
Sebuah mobil berhenti di baseman sebuah Mall. Dari dalam mobil itu keluarlah Sandi dan Pak Dani yang pintunya dibuka oleh salah satu karyawan yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan keduanya. Mereka kemudian menaiki lift menuju lantai paling atas dan memasuki sebuah ruang rapat yang sudah penuh dengan para dewan direksi.
"Semuanya, perkenalkan dia adalah CEO departemen store Prima yang baru..." seru Pak Dani pada semua dewan direksi yang disambut tepuk tangan dari semuanya.
"Perkenalkan nama saya Sandi Sobondo CEO baru Prima deprtemen store mohon bantuannya" seru Sandi penuh wibawa, ditengah riuhnya tepuk tangan.
Sandi memulai aktiftas pertamanya sebagai CEO dengan berkeliling kantor menyapa para karyawan dengan ditemani Pak Romi sekertarisnya. Selesai menyapa para karyawan, Sandi lanjut memeriksa setiap stand penjualan yang ada di dalam mall.
Kesibukan itu berlanjut sampai di ruang kerja miliknya. Bersama dengan Pak Romi dan 2 karyawannya, Sandi mempelajari dokumen - dokumen yang tertumpuk di atas meja.
"Huft," Hembusan nafas keluar dari hidung dan mulut Sandi. "Akhirnya beres juga." Yang lantas meregangkan badan dan menoleh ke arah jendela menatap hari yang berganti malam.
"Baik Pak kalau gitu nanti biar berkasnya saya rekap, terus saya kirim ke emailnya Bapak untuk diperiksa" ucap Pak Romi yang mengembalikan pandangan Sandi padanya.
"Oke, dan juga jangan lupa berkas yang akan dibawah ke distributor di siapkan juga ya Din, Ti" perintah Sandi pada kedua karyawannya yang bernama Dina dan Tio yang kini sudah membereskan berkas yang bercecaran di atas meja untuk bersiap pulang.
"Iya pak, siap" jawab keduanya berbarengan.
"Baik Pak kalau gitu kita permisi dulu" kata Pak Romi pamit setelah memastikan semuanya sudah benar - benar beres.
"Iya Pak, makasih ya Pak Romi, Din, Ti." Yang di pandanginya ketiganya secara bergantian.
Sepeninggalan ketiga anak buahnya, Sandi menarik nafas panjangnya lagi. Rasanya lelah sekali setelah bekerja seharian.
Sandi meraih jas dan mengenakannya. Tak lupa pula Sandi memungut ponsel yang sedari tadi tak sempat disentuh sama sekali. Sebelum masuk ke dalam saku, Sandi memeriksanya lebih dulu dengan menekan tombol power hingga layarnya hidup.
"Astaga" Sandi menepuk jidatnya setelah dia menemukan ada panggilan telpon yang masuk dari Tara 2x.
"Kenapa bisa lupa."
Dengan menggaruk keningnya yang tak gatal. Dan raut wajah yang berubah jadi gusar. Sandi mencoba menghubungi Tara.
"Hallo... Tara?"
"Hallo." Suara Tara yang terdengar di ujung telpon.
"Tar, kamu sekarang ada dimana?"
"Aku? aku ada di mini market Mas, kenapa Mas?"
"Mini market? ya udah aku aku kesana, tunggu 10 menit lagi aku udah sampai..." Kata Sandi yang tanpa dijelaskanpun mengerti dimana posisinya.
Sandi bergegas keluar dari kantornya yang sudah terlihat sepi. Tak lupa juga dipungutnya amplop coklat yang sudah berisi nilai dan formulir beasiswa milik Tara.
"Tar, sorry ya... tadi sibuk banget, banyak banget kerjaan di kantor sampai lupa" jelas Sandi begitu sampai.
__ADS_1
"Ini." Menyerahkan amplop coklat tadi.
"Iya mas, gak apa - apa" jawab Tara menerima amplop tersebut sambil diam - diam memperhatikan Sandi yang wajahnya tampak lelah dengan baju yang sudah tak rapi dan dasi yang menggantung kebawah.
"Bener kan itu berkasnya?" tanya Sandi dan dijawab dengan anggukan.
Suasana hening untuk beberapa saat.
"Oh iya, kamu udah makan?" tanya Sandi memecahkan keheningan.
"Udah."
"Em." Sandi manggut - manggut. "Gak mau makan lagi?"
"Kenapa? mau ngajakin makan?"
"Heh," Sandi meringis. "Ya kalau mau." jawabnya lagi sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Gak bisa, aku lagi ada acara bentar lagi."
"Acara? acara apa?"
"Mau nonton"
"Nonton?" Sandi menautkan alisnya. "Kapan?"
"Terus, nonton sama siapa?"Tanya Sandi pandangan menyelidik.
