
Tara baru saja memasuki rumahnya. Saat itu dimeja makan ada Mbak Desi dan Mas Ilham tengah duduk berhadapan dan mengobrol.
"Kalau A Yani gimana Mas? disanakan rame deket taman kota" kata Mbak Desi saat itu.
"A Yani ini bener rame, tapi disana sewa tempatnya juga mahal, dua kali lipat sama yang sekarang, uangnya gak cukup" saut Mas Ilham.
"Hem," Mbak Desi menghembuskan nafasnya. "Terus enaknya dimana Mas? kayaknya memang gak ada yang strategi sekaligus murah seperti ruko yang sekarang" Mbak Desi menyenderkan kepalanya ke kursi seolah sedang pasrah.
"Ya itu, aku juga bingung dek, enaknya dimana" Mas ilham menggosok - gosok rambutnya karna sedikit stres.
"Ada apa Mas?" tanya Tara kemudian karna sedari tadi memperhatikan keadaan yang sepertinya sedang ada masalah.
"Ini Tar, lagi bingung, cari sewa tempat yang baru buat jualan" saut Mas Ilham yang tampak sedikit putus asa.
"Lo, bukannya rukonya itu masih 3 tahun lagi ya kontraknya?"
"Iya, tapi tadi Pak Arjo datang, katanya dia mau balik kampung terus tinggal disana dan gak balik - balik sini lagi. Terus katanya semua harta bendanya termasuk ruko yang Mas Ilham sewa ini dijual semua buat usaha di kampung. Jadi ya mau gak mau kita harus pindah sama cari sewa lagi" jelas Mas Ilham.
Mendengar cerita Mas Ilham, Tara jadi ikut - ikut menghela nafas panjang. Bingung mau bilang apa karna tak punya solusi yang bisa memperbaiki keadaan.
****
Tara meregangkan badannya yang terasa lelah hari ini. Wajahnya terlihat lesu dan terlihat beberapa kali menguap merasa ngantuk. Dilihatnya jam di dinding masih jam 11 siang saat itu. Tapi karna melihat banyaknya pembeli yang datang membuatnya menahan rasa lelahnya.
"Hei..." Mbak Desi menepuk lengan Tara membuat Tara sedikit terperajat. "istirahat sana kalau ngantuk, atau pulang aja gih"
"He, iya mbak gak tahu nih, akhir - akhir ini bawaannya ngantuk terus sama males terus" jawab Tara sambil nyengir.
"Kamu kecapekan kali. Mangkannya lesu gitu"
"Em, iya kali ya mbak" jawab Tara dengan membersihkan meja yang kotor selepas digunakan pelanggan.
"Iya, mangkannya pulang aja sana terus tidur biar gak lesu lagi"
"Tapi, kalau aku pulang, Mbak Desi nanti kewalahan"
"Bentar lagi Mas Ilham datang, jadi gak usah khawatir, kamu pulang aja, gak apa - apa"
__ADS_1
Tak lama berselang, orang yang sedang diperbincangkan pun datang. Dan Tara pun kemudian pulang kerumah.
Perjalanan kerumah kali ini butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan karna letak kedai milik Mas Ilham yang baru ada di pinggir kota dekat pasar. Dan seolah tak bisa menahan rasa lelah dan ngantuknya, begitu sampai rumah Tara langsung menghempaskan badannya di atas kasur yang ada di kamar. Sayup - sayup matanya mulai terpejam hingga sore menjelang.
kringggg ... kringggg ... kringggg ...
Suara dering hp membangunkan Tara yang sedang terlelap. Dengan mata setengah terbuka, Tara mengintip layar ponselnya. Nama Kila muncul dilayar ponselnya.
"Hallo.." jawab Tara dengan setengah mengantuk.
"Tar, kamu tidur?" tanya Kila dari sebrang telponnya.
"Hem, ada apa Kil, kalau gak penting aku matiin ya..."
"Kamu gak kuliah?" tanya Kila dengan nada heran karna tak biasanya Tara lupa.
"Kuliah. KULIAH!!" seru Tara reflek bangun dari tidurnya melihat jam sudah pukul 3 yang artinya perkuliahan sudah dimulai. "Aduh, gimana dong, udah ya Kil aku matiin."
