
Pagi itu, sebelum pulang ke apartemen. Sandi mampir lebih dulu ke salah satu cafe yang masih ada di dalam mall. Cafe itu, masih tutup. Karna memang saat itu masih pukul 8 pagi.
Sandi duduk pada salah satu kursi dekat tembok kaca cafe. Matanya memperhatikan sekitar mall yang masih sepi. Dimana yang datang rata - rata masih para pegawai dari masing - masing tenantnya dan belum ada pengunjung.
Beberapa saat duduk disana. Akhirnya dari kejauhan terlihat seseorang yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Ada apa Mas? pagi - pagi udah ngajakin ketemuan? kok kayaknya penting banget?" tanya Kila sambil menggeser kursi dan duduk dihadapan Sandi.
"Iya, sorry, soalnya kalau gak sekarang takut gak sempet. Dikantor lagi banyak kerjaan."
"Oh,..." Kila manggut - manggut. Memang kalau diperhatikan Sandi terlihat seperti belum tidur dari semalam.
"Kil, aku mau minta tolong." Sandi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit kehadapan Kila. "Ini, tolong kamu bawah."
"Woooooo ..." seru Kila reflek membelalakkan mata dan bibirnya langsung mesem. 'blackcard' imbuhnya dalam hati.
"Nanti tolong kamu belikan Randi hp sama kebutuhan yang lainnya, atau sesuatu yang dia mau. Sama kebutuhannya Tara juga. Tapi ..." Sandi tak meneruskan perkataannya, dia malah menatap Kila.
"Iya, siap, aku paham. Jangan sampai Tara tahu, kan?"
"Iya, betul."
"Oke, siap laksanakan pokoknya." jawab Kila mengambil kartu kredit itu dan memasukkannya dalam tas. "Tapi Mas, boleh, kan aku numpang dikiiiit aja?"
"Iya, terserah kamu. Itu memang khusus aku bikin buat kalian bertiga."
"Wooooo ..." seru Kila lagi merasa orang yang duduk dihadapannya sungguh keren. Sementara Sandi tersenyum melihat reaksi Kila sambil geleng - geleng.
"Ya udah kalau gitu. Makasih ya Kil sebelumnya. Ini aku harus balik, soalnya bentar lagi masih ada rapat."
"Iya Mas, Oke."
"Oh iya, hampir lupa. Hari ini cafe udah aku booking. Jadi nanti kalau mau makan siang sama malam kesini aja bareng - bareng sama karyawan kamu sekalian."
"Woooo ... mantap nih ..."
"Ya udah kalau gitu, aku duluan, ya ..."
__ADS_1
Dengan bermodal blackcard ditangan. 'Siangnya. Kila terlihat baru saja keluar dari kamar pas di butiknya. Penampilan Kila saat itu tampak berbeda. Gaun yang dikenakannya terlihat elegan berpadu dengan sepatu hak tinggi berwarna putih dan juga tas branded yang dia miliki satu - satunya.
"Gimana penampilanku hari ini?" tanya Kila bergaya sok sosialita.
"Cantik." saut Tara dengan tatapan heran. "Emang kamu mau kemana?"
"Hari ini, aku mau jadi orang kaya sehari." jawab Kila sambil ngaca memperbaiki riasannya yang menurutnya sendiri sudah terlihat cetar. Sementara Tara mengernyit heran.
"Oke, aku cabut dulu, ya ..." pamit Kila melangkah pergi dengan sikap PD sambil sengaja melenggak lenggokan bokong tanpa lupa mengibaskan rambut yang terurai panjang.
Kila mulai menyusuri seluruh lantai mall dan masuk kedalam stand toko satu demi satu. Seperti orang kalap, Kila mulai berbelanja hp, baju, tas, sepatu untuk Randi, Tara dan juga dirinya sendiri.
'Kila?' batin Gilang yang wajahnya mengernyit. Gilang baru saja keluar dari dalam ruangan toko seepas pengecekan, dimana saat itu ada Kila disana sibuk memilih baju.
"Woy ... " sapa Gilang. "Hm, beli baju di toko lain. Tapi kalau orang lu suruh beli baju ditoko lu." timpalnya setelah berhadapan dengan Kila dan menyandarkan dirinya ke rak baju sambil melipat tangan di dada.
"Ih!, tengok tuh, ini toko apa!." Jawab Kila melengos. Dimana toko yang dimasuki Kila ini adalah toko barang branded.