"Sendiri."
"Oh," Sandi senyum senyum. Lega. "Kalau sendiri boleh aku ikut?."
Tapi pertanyaan itu membuat Tara jadi memincingkan matanya dan melirik ke Sandi.
"Yah, kalau boleh. Tapi kalau gak boleh ya aku pulang." lanjutnya takut - takut karna melihat ekspresi Tara itu.
Tara diam sejenak, menatap Sandi yang memasang muka ngarep.
"Ya udah ayo kalau ikut." Tara yang ngomong sambil mengangkat bokongnya dan jalan ke mobil Sandi yang terparkir di halaman mini market. Sementara Sandi langsung melempar senyum dan bergerak menyusul Tara.
Setelah membeli tiket, keduanya pun berdiri di dekat pintu masuk studio bioskop. Saat itu Tara masih memperhatikan dasi yang sedang dikenakan Sandi. Posisi Sandi kini sudah tak memakai jas luarnya dan hanya mengenakan kemeja putih yang dasinya masih menggantung tak rapi.
"Mas, permisi ya ..." Tara yang sudah tak tahan langsung melepas dasi yang sedang dikenakan Sandi dan kemudian merapikan kra kemejanya.
"Ini, gak enak di liat soalnya" Sambil dijulurkannya dasi tersebut.
__ADS_1
"Kok malah dilepas, bukannya harusnya malah dipakaiin, ya?"
"Emang Mas Sandi masih mau ngantor?"
Sandi menggeleng.
"Ya udah, mending dilepas aja biar santai" jawab Tara.
Sandi manggut - manggut senyum. Selain bahagia bisa nonton bareng, Sandi juga bahagia atas perlakuan Tara padanya. Senyuman manis dari bibir Sandi tak bisa berhenti meskipun mereka sudah duduk bersebelahan didalam studio bioskop.
"Mas Sandi, kayaknya Mas mau gila deh, dari tadi senyum - senyum terus?" Tara menatap Sandi aneh.
"Ha? Iya mungkin"
"Mas, kalau mau gila jangan sekarang, nanti aja kalau udah gak ada aku!"
Mendengar jawaban Tara, Sandi malah tertawa. Rasanya lelah dan capeknya jadi hilang saat sedang bersama Tara.
"Tar," diraihnya jemari Tara yang kemudian digenggamnya erat membuat gadis itu terperajat. Reflek Tara menarik tangannya.
"Sebentar aja, aku pinjam sebentar, tolong, jangan ditarik" Pintah Sandi, meraih jemari Tara lagi, lalu mengaitkan jemari - jemarinya agar tak muda lepas sambil mengatur posisi agar lebih nyaman.
"Sebentar aja, biar capekku hilang." Sandi memejamkan matanya, hendak tidur. Dan tak lama Sandi memang langsung tertidur lelap.
Tara yang canggung dan gugup memandangi tangan dan wajah Sandi yang sudah tertidur. Sudah ada rasa sayang dan cinta dalam hatinya. Sejujurnya, digenggam tangannya seperti ini, Tara juga merasa bahagia. Dan meskipun perlahan genggaman itu mulai meregang dan lepas Tara tak mencoba untuk menarik tangannya dan malah mengaitkannya kembali hingga film pun habis dan Sandi terbangun.
"Aaaahhhhh... udah selesai ya .." Kata Sandi menguap dan sedikit meregangkan badannya. "Maaf ya, aku ketiduran ..."
Tara hanya tersenyum, sambil mengusap tangannya yang berkeringat ke kain celana yang dipakainya.
Kini keduanya sudah dalam perjalanan pulang. Tak ada sepata kata yang terlontar dari mulut keduanya saat itu. Keduanya tampak canggung, setelah insiden genggaman tangan dibioskop. Hanya ada beberapa ucap yang di keluarkan Tara untuk memberitahu Sandi kemana dia harus mengantarnya pulang.
Sekitar 15 menit perjalanan kini akhirnya mereka sampai di depan kedai milik Mas Ilham dan Mbak Desi. Disana Tara yang masih didalam mobil bisa melihat kedua kakaknya sedang merapikan kursi bersiap menutup kedai.
"Mas, aku duluan ya, makasih udah mau nganterin ini" Pamit Tara sebelum keluar dari mobil Sandi. Dan Sandi mengangguk.
"Tar," Sandi tak rela kalau harus berpisah.
"Iya Mas"
"Em, sebentar. Em, aku mau ngomong" Sandi menghentikan Tara yang hendak keluar dari mobilnya.
"Iya ada apa?"
"Tar, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku pengen jujur ke kamu." Sandi menelan savilanya gugup.
__ADS_1
"Tara, kayaknya aku udah gak bisa nahan lebih lama lagi. Tar, aku sayang sama kamu..."