Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 27


__ADS_3

Setelah selesai mengobrol panjang lebar dengan Pak Danu. Tara pun akhirnya pamit pulang. Sebelum pulang, Tara sengaja berjalan ke arah kelas Randi untuk mengintip sejenak anaknya yang sedang belajar di dalam kelas.


Ibu dan anak itu bertemu pandang. Keduanya saling melempar senyum dan juga beberapa kode. Si ibu memberi kode hendak pulang, dan si anak mengangguk lalu melambaikan tangan riang.


Seusai pamit pada Randi, Tara kemudian hendak meninggalkan sekolah dan langsung pergi ke mall untuk bekerja. Saat dirinya sampai di gerbang, Pak Danu dari arah kantor berlari dan memanggilnya.


"Bunda Tara" Pak Danu memanggil sambil berlari menghampiri. "Ini ketinggalan." Memberikan sebuah kunci.


"Oh ya Tuhan. Pak Danu terima kasih saya jadi ngerepotin"


"Iya gak apa - apa Bunda. Tadi saya lihat ada dimeja, untungnya Bunda belum pulang"


"iya Pak, sekali lagi terima kasih ya Pak, maaf saya kok jadi kelupaan"


"Iya, tidak apa - apa kok Bunda, santai saja." jawab Pak Danu. "Oh iya, Ini Bunda langsung berangkat kerja atau masih pulang dulu?" tanya Pak Danu basa basi.


"Saya langsung berangkat kerja Pak"


"Oh. iya, iya" Pak Danu manggut - manggut. "Terus ngomong - ngomong, butik tempat kerja Bunda, di mall mana ya? ya, siapa tahu kalau ada waktu saya bisa mampir kesana"


"Di Mall cempaka Pak, dilantai 2 deketnya timezone. Namanya kayla fashion, ya kalau seandainya Pak Danu mampir nanti saya ksih diskon khusus buat Bapak. Apa lagi nanti ngajakin istri belanja di butik saya, diskonnya nanti bisa lebih gede lagi" jawab Tar sekalian promosi.


"Oh iya Bunda, siap - siap. Tapi, Bunda, sebetulnya saya itu masih belum punya istri, saya masih singgle belum menikah" ungkap Pak Danu mau - malu sambil meringis.


"Oh ya?" Tara sedikit terperajat karna baru tahu. "Maaf, maaf Pak kalau gitu, saya gak tahu, saya kira Bapak sudah ada istri" jawab Tara cepat karna tak enak hati.


"Iya gak apa - apa Bunda, santai saja. Ya memang muka saya ini mungkin memang muka bapak - bapak yang sudah beristri, jadi saya maklum"


"Bukan Pak bukan gitu maksud saya. Justru karna Bapak masih kelihatan muda dan ganteng jadi saya kira Bapak sudah punya istri. Karna menurut saya orang ganteng seperti Bapak, terus seorang guru pasti banyak yang suka dan istrinya juga cantik"


"Tapi sayangnya, kenyataannya berbeda, jangankan istri, pacar saja saya tidak punya" Pak Danu yang entah kenapa jadi mengakui hal tersebut padanya.


"Mungkin masih belum ketemu jodohnya Pak" jawab Tara.

__ADS_1


"Tapi Bunda, saya ini penasaran, tolong dijawab jujur ya, apa benar, saya ini bisa dikatakan ganteng?" tanya Pak Danu dengan polosnya, membuat Tara jadi ingin tertawa tapi ditahan.


"Pak Danu itu bukan cuma ganteng, tapi ganteng banget kalau kata Randi. Apalagi katanya Pak Danu juga sabar, jadi kalau menurut saya pasti semuanya bilang kalau Pak Danu bukan cuma ganteng dari luar tapi juga ganteng dari dalam" puji Tara membuat Pak Danu tersipu malu.


"Ah, Bunda ini bisa saja, saya kan jadi besar kepala" jawab Pak Danu yang mukanya sudah merona.


Sebuah angkot terlihat sudah datang. Tara yang tahu kemudian pamit pada Pak Danu.


"Pak, maaf, ngobrolnya disambung kapan - kapan lagi, itu angkot saya sudah datang. Terus terima kasih dan juga maaf seandainya saya salah"


"Oh iya hati - hati Bunda, terima kasih juga sudah meluangkan waktunya untuk datang kesekolah"


"Kalau gitu saya pamit dulu ya Pak, permisi ya pak, selamat pagi"


"Iya, selamat pagi Bunda"


Setelah berpamitan, Tara pun naik keangkot yang tadi sudah dihentikannya. 30 menit perjalanan akhirnya dia sampai di lobi Mall cempaka. Tara turun dari angkot dan berjalan kebutik yang ada dilantai 2 dengan menaiki ekskalator. Suasana mall saat itu masih sepi. Rata - rata yang datang hanyalah para karyawan atau orang - orang yang memang bekerja atau mengais rejeki disini.


