Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 64


__ADS_3

Randi dan Sandi sudah berada di tepi kolam. Mereka terlihat sedang melakukan pemanasan sebelum masuk kedalam kolam. Sementara Tara, duduk manis disalah satu gazebo.


Tara memperhatikan kedua lelaki itu. Keduanya tampak begitu menikmati waktu bersama.


Sandi dan Randi masuk kedalam kolam. Saling memercikan air dengan kuat. Randi bergelantong manja pada sang ayah. Kadang karna tak seimbang sang ayah sampai tenggelam.


Sandi dan Randi juga terlihat sedang balapan renang. Mereka juga saling dorong agar bisa menjeburkan lawan. Dan tak lupa juga mereka juga bermain seluncur bersama.


"Astaga..." gumam Tara tanpa terasa tertawa kecil. "Ada - ada aja." imbuhnya sambil geleng - geleng kepala.


Tapi tawanya seketika berhenti. Bibirnya langsung dibungkam rapat. Tanpa sengaja, matanya dan mata Sandi bertemu. Sontak, seketika Tara juga langsung memalingkan muka dan beranjak dari duduknya untuk menghindar. Sementara Sandi yang di dalam kolam, terlihat tersenyum menyaksikan.


Sekitar 3 jam berenang. Randi mulai kedinginan. Mulutnya sudah membiru dan tangannya mulai keriput. Dia yang tak tahan akhirnya meminta untuk membilas badan.


"Bunda, ini ..." Randi menyerahkan bajunya yang basah pada sang bunda dengan tubuh menggigil.


"Udah puas renangnya?" tanya Tara menerima baju basah dari sang anak dan memasukkannya kedalam kantong plastik.


"Udah, dingin Bunda."


"Ini, pakai." Tara menjulurkan jaket.


"Bunda, aku laper." seru Randi ditengah aktifitasnya memakai jaket.


"Pa, aku laper." seru Randi lagi pada papanya yang juga baru selesai membilas badan.


"Iya, sama, papa juga laper." saut Sandi yang matanya langsung mencari - cari cafe sekitar yang menurutnya nyaman.


"Kita makan disana, ya ..." tunjuk Sandi pada salah satu cafe.


"Oke..." saut Randi yang kemudian menggiring kedua orang tuanya ke cafe yang dimaksud.


Sandi, Randi dan Tara duduk dibalkon cafe. Sandi dan Randi duduk berjejer. Sementara Tara duduk berhadapan dengan Sandi.


"Kamu mau makan apa?" tanya Sandi pada Randi dimana keduanya sedang memegang buku menu secara bersamaan.

__ADS_1


"Em, ayam bakar." jawab Randi.


"Minum - minum." tanya sang ayah lagi.


"Es boba." jawab sang anak lagi.


"Es boba? jangan es dulu. Kalau habis renang minumnya yang anget - anget dulu biar gak sakit." pesan Sandi, membuat Tara yang sedari tadi diam sedikit melirik pada lelaki yang ada dihadapannya. "Em, susu hangat dulu, ya? esnya nanti kalau udah makan nasi. Oke?"


"Oke," saut Randi langsung menurut.


"Kalau kamu. Kamu mau makan apa?" tanya Sandi hati - hati, sambil menjulurkan buku menu ditangannya perlahan.


"Nasi goreng sama teh anget." jawab Tara datar, tanpa menerima buku menunya. Sementara Sandi manggut - manggut dan memanggil pelayan.


"Ran, besok kamu mau gak kerumah papa? kita main PS gimana? kamu suka, kan main PS?" tanya Sandi.


"Gak boleh! Kamu hari selasa ada olimpiade, jadi besok harus belajar." decak Tara mengurungkan niat Randi yang hendak menjawab. Padahal saat itu Randi sudah semangat.


"Kalau gitu, setelah olimpiade, gimana?" kata Sandi lagi membangkitkan semangat sang anak kembali.


"Gak boleh! besoknya kamu harus sekolah, masih ada ulangan lagi kan hari sabtunya?" decak Tara lagi, dan Randi murung lagi.


"Kalau gitu, setelah olimpiade, setelah ulangan, nanti hari sabtu biarin Randi nginep dirumahku, toh besoknya juga hari minggu, sekolahnya libur, kan?" Sandi menatap lekat wanita didepannya.