Dengan secepat kilat, tanpa mandi dan hanya cuci muka, Tara pun langsung berangkat ke kampus. Selanjutnya bedak dan beberapa make up dioleskan di bus saat perjalanan. Dan meskipun terlambat, untungnya sang dosen berbaik hati mengijinkan Tara tetap masuk dan mengikuti perkuliahan.
"Huft" Tara menyandarkan kepalanya ke bangku, sesaat perkuliahan selesai, melepas rasa tegang dan cemasnya.
"Iya nih, gak tau beberapa hari ini badanku rasanya gampang banget capek, pengennya tidur mulu, rebahan mulu" jawab Tara tanpa merubah posisinya.
"Darah rendah kali Tar, kamu kan biasanya gitu kalau darah udah turun gampang banget capek"
"Iya kali ya..." jawabnya yang kali ini menegakkan duduknya kembali. "Makan yuk, aku laper banget nih" ajak Tara kemudian.
"Makan, Mau makan apa?"
"Em, bakso?"
"Bakso, oke deh, ayo ..."
Tara dan Kila pun beranjak dari kelas untuk pergi berburu bakso. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit menaiki mobil keduanya pun sampai di warung bakso langganan mereka dan memarkirkan mobilnya di depan halaman warung.
Tiba - tiba saja raut wajah Tara berubah jadi pucat pasih melihat pentol bakso yang di jejer didalam etasenya. Sesuatu yang menggiurkan itu tiba - tiba saja berubah menjadi sesuatu yang menjijikan dihadapannya. Terutama saat melihat bentuk pentol yang berukuran besar, membuat rasa mual tak tertahankan jadi keluar.
__ADS_1
huuaaakkk...
Tara yang tiba - tiba merasa ingin muntah.
"Kenapa Tar?" tanya Kila heran sekaligus khawatir.
"Hem, enggak, gak apa - apa" jawab Tara sambil menahan rasa mualnya.
"Beneran?" tanya Kila mengernyit.
"He'em, ayo keluar" jawab Tara yang kemudian membuka pintu mobil.
Aroma bakso langsung melekat dihidung Tara saat pintu mobil baru dibuka beberapa jengkal saja. Aroma itu reflek membuat Tara menutup kembali pintunya sambil menahan mual yang sudah tak tertahankan.
Hueekkk... hueekk
Tara menahan mualnya. Tangan yang satu menutup mulutnya dan satunya mencari - cari sesuatu yang bisa digunakan untuk menampung muntahnya. Untung, saat itu ada satu kantong plastik dimobil Kila sehingga Tara bisa mengeluarkan muntahannya disana dengan bebas.
Hueekkkk ... hueeekkkk ... hueeekkkk...
"Ya ampun Tar, kamu kayaknya masuk angin deh ini" Kila memijat - mijat leher Tara dengan pandangan cemas.
Merasa sudah mendingan, Tara yang wajahnya sudah memerah dibasahi air mata dan juga keringat pun langsung menyandarkan badannya kekursi.
"Kil, kita pulang aja ya..." pintah Tara yang sudah lemas.
Disepanjang perjalanan pulang, rasa cemas dan takut sedikit demi sedikit menguasai diri Tara. Perubahan tubuh Tara yang tak biasa, dan rasa mual yang baru saja dia rasakan membuat pikirannya sedikit tak karuan.
'Hamil, bagaimana kalau dirinya sedang hamil?'
Dan esoknya, di dalam salah satu toilet kampus. Tara sudah duduk diatas kloset dengan pintu tertutup. Tara menggenggam testpack yang sudah dibelinya tadi. Dengan harapan yang luar biasa, dan rasa takut dan cemas, perlahan dia membuka genggaman tangannya.
2 garis merah muncul dihadapannya. Seketika membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Dengan tubuh yang bergetar, dan mata terlihat kosong, Tara lalu mencoba menghubungi Sandi saat itu juga.
Tut ... tut ... tut ... tut ...
Suara sambungan telpon yang terdengar tak kunjung usai.
__ADS_1
Tara mengatupkan matanya, memejam untuk beberapa saat karna telpon yang tak diterima oleh Sandi. Tak mampu dengan apa yang sedang dialaminya, perlahan air mata pun mulai membasahi pipi. Rasa menyesal, bingung, takut dan menyesal serta frustasi menjadi satu didalam hatinya.