Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 72


__ADS_3

Mita masuk kedalam ruangan. Langkahnya sedikit melambat menatap kedua insan didepannya curiga. Tadi, sekilas dia sempat melihat Tara yang terjengkal langsung berdiri begitu dirinya datang.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Mita dengan pandangan menyelidik secara bergantian pada Sandi dan Tara.


"Kamu ngapain kesini sekarang?" dengus Sandi dengan wajah masam. Sementara Tara langsung memperingatkan Sandi agar menjaga sikap dengan cara sedikit melotot sambil merengutkan wajah.


"Kedatangan kamu gangu banget, tahu! Mana pas lagi mau ciuman..." Dengus Sandi dimana dibungkam duluan oleh Tara hingga akhirnya cuma terdengar gumaman saja.


"Hahaha, enggak kok Mit, kita gak ngapa - ngapain, he ..." serobot Tara nyengir canggung, dengan tangan yang sibuk membungkam mulut sang lelaki.


Sandi berusaha melepaskan diri dari Tara. Sedangkan Tara berusaha terus membungkam Sandi sambil memelototinya agar tak ngomong ngawur. Sementara Mita berdiri jengah menyaksikan keduanya.


BRAKKK!!!


Dengan kasar Mita meletakkan kotak bento yang dijinjingnya didalam paperbag diatas meja. Membuat Sandi dan Tara yang sedang sibuk sendiri akhirnya menoleh lagi.


"Nih, siapa tahu laper! Aku pergi dulu. Pacaran sana yang puas. Kaau bisa kunci juga sekalian pintunya biar gak ada yang gangguin."


"Bagus, kamu ini memang adik yang pengertian..." saut Sandi yang wajahnya langsung berubah sumringah.


"Lo, Mit, mau kemana?" tanya Tara, mencoba menghentikan Mita yang hendak pergi.


"Mau pulang. Dari pada jadi obat nyamuk disini." sungut Mita dengan wajah kesal.


"Eh, aku ikut..."


"Eh, kamu mau kemana? urusan kita kan belum selesai?" sergah Sandi menghentikan Tara yang hendak pergi. Tapi yang dihentikan malah membelalakkan mata memberi peringatan. Sampai - sampai mau membantah lagi Sandi jadi takut.


Tara menyusul Mita yang tadi keluar luaran. Beberapa kali Tara juga sempat melirik dengan wajah mengejek pada Sandi yang duduk diranjang.


"Hem, dasar! calon istriku... uch, gemes." gumam Sandi sendiri dimana hatinya kini sangat bahagia.


Tara berhasil menyusul Mita. Dia kemudian meminta Mita untuk berbicara dengannya lebih dulu sebelum pulang. Dan mereka pun kini duduk berhadapan di dalam kantin rumah sakit.


"Em, Mit. Aku mau minta maaf ke kamu ..." kata Tara lirih.


"Minta maaf buat apa?"


"Em, sikap aku ke kamu. Setiap kali aku ketemu kamu, aku selalu menghindar. Jadi aku minta maaf."


"Oh, itu ..." desis Mita sambil meletakkan gelas es jeruk yang tadi diteguk dari sedotan.


"He'e," saut Tara lirih.


"Kalau itu, aku sih gak masalah. Cuma ada satu yang ganjel dihatiku." tukas Mita menelan sejenak savilanya sebelum lanjut ngomong.


"Tar, kamu dulu kok gak bilang sih kalau lagi pacaran sama Mas Sandi? terlebih kamu sampai hamil anaknya dia. Seharusnya dulu pas waktu kita ketemu di depan toilet itu, kamu langsung bilang. Jadi Kalian berdua ini gak sampai kayak sekarang!." dengus Mita yang wajahnya terlihat kesal.

__ADS_1


"Maaf," Tara menunduk merasa bersalah. "Dulu aku terlalu takut, jadi aku gak berani bilang. Maaf ..."


Mita menghembuskan nafas beratnya, melihat reaksi Tara.


"Udahlah, kita jangan bahas masalalu lagi. Aku sendiri juga udah tahu ceritanya gimana. Jadi aku gak mau nyalahin kamu atau Mas Sandi." Mita meluruskan duduknya menghadap Tara. "Tapi, Tar, sekarang, aku minta kamu cerita. kamu sama Mas Sandi sekarang gimana? udah baikan belum?"


Dengan tersenyum tipis malu - malu, Tara mengangguk.


"Eehhhh, seriusan?" ulang Mita terlihat antusias.


"Iya." jawab Tara lagi malu - malu, yang mengundang pekikan gelak tawa bahagia dari sang adik ipar.