"Tapi, jangan bilang kamu gak ngijinin." timpal Sandi cepat sebelum Tara bersuara. "Karna, kalau kamu gak ngijinin, aku yang mau datang kerumah kamu, bawah PS terus main disana sama Randi." imbuh Sandi. Sementara Tara mengernyit.


"Gimana? kamu pilih mana? pilih aku yang datang kerumah kamu, atau Randi yang aku bawah nginep dirumahku?" ucap Sandi menanti reaksi Tara. Kira - kira Tara menanggapi atau tidak.


"Kenapa aku harus milih? itu kan terserah aku ngijinin atau enggak." Tara ternyata menanggapi. Membuat senyuman diwajah Sandi mengembang tapi disembunyikan.


"Ya, karna aku minta keputusan kamu. Mangkannya aku suruh kamu milih."


"Aku gak ngijinin dan aku juga gak mau Mas Sandi datang kerumah, itu pilihanku." ucap Tara tegas.


"Tapi pilihannya kan cuma dua. Kalau kamu gak ngijinin berarti aku yang datang. Kalau kamu bilang gak mau aku datang, ya udah gak apa - apa. Orang aku kesana buat main sama Randi, bukan mau ketemu sama kamu. Jadi, kamu jangan GR." goda Sandi membuat Tara mengernyit tak percaya.

__ADS_1


"Silahkan, datang aja kerumah. Tapi maaf, pintunya aku tutup!" dengus Tara, sambil memincingkan mata kesal.


"Oh, gitu. Oke kalau gitu." Sandi merubah posisi duduknya lebih santai dan mencondongkan tubuhnya kearah sang anak. "Ran, besok hari sabtu papa mau datang kerumahmu. Besok kalau pintunya di tutup sama bunda, kamu yang bukain ya ..."


"Oke, Pa, siap." saut sang anak cepat.


"Oke, sip," seru Sandi cepat sambil memukul meja dihadapannya karna terlalu bersemangat. "Kamu ini emang anaknya papa."


Sementara Tara yang terpengarah, masih mengangah tak percaya. Bagaimana bisa lelaki dihadapannya ini, memutuskan semuanya secara sepihak. Membuatnya tak bisa berkata - kata.


Hari sudah sore. Langit juga tampak mendung. Randi, Tara dan Sandi masuk kedalam mobil untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang. Suasana kembali canggung dan sepi karna Randi yang duduk dikursi depan sudah terlelap.


"Aduh, kok hujan ..." desis Sandi sambil mendengokkan kepala menatap hujan yang tiba - tiba turun dengan deras dari kaca depan. Sementara Tara juga begitu. Dia menengok keluar lewat kaca jendela samping.


Sekitar 20 menit perjalanan. Mobil yang dikendarahi Sandi sampai didepan rumah Tara. Saat itu hujan juga masih mengguyur dengan deras. Malah, juga terdengar petir dan angin yang cukup kecang.


"Tar, dijok belakang, ada payung, tolong." kata Sandi dengan canggung sambil memutar tubuhnya menghadap Tara yang duduk dikursi belakang.


Tanpa berkata apa - apa. Tara mengikuti permintaan Sandi. Dia kemudian mendongak kebelakang mencari payung.


"Gak ada." desisnya yang tak bisa menemukan payung yang dimaksud.


"Aduh, gak ada, ya ..." Raut wajah Sandi berubah cemas.


"Gak apa - apa." saut Tara, mengeluarkan kunci gerbang dari dalam tasnya dan berlari keluar, menerjang hujan.


"Lo, Tar ..." seru Sandi tapi keburu orangnya pergi.


Tara ada dibawah guyuran hujan. Tangannya sibuk membuka gerbang, tapi sulit karna diburu hujan. Kunci ditangan juga jatuh beberapa kali karna licin. Hingga membuat dirinya, mau tak mau jadi basah kuyup.


"Aish! dasar." seru Sandi dari dalam mobil yang sedari tadi memperhatikan.


Sandi menyaut jaketnya kasar. Dia kemudian turun ikut menerjang hujan. Sandi, mengaitkan jaketnya di kepala Tara. Sementara tangannya merebut kunci dan mulai membuka gerbang.

__ADS_1


Deg. Sejenak Tara termanguh. Matanya menatap lekat lelaki disampingnya. Jaket itu menutupi kepalanya dari guyuran hujan.


"Udah, cepet masuk, ambil payungnya biar Randi gak kehujanan." seru Sandi, setelah gerbangnya berhasil dibuka.


__ADS_2