Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 15


__ADS_3

Sandi memarkir mobilnya tepat di depan pintu rumahnya. Dengan wajah lesu dan kecewa dia masuk kedalam rumah yang saat itu Bu Yanti tengah berada diruang tamu bersama Sasa.


"Sandi" Bu Yanti yang beranjak dari duduknya begitu melihat anak sulungnya baru saja pulang dan disusul Sasa dibelakangnya. "Kamu dari mana saja kok baru pulang?"


"Hai, San..." sapa Sasa tersenyum tak lupa melambaikan tangannya.


Sandi yang sudah lelah dan lesu sedari tadi semakin mengeraskan wajahnya saat melihat Sasa berdiri dihadapannya.


"Ma?" Sandi yang menajamkan matanya meminta penjelasan kenapa bisa ada Sasa disana.


"San, jangan gitu dong, katanya dia cuma pengen ketemu kamu, mangkannya kesini" Bu Yanti berusaha menggenggam lengan anaknya tersebut agar tak menunjukkan amarahnya tapi langsung ditangkis oleh Sandi.


"Ma, Mama tahu kan kalau dia dulu selingkuh? Mama juga tahu kan kalau Sandi juga sudah punya pacar? kenapa masih terima dia disini?"


"San, sorry... aku datang kesini buat minta maaf, aku gak mau hubungan kita makin renggang" ungkap Sasa yang terpotong.


"TUTUP MULUT KAMU!" hardik Sandi.


"Ma, suruh dia pulang!" Sandi tak peduli dan langsung meninggalkan keduanya masuk dalam kamar dengan menghempaskan pintu kamar keras.


"Aiiishhhhh!!!!" Sandi berteriak frustasi di dalam kamarnya.


****


Disisi lain. Di kamar kecil yang pengap. Tara sedang menggigil dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat dingin karna sakit. Untung saja Mbak Desi yang curiga karna Tara tak kunjung keluar dari kamar punya inisiatif menghampiri adik iparnya tersebut.


"Tar, lagi ngapain? kamu gak makan?" ucapnya dari balik pintu yang masih tertutup.


Tak ada jawaban Mbak Desi pun membuka pintu kamar Tara.


"Tar, Tara ... kamu masih tidur?" tanyanya lagi sambil mendekat pada Tara yang tidur meringkuk menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ya ampun Tara!" serunya cemas karna mendapati Tara lemas menggigil dan badannya panas sekali.


"Mas Ilham... Mas Ilham ..." teriak Mbak Desi berharap Mas Ilham cepat datang.


"Lo ... Tar, kamu kenapa?" Mas Ilham yang datang pun ikut terkejut melihat kondisi adik semata wayangnya kini sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Cepet ambil kunci mobil, kita kerumah sakit" printah Mas Ilham ditengah rasa paniknya.


Mbak Desi menurut, dia mengambil kunci mobil dan membukakan pintunya sementara Mas Ilham membopong Tara dipunggungnya.


Setibanya dirumah sakit, Tara yang masuk UGD langsung mendapat tindakan dari dokter yang sedang berjaga disana. Untungnya kondisi Tara tak begitu parah sehingga setelah menghabiskan 1 kantong infus Tara bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Beberapa jam tertidur, Tara akhirnya terbangun dan sudah terlihat lebih baik.


"Tara" Kila yang melihat Tara bangun menyapanya lebih dulu dan duduk mendekat diranjang.


"Kil," jawab Tara dengan suaranya yang terdengar masih lemas.


"Tara ... syukurlah Tar, kamu gak apa - apa. Aku khawatir banget" Kila reflek menggenggam tangan sahabatnya.


"Tar, maaf ya, gara - gara aku kamu jadi sakit gini" sesal Kila menundukkan kepalanya.


"Enggak kok Kil, ini bukan salah kamu"


"Tapi karna aku paksa kamu ikut kamping jadinya kamu sakit gini. Coba aja kalau kemarin aku gak punya ide gila buat kamping di pantai kamu pasti gak akan sakit gini. Apa lagi besok kamu ada ujian buat beasiswa S2. Kalau kamu sakit gini gimana ujian kamu besok?" Kila yang wajahnya penuh sesal dan diujung matanya mulai sembab dan menggenang air mata.


"Bukan Kil, ini bukan salah kamu. Aku juga gak apa - apa kok, jadi kamu gak usah minta maaf lagi ya ..."


