
"Kila..." seru Tara, menghampiri Kila yang tengah duduk termenguh.
"Kil, kamu marah ya sama aku?" tanya Tara setelah duduk disamping Kila, dengan wajah muram menatap lekat sang sahabat.
"Enggak kok, siapa juga yang marah." dengus Kila, dingin, menghindari tatapan Tara, seolah - olah sedang memperhatikan orang - orang yang sibuk berfoto dialtar.
"Terus, kalau kamu gak marah, kenapa mulai kemarin sikap kamu dingin sama aku?"
"Enggak kok. kayaknya biasa aja. Perasaan kamu aja kali."
"Tapi, ini, dari nada bicara kamu, ketus gitu." tampik Tara cepat.
"Mana ada. Orang biasa aja!."
"Kil, apa kamu marah, gara - gara aku sekarang nikah?"
"Ih, ngapain juga aku marah gara - gara kamu nikah. Kalau kamu mau nikah, ya nikah aja kali. Toh, dari awal yang berusaha mempersatukan kalian juga aku!."
"Terus kalau gitu kenapa dong, Kil? kenapa kamu kayak gini? Apa kamu ngerasa setelah aku menikah, aku sama Randi akan ninggalin kamu? Apa itu yang kamu rasain?"
Kila malah melengos.
"Kila, seperti yang aku bilang. Meskipun aku menikah, kita tetep sama - sama. Kita tetep tinggal bareng, kita satu apartemen, satu lantai, adep - adepan biar kamu gak sendirian dirumah. Setiap hari, kayak biasanya kita juga bisa sarapan bareng, makan siang bareng, makan malan bareng. Dan juga, aku tetep kerja di butik sama kamu. Jadi, gak ada perbedaan antara aku sudah nikah sama aku belum nikah. Jadi, kamu jangan khawatir, aku gak ninggalin kamu..."
"Justru karna itu, aku suka!." pekik Kila. "Kamu udah nikah tapi kenapa kamu berat sama aku? Kamu kira aku bakalan sedih kamu tinggal nikah? Dan juga ngapain kamu tiba - tiba jual rumah terus beli apartemen buat aku? Harusnya kan kamu itu bilang dulu ke aku, aku mau apa enggak tinggal disana, bukannya malah mutusin sendiri seenak jidat!. Kamu kira, aku anak kecil yang kehilangan induknya, terus takut hidup sendiri?"
"He'e emang, bagiku kamu emang masih kayak anak kecil yang takut hidup sendiri dan kamu gak bisa hidup sendiri." jawab Tara cepat dan menggenggam tangan Kila. "Kil, kamu, kalau pagi, kalau aku gak bangunin, kamu gak bangun - bangun. Kamu, kalau pagi, kalau aku gak masak, kamu gak pernah sarapan. Kamu, kalau bukan aku yang bersihin rumah, kamu juga gak bersih - bersih. Belum lagi, baju kamu, kalau bukan aku yang nyuci, pasti ditunggu numpuk dulu baru dicuci. Jadi, sebelum kamu jadi dewasa, biarin aku yang ngurus kamu dulu. Kita gantian. Dulu kamu yang ngurus aku, nemenin aku, sekarang biar aku yang ngurus kamu sama jagain kamu, sampai kamu menemukan pasangan juga..."
Mendengar ungkapan hati Tara. Kila melirik Tara. Dihembuskan juga nafas kasarnya sebelum menjawab perkataan Tara.
Tapi tiba - tiba, saat mulutnya hendak mengecap. Seseorang muncul dihadapannya dengan menyodorkan bunga yang tadi berhasil tangkap tepat didepan wajahnya.
__ADS_1
"Kil, kalau kamu udah gak mau Tara yang jagain kamu, kalau gitu, biarin aku aja yang jagain kamu, gimana?" pekik Gilang, menyelah pembicaraan keduanya. Masih dengan tangan menggenggam bunga dihadapan Kila.
"Maksud lu?" dengus Kila, sambil mengernyit.
"Ya maksudku, tolong kamu terima bunga dariku, soalnya, ini aku tangkap khusus buat kamu." Gilang menggerakkan bunganya pelan, agar segera diterima oleh Kila.
"Maksud lu? emang ngapain lu nangkep bunga buat gue? sakit lu ya?"
"Enggak kok Kil, aku gak sakit. Aku lagi normal. Jadi, ini ... tolong diterima, sekalian sama perasaanku juga ..." ucap Gilang, maju selangkah dan jongkok dihadapan Kila. "Kil, kamu mau kan terima bunga sama perasaanku?"
Kila semakin mengernyit melihat Gilang yang tiba - tiba menyatakan perasaannya padanya. Sementara Tara yang duduk disamping Kila langsung tersenyum lebar
"Hemmm... Gilang ..." seru Tara, merasa senang dengan apa yang dilakukan Gilang.
