Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 48


__ADS_3

"Tara ..."


Tara mengangkat arah pandangnya kesumber suara. Seketika itu juga, dia langsung tercengang.


Siapa lelaki yang tengah berdiri didepan itu? bukankah itu ...


'Mas Sandi...' batinnya.


Deg. Tara memaku di tempat. Memandang lekat pada Sandi yang berdiri di depan pintu. Sungguh tak pernah diduga, dia bertemu dengan lelaki itu hari ini. Membuat sekujur tubuhnya terguncang serasa sulit untuk digerakan.


Perlahan, Sandi mulai berjalan menghampiri Tara dengan mata yang terus menatap lekat. Langkah kaki lelaki itu, rasanya begitu nyaring ditelinganyanya hingga membuat jantungnya berpacu cepat.


Sandi semakin dekat, dan Tara masih mematung ditempat. Hingga akhirnya tubuhnya terayun akibat sebuah tangan yang meraih lengannya.


Sandi menangkupkan tubuhnya kedalam tubuhnya. Erat, begitu erat, pelukan yang diberikan lelaki yang sudah 10 tahun ini berpisah darinya.


"Tar, aku rindu ..."


Desisan lirih dari Sandi, seolah menyadarkan Tara dari tersentakannya. Diujung matanya, tiba - tiba menggenang air mata, yang kemudian jatuh menetes di pipi.


Jujur saja, hati Tara runtuh seketika saat itu. Kalimat dari Sandi jelas menggambarkan perasaan lelaki itu padanya. Apa lagi nafas berat dari hidung yang bisa dirasakan ditelinganya. Jelas, Sandi sedang menahan tangis karna pertemuan mereka.


Meskipun begitu, tak sedikit pun Tara membalas sedikit pelukan itu. Dengan sedikit kasar, Tara mendorong Sandi agar melepas pelukannya dan menjauh.


"Tar, ..." ucap Sandi lirih, menatap lekat Tara.


Tara menggeleng. Dengan wajah yang sudah merebak. Dan mata bergetar.


"Tar, ..."


Sekali lagi, Sandi berusaha meraih tubuh wanita itu, tapi Tara mundur selangkah untuk menghindar.


"Jangan ..." Suara Tara yang terdengar bergetar.


Sandi mengernyit, dan wajahnya mengeras, melihat reaksi wanita dihadapannya itu. Ditatapnya lekat wajah Tara untuk mencari alasan kenapa Tara menolaknya. Tapi yang didapatkan cuma sebuah gelengan kepala dengan wajah muram sambil mundur perlahan.


Wajah Sandi berubah kecewa sekaligus memohon. Kenapa begitu sulit bagi wanita dihadapannya itu untuk bersamanya lagi.


Tak ingin berlama - lama disana, serta tak ingin juga jadi tontonan para pengunjung dan juga Yuni serta Nila. Tara akhirnya memilih untuk bergegas kabur dengan derai air mata yang sudah tak bisa ditahan.


"Tar, Tara ..." pekik Sandi yang wajahnya berubah gusar begitu melihat Tara berlari meninggalkannya.


Sebisa mungkin Tara berlari, dan sebisa mungkin Sandi mengejar.


"Tar, please Tar, kamu jangan pergi lagi ..." pekik Sandi yang berhasil meraih tangan Tara.

__ADS_1


"Mas, cukup Mas, jangan kejar aku lagi...." tukasnya memohon, dengan wajah merebak dipenuhi air mata, sambil berusaha melepas tangan Sandi yang menggenggam tangannya.


"Kenapa?" tanya Sandi lirih.


"Karna kita udah berakhir ..."


"Belum. Kita belum berakhir. Kita masih baru mulai lagi" tampik Sandi dengan wajah penuh harap tapi juga penuh keputus asaan.


"Enggak Mas, kita udah berakhir ..."


"Tar, ada Randi diantara kita."


"Mas!" potong Tara dengan raut wajah memohon, tak peduli ucapan Sandi. Baginya ada dan tidak adanya Randi, keputusannya tetap sama. "Maaf ..."


"Terus Randi gimana?"


Tara diam sejenak sebelum menjawab. Raut wajahnya terlihat gusar berusaha menahan perasaannya.


"Mas, Randi bukan anaknya Mas Sandi." Ucapan bohong itu, keluar dari mulut Tara yang bergetar, yang jelas saja Sandi tak percaya.


"Bohong!." tandas Sandi cepat.


"Jadi Mas,-"


"Jadi, Mas ..."


"Kamu pembohong!" Yang kali dengan tatapan lebih tajam.


"Mas Sandi!" pekik Tara menaikkan nada suaranya, membuat orang disekeliling menatap kearah mereka. Tara yang sadar, hanya bisa menoleh kesisi kanan dan kirinya sambil menelan savilanya, dan berusaha bersikap biasa kembali agar tak jadi pusat perhatian.


"Kamu pikir aku anak kecil yang gampang kamu bohongi? kamu pikir aku sebodoh itu? sampai - sampai kamu bilang kalau Randi bukan anakku? kamu pikir aku gak akan mengira kalau kamu akan hamil anak aku waktu itu?" tukas Sandi, kesal sekaligus frustasi.


