Positif Denganmu

Positif Denganmu
Bab 14


__ADS_3

Hujan sudah mulai redah kala waktu berada di tengah malam. Tara yang terjaga menggeliatkan badannya dengan setengah mata yang terbuka. Matanya melebar setelah melihat sosok lelaki yang masih tertidur pulas disampingnya. Reflek saja dia melonjak bangun dan mengintip selimut yang dipakainya. Tak ada selembar baju serta beberapa bercak darah terlihat mengering tertinggal di sprei.


Tara tertunduk lemas. Dia sadar apa yang telah mereka lakukan semalam. Ditutupinya wajahnya dengan telapak tangannya seolah menandakan awal sebuah penyesalan. Sambil berusaha mengembalikan pikiran normalnya, secara perlahan gadis itu meraih pakaiannya yang bercecar dilantai dan segera mengenakannya agar bisa cepat pergi.


Waktu terasa sangat lambat bagi gadis yang sedari tadi duduk diam didalam tenda yang gelap. Tara yang sudah tak sabar ingin segera pulang membangunkan Kila yang masih tidur meringkuk disampingnya walaupun jam di tangannya masih menunjukkan pukul 4.30 pagi.


"Kil, Kila ..." Tara menggoyangkan tubuh Kila pelan.


"Emm" Kila mengerang. "Ada apa Tar"


"Kil, aku pulang dulu ya, Aku kayaknya mau sakit, gak enak badan. badanku meriang. Aku mau cepet - cepet istirahat dirumah" dalil Tara membuat alasan.


"Hem, kenapa? kamu sakit?" Kila sedikit membuka matanya yang masih ngantuk.


"Iya, rasanya badanku sakit semua. Dari pada aku sakit disini jadi aku pulang dulu ya, aku udah pesen grab tadi, orangnya udah nunggu diparkiran, gak apa - apa kan?"


"Hah? gak lebih baik aku anterin aja? Pagi - pagi naik grab Tar" Kila yang tampak khawatir.


"Gak usah. Itu orangnya udah datang kok. Kamu istirahat aja ya ... aku pulang dulu"


"Oh, ya udah kalau gitu"


"Sorry ya ..."


"He'e gak apa - apa, kamu ati - ati ya, nanti langsung kabari kalau udah sampai"


"Iya, sorry ya ... aku pergi dulu"


"Iya, ati - ati, jangan lupa priksa terus diminum obat ya" Kila yang wajahnya tampak khawatir.


****


Pagi itu, jam di dinding menunjukkan pukul 9 saat Sandi baru saja bangun. Dengan setengah memejam, Sandi meraba kasur disampingnya yang sudah tak ada penghuninya.


"Udah pergi?" desisnya setelah mengarahkan pandangannya kesetiap sudut hotel yang sepi.

__ADS_1


Sandi pun bangun membersihkan dirinya lebih dulu. Selepas merasa bersih dan segar kembali, Sandi duduk disofa dengan tangan kiri mengusap - ngusap rambutnya yang basah dengan handuk, dan tangan kanan memegang ponsel.


Ditekannya nomor bernama sayang dengan emoji heart dilayar ponselnya, tapi sedang tak aktif membuat wajah Sandi berubah sedikit mengeras.


"Yang kamu dimana? kok gak aktif?" Pesan yang lalu dikirimkan dan centang 1.


15 menit menunggu, pesan tersebut masih tetap centang 1. Karna sudah merasa tak sabar Sandi kemudian berniat menghampiri Tara ke tempat kamping. Sayang, saat Sandi tiba tenda - tenda tersebut sudah tak ada dan hanya tersisa seorang gadis yang masih berusaha mengangkut beberapa barang yang masih tertinggal.


"Mbak, sorry ..." Sandi menyapa gadis itu.


"Iya, ada apa ya?"


"Em, Tara mana ya?"


"Tara, oh, dia udah pulang duluan tadi subuh. katanya sakit"


"Sakit?"


"Iya"


Mendengar kabar Tara yang katanya sedang sakit dan sudah pulang membuat Sandi khawatir dan juga segera meninggalkan pantai agar bisa bergegas menemuinya.


5 jam perjalanan dari pantai, Sandi yang tak tahu harus menemui Tara dimana memutuskan untuk langsung pergi ke kedai milik Mas Ilham yang ternyata saat itu juga sedang tutup.


