
Hari sudah berganti malam saat itu. Kampus juga sudah mulai sepi. Sandi yang saat itu masih menunggu Tara akhirnya menyerah dan masuk ke dalam mobil dengan muka masamnya.
Didalam mobil, Sandi lantas memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya kekursi dengan lengan menutupi mata. Hembusan nafas kasar ditiupkan berkali - kali dari hidungnya karna sudah tak tahu harus bagaimana lagi.
Sejenak dalam beberapa menit Sandi diam dalam posisi tersebut agar pikirannya sedikit tenang. Merasa sudah cukup, dia kemudian mencoba kembali menghubungi Tara karna memang itulah satu - satunya hal yang bisa dilakukan untuk saat ini,
tut...tut... tut...
Suara sambungan telpon yang dengan sabar ditunggu sampai sipemilik nomor mengangkat telponnya. Berharap jika dia terus berusaha nantinya bisa luluh.
"Hallo..." Suara dari balik telpon yang tiba - tiba terdengar memecahkan kesunyian sekaligus memberi harapan pada sipenelpon.
"Hallo... hallo ... kok gak ada suaranya." katanya lagi menghancurkan harapan, karna Sandi yang hafal suara Tara, tahu ini bukan suaranya.
"Hallo, Ini siapa ya? kok bukan Tara?"
"Oh iya, aku memang bukan yang punya hp. Ini tadi hpnya ada ditong sampah. Karna bunyi terus jadi aku cari dan ternyata ada didalam tong sampah." jelas mahasiswi tersebut.
"Tong sampah? kok bisa ditong sampah?" Sandi bertanya heran.
"Gak tahu ya. mungkin jatuh kali pas buang sampah terus gak ngerasa"
"Oh. Terus sekarang kamu dimana? bisa aku minta hpnya? soalnya itu hpnya pacarku"
"Oh iya Mas bisa, mau diambil kapan? sekarang atau nanti atau besok?"
"Mau aku ambil sekarang. Sekarang kamu dimana?"
"Oh kalau sekarang ada di kampus, kalau mau kesini biar aku tunggu di cafe yang ada di depan kampus"
"Kampus sebelah mana? aku juga lagi di kampus diparkiran"
"Oh diparkiran, ya udah kalau gitu, aku aja yang kesana soalnya aku juga mau kesana"
Beberapa saat menunggu sambil menyender di mobilnya, akhirnya mahasiswi tadi tiba juga dan menyerahkan ponsel Tara ke Sandi.
Didalam mobil, Tanpa membuang waktu Sandi lantas mencoba memeriksa ponsel Tara. Ditekannya tombol power disisi samping ponsel agar hidup. Dilayar utamanya, terdapat foto mereka berdua yang dijadikan walpaper. Sandi tersenyum simpul melihatnya. Paling tidak perasaannya jadi tenang.
Cukup memandangi walpapernya, Sandi lalu mengusap layar ponselnya hendak membuka dan memeriksa isinya. Beberapa kali dicoba memasukkan paswod tapi selalu gagal. Hingga akhirnya ponsel tersebut terblokir karna beberapa kali salah memasukkan paswod.
35 menit perjalanan pulang. Sandi akhirnya sampai dirumahnya yang megah yang sudah beberapa bulan ini tak ditinggalinya. Dengan wajah masam dan baju yang sudah lungset. Sandi lantas masuk dalam rumah dan menuju kamarnya tanpa peduli dengan Bu Yanti dan Mita yang menyambutnya.
__ADS_1
"Mas Sandi..." sapa Mita ceria tapi tak diteruskan begitu melihat Sandi yang masam dan terlihat berantakan karna brewok yang tak dicukur.
Setelah Mita, giliran Bu Yanti juga menyapa.
"San, kok, baru pulang?"
Bu Yanti dan Mita saling melempar pandangan dan juga kode, bertanya ada apa dan kenapa Sandi seperti itu.
Didalam kamar, Sandi merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil menutupi matanya dengan punggung telapak tangannya. Tak lama, bu Yanti menyusul masuk kedalam kamar dan duduk disampingnya.
"San, kamu kenapa?" tanya Bu Yanti yang khawatir. "Ada masalah?"
Sebelum menjawab Sandi menghela nafasnya dan menelan ludahnya.
"Aku gak apa - apa Ma, cuma capek aja" jawab Sandi datar memilih tak cerita.
