yang berhasil menyusul dan menghentikan Sandi.


Sandi tak menjawab. Dia cuma tersenyum sinis. Dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Sandi!" pekik Sasa mencegat langkah Sandi dengan berdiri dihadapannya. Hingga Sandi tak bisa menghindar.


"San, kamu serius ngacuhin aku?" sergah wanita itu dengan nada kesal. "Padahal aku udah jauh - jauh kesini demi kamu dan nyuruh tim hukumku buat ngalah biar kamu bisa menang sidang."


Sandi kembali tersenyum sinis.


"Gue gak nyuruh." kata Sandi dingin dan lantas kembali melangkahkan kakinya lagi.


"Heh," Sasa menyeringai dan seringaian itu bisa didengar Sandi dan Gilang yang baru melangkah selangkah. "Selalu sok jual mahal, padahal sebenarnya gak mampu."


Sandi menoleh mendengar perkataan Sasa dan kemudian menatapnya, mencari tahu apa maksud dari perkataan Sasa.


"Hari ini karna kamu udah ngeremein aku, aku gak mau ngalah lagi. Hari ini aku gak akan biarin prima grup menang."


"Bagus." jawab Sandi tak peduli lagi, meninggalkan Sasa yang tengah geram sendiri.


Tepat jam 9 pagi. Para hakim masuk kedalam ruang sidang dan memulai persidangan. Kala itu, sidang dimulai dari pihak prima grup yang mengeluarkan sejumlah bukti dan juga saksi tentang pelanggaran kontrak yang mereka miliki. Setelah itu lanjut wiraka grup yang menyanggah bukti - bukti tersebut.


Awalnya, jalannya sidang berpihak pada prima grup. Tapi ketika sidang sudah hampir selesai, wiraka grup tiba - tiba saja mengeluarkan sebuah bukti yang tak bisa dielak hingga akhirnya keadaan berbalik arah.


"San, sorry ..." desis Gilang yang merasa bersalah. Disaat mereka menunggu keputusan hasil sidang. "Seharusnya kemarin waktu tanda tangan perjanjian, gue priksa yang detail."

__ADS_1


"Hm, gak apa - apa." saut Sandi dengan raut yang sudah pasrah sembari mengusap wajahnya kasar. Marah pun percuma.


Tak lama berselang. Hakim kembali memasuki ruang sidang untuk menyampaikan keputusan. Hakim membacakan keputusan dengan lantang. Dan seperti yang dikhawatirkan. Sidang dimenangkan oleh wiraka grup serta karna kemenangan tersebut, wiraka mengajuan sejumlah kompensasi kepada hakim dan mewajibkan prima grup membayarnya dalam jumlah yang besar.


Dengan wajah lesu dan masam. Sandi keluar dari ruang sidang. Dia pergi lebih dulu meninggalkan Gilang dan beberapa karyawannya yang masih duduk diruang sidang.


Kini, Sandi sudah berada di dalam kantornya. Dia duduk menyandarkan kepala di kursi dengan mata terpejam. Pikirannya jelas sedang stres. Satu masalah belum selesai kini, harus menghadapi masalah lain. Hingga akhirnya, suara pintu dibuka membuat Sandi membuka mata dan mengarahkan pandangannya kesana.


"Hm, jadi sekarang kamu kerjanya disini." kata Sasa, yang entah bagaimana diijinkan masuk oleh sekertarisnya, menjadikan Sandi yang tengah banyak pikiran semakin kesal dengan kehadirannya.


"San, ini kayaknya perlu diganti deh, udah jelek gini." kata wanita itu lagi, saat tangannya meraba sofa yang tengah diduduki meskipun tak disuruh.


"Mau apa lu kesini?" tanya Sandi dingin.


"Kamu, masih aja jutek."


"Gak usah basa - basi."


"San, kamu mau sampai kapan dingin ke aku?"


"Heh," Sasa tersenyum sinis.