"Tara, maaf ya ... maaf yang banyak ..."


Menangisnya Kila dan pelukan dari Kila, rasanya membuat Tara merasa seolah sedang ada seseorang yang memberi dukungan padanya. Di pun akhirnya ikut menangis sejadi - jadinya. Rasanya semua perasaan yang ditahan bisa diledakan dengan bebas berkat Kila, ya meskipun Kila tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada dirinya.


Beberapa waktu kemudian, tangis keduanya mulai mereda. Tara dan Kila sama - sama melempar senyum dan tertawa kecil dengan tangan saling menggenggam mengekspresikan perasaan tulus dihati masing - masing. Tak lama Mas Ilham dan Mbak Desi pun datang mengakhiri semua momen persahabatan mereka.


"Tar, udah bangun? gimana udah baikan?" tanya Mas Ilham mendekat lalu menyentuh kening Tara dan membandingkannya dengan dirinya.


"Iya Mas, udah baikan"


"Huft," Helaian nafas lega dikeluarkan Mas Ilham setelah mendapati Tara yang baikan dan demamnya juga sudah turun. "Syukurlah kalau gitu.."


"Hem, Mbak Desi bawah apa ini?" dengus Kila merasakan bau makanan yang terasa lezat dihidungnya. "kayaknya enak nih.."


"Ini, Mbak Desi bawah makanan, memang khusus buat kamu" Lirik Mbak Desi pada Kila dengan tangan yang sibuk menyajikan makanan dimeja.


"Hem," Kila yang matanya berbinar dan meneguk savilanya. "Mantap banget nih kayaknya..."

__ADS_1


Kila kemudian duduk memegang sendok didada seperi anak kecil menunggu ibunya menyiapkan maka tanpa melepaskan pandangan pada makanan yang ada dihadapannya. Sementara Mbak Desi yang menyiapkan cuma bisa geleng - geleng melihat kelakuan Kila.


"Cobain ya dikit..." Tanpa menunggu jawaban, Kila menyuapkan beberapa potong makanan kemulutnya.


"Hem..." desisnya girang. "Enak buangat mbak. Mbak Desi..." imbuhnya mengacungkan kedua jempol tangannya memuji masakan Mbak Desi yang begitu lezat dilidahnya.


"Kamu, semuanya dikasih jempol" Jawab Mbak Desi karna bukan kali ini saja Kila memujinya.


"Ini makan yang banyak" Mbak Desi menjulurkan piring yang sudah dipenuhi makanan.


"Thank you" jawab Kila girang.


"Mas," Mbak Desi menjulurkan 1 piring juga kesuaminya. "Terus ini," Yang terakhir pada Tara.


Tara dan lainnya kemudian makan bersama sambil bercanda dan mengobrol. Sesekali ditengah obrolan mereka diseselkan sebuah tawa kikikan karna tingkah Kila yang memang happy virus. Rasanya kegundahan hati Tara bisa sedikit terobati ketika mereka semua ada didekatnya.


"Huft kenyangnya" Kila menghempaskan badannya ke sofa sambil mengelus perutnya yang kenyang.


"Hey masih perawan, kalau udah makan jangan tidur!" celetuk Mbak Desi pada Kila tapi malah Tara yang gugup merasa sedang disindir.


"He..." Kila nyengir lantas langsung duduk. "Emang kenapa sih mbak kok gitu?"


"Ya gak baik, katanya bikin perut buncit. Emang kamu mau masih perawan tapi perutnya udah jelek?"


"Oh, gitu. Baru tahu" Kila manggut - manggut.


"Oh iya Tar, ini hpmu" Mbak Desi memberikan ponsel Tara yang sedari tadi dikantonginya.


Tara menerima ponselnya. Ditatapnya dengan pandangan kosong ponselnya sedikit lama sampai Kila membuyarkan pikirannya.


"Hei, ngelamun jadinya!"


"Hah, enggak kok Kil" jawabnya cepat yang lalu ponselnya ditaruh dimeja yang ada disamping ranjang.


"Jangan ngelamun. Mikirin apa sih? dari tadi kok kayaknya banyak pikiran gitu?"


"Gak ada, efek obat kali sama badan yang gak enak, jadi aku kayak orang Oon." Tara beralasan.

__ADS_1


"Dari pada gitu sekarang mending tidur deh, udah malam."


Tara menurut. Dia kemudian membaringkan badannya diranjang bersiap tidur lagi.


__ADS_2