Rutinitas dilakukan Tara sebelum membuka butik. Tara menghidupkan seluruh lampu lebih dulu. Kemudian berganti seragam, mengecek cctv, mengecek tatanan baju dan beberapa aksesoris lainnya, dan yang terakhir menghitung modal uang receh yang akan digunakan sebagai kembalian.


Dijam 9 kurang 15 menit. Seperti biasanya kedua karyawan yang lainnya akhirnya datang. Mereka kemudian juga melakukan persiapan sesuai dengan tugas masing - masing. Membersihkan kaca depan agar lebih jelas, membuka lebar pintu masuk dan menata beberapa manekin yang sengaja dijejer didepan pintu masuk.


"Mbak Tar," Kata Yuni setelah menyelesaikan tugasnya, mendekat pada Tara yang masih sibuk di meja kasir.


"Hem, ada apa?" jawab Tara.


"Eh, mbak, tahu gak? katanya hari ini mau ada inspeksi lo dari yang punya mall." ujarnya sesaat sesudah berdiri didepan meja kasir dan menyandar disana.


"Inspeksi?"


"Iya, kemarin kan mall ini udah pindah tangan kesalah satu pengusaha dari jakarta. Terus mereka langsung turun. Kemarin yang udah di inspeksi katanya di supermarket lantai 1 terus kebarat mentok sampai stand terakhir deket parkiran basemen." kata Yuni yang mulai bergosip.


"Em, jadi yang punya mall ini sekarang ganti?"

__ADS_1


"Iya ada yang beli, jadi yang punya sekarang orang jakarta. Yang lama katanya udah bangkrut, gak kuat bayar pajaknya." jawab Yuni.


"Oh, Terus karna itu sekarang yang punya pengen meriksa - meriksa gitu?" tanya Nila nimbrung.


"Ho'o betul" jawab Yuni mantap. Nila manggut - manggut.


"Emang yang diperiksa, apaan Yun?" tanya Nila lagi.


"Kalau denger - denger dari si Reni, mereka juga meriksa kinerja kita - kita. Disupermarket semua karyawannya disuruh jejer terus dievaluasi mulai dari pakaian sampai gimana kita ngelayani orang." jelas Yuni.


"Waduh, kalau kayak gitu nanti kita gimana dong?" Nila yang langsung gugup dengar penjelasan Yuni.


"Ya mangkannya itu, hii" Yuni menggoyangkan badan, ngeri. "Kok ceritanya serem."


"Kalau kita yang diperiksakan cuma standnya guys. Kita kan gak bekerja sama dia. Kita cuma tenant atau penyewa. Mungkin maksudnya yang punya gedung sekarang pengen tahu kondisi ditiap - tiap stand gimana, terawat atau enggak, masih layak atau enggak, gitu" Tara yang akhirnya nyaut karna melihat dua orang didepannya gugup.


"Oh, gitu ya Mbak." jawab Yuni lega.


"Iya, itu bukan rana mereka. kita kan bukan karyawan mereka, kita cuma karyawan si penyewa outlet. Yang berhak menilai kita ya si Kila, yang gaji kita" jawab Tara santai.


"Oh, gitu, kirain" Yuni manggut - manggut begitu juga Nila.


"Eh, tapi ngomong - ngomong ni ya Yun, Mbak. Aku kemarin denger gosip dari anak - anak yang kerja disupermarket, katanya yang punya mall ini masih muda, single, ganteng lagi" cerita Nila antusias.


"Oh ya? serius?" Yuni yang juga tiba - tiba moodboster. "Gantengnya kayak apa?"


"Ganteng banget pokoknya, putih hidungnya mancung, punya lesung pipit juga katanya. Pokoknya gak bayangin manisnya kek gimana kalau lagi senyum." seru Nila bahagia.


"Hem, beneran? jadi penasaran pengen tahu seganteng apa, soalnya udah lama gak liat cowok ganteng, yang kaya, yang belum menikah, enak dipandang, apa lagi kalau bisa dirasakan, Uuhhh..."kata Yuni mulai genit.


"Yang ganteng, yang kaya, dan yang gak bisa digapai. Terus cuma bisa dibayangin sama ditelanjangin dalam pikiran" sambung Nila sambil cekikikan.


"Hem, Dasar ya, kalian kalau denger ada cowok ganteng dikit aja langsung deh, mulai, pikiran gilanya" Tara geleng - geleng melihat kelakuan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2