
Assiiimmmm ...
Terdengar suara bersin mulai keluar dari mulut Sandi. Membuat Tara yang baru masuk kedalam rumah jadi menoleh dan berhenti sejenak.
Assiiiimmmm ...
Setelah payung ditangan, Tara pun kembali keluar.
Assiiiimmmm ....
Tara memungut handuk yang tergantung ditempat jemuran yang ada di teras.
Assiiimmmm ...
Dia kemudian menjulurkan handuk tersebut pada Sandi yang sudah basah kuyup.
Assiiiimmmm ...
Handuk itu tidak diterima oleh Sandi. Sandi malah menyaut payung dari tangan Tara dan kemudian mengetuk pintu mobil menyuruh Randi segera turun. Sementara Tara masih berdiri diam mengikuti gerak Sandi dengan raut muka sedikit cemas.
Assiiiimmmmm ...
"Ran, papa pulang dulu ya ..." pamit Sandi yang mata dan hidung memerah dengan terburu - buru.
"Papa kenapa? papa sakit?" tanya Randi terlihat sangat cemas.
"Enggak, papa cuma alergi, kamu istirahat, ya..." pamit Sandi tanpa lupa mengacak - ngacak rambut sang anak dan kemudian pergi dengan berkali - kali bersin sambil diawasi oleh mata dari ibu dan anak tersebut.
Sekitar 40 menit perjalanan. Sandi sampai di apartemennya. Tubuhnya terlihat bergetar kedingin. Dan mulutnya tak berhenti bersin - bersin.
Sandi langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia kemudian membersihkan diri dari sisa air hujan. Biasanya, setelah mandi alerginya akan hilang. Tapi saat itu bersin - bersinnya malah semakin parah. Dan tubuhnya lebih gemetar lagi. Hingga akhirnya Sandi yang tak sanggup, menelungkupkan tubuhnya diatas kasur dengan selimut yang menyelimuti seluruh tubuh.
***
Malamnya, Randi mencoba menghubungi sang ayah. Biasanya begitu di kirimi pesan atau ditelpon sang ayah langsung menyaut dengan ceria. Tapi malam itu tak sedikit pun Randi mendapat balasan dari sang ayah.
"Ran, ayo sarapan ..." seru Tara seperti biasanya dipagi hari. Tapi ternyata yang dipanggil sudah datang dan kemudian duduk dengan lesu.
"Kamu kenapa? kok mukanya gitu?" Tara mengernyit.
"Bunda, apa papa sakit ya? Kemarin papa bersin - bersin terus, mukanya juga merah semua. Terus dari kemarin aku telpon papa gak jawab."
"Hah? mungkin papamu masih sibuk." jawab Tara walaupun sebetulnya dalam hatinya juga cemas.
"Ayo, sarapan dulu, ini udah jam 6 lebih." lanjutnya kemudian.
Randi menurut. Meskipun raut wajahnya lesu dia tetap makan dan kemudian bersama sang bunda berangkat ke sekolah.
Randi sudah pulang sekolah. Raut wajahnya masih lesu tak bersemangat. Langkahnya juga terlihat gontai memasuki ruang belakang butik. Membuat Kila yang sedang ada di meja kasir jadi heran.
"Kenapa?" Kila mengernyit. Sementara Tara mengangkat bahunya sambil mencebik.
__ADS_1
"Putus cinta?."
"Jangan ngadih - ngadih!."
"Ya, raut wajahnya kayak gitu. Kayak orang lagi putus cinta." celetuk Kila.
Tapi tiba - tiba Randi keluar dari dalam ruang belakang menghampiri sang ibu yanh sedang bersandar di meja kasir.
"Bunda ... Bunda." pekik Randi.
"Hemm ..."
"Bunda, papa sakit beneran. Ayo kita kerumah papa, Bunda." ajak Randi, membuat Tara sedikit tersentak.
"Ayo, Bunda, kita kerumah papa..." ajak sang anak.
"Mau ngapain kesana?" Tara mengernyit.
"Jenguk papa, Bunda. Papa kan sakit."
"Ran, nanti juga papamu pasti sembuh, jadi gak usah kesana, ya ..."
"Ah ... ahhhh Bunda, kok gak kesana. Bunda gak kasian sama papa?" Randi mulai merengek.
"Disana juga pasti udah ada keluarganya yang jenguk."
"Ah ... ahhhh tapi aku kan juga keluarganya. Bunda juga."
"Ah ... ahhhh aku kan anaknya Bunda. Kata Bunda kalau ada orang sakit harus dijenguk. Tapi sekarang Bunda gak mau." Randi mulai ngambek juga.
