
Tara dan Bu Yanti duduk di cafe depan sekolah Randi. Mereka saling berhadapan, dengan Bu Yanti yang tersenyum, sementara Tara yang menunduk sambil memainkan kuku di gelas minuman yang ada dihadapannya.
"Sandi sudah cerita semuanya sama Ibu tentang kamu sama dia." Bu Yanti mulai berbicara. "Dia juga cerita tentang Randi juga."
"Sebelumnya, ibu mau minta maaf. Ibu gak bilang - bilang, kalau lagi menggunakan kekuasaan ibu buat pindahin sekolahnya Randi lagi ke sekolah lama." ungkap Bu Yanti.
"Sejujurnya ibu gak rela begitu dengar Randi mau masuk kesekolah ibu. Ya ... meskipun ketua yayasannya ibu, gak bisa dipungkiri kalau SD kartika itu salah satu sekolah yang buruk. Randi itu anak yang pintar, jadi jangan sampai kamu korbankan dia cuma demi menghindari kita." kata Bu Yanti membuat Tara semakin menunduk.
"Tar, awalnya ibu gak percaya, Sandi tiba - tiba bilang kalau Randi anaknya. Tapi setelah Sandi jelasin semuanya, ibu baru percaya."
Bu Yanti tertawa kecil sambil memandang jauh kedepan ke gedung sekolah. Sementara Tara, masih diam membisu tetap menunduk. "Siapa sangkah, kalau ternyata Randi itu beneran cucunya ibu. Pantas saja ibu bisa punya perasaan sayang sama Randi."
"Oh iya, Kamu tahu gak, apa hal yang gak bisa dibohongi?" tanya Bu Yanti yang mengarahkan pandangannya menatap Tara. "Wajah mereka mirip sekali pas waktu kecil. Berkali - kali ibu bandingin wajah Randi sama foto Sandi waktu kecil. Itu bener - bener sama persis, mulai dadi matanya, hidungnya, bibirnya, alisnya, bahkan jidatnya sama persis. Bedanya cuma dikelakuannya aja. Dulu pas kecil, Sandi itu nakaalll banget, sedangkan Randi pinteerrrr banget."
Bu Yanti kembali tertawa kecil.
"Ada satu cerita lagi yang lucu. Asal kamu tahu, kemarin itu ibu juga sempet lo mau jodohin kamu sama Sandi." cerita Bu Yanti berhasil membuat Tara sedikit bereaksi, mengangkat kepalanya walaupun cuma samar. "Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi."
"Tara," Bu Yanti menggenggam tangan Tara hingga Tara jadi sedikit terkejut dan mengangkat kepalanya memandang tangannya yang sedang digenggam. "Ibu mau minta maaf sama kamu atas nama Sandi. Kamu, pastinya selama ini sangat menderita karna harus hidup membesarkan Randi sendiri."
"Jangan salah paham lagi. Semua kabar yang beredar dulu itu adalah bohong. Sandi tidak pernah mau menikah sama siapa pun. Kita juga sebagai orang tua tidak pernah minta anak - anak kita untuk menikah hanya karna uang." jelas Bu Yanti mengira Tara masih salah paham atas berita pernikahan Sandi dulu.
"Tara." Bu Yanti semakin mengeratkan genggamannya. "10 tahun ini, Sandi juga sangat menderita karna kehilangan kamu. Dia bahkan sampai kecanduan alkohol karna frustasi tidak bisa menemukan kamu. Jadi Tar, ibu mohon jangan salah paham lagi. Dan tolong terima dia lagi, ya ..." pinta Bu Yanti menatap lekat Tara yang terus saja diam membisu.
Karna sudah lumayan siang, dan Tara harus kerja. Tara dan Bu Yanti akhirnya mengakhiri obrolan mereka. Dengan hangat Bu Yanti pamit pada Tara dengan cara memberikan pelukan pada wanita yang berdiri disampingnya itu sebelum masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Tolong pertimbangkan permintaan ibu tadi, ya ... Ibu menerima kamu dengan senang hati, kalau kamu mau membuka hatimu lagi untuk Sandi." pesan Bu Yanti setelah memeluk Tara, dan kemudian mengelus lengan Tara yang lalu masuk ke mobil meninggalkan Tara yang masih berdiri.
***
Suara dering ponsel yang beberapa kali berbunyi mambangunkan Sandi yang terlelap di sofa. Dia lalu meraba ponselnya yang ada di dalam jas yang masih menempel ditubuhnya mulai semalam. Sandi menatap layar ponselnya. Nama Gilang terpampang dilayar. Membuatnya terbangun meskipun kepalanya sedang pusing karna habis minum lagi semalam.
