
Sandi baru saja sampai di kantor utama. Langkahnya terlihat cepat memasuki gedung 20 lantai itu. Saat tiba di depan lift. Terlihat Bagas sudah menunggu kedatangannya dengan beberapa dokumen ditangan. Dengan cekatan, Bagas kemudian menekan tombol lift dan menahannya sampai Sandi masuk yang kemudian setelahnya di ikuti dari belakang.
"Udah kamu kerjain perintahnya Gilang?" tanya Sandi ketika mereka didalam lift.
"Sudah pak, ini, bisa Pak Sandi periksa dulu." jawab Bagas menjulurkan dokumen ditangannya yang sengaja diletakkan di papan dada agar tak kusut atau pun kucel.
"Ini, gak ada satu pun yang ketinggalan lagi, kan?" tanya Sandi tanpa menoleh dan fokus pada dokumen dihadapannya.
"Kalau yang ini sudah enggak Pak, cuma untuk berkas pengalihan sahamnya masih belum tahu, soalnya masih diperiksa sama tim keuangan."
Sandi manggut - manggut. "Ya udah yang penting kamu kawal terus, jangan sampai kayak kemarin, cuma gara - gara satu poin, semuanya hancur."
"Iya pak, siap." jawab Bagas dengan wajah merasa bersalah dan takut - takut.
Beberapa menit menaiki lift menuju lantai 18. Tak lama terdengar bunyi pintu yang menandakan kalau mereka sudah sampai ditujuan. Pintu lift perlahan terbuka. Sandi dan Bagas keluar dari lift dan kembali disambut oleh Gilang yang sudah menunggunya sejak tadi dimeja sekertaris.
"San, ini serius, kita mau ngajuin pemutusan kerjasama sama wiraka?" tanya Gilang yang langsung mengikutinya, berjalan disamping sang bos.
"He'em" jawab Sandi tanpa menoleh.
"Wah ..." Gilang membelalakkan mata dan membuka mulutnya tak percaya. "Emang beneran bisa? itu finaltinya gak bisa dihitung sama tangan, man!."
"Kenapa lu gak yakin?"
"Yaaaaa, gitu deh ..." timpalnya dengan nada menciut sambil mengerlingkan mata menghindari tatapan sinis sang bos. "Padahal masalah kompensasi juga belum kelar. Sekarang udah mau mutusin kerjasama."
"Emang siapa yang mau bayar kompensasi?" jawab Sandi berwajah sinis.
"Maksud lu? gak mau dibayar gitu?" Gilang mengernyit.
Sandi tak menanggapi pertanyaan Gilang dia cuma tersenyum sinis.
Dari arah sebrang. Tampak Pak Dani dan rombongannya. Mereka juga sedang turut menyusuri lorong kantor menuju ruang rapat juga.
"Pa," sapa Sandi ketika sang ayah dan rombongannya masih berjarak sekitar beberapa meter, membuat Gilang dan Bagas otomatis langsung membungkuk hormat pada bos besar mereka.
__ADS_1
"Kamu udah siap?" pungkas Pak Dani ketika sudah berpapasan dengan sang anak di depan pintu ruang rapat. Sedangkan Sandi mengangguk mantap.
"Oke, ayo masuk." pekik Pak Dani melangkahkan kaki nya lebih dulu masuk kedalam ruang rapat, baru kemudian di ikuti Sandi dan para pegawai dibelakang yang lantas langsung disambut yang lain yang sudah lebih dulu berada dalam ruang rapat.
"Oke, ayo mulai rapatnya." perintah Pak Dani yang sudah duduk dikursi pimpinan untuk memimpin jalannya rapat.
Suasana rapat tampak intens membahas tentang rencana pelepasan diri dari segala bentuk kerjasama dengan wiraka grup. Menyusun segala kemungkinan dan juga rencana cadangan agar tak begitu merugi. Hingga akhirnya selama 5 jam lamanya. Rapat pun akhirnya berakhir.
"Oke, kalau gitu, tolong tim hukum dan juga tim keuangan kalian siapkan baik - baik semuanya. Saya harap minggu depan semuanya sudah selesai dan sudah siap diliris." pesan Pak Dani mengakhiri rapat hari itu.
"Iya pak," saut semua orang yang berada ditim yang tadi disebut.
"Sekarang, papa serahkan ke kamu." kata Pak Dani yang sudah bangkit dari duduknya dan menepuk pundak sang anak sebelum pergi.