"Randi!."
"Ah ... ahhhh pokoknya ke rumah papa!."
"Randi!." pekiknya lebih menekan lagi.
"Ah ... ahhhh pokoknya kerumah papa!."
"Randi! kok kamu jadi gak dengerin Bunda?"
"Sama! Bunda juga, gak dengerin aku!.
"Randi!!!." Tara sedikit mendekat.
"Pokoknya aku mau kerumah papa! kalau Bunda gak mau, aku mau berangkat sendiri!." dengus Randi melengos dan masuk lagi ke ruang belakang.
"Randi!!!." hardik Tara, tapi tak didengar. Yang kemudian terdengar nafas kasarnya karna kesal.
"Udah deh, berangkat sana. Dari pada dia nekat." celetuk Kila yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran ibu dan anak. Sementara Tara lagi - lagi menghembuskan nafas kasarnya.
Tara akhirnya mengalah. Sorenya, dia pun bersama Randi pergi ke apartemen Sandi. Dengan riang, Randi memasuki lift untuk naik ke atas. Sampai di lantai 8, mereka pun keluar.
__ADS_1
"Bunda, nomor 3 ya rumahnya papa?" seru Randi menoleh pada Bundanya yang masih berjalan dibelakangnya.
"Bunda, ini." Randi berhenti didepan pintu apartemen Sandi. Sementara Randi mengangguk.
"Paswordnya ulang tahunnya Bunda." gumam sang anak sendiri menekan sandi pada gagang pintu.
klenting. Suara pintu yang menandakan kalau baru saja terbuka.
"Ayo, masuk Bunda." ajak sang anak yang langsung melenggang masuk sambil memanggil sang ayah.
"Papa..." seru Randi lagi menghampiri Sandi yang tengah tidur meringkuk di atas kasur.
"Papa, papa kok panas sekali," Randi menyentuh kening sang papa dengan cemas.
Bunda ... sini Bunda ..." serunya lagi.
"Eh, Randi, udah datang?" desis Sandi terdengar merintih, dan kembali menutup matanya karna sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Bunda, coba pegang." Randi menarik paksa tangan sang bunda yang sudah berdiri didekatnya.
Tara tersentak. Dia kemudian membolak - balikkan tangannya untuk merasakan suhu tubuh Sandi. Tubuh lelaki itu begitu panas dan keringat dingin juga tampak membasahi seluruh tubuhnya.
"Mas udah minum obat?" tanya Tara cemas, tapi tak disauti.
Dengan wajah khawatir. Tara kemudian memanggil dokter. Dan tak lama dokter yang dipanggil pun datang.
"Dia gak apa - apa, cuma karna terlalu lama kena air hujan jadi alerginya kambuh." Jelas sang dokter setelah memeriksa Sandi. "Ini bapak resepkan obatnya, nanti diminum kalau sudah makan, terus jangan sampai kehujanan lagi."
"Iya, dok terima kasih."
Setelah kepergian dokter. Tara langsung membuatkan bubur untuk Sandi.
"Mas, bangun, makan dulu biar bisa minum obat." desis Tara pelan. Sementara Sandi cuma menggeliat.
"Mas," Tara menggoyangkan tubuh Sandi, hingga akhirnya Sandi pun bangun dengan lemas dan menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan mata tertutup.
Melihat Sandi yang tak mungkin makan sendiri. Tara pun meraih sendok di piring dan mengarahkan sendok yang sudah berisi bubur diatasnya ke depan mulut Sandi.
"Ayo ..." seru Tara meminta Sandi membuka mulutnya.
"Mas..." ulangnya lagi, karna Sandi tak segera membuka mulutnya yang akhirnya dengan malas dan lemas Sandi pun membuka mulutnya meskipun hanya 4 suap.
"Udah." Sandi mendorong bubur dihadapannya. Dan hendak membaringkan tubuhnya lagi.
"Satu lagi." timpal Tara. Tapi Sandi menggeleng.
"Satu lagi," timpalnya lagi. Dan terpaksa Sandi pun mangap lagi.
"Jangan tidur dulu, tunggu sebentar, minum obat dulu." ucap Tara menghentikan gerakan Sandi lagi. Yang mana dituruti dan kemudian meminum obat yang ada ditangan Tara.
Malam mulai larut. Jam di dinding sudah pukul 11 malam. Tara tertidur disofa ruang tengah. Dan Sandi sudah terbangun dan kini menatap wanita itu dari dalam kamar.
__ADS_1