Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 49


__ADS_3

Mobil Kila baru saja masuk kedalam basamen mall. Mobil itu kemudian diparkir pada salah satu stan parkir yang kosong yang tak jauh dari pintu masuk mall. Setelah mobil terparkir sempurna, Kila mematikan mesin dan kemudian melepas sabuk pengaman, begitu juga dengan Randi yang disampingnya.


"Ayo turun..." ajak Kila pada Randi disampingnya.


"Mami," seru Randi yang sudah turun dari mobil dan Kila yang sudah menggandengnya.


"Hem..."


"Mami, jangan marah - marah lagi, ya... ke bunda," pintah Randi dengan wajah polosnya. "Aku gak apa - apa kok, meskipun sekolahnya pindah. Nanti aku mau belajar kungfu, nanti kalau ada yang jail, biar langsung aku banting. Biar tahu rasa ..."


Kila tertawa kecil sambil mencebik mendengar perkataan Randi.


"Jadi Mami jangan khawatir lagi, ya ... jangan marahan sama bunda lagi, ya ..." bujuk anak kecil itu.


"Oh, gitu ... iya, iya, tenang aja, gak usah khawatir." jawab Kila gemas, mengacak - ngacak rambut Randi. Bagaimana mungkin dia bisa menolak permintaan Randi kalau seperti itu.


"Udah yuk, jalan ..." ajak Kila kemudian.


Kila dan Randi berjalan bersama menuju butik. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan diselipi dengan ayunan untuk menikmati setiap langkah saat menyusuri Mall.


Masih seperempat perjalanan menyusuri mall yang ramai. Tiba - tiba Kila menghentikan langkah dan ayunannya. Saat itu, matanya sedang menangkap bayangan seorang lelaki yang terlihat gontai.


'Sandi?' batin Kila, mengikuti arah pandang mata Sandi, yang saat itu tengah mengarah pada sosok anak yang digandengnya.


Tak usah dijelaskan, hanya dari tatapan Sandi yang berjarak sekitar 20 meter dari tempatnya berada, Kila bisa paham kalau Sandi sudah tahu siapa Randi sebetulnya. Jelas fakta itu membuatnya jadi terpengarah.


Randi yang tak tahu menahu, merasa ekspresi wajah Kila tampak tak biasa. Langkah dan ayunan yang terhenti, serta mata yang menatap lekat kedepan membawa Randi ikut memperhatikan apa yang ada didepan untuk mencari tahu apa yang membuat Maminya jadi tercengang.


Saat itu, Randi mendapati sosok lelaki yang biasa dipanggil Om Sandi olehnya. Dimatanya, Sandi sedang berjalan secara perlahan kearahnya dengan wajah yang muram dan mata bergetar menatapnya lekat.


Sandi sudah berdiri dihadapan Randi. Dielusnya lembut rambut pria kecil itu sambil perlahan jongkok untuk menyamai tinggi badannya. Dielusnya juga bagian wajahnya yang kemudian turun ke bahu untuk menunjukkan kalau inilah anaknya.


Tak ada sepata kata yang keluar dari mulut Sandi kala itu. Hanya tetesan air mata yang tak sanggup dibendung akibat rasa bersalah karna tak mengetahui keberadaan si anak selama 10 tahun lamanya.

__ADS_1


"Om, kok nangis?" tanya Randi menatap iba pada sosok pria dewasa dihadapannya.


Sandi tak menjawab, hanya guratan senyum kecil yang diuraikan ditengah air mata yang jatuh kian deras tanpa suara.


"Ran, Om boleh peluk kamu?" Suara Sandi akhirnya terdengar setelah beberapa waktu.


Ditanya begitu, Randi tak menjawab, dia malah menoleh kepada Kila yang masih berdiri diam disampingnya dengan pandangan meminta pendapat. Sementara Kila memberi sebuah anggukan kecil dengan senyum tipis dibibir.


"Boleh," ucap Randi setelahnya.


Tanpa menunggu lagi. Sandi pun menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Dibelainya lembut dan sayang rambut sang anak yang kini sudah ada didalam dekapannya. Merasa sedikit lega, paling tidak, Randi membiarkan dirinya memelukkan meskipun mungkin Randi tak tahu siapa Sandi sebenarnya.


