Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 45


__ADS_3

Sandi baru saja keluar dari dalam departemen store seorang diri dengan tangan yang sibuk memainkan ponsel. Kebetulan letak departemen store itu berada dilantai 2 dimall dan bersampingan dengan timezone.


Saat itu, Sandi hendak kembali ke kantor managemen. Tanpa sengaja, sudut matanya melihat sosok anak kecil lelaki tengah duduk murung sendiri di salah satu meja yang ada didekat situ.


'Randi?' batin Sandi, 'Ngapain dia disitu?' Sambil clingak clinguk memperhatikan sekeliling, dan berjalan menghampiri karna tak mungkin kan Randi datang ke Mall sendirian.


Sandi yang jaraknya sudah dekat, memperhatikan Randi yang murung menatap timezone dihadapannya secara bergantian. Mungkin karna itulah sekarang Randi jadi murung. Karna ingin main.


"Kenapa pengen main?" tanyanya sambil duduk disebelah Randi. Sementara Randi cuma menengok sejenak lalu menompang kepalanya lagi.


"Kenapa mau main?" Sandi mengulang pertanyaannya, karna tak dapat jawaban.


Kali ini Randi bereaksi. Dia menoleh dan menggeleng masih dengan ekspresi murungnya. Sementara Sandi mengernyit, mendapati Randi yang terus saja murung.


Suasana sepi untuk beberapa saat. Tak ada obrolan dari keduanya.


"Kamu sama siapa kesini? mana orangtuamu?" tanya Sandi kemudian.


"Kerja." jawabnya lirih.


"Kerja?" Sandi kembali mengernyit, dan Randi mengangguk.


"Terus kamu kesini sama siapa?"


"Itu, kerja disitu." tunjuk Randi pada butik milik Kila yang letaknya ada disebrang.


"Oh," Sandi manggut - manggut mengerti.


Sandi memperhatikan Randi yang masih murung. Diriknya Randi beberapa kali dengan rasa penasaran kenapa Randi murung begini.


"Kenapa? kok sedih?" tanya Sandi lagi.


"Gak apa - apa."


"Kalau gak apa - apa, kenapa mukanya ditekuk?"


Randi diam tak menjawab. Dan Sandi pun mengerti. Mungkin Randi tak ingin cerita.


"Ran," Untuk pertama kalinya Sandi menyebut nama anaknya. "Mau taruhan sama Om?"


Pertanyaan Sandi membuat Randi menoleh.


"Taruhan jentikkan, itu." kata Sandi mengarahkan pandangannya pada permainan basket yang ada di timezone. Sementara Randi mengikuti arah pandang Sandi.


"Nanti siapa yang bisa masukin bola paling banyak itu yang menang. Dan yang kalah harus mau di jentik, gimana?"


Randi diam sejenak. Dia kemudian mengangguk.


Kini keduanya sudah di dalam timezone, berdiri didepan permainan basket, bersiap untuk taruhan.

__ADS_1


"Gimana kamu siap?" tanya Sandi, kepada Randi yang masih sedikit menekuk wajah, tapi meskipun begitu Randi mengangguk.


Mesin mulai menghitung mundur 3,2,1 ... Permainan dimulai.


Sandi dan Randi mulai bermain. Sandi bermain dengan semangat. Sedangkan Randi yang awalnya tak semangat jadi ikut terpacu karna skornya yang mulai tertinggal dan selisih banyak. Randi kembali ceria. Dengan segala kekuatannya, Randi mulai bersaing dengan si ayah.


Jiwa kompetitif kedua lelaki itu mulai menguasai diri. Keduanya tak ada yang mau kalah. Sama - sama berusaha keras memasukkan bola kedalam ring. Hingga akhirnya waktu pun habis.


"YESSS..." Seru Sandi bersemangat, karna berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 23- 18.


"Ayo ..." Sandi menggerakkan jemarinya agar Randi mendekat dan bersiap menjentik.


Randi perlahan mendekat dan mencondongkan kepalanya.


"Meskipun kamu masih kecil, tapi gak ada ampun ..." tukasnya.


Tok ...


Suara menjentik dikening Randi terdengar, bebarengan dengan teriakan dari mulut Randi.


"Arrrgggghhhhh ..." pekik Randi, mengusuk - ngusuk keningnya yang sakit. Sementara Sandi terkikik bahagia.


"Ayo Om, main lagi," tantang Randi kali ini dengan tatapan tajam, ingin segera membalas.


"Oke,"


Permainan dimulai lagi. Lebih sengit dari yang tadi dan juga lebih seru. Skor keduanya kejar - kejaran dan saling susul. Hingga akhirnya kali ini Randi berhasil memenangkan permainan.


