Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 11


__ADS_3

Tara dan Kila sudah sampai di depan ruang interview. Mereka kemudian saling berhadapan agar lebih leluasa saat mengobrol.


Tituttt ... titutttt...


Suara ponsel Tara yang berdering saat itu mengalihkan perhatian keduanya pada ponsel yang sedang digenggam Tara sedari tadi.


'Mas Sandi' Batinya.


Reflek secepat kilat langsung dimatikan tak diangkat.


"Siapa? kok dimatiin?" tanya Kila menyelidik karna tadi memang sempat melihat nama laki - laki muncul dilayar ponsel.


"Bukan siapa - siapa, Mas Ilham" elak Tara cepat - cepat memasukkan ponselnya dalam tas.


Tituttt ... titutttt ... ponselnya berdering lagi.


"Siapa sih? pacar baru ya?" Kila yang menyenggol sedikit bahu Tara sambil senyum - senyum.


"Bukan!" elak Tara sambil menggeser tubuhnya agar tak disenggol kembali sama Kila.


"Hm, gitu ya sama aku" keluh Kila yang wajahnya mulai manyun.


"Aku baru putus, gak mungkin langsung punya pacar baru" Tara berkila.


"Hem.." Kila mencebik tak percaya.


Tututt ... tituuuuttt ... bunyi ponsel yang sudah kelima kalinya membuat Tara tak tenang dan ingin segera menonaktifkan ponselnya agar tak berbunyi lagi dihadapan Kila.


Tara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, begitu ponsel tersebut ada digenggamannya dengan secepat kilat Kila langsung merebutnya dan menerima panggilan tersebut tanpa memperdulikan sang pemilik berteriak minta dikembalikan.


"Sayang..." suara Sandi yang muncul bebarengan dengan wajahnya yang juga terlihat dilayar hp.


"Lo, kok?" Kila yang terkejut mendapati Sandi memanggil Tara dengan sebutan sayang padahal baru saja dirinya membicarakan Sandi.


"Lo, ini bukannya nomornya Tara ya? kok yang angkat orang lain?" Sandi yang bingung karna bukan Tara yang menerima videocallnya.


Tanpa memberi penjelasan, Tara yang berhasil merampas kembali ponselnya memutus sambungan videocallnya. Setelah itu dia melirik ke Kila dengan wajah pasrah.


"Tar, tadi itu abangnya si Mita kan?" Kila menyelidik dan dijawab anggukan.


"Terus, berarti tadi yang diceritain itu kamu? cewek yang katanya lagi dikejar - kejar sama abangnya Mita?"


Tara mengangguk lagi.


"Serius? itu kamu?" tanyanya lagi agar lebih yakin, dan untuk kesekian kalinya Tara mengangguk.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Tara ..." Peluk Kila dengan girang dan mendukung. "Tara... aku dukung kamu sama Mas Sandi"


"Udah ah, jangan peluk - peluk di tempat umum" Tara mendorong tubuh Kila agar menjauh.


"Ah, kamu ini. Aku kan ikut seneng. Aku itu khawatir tahu sama kamu, aku kira kamu akan berlarut - larut dalam kesedihan sampai depresi sampai nilaimu turun" Kila membuang nafas sejenak. "Huft, Syukur deh kalau gitu... aku jadi lega"


"Kamu ada - ada aja, jangan ah kalau sampai depresi nilai turun" Tara tersenyum malu - malu.


"Pokoknya nih ya, kamu bentar lagi harus cerita. Gimana ceritanya bisa ketemu sama Mas Sandi terus bisa jadian juga. Aku mau tahu cerita detailnya ya ..." Pinta Kila sambil merangkul lengan Tara.


"Iya nanti aku cerita. Tapi sekarang aku masuk dulu, ini udah waktunya masuk. Doain dulu biar lancar ya ..." saut Tara yang setelah pamit masuk kedalam ruang interview.


20 menit kemudian, interview selesai. Tara baru saja keluar dari dalam ruang interview. Matanya mencari - cari Kila yang sudah tak ada disekitar sana. Tara kemudian berjalan kesebuah bangku kosong yang tak jauh dari sana. Dihempaskannya dirinya untuk duduk disana sambil memeriksa ponselnya.


Beberapa notif panggilan tak terjawab dan beberapa pesan sudah masuk ke ponselnya saat itu. Panggilan tak terjawab itu berasal dari Sandi dan juga beberapa pesan dari Kila dan Sandi.


"Tar, aku keruang dosen, tadi Bu Rahma WA. nanti kalau kamu udah selesai kamu langsung tunggu di parkiran ya ..." Pesan dari Kila yang dibalas singkat dengan emotion Ok.