Kini, Sandi dan Randi sudah berada disebuah cafe. Mereka duduk berdua dengan posisi berdampingan disalah satu meja yang ada disana.


"Kamu mau apa? Mau pizza, hamburger, sosis bakar, roti bantal, roti bakar, dimsum, atau mau kue?" tanya Sandi tanpa melepas pandangannya pada buku menu yang ada ditangan.


"Atau ini," Sandi sedikit mencodongkan badan agar Randi juga bisa membaca. "Ini ada kue tart banyak rasa, ada blackforest, red velvet, cheese, rainbow, snow white, ada puding juga. Hm, ada es cream juga, kamu mau?"


"Kalau minumnya ada jus, ada milkshake rasa - rasa, ada cooktail manggo squash, rainbow, kopi-"


"Es boba rasa taro, Om..." sebut Randi cepat memotong ucapan Sandi.


"Oke," Sandi melempar senyum. "Kalau makanan?"


Randi bingung lagi. Masih belum bisa memutuskan. Disisi lain ingin makan sosis bakar, disisi lain ingin makan kue tart, tapi disisi lain lagi puding tampak begitu nikmat juga.


"Biar gak bingung, Om pesenin semuanya, ya ..." kata Sandi membuat Randi menoleh kearah ayah yang belum diketahuinya itu.


"Gimana? mau?" tanya Sandi lagi.


Sekilas, Randi membayangkan semua makanan enak itu ada dimeja, sambil menelan air liur kembali.


"Ahhhh..." desah Randi berubah lesu. "Jangan Om, nanti kalau gak habis gimana? Kata bunda gak boleh buang - buang makanan, nanti makanannya nangis."

__ADS_1


"Yah ... nanti kalau gak habis ..." Sandi mencari - cari sesuatu disekitarnya. "Bisa dikasih ke orang itu, kan?" kata Sandi melanjutkan ucapannya setelah matanya bertemu pada seorang gelandangan yang tengah duduk di luar bersama beberapa anak kecil lainnya yang terihat dari tembok kaca cafe.


"Itu?" Randi mengangkat pandangannya, mengikuti arah pandang Sandi.


"Iya, gimana mau? Biar mereka bisa tahu juga rasanya makan enak." bujuk Sandi.


"Em, tapi, uangnya Om emang cukup?" tanya Randi polos membuat Sandi tersenyum.


"Cukup banget, bahkan lebihnya banyak. Jadi apapun yang kamu minta bisa Om belikan." jawab Sandi, mengelus rambut Randi kembali dengan penuh rasa sayang.


Tak berselang lama, Sesuai perkataan sang ayah tadi. Satu persatu makanan pun datang memenuhi meja dihadapan keduanya. Sampai - sampai karna begitu banyak makanan, pelayan harus menggabung satu meja lagi karna tak cukup.


"Ayo dimakan, kamu cobain satu - satu dulu, mana yang kamu suka, kamu makan." tukas Sandi, mendekatkan beberapa makanan kepada Randi.


"Iya, Om ..." jawab Randi antusias, dimana matanya sedari tadi sudah sibuk menatap semua makanan tersebut dengan pandangan takjub.


Randi, mulai mencoba satu persatu makanan dihadapannya. Wajah Randi jelas tersirat kalau dirinya sedang menikmati setiap potongan kecil makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Melihat hal itu, Sandi pun menorehkan senyum.


"Om gak makan?" tanya Randi dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.


"Iya, kamu makan aja yang banyak." jawab Sandi kembali memberikan usapan lembut dirambut Sandi tanpa henti.


"Ini, sosisnya enak banget lo, Om."


"Kamu mau lagi?"


"Enggak, ini masih banyak."


"Kalau mau lagi biar Om belikan."


"Enggak, jangan, ini masih banyak." jawab Randi yang mulai serius makan lagi.


Sandi tak henti - hentinya tersenyum memandang anak semata wayangnya yang sedang makan dengan lahap. Begitu juga dengan tangannya yang masih mengelus sayang rambut sang anaknya. Baginya, bisa melihat Randi duduk dihadapannya, menikmati makanan yang dibeli oleh uangnya, merupakan suatu anugrah terbesar dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2