"Uch ... akhirnya. Setelah bertahun - tahun pisah gara - gara Sasa, akhirnya sekarang kamu sama Mas Sandi bisa bareng lagi." ucap Mita seolah merasa lega.


"Tar, aku ikut seneng buat kalian. " ucap Mita terlihat tulus.


"Iya, makasih ya Mit, kamu masih mau nerima aku."


"Hem, sekalipun dulu, seandainya kamu bilang kalau kamu pacaran sama Mas Sandi, aku juga pasti terima kamu kok dengan senang hati." celetuk Mita. "Hem, ya udah kalau gitu. Karna aku udah dapat bocoran. Jadi sekarang mau pulang. Aku mau ngabarin mama kalau kalian udah balikan."


"Mit, jangan. Jangan kasih tahu Bu Yanti dulu."


"Emangnya kenapa? ini kan kabar bahagia. Mama pastu seneng banget kalau tahu."


"Jangan, biar nanti aku sama Mas Sandi sendiri yang masih tahu. Sekalian, aku juga mau minta restu sama mereka."


"Uch ... gitu, ya ..." Mita tersenyum lebar.


"Oke deh, kalau gitu. Aku simpen rapat dulu kalau gitu."


"He'e, makasih ya Mit,.."


"Ya udah deh, tapi aku tetep mau balik dulu, ya ... Soalnya aku gak bisa gangguin kalian lama - lama karna tadi calon suami kamu udah merengut terus waktu ada aku. Jadi dari pada aku disalahin, mending aku pulang aja." kata Mita sambil mengenakan kembali tas yang sedari tadi dipangku.


"Hehehe, iya .."


"Oke, aku duluan ya ..." pamit Mita.


"Awas! jangan sampai kebablasan lagi!. kalian berdua lama gak ketemu soalnya." pekik Mita sedikit menatap tajam Tara sebagai peringatan.


"Hah? iya ..." jawab Tara jadi kikuk karna malu.


Perbincangan dengan Mita pun usai. Tara kemudian kembali ke kamar Sandi dengan sebotol air putih ditangannya. Wajahnya tak berhenti tersenyum saat menyusuri lorong rumah sakit jalan ke ruang vvip.


Tara membuka pintu kamar Sandi. Saat itu, terlihat Sandi tampak tertidur pulas. Dengan senyuman lembut, Tara menatap wajah sang lelaki yang dicintainya.


Puas memandangi wajah Sandi. Tara kemudian hendak kembali ke sofa. Lagi - lagi, sebuah tangan membuatnya tersentak karna tubuhnya yang terhuyung dan jatuh duduk disisi ranjang.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" ucap Sandi yang tadi sengaja pura - pura tidur.


"Kok? kayaknya tadi tidur?" Tara mengernyit.


"Mana bisa aku tidur kalau kamu lagi liatin aku terus."


"Hm, Mas Sandi pura - pura tidur ya?"


"Kalau iya kenapa?"


"Hem, dasar!" Tara mencebik.


"Kamu kenapa tadi kok ngeliatin aku? aku ganteng ya? jadi kamu curi - curi pandang."


"Hm, GR! mana ada orang ganteng bilang ganteng."


"Ya, ada dong, aku ini orang ganteng yang bilang diri sendiri ganteng."


"Hm, PD!"


"Tapi kan aku emang ganteng, kamu aja tadi liatnya sampe ngiler - ngiler."


"Ih, mana ada! Jangan dilebih - lebihin dong Mas."


"Ini, liatin, ilernya masih nempel di bibir kamu." ucap Sandi mencuri kesempatan sambil menyentuh bibir mungil berwarna merah milik Tara.


"Ih, sengaja ya... sentuh - sentuh!"


"Hahaha, iya emang sengaja, tahu aja ..." jawab Sandi malah semakin memainkan bibir Tara sampai monyong, dengan gemas. Dimana kemudian bibir itu, dikecup.


Cup...


Kecupan itu mendapat kernyitan dari Tara.


Cup...


Kecupan kedua kembali diberikan


Cup...


Kecupan ketiga.


"Mas ..." pekik Tara menyelamatkan bibirnya yang sedang dimonyongkan Sandi. "Jangan dipegang gitu."


"Kalau gak boleh dipegang, kalau gitu, aku cium aja ..."


Emmuuuuccccchhhhh ...

__ADS_1


Ciuman dalam diberikan Sandi. Ciuman itu diiringi dengan tangan yang saling tertaut untuk mengeratkan pelukan.


Akhirnya, setelah sekian lama terpisah, kini Tara dan Sandi kembali bersama


__ADS_2