
Ditengah terik matahari, beberapa anak laki - laki asik bermain sepak bola dihalaman sekolah. Dengan penuh semangat, si anak yang paling kecil diantara yang lain menggiring bola. Kakinya dengan terampil melenggak lenggok mengecoh lawan menerobos dinding pertahanan mereka. Setelah berhasil mendekati gawang, anak tersebut lantas mengayunkan tendangannya sekuat tenaga.
Buk! bola dikakinya melesat masuk kegawang.
GOOOOOLLLLLLLLLL....
Semua anak langsung berteriak riuh. Mereka yang sedang duduk menonto mn ikut berhamburan ditengah lapangan berlari merayakan kemenangan.
Ditengah keseruan bermain bola, datang Kila yang hendak menjemput si anak yang paling kecil itu.
"Randiiiii ..." panggil Kila pada anak paling kecil dari depan gerbang sekolah, mengalihkan perhatian beberapa anak yang sedang berlarian sedangkan Randi yang dipanggil cuma menengok sejenak lalu berlarian lagi melanjutkan mainnya.
"Hhhuuuu, nih anak, gak ada nurut - nurutnya" gerutu Kila sebal lalu mendekat.
"Randi ayo pulang ...." Teriak Kila lagi tapi Randi masih tak mengidahkan panggilannya.
"Astaga!" Keluh Kila yang merasa dipermainkan sambil mengelus dada. "sabar, sabar"
"RANDIIIIII...." pekiknya kemudian dengan nada lebih tinggi yang kali ini berhasil.
Randi menoleh pada Kila yang sedang menatapnya galak. Sudah tak bisa ngeles lagi, mau tak mau Randi pun menurut. Sambil cemberut Randi pun mengambil tasnya yang ditaruh dibawah tiang bendera, setelah itu menghampiri Kila yang berdiri ditengah halaman.
"Astaga, ckckckck!" Kila berdecak memandang Randi yang kucel penuh keringat. Seragamnya juga kotor berdebu.
Kila mengeluarkan tisu basah dan mulai membersihkan wajah Randi.
"Heemmm, nih liat, kotornya kayak apa" Kila menunjukkan tisu basah yang kotor berwarna coklat pada Randi yang cemberut.
"Sini, maju dikit" Kila sedikit menarik Randi agar dekat dengannya supaya bisa membersihkan seragamnya yang kotor karna debu.
"Anak siapa ini, kok kayak gini..."desisnya ditengah kesibukannya.
"Anak bundalah ... mau anaknya siapa lagi" Randi menjawab sambil merengut.
"Hem, bundamu mana mau sama anak dekil gini" Kila mencebik sedangkan Randi melengos.
"Udah gak usah ngambek gitu. Besok kan juga masih bisa main" Kila melirik Randi yang masih saja cemberut.
__ADS_1
"Mami. Mami kok udah dijemput sih? Kan aku bilang dijemput nanti aja." dengus Randi.
"Lo, inikan udah nanti Ran, Mami datangnya udah telat sejam lo. Ini udah jam 1"
"Tapi kan janjinya hari ini bisa main sampai puas."
"Udah lebih sejam masak belum puas? Udah kayak gini juga" Kila mengangkat lengan Randi yang kulitnya benges karna paparan sinar matahari.
"Aahhhhh ah, pokoknya masih mau main" rengek Randi menggoyangkan badannya.
"Gak boleh! besok lagi mainnya. hari ini harus pulang, Mami males dengerin mak lampir ngamuk lagi, hhiiiiii" Kila menggoyangkan badan, merinding.
"Bunda kan lagi kerja, jadi gak mungkin marah."
"Sayangnya bundamu hari ini udah pulang, jadi stop ngerengeknya, kalau gak mau dimarahin lagi."
"Aaahhhhh, gak apa - apa udah Mi, kan cuma dimarahi" Randi menggelandot manja.
"Eits, NO!" Kila menggelengkan telunjuk tangannya. "Pokoknya NO! yang dimarahi bukan cuma kamu tapi mami juga kena semprot."
"Uh!!!" Randi melengos, menghentakkan langkah kakinya berjalan masuk kedalam mobil.
"Sabar, sabar menghadapi makhluk tuhan satu ini" gerutunya sebelum mengikuti Randi.
Disepanjang perjalanan, Randi yang biasanya banyak omong hanya diam saja. Wajahnya masih merengut menghadap jendela samping dengan tangan melipat didada. Sementara Kila yang duduk menyetir disampingnya, beberapa kali curi pandang.