"Tar, jangan jadiin aku seorang penjahat yang gak bertanggungjawab." imbuhnya dengan tatapan memohon, sementara yang ditatap cuma diam memalingkan muka dan pandangannya.


"Jadi Tar, jangan lari lagi, ya ..." pintah Sandi menggenggam jemari Tara, yang saat itu bebarengan dengan tetesan air mata yang keluar membasahi pipi Tara.


"Mas, maaf ..." Sekali lagi Tara mengucap maaf, lalu beranjak pergi meninggalkan Sandi yang frustasi.


Tara belari meninggalkan Sandi, yang sepertinya tak sanggup untuk mengejarnya. Dia pergi berlari kearah lobi yang kemudian begitu melihat taksi langsung dihentikan.


Tara menaiki taksi tersebut. Dengan pandangan yang menerawang keluar lewat jendela. Tara mulai menangis.


Tangis itu rasanya begitu pilu. Pertemuannya dengan Sandi jelas menggoyangkan egonya. Ada satu sisi dia merasa senang. Tapi ada satu sisi tak seharusnya dia begitu.


Tara jelas paham dirinya tak mungkin bisa bersama dengan Sandi. Terlebih setelah kejadian itu.

__ADS_1


Flasback.


Hari itu, perut Tara sudah membesar. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Hanya menunggu waktu saja bagi Tara untuk mengeluarkan si jabang bayi.


Hari itu, tanpa sengaja Tara melihat nomor ponselnya yang lama tiba - tiba menelpon ke nomornya Mbak Desi. Telpon yang berdering itu sudah jelas dari Sandi.


Saat itu, Sandi menelpon dalam keadaan mabuk. Sandi merancau berbagai hal tentang rasa sedih dan kecewanya karna sudah ditinggal Tara tanpa alasan begitu saja.


Kala itu, ucapan Sandi membuatnya jadi terpengarah.


"Tar, kalau kamu gak datang sekarang, aku lebih baik mati! Aku mati aja! Aku sekarang udah ada di atas gedung, aku mau lompat, biar aku mati, biar kamu merasa bersalah, biar aku bisa hantuin kamu seumur hidup kamu!."


Ucapan itu, membawa Tara ke tempat dimana Sandi berada. Namun sayang. Saat itu, Tara yang sudah sampai di tempat malah mendapati Sandi yang sudah tak sadarkan diri di sofa dengan Sasa disampingnya.


Pertemuan antara dirinya dan Sasa membuat posisi Tara jadi tak diuntungkan, terlebih Sasa yang sudah bisa langsung menebak kalau anak yang ada didalam perut Tara adalah anak Sandi.


Tara melahirkan. Dan tanpa diduga, Sasa datang menemuinya di rumah sakit dengan begitu banyak paperbag yang dibawah oleh pesuruhnya.


"Gimana rasanya melahirkan?" ucap Sasa dengan mata jelalatan memperhatikan sekeliling rumah sakit, yang menurut pandangannya tampak kumuh, sementara Tara membalasnya dengan menatap tajam.


Sasa berjalan mendekat pada box dimana Randi yang masih baru lahir ditidurkan.


"Mirip," katanya dengan senyum menyeringai, memandang Randi yang baginya mirip Sandi.


"Mau kamu apa?" tukas Tara jengah, tak ingin basa basi lebih lama.


Sasa kembali menyeringai. Dan kemudian menatap Tara dengan pandangan khasnya yang merendahkan.


"Pergi jauh sama anakmu, jangan pernah muncul dihadapan Sandi!."


"Aku gak mau!"


"Terserah kamu, kamu mau atau tidak, tapi aku rasa kamu gak akan punya pilihan."


Sasa kemudian menunjukkan ponselnya. Dia kemudian memutar sebuah video yang memang sudah disiapkan sebelum datang menemui Tara. Video itu, berjudul seorang wanita muda mengaku melahirkan anak dari pewaris prima grup.


Dari video yang diputar itu, terlihat jelas kalau Sasa sengaja membuat Tara menjadi pelakor, dan seorang penipu demi mendapatkan harta kekayaan dari prima grup. Terlebih dalam video itu, fotonya juga sengaja tidak disensor agar semua orang tahu wajahnya serta dimana dia tinggal kini.


Tara jelas geram dibuatnya.


Sasa kembali menyeringai sambil menyimpan kembali ponsel dalam tas kecilnya.


"Sekarang pilihannya ada ditanganmu, kamu mau orang seindonesia menghujatmu dan anakmu, atau kamu memilih hidup damai bersama anakmu tanpa Sandi tahu." pungkas Sasa sambil berjalan mendekat ke Randi.


"Asal kamu tahu, aku bisa berbuat lebih dari pada yang kamu kira, Apa lagi anak ini begitu lucu ..." katanya dengan nada manis tapi bibirnya menyeringai dan matanya menatap bayi Randi sambil mengelus pipi bayi itu.

__ADS_1


__ADS_2