"Iya Pa," saut Sandi menatap sang ayah penuh rasa terima kasih karna sudah memberi dukungan serta membantunya kali ini.
Setelah selesai rapat dengan para pimpinan tertinggi perusahan. Sandi, Gilang dan Bagas langsung menuju kantornya untuk lanjut rapat kembali. Hari itu, segala kemampuan dikerahkan Sandi. Lembar demi lembar, dokumen demi dokumen diperiksa oleh Sandi dan Gilang secara bergantian. Kadang sesekali Bagas dan juga pegawai lainnya terlihat mempresentasikan hasil pekerjaannya dihadapan sang bos. Hingga akhirnya hari berganti malam dan mereka semua satu demi satu meninggalkan ruang rapat dan hanya menyisakan dirinya seorang diri.
"Arrggghhh!!" pekik Gilang begitu membuka pintu ruang rapat di pagi hari.
"Bikinin gue kopi lang." Sandi malah memerintah Gilang, tanpa menoleh.
"Aish!" gerutu Gilang malas. Tapi tetap berbalik keluar melaksanakan perintah sang bos.
Beberapa saat kemudian. Gilang kembali dengan segelas kopi ditangannya.
"Nih, udah gue priksa semua. Nanti tolong lu pilah yang bener. Jangan sampek ada yang ketinggal lagi!." ucap Sandi menyodorkan setumpuk berkas.
"Oke, oke, siap, siap, meskipun masih pagi banget, udah di kasih kerjaan segebok!." gerutu Gilang menepuk - nepuk tumpukan berkas dihadapannya. Sementara Sandi tampak tak peduli dan menikmati kopi yang tadi dibawah oleh Gilang.
"San, ini emangnya perlu banget ya kita ngelawan wiraka? Sampai - sampai kita harus ngelepas semua kerja sama kita?" tanya Gilang setelah duduk dihadapan sang bos.
"Iya, harus!."
"Harus? kok harus? kenapa? tapi, yang pasti lu gak akan ngungkapin sesuatu yang ada dibuku hijau itu, kan?" tanya Gilang, karna persis setelah Sandi menanyakan buku hijau itu, hal ini terjadi.
__ADS_1
"Menurut lu?"
"Aish! jangan gila! bukannya ini bahaya?"
"Gue udah ijin papa."
"Huft." Gilang langsung menghela nafasnya yang tiba - tiba serasa sesak didadanya. Tak diduganya Pak Dani malah mengijinkan.
"Tapi San, kenapa lu tiba - tiba berubah pikiran? Pasti ada alasannya, kan?"
"He'em, gue harus ngelindungi Tara sama Randi."
"Maksud lu? apa hubungannya mereka sama wiraka?" Gilang mengernyit.
"Banyak."
"Banyak?"
"Sasa." jawab Sandi, Gilang semakin mengernyit menunggu kelanjutan ucapan sobatnya. "Dia ngancam Tara sama nyebar gosip murahan tentang gue. Terus nipu gue lewat Pak Liung biar gue gak balik - balik ke Indonesia. Jadi karna semua itu, Tara jadi takut deket gue lagi."
"WHAT? ARE YOU SURE?" pekik Gilang dan dijawab dengan anggukan. "Oh My God..." serunya lagi dengan mulut mengangah.
"Terus, lu tahu dari mana kalau itu ulahnya Sasa?" tanya Gilang lagi.
"Kila cerita."
"Oh My God. Gila! tuh, kan, bener kata gue. Si Sasa itu emang psikopat!." decak Gilang.
"Lu," tunjuk Gilang. "Lu dulu kenapa bisa pacaran sama si Sasa? padahal dia gila gini. Gue seandainya dikasih selusin juga gak bakalan mau meskipun dia cantik sama kaya."
"Aiishhh! kenapa jadi ngomong masalalu?" dengus Sandi berubah masam.
"Ya selera lu aneh!. Eh, tapi, karma nih kayaknya. Dulu lu, kan playboy. Jadi sekarang dibales, dibuat jadi bucin setengah mati!." goda Gilang yang diakhir kalimatnya diselipi tawa mengejek.
"Aiiisshhh!! diem gak! kalau gak diem gue sobek tuh mulut!." pekik Sandi kesal, yang kemudian beranjak dari duduknya dengan kasar meninggalkan Gilang dengan lirikan tajam. Sementara Gilang tampak terkikik bahagia melihat reaksi sahabatnya itu.
__ADS_1