"Kalau gak kenapa - kenapa kok kusut gitu? Apa ada masalah dikantor?"
Sandi menghela nafasnya lagi.
"Gak ada kok Ma, Mama gak usah khawatir"
"Terus kalau dikantor gak ada masalah, kamu kenapa kok kusut gitu? kayak orang lagi frustasi." desis Bu Yanti. "Atau lagi putus cinta?"
"Beneran lagi putus cinta?" Bu Yanti memastikan.
Sandipun bangun dan duduk disamping ibunya lalu menatap bu Yanti dengan muka masam karna sedang malas berbicara apalagi di introgasi.
"Ma, aku gak apa - apa, aku cuma capek aja baru pulang dari paris belum sempat istirahat. Jadi Ma, mama gak perlu khawatir, aku cuma butuh istirahat aja, oke?"
Melihat ekspresi anaknya yang sudah tak sabar dan sensitif Bu Yanti pun mengalah dan memilih keluar.
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat, jangan banyak pikiran... ya ..." Bu Yanti mengusap lengan anaknya memberi semangat sebelum pergi.
***
Esoknya, masih pagi sekali, Sandi mendatangi kantor salah satu temannya yang bernama Bara. Bara dulunya terkenal sebagai hecker. Jadi sekarang dia hendak meminta bantuannya untuk membuka blokir ponsel Tara.
"Heyyy .... Bro" Bara menyapa Sandi dengan rangkulan khas lelaki, menabrakkan dada. "Gimana kabarnya?"
"Baik, lu gimana?" Sandi membalas rangkulan itu.
__ADS_1
"Gue baik juga. Lu kapan datang? katanya lagi di korea?" Bara menggiring Sandi masuk keruangannya dan duduk dikursi tamu yang ada didalam ruangan.
"Kemarin. Bro, gimana lu masih bisa kan?" Sandi menyodorkan ponsel Tara.
Dahi Bara mengkerut karna temannya satu ini tak bisa basa basi sama sekali padahal sudah lama tak bertemu.
"Lu tuh ya, basa basi dulu kek, gimana kek, udah lama gak ketemu main todong aja" protes Bara menunjukkan muka sedikir kesal.
"Udah cepet, basa basinya entar aja, ini lebih penting" saut Sandi tak mau berlama - lama.
"Hmmm, emang lu tuh ya ... dasar, datang - datang cuma minta tolong gini doang, nostalgia dulu kek, apa kek"
"Udah cepet, nanti kalau beres baru nostalgia" jawab Sandi yang hanya dapat gelengan kepala dan mencebikkan.
"Hp sapa nih? selingkuhan lu ya?" tanya Bara saat mendapati walpepernya adalah foto Sandi dan seorang wanita.
"Selingkuhan?maksud lu?" Sandi mengernyit.
"Lah ini kan bukan tunangan lu, tunangan lu kan yang punya wiraka grup kan?" Bara melangkah ke meja komputer bersiap membobol ponsel Tara.
"Tunangan?" Sandi semakin mengernyit tak mengerti.
"Oh iya, tanggal berapa nikahnya, katanya bulan depan lu nikah? gue kok gak diundang?"
"Nikah?" Sandi semakin mengernyit.
"Bentar, bentar, bentar, sejak kapan gue punya tunangan? terus sejak kapan gue mau nikah? apa lagi bulan depan. Terus kata siapa gue mau nikah?"
"Lah kabarnya gitu, udah banyak yang omongin juga."
"Bentar Bar, lu dapat gosip dari mana soal gue mau nikah?"
"Lah jadi itu cuma gosip? bukan beneran?" kali ini Bara yang jadi bingung.
"Berarti semua kabar yang beredar bohong dong? termasuk yang katanya perusahaan lu lagi limbung, saham turun terus. Jadinya lu minta bantuan sama wiraka grup biar perusahaan lu kembali stabil, tapi syaratnya lu harus nikah sama anaknya. Dan kabarnya lu mau nikah bulan depan" adu Bara. "Wah Bro, gila kalau sampai pacar lu denger, sakit hati tu pasti" celetuk Bara kemudian.
Sandi mengusap wajahnya yang sudah mengeras dengan kasar. Merasa hal itu sudah terjadi sekarang. Tak disangkah bisa - bisanya ada gosip seperti itu.
"Sip, sukses" seru Bara membuyarkan pikiran aneh sandi.
"Nih," Bara menyodorkan hpnya tadi.
__ADS_1
"Thank ya bro,"