Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 7


__ADS_3

Malam mulai larut. Sudah jam 9 malam ketika Tara dan Sandi menutup kedai dan bersiap pulang. Sebelum pergi, Tara mengunci pintu ruko lebih dulu dan matikan lampunya. Selesai dengan tugas akhirnya, Tara lantas menghampiri Sandi yang tengah berdiri, bersandar di mobil.


"Udah?" tanya Sandi, menegakkan badan, sementara Tara menjawab dengan anggukan.


"Ayo," Sandi membukakan pintu mobilnya untuk Tara serta menutupkannya kembali setelah Tara masuk.


Suasana canggung menghiasi perjalanan pulang malam itu. Sandi dan Tara tak ada yang berusaha membuka obrolan. Tara cuma curi - curi pandang pada baju Sandi yang kotor. Sedangkan Sandi menahan senyum karna sadar sedang diperhatikan.


"Ini, kita kearah mana?" tanya Sandi akhirnya memecahkan keheningan.


"Hah?"


"Ini kearah mana?"


"Oh, sebentar Mas," Tara mengalihkan pandangannya ke jalan.


"Astaga, Mas Sandi ... udah kebablasan Mas," kata Tara, yang tersadar jika arah rumahnya sudah terlewati.


"Apa? kebablasan?" Sandi mulai memelankan mobilnya.


"Iya, ini udah muter jauh, haduh, maaf ya .." Tara menatap Sandi dengan wajah bersalah.


"Oh Mas, aku lewat gang depan itu aja." Tara menunjuk salah satu gang yang ada didepan. "Mas, coba minggir disitu Mas."


"Itu?" Sandi mengambil aba - aba, menyalakan sein lalu menepikan mobilnya ke tepi jalan sesuai permintaan Tara.


"Aku turun sini ya Mas, gak usah nganterin aku kerumah, soalnya depan itukan udah gerbang masuk tol, biar Mas Sandi gak muter jauh."


"Lo, kalau muternya jauh ya mending aku anterin kan?"


"Enggak, enggak, gak usah! aku bisa lewat gang itu, kalau lewat gang, jalannya cuma beberapa ratus meter aja kok, gak jauh"


"Ya jangan dong, meskipun gak jauh tapi ini kan malam, masak malam - malam jalan sendirian?"


"Enggak, enggak, gak apa - apa kok Mas, ini itu jalur masuk tol jadi gak bisa muter, jauh! biar aku jalan ya, biar gak tambah lama, biar bisa cepet istirahat" yang kali ini sedikit memohon.


"Beneran gak apa - apa?"


"Iya beneran gak apa - apa" jawab Tara meyakinkan.


"Ya udah kalau gitu ..." sahut Sandi menerima.


"Em, terus ... Mas"

__ADS_1


"Iya apa?"


"Em, Mas Sandi pakai baju 2 itu kan?" tanya Tara yang melihat didalam kemeja yang digunakan Sandi masih ada kaos oblong.


"Iya kenapa?"


"Kemejanya bisa gak di lepas? biar aku cuci"


"Oh, gitu... emang kenapa? ngerasa bersalah?" tanya Sandi yang dijawab dengan beberapa kali anggukan.


"Oh, punya rasa bersalah ternyata. Aku kirain, cuma ada jiwa kompetitif, gak mau kalah terus gak peduli. Orang bersih - bersih, ditinggal tidur." sindir Sandi dengan tangan yang mulai membuka kancing kemeja.


"Dikira aku gak berperasaan gitu?" Tara mencebik. "Asal tahu aja, semakin Mas Sandi kenal sama aku, semakin Mas Sandi tahu kalau aku memang lebih gak berperasaan. Bahkan, bisa lebih bikin sakit kepala!" Sindir Tara.


"Oh, gitu." Sandi senyum menggoda. "Kalau gitu, mulai sekarang aku harus siapin obat sakit kepala dong! biar kalau suatu saat butuh tinggal minum."


"Iya, ide bagus! biar gak migren! Sekalian obat jantungnya juga, jadi nanti kalau sakitnya udah berlebih, gak gampang kena serangan jantung!." jawab Tara sambil melengos, sementara Sandi melirik sambil tertawa puas.


"Ini," Sandi menyerahkan kemejanya. "Terus bisa diambil kapan ini? besok bisakan?"


"Besok? yang bener aja, mana bisa kering?"


