
Tara, Bu Yanti dan Randi baru saja keluar dari restourant selepas makan bersama. Mereka kemudian berpisah di depan pintu restourant. Tara dan Randi naik ekskalator menunu butik sedangkan Bu Yanti berjalan keluar lobi untuk pulang.
Tara dan Randi sampai dibutik. Saat itu dalam keadaan ramai pembeli, tetapi sedang terjadi maintanance. Lampu di dalam butik seperti mati beberapa kali dan terlihat seperti sedang dalam tengangan rendah.
"Tar, gantiin aku..." seru Kila dari meja kasir begitu melihat Tara dan Randi datang. "Aku mau nagih janji manis dulu."
Tanpa berkata dan bertanya, Tara kemudian mengambil ahli meja kasir dan mulai melayani para pembeli yang saat itu sudah antri untuk membayar. Sedangkan Randi langsung masuk kedalam ruang khusus karyawan untuk santai, main ataupun melakukan sesuatu agar tak mengganggu kegiatan jual beli di butik.
Cuma butuh waktu 15 menit saja. Kila sudah kembali lagi ke butik dan langsung menghampiri Tara kembali dimeja kasir.
"Tar ..." Kila menggerak - gerakkan alisnya sambil senyum - senyum gak jelas.
"Hem, apa, pasti ada sesuatu kan?"
"Ini," Kila menunjukkan amplop coklat berisi uang kehadapan Tara. "7juta, hasil kerja keras kemarin."
"7juta? banyak banget?" tanya Tara ikut senang.
"Nih, buat kamu semua ..."
"Hem, ya, jangan sampai gak buat aku semua, yang kerja keras kan emang aku." timpal Tara mengantongi uang tersebut dalam sakunya.
"Dasar emak - emak, gak bisa liat uang dikit." Kila mencebik.
"Aku ini realistis, membesarkan seorang anak sendirian itu butuh uang banyak. Jadi harus ngumpulin uang sejak dini biar anakku bisa berpendidikan tinggi."
"Iya, iya tahu yang punya anak." saut Kila malas mendengarkan.
"Eh, tapi ini kok banyak banget? bukannya cuma 5 juta?"
"Itu yang 2 jutanya bonus, katanya yang punya apartemen puas sama kerja kamu."
"Oh, baik juga kalau gitu..."
"Dan terus, tadi temenku tanya, kamu mau gak kerja disana?"
"Kerja disana? maksudnya?" tanya Tara mengernyit.
"Maksudnya beres - beres apartemennya, yang punya cocok sama kamu, jadi minta kamu bersihin apartemennya tiap hari."
__ADS_1
"Jadi maksudnya, kamu nyuuruh aku jadi babu gitu?"
"Eh jangan salah, ini babu bukan sembarang babu. Kamu mau tau gak yang punya mau kasih gaji berapa sebulan?"
"Berapa?"
"10 juta..." jawab Kila menggebu - gebu.
"What?? 10 juta? serius?" Tara yang terkaget - kaget dan dijawab anggukan mantap oleh Kila.
Tara masih tercengang. 10 juta hanya untuk bersih - bersih. Padahal UMR di daerahnya cuma 4 juta. Seberapa kaya orang yang punya apartemen tersebut.
"Gimana? ini babu, bukan sembarang babu, kan?"
"Wah, gila." Tara masih mengagah tak percaya.
"Gimana? ambil gak?" tanya Kila lagi.
"Em, tapi Kil, 10 juta cuma buat bersih - bersih itu kayaknya gak masuk akal deh." Tara mulai berprasangka buruk. "Nanti karna udah ngerasa bayar 10 juta terus aku disuruh yang aneh - aneh lagi, hiiiii ..." Tara menggerakkan badan, geli sekaligus takut.
"Gak bakalan!" tampik Kila. "Kata temenku yang punya apartemen pengusaha sibuk banget, dia berangakat pagi pulang malam, jadi jarang di apartemen. Jadi gak mungkin aneh - aneh."
"Kalau saranku sih, kamu ambil aja, lumayan kan 10 juta," ucap Kila lagi.
"Ya aku potong dong gajinya." kata Kila cepat. "Aku potong 25%. Nanti kamu bisa datang ke apartemen dulu pagi - pagi sebelum ke mall terus di sore hari juga, soalnya yang punya apartemen minta dimasakin buat makan malam." kata Kila dan Tara manggut - manggut.
"Gimana mau gak?"
"Oke deh." jawab Tara akhirnya setuju.