"Hm, masih ngambek" gumam Kila dengan bibir mencebik. "Padahal kalau gak ngambek mau dibeliin es boba sama sosis bakar lo."
Kila melirik sejenak menunggu reaksi Randi yang masih ngambek.
"Hm, ya udah kalau masih ngambek, gak jadi deh" Membuat Randi malah makin melengos dan memandang jauh keluar dadi jendela mobil.
Lain dimulut lain dihati. Apa yang diucapkan tak seperti apa yang dilakukan. Kila membelokkan mobilnya ke food court langganannya. Dia kemudian keluar meninggalkan Randi didalam mobil yang masih ngambek.
Didalam mobil karna sudah sendirian. Randi berubah ke mood H2Cnya. Matanya jelalatan memperhatikan setiap gambar makanan dan minuman yang terpampang dispanduk yanga ada di area food court sembari menempelkan kedua telapak tangannya kaca mobil yang tertutup. Meskipun dihadapannya cuma gambar, tapi Randi meneguk air liur beberapa kali karna pikirannya sudah bisa merasakan kelezatan es boba dan sosis bakar yang memang jadi makanan dan minuman kesukaannya sekarang.
Beberapa saat memandangi gambar makanan dan minuman. Randi kemudian menangkap bayangan seseorang yang baru saja keluar dari dalam food count. Bayangan itu adalah bayangan Kila yang sedang berjalan dengan kantong plastik isi makanan dan juga minuman yang diikuti Randi sampai orangnya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Kila melirik sejenak ke Randi. Dia lalu mencebik dan senyum dengan sedikit ditahan. Misinya berhasil. Randi sudah gak cemberut lagi. Wajahnya sudah menunjukkan ekspresi H2C menunggu es boba dan sosis bakar yang ada ditangannya supaya segera diberikan padanya.
Srrrrruuuuuuuuuutttttttttttttt.....
Kila menyeruput es bobanya. Sengaja ingin menggoda Randi.
"Aahhhhhhh ...." Kila mendesah mengekspresikan kenikmatan minum es boba.
"Hem..." Kila kemudian mengunyah boba dimulutnya.
"Mantap!" imingnya lagi sambil melirik sedikit ke Randi mencari tahu reaksinya.
Melihat Randi yang sudah mulai pengen. Membuat Kila semakin gencar menggoda Randi. Setelah dengan es boba. Sekarang Kila membuka kantong plastiknya.
"Hem, makan apa dulu ini ya ... kentang goreng apa sosis bakar atau burger du ya ..." ucapnya pura - pura bingung.
"Hem, sosis bakar dulu ah... kayaknya mantul nih..." Kila melirik Randi, yang terlihat sudah menelan ludahnya beberapa kali.
Melihat reaksi Randi yang sudah mulai kepengen. Kila pun tersenyum tapi dengan sedikit ditahan. Sungguh lucu dan menggemaskan ekspresi Randi yang dihadapannya. Anak angkatnya ini memang paling muda dibujuk dengan makanan kalau sedang ngambek.
"Kamu, mau gak? Eh, tapi tadi bilangnya gak mau, lupa Mami" tanya Kila tapi juga langsung diralat.
"Mau, mau" Randi jawab cepat dengan tatapan penuh harap.
"Hm, tadi bilangnya gak mau, sekarang mau"
"Mau Mami mau, aku mau" Randi sudah tak sabar.
"Hem, gak usah deh, kamu suka ngambek soalnya"
"Kalau dikasih aku gak ngambek lagi" jawab Randi dengan ekspresi penuh harap.
"Bohong, Mami gak percaya, kamu suka bohongin Mami soalnya"
"Enggak, aku gak bohong" ucap Randi yang kemudian mengeluarkan jurus senyuman lebar. "Mami cantik deh, aku sayang ..." gombalnya kemudian.
"Uuuhhhhh" erang Kila geli. "Kalau ada maunya dicantik - cantik disayang - sayang"
__ADS_1
"Tapi Mami memang cantik, apalagi kalau ngasih es boba sama sosis bakar sama burger nanti tambah cantik" bujuk Randi dengan tingkah manjanya.
"Uuuhhh... emang dasar anaknya mak lampir kalau ngomong, pinter" Kila gemas mengacak - acak rambut Randi lalu menyodorkan semua makanan dan minuman yang sudah dibawahnya.