Selanjutnya dibukalah pesan dari Sandi.


"Kok dimatiin? Itu tadi siapa? temenmu?" pesan pertama yang dikirim Sandi.


"Sayang kok gak diangkat?"


"Sayang, kok gak dibales? 😭kamu lagi sibuk ya?" pesan terakhir dari Sandi.


Tara tersenyum tipis membaca beberapa pesan yang dikirim Sandi padanya.


"Em, maaf tadi lagi interview asdos jadi gak bisa angkat telpon. terus kalau makan siang, kayaknya aku gak bisa mas soalnya lagi sama temen, gimana kalau makan malam aja?" balas Tara.


Ponsel Tara bergetar. Sandi menelpon.


"Yang kamu dimana? aku ada di parkiran, kamu bisakan kesini sebentar aja?" seru Sandi yang membuat Tara jadi mengernyit.


"Parkiran? parkiran mana Mas? kampus?"


"Iya, bisakan? sebentar aja soalnya aku mau ngomong, penting"


"Iya, tunggu sebentar ya Mas.."


Tara menghampiri Sandi yang ada didalam mobil. Dia kemudian membuka pintu mobil dan duduk disebelah Sandi.


"Ada apa Mas? kok gak bilang - bilang kalau kesini?"


"Sebetulnya mau bilang cuma sama kamu telponnya gak diangkat."

__ADS_1


"Maaf, tadi masih interview jadi gak bisa angkat telpon"


"Tar, kayaknya kita harus pisah buat beberapa waktu." Ucap Sandi sembari meraih jemari tangan kekasihnya.


"Aku hari ini harus ke korea, ada perjalanan bisnis. kamu gak apa - apa kan?" tanya Sandi menatap lekat Tara.


"Korea? hari ini?"


"He'em. Hari ini, tiba - tiba ya" kata Sandi yang wajahnya tampak berat.


"Perusahaan kita ada kerjasama sama perusahaan asal korea buat ngembangi store yang nantinya mau buka cabang di makassar." Jelas Sandi. "Terus aku mungkin disana agak lama, sekitar 3 bulan. Jadi, maaf ya ... aku harus ninggalin kamu"


Tara hanya diam, wajahnya terlihat kecewa dan juga berat, tapi dia menggangguk.


"Maaf ya, padahal kita baru aja jadian tapi kamu harus aku tinggal lama." kata Sandi ambil mengusap - usap rambut Tara.


"Iya. gak apa - apa Mas. Terus Mas Sandi berangkat jam berapa?"


"Bentar lagi langsung berangkat. pesawatnya jam 12. Huft, Padahal aku masih pengen bareng sama kamu yang." Sandi menghembuskan nafasnya kencang.


"Apa aku gak usah berangkat aja ya? biar papa aja yang berangkat?" celetuk Sandi.


"Eh, jangan! Jangan sampai gak berangkat!"


"Tapi aku masih pengen sama kamu. Kita kan baru jadian, belum sempet kencan sama sekali. Masak harus pisah"


"Masih banyak waktu Mas, nanti setelah 3 bulan kita bisa pacaran sepuasnya."


"Tapi,?"


"Mas, laki - laki itu harus tanggung jawab, kerja keras biar bisa bahagiain orang - orang yang ada disekitar. Jadi jangan sampai Mas Sandi gak pergi," omel Tara walau hatinya berat tapi dia harus realistis.


"Sini," Sandi menarik Tara dalam pelukannya. "Aku pasti bakal kangen banget sama kamu."


"Aku juga" Tara membalas pelukan Sandi. "Hati - hati ya ... jangan nakal. Awas! jangan lirik - lirik cewek korea meskipun mereka lebih cantik lebih putih lebih mulus dari aku!"


"Mana ada cewek korea cantik, yang cantik itu kamu. Meskipun mereka cantik putih mulus, mereka gak mungkin mau sama aku. Yang mau sama aku cuma kamu, itu pun karna khilaf kayaknya."


Tara tersenyum geli mendengar ucapan Sandi.


Sandi melepas pelukannya. Dia lalu memandangi wajah Tara sambil tersenyum hangat. Diusapnya wajah kekasihnya itu dengan jemari tangannya dengan lembut. Tak lama Sandi didekatkan wajahnya ke wajah Tara.


Emmuuaccchhhh ...


Ciuman hangat diberikan di bibir Tara yang mungil. Ciuman yang menjadi bekal untuk keduanya agar tak merasa terlalu rindu saat berpisah.

__ADS_1


__ADS_2