"Hm..." Saut Sandi yang menerima panggilan tersebut.
"San, udah ketemu Tara?" tanya Gilang dari balik telponnya.
"Tara," Sandi mengernyit, tak mengerti maksud dari perkataan sobatnya itu.
"Kata Kila, dia hari mau ke apartemen lu."
"Kesini?" Sandi terpengarah.
Sandi terdiam. Dia benar - benar lupa tentang satu fakta ini.
Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya. Terdengar suara suara petikan paswod pintu sedang ditekan dari luar. Mendengar itu, sontak Sandi langsung berdiri dengan jempol mengakhiri panggilannya dan tangannya turun pelahan.
Tara benar - benar berdiri dihadapannya. Keduanya sama - sama terpengarah tak menduga akan bertemu di pagi itu.
"Tar," suara pelan yang terdengar lirih tapi bisa didengar. Sementara Tara diam menatap sosok lelaki dihadapannya yang terlihat kusut dan compang - camping sambil melirik sedikit ke arah meja yang berantakan dipenuhi kaleng bir kosong dan juga putung rokok.
Sakit, sebetulnya melihat Sandi yang seperti ini. Apa lagi mengingat baru tadi pagi dia bertemu Bu Yanti dan bilang kalau Sandi pernah kecanduan alkohol. Tapi entah kenapa wanita itu masih tak berani bersama dengan Sandi lagi, dan memilih untuk berbalik pergi.
__ADS_1
Baru saja berbalik dan baru saja selangkah melangkah. Tiba - tiba badannya kembali terhuyung dan ditarik kebelakang. Lagi - lagi Sandi memeluknya lagi bukan dari depan tapi dari belakang.
"Tar, jangan pergi." suara lirih itu lagi - lagi terdengar bercampur dengan nafas bau alkohol dan aroma rokok yang menyengat dari mulut Sandi. "Jangan pergi aku mohon."
"Lepas Mas, tolong jangan gini lagi." Tara memalingkan muka. Dipagi itu matanya lagi - lagi mau menangis.
"Tar, aku mohon maafin aku. Maafin aku karna dulu aku udah ninggalin kamu pergi gitu aja ke korea setelah aku ngelakuin itu ke kamu. Aku minta maaf udah buat kamu menderita selama ini. Aku minta maaf karna kamu harus ngerawat anak kita sendirian. Aku bener - bener minta maaf, Seandainya .."
"Cukup Mas Sandi!." pekik Tara memotong ucapan Sandi. Sambil melepaskan diri dari Sandi. "Semua itu udah berlalu. Jangan dibahas lagi!."
"Mas, sekarang kita udah berakhir. Udah gak ada apa - apa lagi diantara kita. Jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi."
"Kita belum berakhir Tar, Masih ada Randi diantara kita."
"Aku bilang Randi bukan anaknya Mas Sandi!" hardik Tara.
"Terus dia anaknya siapa? jelas - jelas dia itu anakku!." Sandi ikut meninggikan suaranya frustasi. Sementara Tara memalingkan wajah dan mengusap air matanya kasar karna mulai membasahi pipinya.
"Tar, aku mohon. Gimana caranya biar kamu mau maafin aku? gimana caranya biar kami bisa terima aku lagi?" Sandi memegang lengan Tara. "Tar, kabar soal aku mau nikah dulu itu adalah kabar bohong. Aku gak pernah sekalipun mau menikah sama Sasa. Kalau pun aku mau menikah, yang pasti wanitanya adalah kamu. Jadi aku mohon kamu tolong jangan salah paham lagi sama aku, ya ..."
"Aku udah maafin Mas Sandi. Tapi maaf, aku tetap gak bisa terima Mas Sandi lagi. Jadi, maaf Mas ..." ucap Tara lirih, sembari melepas tangan Sandi yang sedang menggenggamnya.
"Tar, aku mohon, demi Randi, ya ..." Sandi memohon lagi.
"Maaf Mas..." Tara kembali memalingkan muka dengan air mata yang menetes lagi.
__ADS_1
Tak sabar. Sandi kemudian menarik tubuh Tara dan mendekapnya lagi.
"Kali ini aku gak peduli. Sekeras apapun kamu menolak. Sebenci apapun kamu sama aku. Mulai sekarang, aku akan terus gangguin kamu sama Randi. Aku akan tunjukin ke kamu, kalau aku itu sayang ke kamu dan Randi, kalau aku mau kita hidup bersama. Aku akan terus berusaha, sampai hati kamu luluh." desis Sandi ditelinga Tara yang saat itu sedang merontah meminta Sandi untuk melepaskan pelukannya yang terasa kasar ditubuhnya.