"Bentar, ini lu nembak gue gitu, ceritanya? Lu gak sakit, kan? lu lagi gak salah minum obat, kan?"
"Enggak Kil, ini aku serius, serius banget. Jadi, please tolong terima, ya ..." Gilang memohon.
"Ya, Kil, kok langsung kamu tolak sih? harusnya kan kamu pikirin dulu."
"Ogah! gila apa aku sama lu. Gue, liatin muka lu aja, gue udah emosi. Apa lagi sampai punya hubungan sama lu, hiii..." dengus Kila, menggetarkan badannya seperti tak ingin hal itu benar - benar terjadi.
"Ya, Kil. Kok kamu gitu, sih? terus ini gimana dong bunganya, kadung di tangkap juga kan. Masak habis aku tangkap bunganya, aku gak nikah - nikah?" ucap Gilang tiba - tiba jadi putus asa.
"What? nikah? jangan ngadi - ngadi! belum apa - apa udah bahas pernikahan aja lu!. Udah ah, sana! jangan gangguin gue ..." usir Kila sambil mengangkat bokongnya yang sejak tadi duduk.
"Kil, ini aku serius Kil. Please Kil, pertimbangin dulu permintaan aku, jangan langsung ditolak. Kalau kamu tolak gini, aku beneran gak bisa tidur nih, Kil." Gilang juga ikut berdiri.
"Ogah! pokoknya jawaban gue, ogah!. Jadi, sana lu jangan deket - deket. Aneh - aneh aja!." Kila mulai melangkah pergi.
"Kila... please Kil, kalau enggak terima bunganya aja deh, biar gak sia - sia aku nangkepnya, ya ..." Gilang memohon dengan langkah yang berusaha disejajarkan saat mengikuti Kila.
__ADS_1
"Aiisshhh!" dengus Kila jengah, melirik tajam ke arah Gilang. "Sana lu, jangan gangguin gue!. Jangan aneh - aneh bilang suka. Jangan juga manggil aku, kamu, aku, kamu, geli gue dengernya..." imbuhnya, sambil menghentakkan kaki untuk pergi dengan diikuti Gilang yang terus memohon. Sementara Tara yang berada diantara mereka cuma tertawa dan tersenyum sendiri. Menonton kelakuan menggemaskan dari Gilang dan Kila.
"Kamu kenapa, yang? kok ketawa sama senyum senyum sendiri?" celetuk Sandi yang menghampirinya, dimana tangan langsung memegang bahu sang istri dari belakang.
"Itu lo mas, si Gilang, tiba - tiba bilang suka sama si Kila" jawab Tara yang matanya masih mengikuti Kila dan Gilang pergi dengan senyum diwajah.
"Oh, iya ... itu tadi juga si Gilang bilang ke aku kalau suka sama Kila." saut Sandi ikut senyum.
"Mereka itu, padahal selama ini kalau ketemu kayak kucing sama tikus. Berantem mulu kerjaannya. Eh, ternyata ada rasa juga." celetuk Tara. "Mas, apa kita makcomblangin aja ya mereka?"
"Em, boleh juga, terserah kamu." jawab Sandi.
"Tapi, yang ... Sebelum nyomblangi mereka. Ada kerjaan penting yang harus kita lakuin berdua."
"Kerjaan apa?"
Sandi perlahan mendekatkan bibirnya kearah telinga Tara. Dimana hembusan angin dari hidung Sandi seolah mampu membuat bulu kuduknya berdiri. "Ayo, cepet pulang... aku udah gak sabar ..."
"Ih, Mas, masih banyak tamu." ucap Tara yang wajahnya tiba - tiba serasa terbakar karna malu.
"Gak apa - apa, mereka pasti ngerti, yuk ..." ajak lagi Sandi, meraih tangan sang istri sambil berkedip genit.
"Tapi, Mas ..." Tara menghentikan tindakan sang suami, dengan wajah dibuat cemberut. "Hari ini, aku harus temenin Kila dulu ..."
"Nemenin Kila? buat apa?" Sandi mengernyit.
"Mas Sandi kan ngerti Kila lagi gimana sekarang. Dia mulai kemarin ngambek ke aku. Jadi biarin aku sama Randi temenin dia dulu ya? toh, besok dia juga udah pindah. Jadi... tahan tolong dulu..." Tara memasang wajah memelas sambil bergelantung manja.
"Tapi, kan ini hari pertama kita, yang ..."
"Tapi kan masih banyak hari - hari yang lain lagi, kita kan juga masih sama - sama terus. Kalau Kila, kalau aku tinggal sekarang, dia pasti bakal sedih seumur hidup. Lagian Mas, kalau bukan karna Kila yang bantuin kita. Kita juga gak akan sampai ditahap ini, kan?" ujuk Tara, sementara Sandi masih mendengus.
__ADS_1
"Ya, mas ... boleh ya... aku janji besok pagi, aku langsung pulang ... ya?" Dimana meskipun terpaksa Sandi pun mengiyakan.