
Sandi menarik tangan Tara yang sedang berdiri disampingnya. Digiringnya wanita itu sampai duduk disisi ranjangnya. Digenggamnya juga jemari tangannya sambil memberikan sentuhan lembut dengan menggerakkan jempol di punggung tangan.
"Tar, soal pertanyaanku dipagi hari waktu itu. Kapan kira - kira mau kamu jawab?" tanya Sandi mulai serius sambil menatap lekat wanita dihadapannya.
"Em, pertanyaan? Pertanyaan apa ya, Mas? Emang Mas Sandi pernah tanya apa ke aku?" Tara mulai memasang mood pura - pura lupa.
"Kamu, jangan pura - pura lupa!." dengus Sandi dengan wajah agak mengerut.
"Maksudnya pura - pura lupa? emang siapa yang pura - pura lupa? aku lagi gak pura - pura lupa, kok."
"Itu, dari glagat kamu keliatan. Kalau kamu lagi pura - pura lupa." Sandi mencebik.
"Ih, emang kenapa sama glagatku? kayaknya aku biasa aja." jawab Tara menghindari tatapan Sandi dengan bibir yang berusaha menahan tawa.
"Kamu!" Sandi memincingkan matanya, memberi pandangan menyelidik. "Kamu, jangan bilang kamu mau menghindar dari pertanyaanku."
"Ih, enggak kok. Siapa yang menghindar? Orang aku emang beneran lupa." sungut Tara. "Mas, emang kita selama ini pernah ngobrol? perasaan selama ini kita gak pernah ngobrol, kan?"
"Hem, kita bukannya gak pernah ngobrol. Tapi kamu yang gak mau ngobrol sama aku!" seru Sandi yang wajahnya berubah jadi cemberut.
"Oh, gitu, ya ..." jawab Tara manggut - manggut masih sambil menahan tawanya.
"Udah! ayo, sekarang kamu jawab pertanyaanku. Kapan kamu mau kasih aku jawaban? Yang pasti pokoknya harus sekarang!." sungut Sandi masih dengan wajah yang cemberut.
"Mas, jawaban apa sih Mas? Emang Mas Sandi tanya apa sih? Aku ini kok gak paham."
"Tara! udah deh, jangan pura - pura lagi!."
"Mas, emang siapa sih yang pura - pura? Mas Sandi ini, kok jadi berprasangka buruk."
"Udah jangan ngeles. Ayo sekarang jawab. Kapan kamu mau kasih jawaban?"
"Mas, emang aku harus jawab apa? emang Mas Sandi tanya apa?"
"Tara ...!" dengus Sandi, mulai gregetan.
"Mas Sandi ..." balas Tara mengikuti. Membuat Sandi jadi menghela nafas berat karna merasa sedang dipermainkan, tapi masih berusaha untuk bersabar.
"Ya, udah kalau gitu, aku ulang pertanyaannya. Kamu dengerin baik - baik. Habis ini jangan ngindar lagi!."
__ADS_1
Sandi kembali menatap lekat Tara. Tangan yang sedaari tadi berpegangan, kemudian digenggam erat.
"Tar, aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku pengen hidup bersama kamu, bersama Randi. Menikmati hari - hari kita sampai nanti tua, sama kamu, sama anak - anak kita. Jadi, karna itu, mau gak kamu menikah sama aku?"
Sejenak, Tara seolah terperangkap oleh pengakuan Sandi. Ungkapan hati dari Sandi berhasil membuatnya melayang bahagia.
"Oh, pertanyaan itu toh ..." Tara manggut - manggut. Berusaha menahan diri untuk tak menjawab. Karna, jangan sampai misinya untuk menggoda Sandi kali ini gagal.
"He'e. Gimana? kamu mau kan terima aku lagi? dan menikah sama aku?" tanya Sandi lagi, tapi Tara malah memalingkan muka sambil menahan senyum.
"Tar, kamu mau kan, menikah sama aku?"
"Emmm..." Tara bergumam sedikit lama. "Mas, kok aku tiba - tiba lapar, ya ..." ucap Tara kemudian tanpa diduga. Berhasil membuat Sandi mendengus kesal.
"Tuh, kan, kamu mau menghindar lagi!." dengus Sandi dengan wajah masam.
"Enggak kok, siapa yang menghindar. Orang aku mau ambil jeruk, liatin tuh, kayaknya seger."
"Udah, jangan alasan lagi. Sekarang udah gak mempen. Jadi mending kamu cepetan jawab. Kalau enggak, aku cium kamu!."
"Ih, enak aja, main cium - cium! emang Mas Sandi siapa?"