"Lo, terus kapan dong? itukan kalau langsung dicuci sekarang, besok juga udah kering."


"Lah terus mau dicuci kapan? kalau gak cepet dicuci nodanya bisa nempel lo."


"Ya kan ini udah malam, udah setengah 10 malam nih!" Tara menunjukkan jam ditangannya.


"Ya emang kenapa meskipun malam, gak ada larangankan, kalau malam gak boleh cuci baju?" Sandi mengambil nafas sejenak. "Kamu! kamu kayaknya gak bener - bener mau minta maaf ya sama aku?" Sandi memasang wajah menyelidik.


"Emang minta maafnya harus cuci baju malam - malam?"


"Iya. Kan itu sebagai bentuknya. Kayak aku tadi, nyesel habis bikin mata kamu perih, akhirnya bersih - bersih"


"Itu kan kamu bukan aku!"


"Tapi ini mauku! Aku mau kamu buktiin kalau kamu beneran nyesel."


"Tapi pilihanku gak mau! besok aja dicucinya!"


"Ya udah kalau gitu, mana bajunya, aku cuci sendiri!"


"Ih, enggak!" tolak Tara tegas. "pahami deh kata - kataku, aku gak mau kalau harus cuci baju dimalam hari, bukannya gak mau sama sekali" Tara mempertegas maksud ucapannya.

__ADS_1


"Tapi itu kan kemejaku!"


"Tapi sekarang udah ditanganku, jadi apa kataku!"


"Huft!" Sandi mengalah. Wajahnya tertawa kecil.


"Ya udah deh, udah setengah 10 malam, kamu pulang sana" kata Sandi kemudian.


"Kenapa? kok ngusir? udah capek ya ngomong sama aku?"


"Iya, dasar, gak mau kalah, bener - bener bikin migran" jawab Sandi gemas melihat Tara sedangkan Tara tertawa puas. "Udah sana cepat pulang, biar gak makin malam."


"He'e, makasih ya Mas." ucap Tara tulus.


"Iya, jangan lupa bajuku langsung cuci."


"Hei..." seru Tara yang mendengar Sandi menyuruhnya langsung mencuci bajunya.


"Hehehe, becanda, gitu aja udah mau sewot."


Tara mencebik. "Em, dasar, Aku dulu ya Mas, Mas Sandi hati - hati ..."


"He'em, kamu juga ya ..."


Tara dan Sandi kemudian berpisah. Tara beberapa kali menoleh pada Sandi yang ada dimobil dan melambaikan tangannya. Sampai akhirnya saat Tara hilang dari pandangannya, Sandi pun ikut pergi, pulang kerumah.


***


Tara sampai dirumahnya. Dia lantas meletakkan barang - barangnya di meja kemudian bergegas ke kamar mandi. Meskipun tadinya menolak dengan keras. Ternyata sesampainya dirumah sikapnya sangat berbeda. Tara ditengah dinginnya malam menggosok baju Sandi hingga bersih tak bernoda. Dia kemudian menggantungnya ditempat jemuran yang ada dibelakang sambil tak berhenti tersenyum saat memandang kemeja tersebut.


Sedangkan Sandi, Sandi yang baru saja sampai dirumah. Langsung merebahkan dirinya pada kasur yang ada di kamarnya. Matanya menerawang jauh keatas. Bibirnya mulai tersenyum, merasa takdirnya sudah datang.


Sandi mencoba mengirim pesan pada Tara, meskipun awalnya ragu - ragu. Dia ingat pesan Tara tadi siang. 'Jangan hubungi aku tengah malam. aku udah tidur!."


"Tar, udah sampai rumah?" isi pesan yang coba dikirimkan Sandi tanpa mengharapkan balasan.


Sandi beranjak dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai dengan aktifitasnya, Sandi yang merasa badannya sudah segar lantas merebahkan badannya kembali ke kasur, sambil mengecek ponselnya. Pesan darinya dibalas oleh Tara.


'Dibales" Batinnya.


"Udah dari tadi. Mas Sandi gimana? udah sampai juga?" isi pesan balasan dari Tara.


Sandi terpengarah. Wajahnya mulai tersenyum girang tak menyangkah dapat balasan meskipun pesannya dikirim dimalam hari.

__ADS_1


"Udah, baru sampai, terus juga baru mandi. Gimana bajuku udah dicuci?" balas Sandi dengan perasaan bahagia.


__ADS_2