"Ash! mahal banget." gumam Kila sendiri membelalakkan mata melihat harga 1 gaun saja mencapai 15juta. Tangannya langsung berhenti dan meletakkan gaun itu kembali.
"Ya, iyalah, namanya juga barang branded!" pekik Gilang yang mendengar gumaman Kila. "Kalau gak mau mahal, ya jangan beli disini."
"Sendirian lu?" tanya Gilang yang tangannya mulai ikut memilih baju dihadapannya.
"Lu liatnya gimana?"
"Em, sama orang ganteng, kan?" saut Gilang membuat Kila mengernyit, menatap Gilang yang tengah menurun naikkan alisnya.
"Ih, PD!" timpal Kila. "Emang gue datang sama lu!."
"Hahaha" Gilang tertawa renyah.
"Tapi, dari pada lu nganggur, mending nih pengangin dulu. Ini mau gue coba, terus tolong liatin pantes apa enggak." Kila menyerahkan beberapa potong baju ke Gilang sedikit kasar.
"Eh, enak aja, gue mau balik nih..." seru Gilang yang tak digubris oleh Kila yang terus saja melenggang masuk ke kamar pas dengan satu baju ditangan.
"Aish! dasar, nih perempuan. Malah jadiin orang pesuruh." gerutu Gilang kesal.
__ADS_1
Meskipun begitu, Gilang tetap melakukan permintaan Kila. Dia dengan setia menunggu Kila keluar dari kamar pas dan kemudian memberi komentar terhadap pakaian yang dikenakan Kila.
"Jelek kayak ibu - ibu, ganti!."
"Warnanya terlalu nyorak, ganti!."
"Aduh, jangan itu, terlalu vulgar, ganti!."
"Aissh. Kok jadi kayak orang - orangan sawah. Ganti - ganti!."
"Hahaha, mau kemana lu mau ke pasar?"
Pekikan Gilang yang membuat Kila capek karna harus bolak balik kamar pas tapi tak satu pun ada baju yang cocok untuknya bagi Gilang.
"Terus gue harus pakai baju apa dong Lang???" seru Kila sudah mulai lelah dan tak sabar.
"Udah sana, tinggal satu. Nih, cepet pake biar cepet kelar, gue masih harus balik kantor, nih bentar lagi." pungkas Gilang yang mana meskipun lesu Kila pun menuruti dan masuk kedalam kamar pas.
Kila menggeser kelambu kamar pas. Dia berdiri dihadapan Gilang lagi. Gaun berwarna merah dengan model off shoulder yang memperlihatkan bahunya dengan panjang sedikit diatas lutut rasanya begitu menawan dimata Gilang.
"Heh, gimana? bagus gak?" tanya Kila, karna Gilang diam saja.
"Hah?" Gilang terpengarah baginya Kila yang berdiri dihadapannya terlihat berbeda dan cantik. "He'e, lumayan."
"Serius?" saut Kila bahagia. Tapi setelahnya langsung syok karna baju yang dikenakan itu seharga 10juta. "HAHH??? gila. Gak jadi deh."
Kila kembali masuk ke dalam kamar pas untuk berganti pakaian lagi. Namun saat itu, rambutnya yang terurai nyangkut kedalam resleting sampai akhirnya dia pun kesakitan dan kesulitan untuk membuka gaunnya.
"Lang, tolongin dong, gue gak bisa buka ini, nih." Kila membuka kelambu kamar pas, dengan kepala yang mendongak keatas.
"Kenapa?"
"Nyangkut nih rambut gue, tolong. Gak bisa buka resletinganya." pintah Kila.
Dengan kikuk, Gilang masuk kedalam kamar pas. Dia lalu menarik sedikit kuat resletingnya hingga punggung Kila pun terlihat.
"Aaahhhh ..." pekik Kila kesakitan, tanpa sadar kalau orang yang dimintai bantuan sedang berdiri mematung menatap punggungnya yang putih mulus. "Pelan - pelan dong!."
__ADS_1
"Hah? iya sorry ..." jawab Gilang cepat tapi belepotan sambil menelan ludah dan mundur beberapa langkah.
"Udah, sana keluar!." perintah Kila, menutup kembali kelambu kamar pas. Sementara Gilang masih berusaha mengatur kerja jantungnya agar tak gugup dan tak terpesona oleh Kila yang selama ini dinilainya terlalu pemarah.