"Aku papanya Randi. Calon suami kamu!. Jadi pastinya aku boleh cium kamu."
"Ya biarin, pokoknya kalau kamu gak jawab, aku anggep aja kamu mau nikah sama aku."
"Ih, mana bisa gitu? Kalau namanya gak dijawab, harusnya Mas Sandi nunggu sampai aku jawab."
"Enggak, aku udah gak mau nunggu lagi. Udah cukup bagiku, kita pisah selama lebih dari 10 tahun. Jadi aku udah gak mau nunggu lagi. Pokoknya karna kamu gak jawab, jadi aku anggep jawaban kamu iya. Terus nanti aku mau bilang ke Randi sama semua orang dikeluargaku kalau kita bulan depan mau nikah!." paksa Sandi sudah tak sabar.
"Ih, kok gitu? mana bisa gitu? itu namanya pemaksaan. tahu!."
"Ya biarin. Siapa suruh kamu gak cepet - cepet kasih aku jawaban. Lagian kamu, masih aja mau tarik ulur. Padahal, kita ini udah lama gak ketemu. Udah lama pisah. Aku ini udah rindu setengah mati sama kamu. Aku udah pengen cepet - cepet bareng sama kamu, sama Randi. Jadi sebelum aku jadi orang gila, gara - gara kamu. Mending kamu cepet jawab pertanyaanku." pintah Sandi sedikit memaksa.
"Oke, oke, aku jawab deh kalau gitu..." Tara akhirnya mengalah.
"Nah, gitu dong..."
"Jawabannya adalah ..." ucap Tara yang sengaja menggantung sedikit lama pekikannya.
__ADS_1
"ENGGAK!"
"Hah? Loh! kok enggak? kenapa? padahal harusnya udah iya, kan?"cecar Sandi yang wajahnya mengernyit dan mengeras.
"Iya, jawabannya, enggak!."
"Bentar, kok enggak sih? Itu kenapa kok enggak? apa alasannya kamu masih nolak aku?" dengus Sandi mulai frustasi.
"Tar, please Tar, Masak kamu masih nolak? padahal kita kan udah baikan. Ini juga tangan kita sedari tadi juga udah pengangan. Tapi, masak masih kamu tolak?" Yang kali ini wajahnya sudah terlihat seperti hendak menangis. Sementara Tara masih saja menahan tawanya.
"Tara, please ya ... mau ya ...?" Sandi memohon lagi. "Ya ... mau, ya..."
Sudah tak bisa menahan lagi tawanya. Akhirnya Tara pun melepas tawanya dan tertawa terpingkal.
"Hehehe... Mas, Mas Sandi kalau lagi kayak gini itu, lucu tahu ..." pekiknya, membuat wajah Sandi berubah masam, dan mengerti kalau sedari tadi Tara sedang mengerjainya.
"Hem, jadi dari tadi, kamu ngerjain aku?" dengus Sandi, Sementara Tara mengangguk sambil tertawa.
"Hm, terus sekarang, udah puas?" Sandi melengos. Dan Tara mengangguk lagi.
"Hem, dasar! bikin orang kepikiran aja!." dengusnya lagi dengan wajah cemberut.
"Iya, maaf..." jawab Tara. "Jangan marah, ya ..." pintah Tara, sambil menatap lembut Sandi.
Sandi diam sejenak. Ditatapnya lekat wanita yang sedang menatapnya lembut sebelum menjawab.
"Sepertinya, udah gak ada waktu lagi buat marah ke kamu." saut Sandi dimana tangannya mulai bekerja menarik tubuh wanita dihadapannya hingga menompang tubuhnya yang sedang duduk bersandar diranjang.
"Sekarang jangan muter - muter lagi. Jawab yang betul, pertanyaanku." pintah Sandi yang melingkarkan tangannya kepinggang Tara.
"Tar, kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Sandi dengan tatapan lembutnya. Dan langsung dijawab dengan anggukan mantap.
"Iya, aku mau ..." jawab Tara membalas tatapan lembut Sandi, dengan menatapnya lembut juga.
"Gitu dong, dijawab yang bener." ungkap Sandi dengan senyum manisnya dan kemudian perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Tara.
KREKKKK ...
Suara pintu baru saja dibuka. Padahal saat itu tinggal beberapa inci saja bibir mereka bersentuhan.
__ADS_1
"Mas Sandi ..." seru Mita, tersangka perusak momen indah. Membuat Tara jadi terjengkal, reflek langsung berdiri. Sementara Sandi langsung memaki.
"Aish! Mita!." gerutu Sandi kesal.