
Sandi mulai mengangkuti semua koper miliknya ke dalam mobil. Wajahnya masih datar. Bu Yanti yang berdiri disampingnya menatapnya khawatir sambil membantu membawakan barang yang kecil - kecil.
"San, gak bisa ya kalau tinggal disini aja? toh cuma karna Mita dan suaminya datang terus kamu harus pindah gini?"
"San, apa salahnya kita tinggal bersama, kita ini kan keluarga, rumah juga cukup"
"San, kalau kamu pergi nanti siapa yang nempatin kamar kamu?"
"San, Mama ini khawatir banget sama kamu, kalau kamu tinggal sendiri nanti kamu gimana? Siapa yang beresin rumah, cuci baju, setrika sama yang siapin makan?"
Berondong Bu Yanti ke Sandi membuat Sandi yang mendengernya jadi jengah.
"San,"
"Ma." potongnya cepat. "Sandi ini udah gede, udah dewasa, stop mengkhawatirkan sesuatu yang bisa Sandi urus sendiri." timpalnya kali ini dengan wajah masam.
"San, Mama ini khawatir karna ada alasannya. Kamu kalau gak diingetin udah kadung kerja gak mungkin mikirin beres - beres rumah. Apa lagi makan!. Hampir tiap hari kamu itu selalu lupa sama yang namanya makan. Kalau udah kayak gitu nanti mag kamu kumat lagi gimana?."
"Sandi bisa urus sendiri Ma, jadi Mama gak usah khawatir." jawab Sandi dingin.
"Andai aja kamu udah keluarga kayak Mita, Mama pasti gak akan cemas kayak gini." Bu Yanti yang wajahnya terihat lesu tapi seketika wajah Sandi berubah masam kembali.
"Mama please Ma. Jangan bikin Sandi tambah puyeng." sergahnya, lagi - lagi sang ibunya membahas masalah pernikahan.
"Huft..." Bu Yanti menghela nafas keras, kesal juga dengan sikap anaknya yang selalu seperti ini.
"Ya udah kalau memang itu mau kamu dan kamu emang mau tinggal sendiri Mama gak ngelarang." ucap Bu Yanti akhirnya mengalah.
"Asal," Bu Yanti menekan perkataanya. "Kamu kasih tahu Mama nomor kunci apartemenmu. Nanti seandainya kamu sakit atau kenapa - kenapa Mama bisa masuk gak perlu bingung atau harus tungguin kamu, oke?"
Sandi membuang muka dan menggelengkan kepalanya. Dibenaknya, ya inilah mamanya, mengalah tapi masih ada tapinya.
"150792 itu kodenya" sungut Sandi yang sebetulnya enggan.
"Pelan - pelan, Mama catet dulu biar gak lupa, kok kayaknya susah amat" Bu Yanti mengeluarkan ponselnya dan menyimpan kode masuk apartemen anaknya.
Barang sudah masuk kedalam mobil semua. Sandi juga sudah bersiap pergi.
"Ma aku berangkat" pamit Sandi.
"Iya ati - ati ya. Jangan lupa malam minggu besok Mita pulang, jadi kamu juga harus pulang. Kita kan udah sebulan lebih gak pernah kumpul" pesan Bu Yanti sebelum Sandi pergi.
__ADS_1
"He'e" jawab Sandi malas dengan nada datarnya.
Sandi menjalankan mobilnya. Dia berangkat menuju apartemen yang akan ditinggalinya mulai hari ini. Sekitar 30 menit perjalanan, Sandi pun sampai di apartemennya. Apartemen Sandi masih terlihat berantakan. Barang - barangnya masih belum tertata rapi. Bajunya masih didalam koper begitu juga dengan barang - barang sejenis aksesoris lainnya.
Merasa lelah dan juga terlalu malam untuk beres - beras. Sandi pun memilih untuk merebahkan dirinya di atas kasur dengan pandangan menerawang pada satu titik dilangit - langit kamar.
'Huft, sepi' Bantinnya, karna biasanya, suasana rumahnya itu ramai dengan suara guyonan dari orangtuanya dan Sofia.
Kriiinnngggggg .....
Suara ponsel Sandi memecahkan keheningannya. Terlihat nama Gilang muncul dalam ponselnya. Gilang adalah asisten sekaligus teman yang bertahun - tahun lamanya membantunya.