Kecewa dan khawatir pasti, saat itu hanya helaian nafas panjang dan keras yang bisa Sandi lakukan didalam mobilnya yang sudah parkir di pinggir jalan didepan kedai Mas Ilham.


Dilihatnya pesan WA yang masih tak ada tanda - tanda kehidupan. Masih centang 1 yang artinya nomor Tara masih tidak aktif menambah rasa kecewa dalam dirinya.


Sebuah panggilan masuk kedalam ponsel Sandi yang sedang digenggamnya. Telpon tersebut bukan dari Tara melainkan dari ibunya.


"Iya mam, ada apa?" jawab Sandi dengan suara lesu.


"San, kamu dimana? kamu ini bukannya udah pulang dari kemarin ya tapi kenapa sampai hari ini belum sampai rumah?"


"Sandi masih ada urusan Ma, nanti kalau urusannya selesai Sandi pulang"

__ADS_1


"Emang ada urusan apa kok sampai gak pulang - pulang? kamu gak kangen ya sama Mama?"


"Ada Ma, udah ya Ma, see you" Sandi yang memutus panggilannya tanpa peduli pada mamanya yang masih ingin ngobrol.


Sandi menghempaskan kepalanya di kursi untuk menetralisir sedikit perasaan galaunya. Diingatnya, dulu Tara yang sempat dia antar kedaerah rumahnya. Merasa sedikit memiliki harapan bisa bertemu dengan Tara, Sandi kemudian melajukan mobilnya menuju daerah rumah kekasihnya.


20 menit perjalanan mobilnya pun tiba digang yang dulu sempat ditunjuk oleh Tara. Gang tersebut sangat sempit sehingga tak memungkinkan mobil bisa masuk kedalam. Karna hal tersebut Sandi pun memutuskan berjalan dan memarkir mobilnya di depan ruko yang sedang tutup.


Sandi mengitari gang tersebut beberapa kali. Ditanyai juga beberapa warga sekitar tapi tak ada yang tahu tentang Tara maupun Mas Ilham membuat Sandi jadi frustasi. Sandi kemudian duduk disebuah pos kambling untuk melepas peluhnya saat itu sambil terus berusaha menghubungi Tara.


"Tara, please angkat..." gumamnya dengan frustasi.


Tak berhasil dengan telponnya. Sandi kemudian mengirim pesan WA pada Tara.


"Tar, kamu kenapa? kamu sakit? please angkat telponku" pesan pertama.


"Tar, kamu dimana? aku sekarang ada didekat daerah rumah kamu, aku ada di gang yang waktu itu antarin kamu, rumahmu sebelah mana? ayo kita ketemu" pesan kedua yang dikirim setelah 5 menit menunggu tapi tetap centang 1.


"Tara, please jawab telponku ..." Pesan ketiga setelah 3 menit dikirim.


Ditengah rasa frustasinya, Pak Romy yang masih dikorea menelponnya membuat wajahnya jadi mengernyit dan mengeras. Mau tak mau suka tak suka, Sandi tetap mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Pak Romy, ada apa Pak?" jawab Sandi yang sebetulnya enggan berbicara.


"Pak, client menyetujui persyaratan dari kita, tapi dia minta untuk penandatangannya perjanjian dilakukan malam ini juga di jam 9, karna katanya Pak Liung harus langsung berangkat ke Inggris setelahnya, jadi sepertinya Pak Sandi harus segera kembali ke korea sekarang juga"


"Malam ini jam 9?" Wajah Sandi mengeras. "Apa tidak bisa perjanjiannya ditandatangani kalau Pak Liung sudah pulang dari Inggris?"


"Kalau masih menunggu Pak Liung datang dari Inggris, nantinya beberapa proyek yang lain akan terhambat Pak, dan juga Pak Sandi harus mencari perusahaan lain untuk menggantikan vendornya"


Mendengar perkataan Pak Romy, Sandi pun semakin frustasi.


"Aiiishhh!!!!" Sandi mendengus kesal menggepalkan kedua tangannya frustasi.


Tak ada pilihan lain, meskipun sedang galau, frustasi dan tak enak pikiran sedang menjadi satu, Sandi akhirnya kembali ke mobilnya untuk pulang agar bisa segera berangkat kembali ke korea.

__ADS_1


"Sayang, maaf, aku harus balik kekorea hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus segera. Yang, setelah aku kembali, ayo kita menikah" Pesan yang dikirim Sandi sebelum melajukan mobilnya meninggalkan daerah rumah Tara.


__ADS_2