TOK ..


Jentikan sangat keras diberikan Randi, yang diiringi dengan kikikan bahagia dari mulutnya karna berhasil membalas.


"Arrrgggghhh..." erang Sandi, mengelus keningnya yang memerah dan sakit.


"Hahahaa sakit ya, Om?" tanyanya tertawa bahagia.


"Iya, ayo main lagi..."


"Om, main yang itu aja, ya..." tunjuk Randi ke permainan balapan.


"Oke."


Hari itu, keduanya bermain bersama. Memainkan beberapa permainan dengan saling menjaili dan menggoda serta raut yang terlihat bahagia. Randi dan Sandi mulai akrab. Tanpa tahu, kalau dari arah pintu departemen store ada Gilang yang memperhatikan bosnya dengan heran.


Baru hari ini, setelah sekian tahun lama, Gilang melihat Bosnya itu tertawa lepas seperti itu. Padahal selama ini, bosnya selalu menahan diri tak pernah tersenyum dan begitu dingin. Tak ada hal yang bisa membuatnya benar - benar bahagia meskipun sudah menang tander atau sudah berhasil di puncak dan menjadi pimpinan perusahaan.


Tapi, hari ini. Disamping anak kecil yang ada disebelahnya. Bosnya bisa melepaskan semua perasaannya dan terlihat lebih hidup.


"San," tegur Gilang yang sudah berdiri dibelakang Sandi yang sedang bermain permainan tembak - tembakan, sambil melirik ke Randi yang ada disisinya. Merasa pernah tahu ke Randi yang dikiranya selama ini adalah anaknya Kila.

__ADS_1


"Eh, Lang," jawabnya tak begitu menggubris kedatangan temannya karna masih serius bermain tembak - tembakan.


"Om, kurang 2 Om, ayo Om..." seru Randi yang heboh.


"Iya, bentar..." jawab Sandi cepat sambil konsentrasi pada target dihadapannya.


"Yah..." keluh Sandi dan Randi berbarengan karna gagal menang dan dilayar muncul tulisan game over. Sementara Gilang cuma memandang keduanya secara bergantian dengan senyum simpul.


"Eh, Lang, udah?" tanya Sandi kali ini baru memandang sobatnya.


"He'em." jawabnya sambil mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, berarti bentar lagi kita langsung rapat."


Gilang manggut - manggut.


"Ran, Om harus pergi dulu, Om masih ada kerjaan." katanya pada Randi.


"Yah, udah pergi ya Om?" Randi.


"Iya, Om masih ada rapat, kapan - kapan kita main bareng lagi. Ini, kamu lanjutin mainnya sendiri." ujarnya sambil memberikan kartu permaian pada Randi, sementara Randi menerima dengan wajah tampak kecewa.


"Ok, Om pergi dulu, ya ..." pamitnya tanpa lupa menepuk bahu anak kecil itu dan kemudian berlalu pergi dengan diikuti Gilang dibelakangnya.


"San, lu kok kenal sama anak itu? Dia bukannya anak salah satu tenant kita kan ya?" tanya Gilang diselah langkah mereka menuju ruang managemen.


"Siapa Randi?"


"Iya, betul, Randi namanya."


"Oh, jadi dia anaknya tenant."


"He'e, butik kayla, stand 24, lantai 2."


"Oh, ..." Sandi manggut - manggut.


"Jadi lu gak tahu?" timpal Gilang yang melihat Sandi yang manggut - manggut.


"Terus kok bisa kenal?"


"Dia temennya Sofia, sering kerumah."


"Oh ..." Kali ini, Gilang yang manggut - manggut. "Memang dunia gak selebar daun kelor."


Mendengar perumpamaan Gilang, Sandi menoleh dan mengernyit, Apa maksud dari perumpamaan itu. Sedangkan Gilang yang ditatap jadi seperti itu, mau tak mau pun menceritakan.


"Jadi gini," Gilang menelan savilanya lebih dulu.


"Sorry sebelumnya, Kebetulan ibunya Randi ini temen gue, terus kemarin yang gue mintain tolong buat bersih - bersih rumah lu itu juga ibunya si Randi ini." ungkapnya kemudian.

__ADS_1


Sandi semakin mengernyit.


"Sorry, gue gak cerita, soalnya kemarin gue takut lu marah, tapi karna liat lu akrab sama Randi, jadi sekarang gue cerita. Kasian San, dia single parent. Katanya ditinggal cowoknya kabur pas hamil."


__ADS_2