"Hallo ..." Sandi menjawab panggilannya.
"Hallo, San.. udah sampe apartemen?"
"He'em"
"Gimana? cocok gak apartemennya?"
"He'em"
"Masih butuh orang buat beres - beres?"
"He'em"
"Oke, besok gue cariin orang buat beres - beres apartemen lu"
"Cari yang kerjanya bagus"
"Iya, iya gue tahu. Lu tenang aja, gue jamin lu pasti suka" kata Gilang meyakinkan.
"Oh ya buat jadwal besok, kayaknya harus kita undur. Lebih baik, besok kita liat mall bagian kanan luar dulu deh. Soalnya ini tadi mandornya laporan, ada salah satu sisi dinding yang retaknya parah terus butuh rencana perbaikan lebih"
"Oke, lu atur aja."
"Oke, kalau gitu, besok kita pagi ke mall dulu, terus langsung balik ke kantor buat rapat."
"He'em"
"Oke bro, gue tutup telponnya."
__ADS_1
Panggilan pun berakhir. Sandi kemudian beranjak dari kasurnya dan pergi ke meja kerja yang terletak di ruang tengah. Dia kemudian duduk disana dan memakai kaca matanya bersiap untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadi tak sempat dikerjakan.
***
Disisi lain, di rumah Tara. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saat itu, Kila yang baru saja keluar dari dalam kamar menghampiri Tara dan Randi yang sedang asik nonton TV di ruang tengah.
"Eh, Tar, mau gak besok ikut aku nyeper? lumayan nih kerjaan gampang, bayarannya mahal?" kata Kila begitu duduk disamping Tara.
"Kerja apaan?" Tara mengernyit tak paham.
"Temenku barusan nawarin, cuma beres - beres apartemen aja tapi mau dibayar 5 juta." Kila yang wajahnya berbinar saat membicarakan honornya.
"Beres - beres apartemen terus berani bayar 5 juta?" Tara semakin mengernyit. "Jangan - jangan apartemennya kotor banget terus angker lagi, hiii ..." celetuk Tara dengan menggoyangkan badannya geli.
"Ih, kamu ini. bukan ya. Ini itu katanya orangnya baru aja pindahan aja terus yang punya bos perusahaan besar jadi gak sempet nata barang - barangnya. Gimana mau gak? lumayan ini 5 juta cuma kerja sehari" bujuk Kila sambil menaik turunkan alis.
"Em, tapi ntar kalu ada barang berat gimana? kayak lemari? bupet? atau kasur? Kalau cuma berdua kan gak mungkin ..."
"Masalah itu gampang, nanti seandainya butuh bantuan tinggal telpon Yuni sama Nila biar deh tuh butik tutup, gimana?"
"Oke deh" jawab Tara setelah berpikir sejenak.
"Oke, sip. ntar kita fifty:fifty oke?" Yang dijawab anggukan oleh Tara.
"Aku kabari lagi kalau gitu si Gilang"
Kila masuk kembali kedalam kamarnya meninggalkan Tara dan Randi yang masih nonton TV dengan Randi yang tidur dipangkuannya.
"Hallo, Gilang" sapa Kila lebih dulu begitu telponnya diangkat.
"Yo'i, gimana?" saut Gilang.
"Oke, gue sama temen gue mau, jadi besok pagi kita langsung kesana, Lu kirim deh alamatnya"
"Oke, siap kalau gitu, tapi ati - ati ya yang bersih terus jangan sampai ada yang ilang, soalnya bos gue orangnya rada - rada mintanya yang perfect"
"Iya tenang aja, gue jamin pasti puas"
"Oke pokoknya gue percaya ya Kil sama Lu, kalau sampi ada apa - apa stand lu gue putus secara sepihak pokoknya!"
"Iya, iya bawel banget! udah ah, cepet kirimin alamatnya"
__ADS_1
"Oke, oke, tunggu"
Setelah itu panggilan pun terputus. Beberapa detik kemudian ponsel Kila bergetar. Pesan dari Gilang masuk. Gilang mengirimkan alamat apartemen milik Sandi. Kila yang menerima alamat tersebut pun tersenyum sumringah. Tanpa ada yang tahu, bahwa sebetulnya apartemen itu adalah apartemen Sandi dan mereka juga saling tertaut satu sama lain.