***
Hari minggu, Randi berangkat kerumah Sofia dengan dijemput oleh sopir keluarga Bu Yanti. 1 jam perjalanan dari rumahnya, mobil pun sampai dirumah yang ditinggali Sofia. Saat itu, Sofia sudah menunggu Randi sedari tadi. Sampai akhirnya ketika mobil yang menjemput Randi datang, Sofia melompat kegirangan.
"Yeyy ... kak Randi datang ..." seru Sofia yang senang.
"Kak Randi ..." Sofia berlari mendekati Randi yang baru turun dari mobil dan langsung menggandeng tangannya. "Ayo masuk Kak," ajaknya kemudian masuk kedalam rumah dan menggiringnya kedalam ruangan yang khusus di desain sebagai ruang bermain.
"Kak Randi mau main apa?" tanya Sofia sementara yang ditanya cuma melongo takjub melihat playground dihadapannya lengkap dengan mandi bola dan seluncurnya.
__ADS_1
"Kak Randi mau mandi bola, atau mau prosotan atau mau kuda - kudaan? aku punya mobil ini, sama skuter, mau main sepatu roda?" tawar Sofia sambil sibuk mengeluarkan semua mainan yang dimilikinya.
"Sofia, kata Bundaku aku boleh main kalau aku sudah ajarin kamu belajar. Jadi sekarang ayo kita belajar dulu, mainnya nanti aja." kata Randi yang sebetulnya ingin bermain tapi ditahan.
"Ya udah deh, belajar dulu, tapi habis itu kita main ya, kak."
"Iya,"
Randi dan Sofia belajar diruang tengah. Disela - sela belajar mereka terdengar juga candaan dari kedua sehingga suasana belajarnya tak membosankan. Dari meja makan, Bu Yanti sedang duduk sambil memperhatikan keduanya. Wajahnya terhenti - hentinya tersenyum saat memperhatikan kedua anak kecil itu.
"Ma, kamu kenapa? dari tadi Papa perhatikan kamu ini senyum - senyum terus liatin mereka." Kata Pak Dani yang duduk disampingnya sambil baca dokumen pekerjaannya.
"Itu lo Pa, si Randi, semakin mama perhatiin kok kayaknya semakin mirip Sandi waktu masih kecil." saut Bu Yanti tanpa melepas pandangannya pada Randi. "Coba Papa lihat, bandingin sama foto yang ada di dinding itu, miripkan?"
Pak Dani melirik foto di dinding dan Randi secara bergantian. "Iya, lumayan mirip."
"Betulkan?" Bu Yanti meyakinkan sementara Pak Dani mengangguk dan kemudian kembali membaca dokumennya.
"Bedanya cuma sikap sama otaknya aja. Kalau Sandi dulu bedigasan gak bisa diem, kalau Randi ini selain cerdas dia juga nurut, persis kayak ibunya, cantik, kalem, sopan."
"Pa, coba Papa lihat ini sebentar," Bu Yanti mengeluarkan ponselnya dan kemudian menunjukkan foto Tara kehadapan Pak Dani.
"Ini siapa?"
"Ini ibunya Randi, gimana menurut Papa?"
"Cantik,"
"Pa, kalau menurut Papa, gimana kalau kita jodohin aja sama Sandi, gimana?"
"Jodohin?" Pak Dani mengernyit. "Kamu ini jangan aneh - aneh" jawab Pak Dani keberatan.
"Ya emangnya kenapa toh Pa? suaminya ini kan sudah lama meninggal. Jadi apa salahnya kalau seandainya kita jodohin sama Sandi."
"Ya salah!" hardik Pak Dani. "Ma, bagaimanapun dia itu janda, sudah punya anak, sedangkan Sandi masih bujang belum pernah menikah."
"Ya emang kenapa Pa?" Bu Yanti ikut menghardik. "Meskipun dia janda dan punya anak, tapi anaknya kan Randi. Kita sudah tau seperti apa dia. Randi anaknya pinter, nurut liat aja ke Sofia ngejagain banget. Dan Ibunya juga gitu, aku tahu betul seperti apa sifatnya. Jadi apa salahnya?"
"Ya tetap salah! sudah jangan aneh - aneh mau jodohin anak sama janda beranak 1. Kamu ini, seperti tidak ada wanita yang lain saja. Padahal yang cantik dan yang lebih itu banyak!"
__ADS_1
"Yang cantik dan lebih memang banyak, tapi yang baik dan sayang keluarga itu jarang!." sungut Bu Yanti kesal.
"Ah, sudahlah. Pokoknya Papa gak setuju!" dengus Pak Dani yang kemudian pergi dengan muka masamnya.