"Oke, aku gak akan basa basi." Sasa melangkah mendekat ke meja dimana Sandi sedang duduk.


"Ini ..." Sasa melempar sebuah berkas yang dimasukkannya kedalam amplop coklat besar. Dalam amplop itu adalah pengalian kepemilikan salah satu anak perusahaan dari prima grup ke wiraka grup.


Sandi mengernyit, dan wajahnya mengeras.


"Karna kamu terus nolak aku, jadi aku gak bisa biarin kamu gitu aja." kata Sasa dengan senyum manis tapi tersirat sebuah obsesi.


Sandi menyeringai. Dia kemudian lantas mendekat ke Sasa.


"Lu kira dengan gini, gue akan bertekuk lutut?"


"Ya, kalau pun enggak, tapi kan kamu dan perusahanmu udah ada digenggamanku."

__ADS_1


"Silahkan kalau bisa." Sandi tersenyum sinis. Dan Sasa juga begitu.


"Kamu gak akan bisa ngelawan wiraka, apa lagi kompensasi yang harus kamu bayar cukup membuat kamu jadi orang miskin. Jadi, sekarang kamu gak punya pilihan lain selain nerima penawaran dariku."


"Lu kira, gue nuntut wiraka grup kemarin tanpa persiapan?" pekik Sandi. "Kalau lu mikirnya gitu, lu salah."


"Jadi, ini silahkan dibawah pulang. Karna hal ini gak akan terjadi." imbuh Sandi menyerahkan amplop coklat itu tadi dengan kasar.


"Oh, ya ... jangan berani - berani lagi datang kesini. kita bukan mitra ataupun kerabat. Kamu silahkan pergi. Atau kalau enggak, aku yang pergi." usir Sandi sambil membukakan pintu ruangannya agar Sasa segera pergi dari ruangannya.


Dengan kesal, Sasa pun pergi dari ruangan Sandi. Sasa yang keluar kemudian langsung menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Sasa mengernyit, setelah menunggu untuk beberapa waktu tapi lift itu tampaknya tak bekerja.


"Liftnya rusak mbak. Jadi turunnya lewat sana." seru seorang OB padanya, yang menunjukkan sebuah pintu dimana pintu itu adalah pintu masuk dan keluar kantor managemen mall.


"Jadi harus muter lewat ekskalator mall?" tanya Sasa dengan wajah ogah dan malas.


"Iya..."


Dapat jawaban begitu. Mau tak mau Sasa pun mengikuti saran si OB. Dia akhirnya berjalan menyusuri mall dengan wajah kesal dan masam.


Mall ini ada 4 lantai dan begitu luas. Sementara dirinya sedang memakai hak tinggi yang ujungnya lancip sekali. Jadi karna itu, Sasa pun harus beberapa kali berhenti jalan untuk mengistirahatkan kakinya.


"Lo ..." Pandangan Sasa mengarah satu sisi, sebuah butik dimana dalam butik itu ada sosok Tara sedang berdiri di meja kasir.


Dengan cepat Sasa kemudian memakai sepatu haknya lagi. Dia kemudian berdiri dan lantas berjalan masuk ke dalam butik tersebut. Senyumnya kembali menyeringai. Wanita dihadapannya betul adalah Tara.


"Jadi, selama ini kamu ada disini ...." pekiknya hingga membuat Tara yang sedang melayani pembeli mengarahkan mata padanya.


'Sasa ...' desis Tara dalam hati. Matanya sedang tercengang dan mulut terbuka. Syok dan benar - benar tak menduga.


Dosa apa dia selama ini. Kenapa bisa bertemu dengan wanita ini lagi.


"Bunda ..." suara Randi memanggilnya ditengah ketercengangannya.


Anak itu sedang berlari kearah Tara dengan tatapan Sasa yang mengikutinya. Terlihat seutas seringaian keluar dibibir Sasa saat itu. Hanya dengan seringaiannya tubuh Tara langsung bergetar hebat dan jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


__ADS_2