
"Ayo dimana?" desak Sandi pada Tara yang masih tak bergeming.
Apa bisa pria dihadapannya ini membantunya? Dia pasti gak pernah melakukan pekerjaan kayak gini, kan?. Sambil sedikit memincingkan mata menatap Sandi tak percaya.
"Kok malah diem, ditungguin nih sama yang pesen. Ayo, yang mana?"
"Itu ..." jawab Tara akhirnya, menunjuk salah satu pembeli dengan cara menggerakkan kepala.
Sandi mengarahkan pandangannya pada orang yang Tara maksud. Tanpa berkata lagi, Sandi berbalik mengantar pesanan tersebut. Seutas senyum ramah dilempar Sandi pada pembeli tersebut. Sementara Tara yang memperhatikan dari kejauhan, menyunggingkan senyum sambil manggut - manggut.
'Lumayan...' batinnya lagi.
Dengan berjalannya waktu. Sedikit demi sedikit, Sandi dan Tara mulai terlihat kompak. Tara bekerja sebagai penyaji makanan dan juga kasir, sedangkan Sandi menjadi pelayan yang mengantar makanan serta membersihkan meja.
Tanpa terasa, hari sudah berganti malam. Semua menu sudah habis terjual. Dan kedai juga sudah sepi dan hendak ditutup. Sandi yang merasa lelah duduk di salah satu kursi sambil menyandarkan kepalanya ketembok. Sementara Tara masih sibuk menghitung uang di meja kasir.
"Capek ya?" tanya Tara tanpa menoleh kearah Sandi.
"Lumayan, " jawab Sandi, mengarahkan tubuhnya menghadap Tara yang duduk di kasir.
"Mau minum?" tawar Tara masih tanpa menoleh dan tetap fokus menghitung uang yang ada di tangannya.
"Em, kalau mau dibuatin, ya gak nolak."
"Mau minum apa?" Kali ini Tara menengok.
"Yang hangat."
"Oke, bentar ya, dikit lagi, nanggung" jawab Tara mengembalikan matanya ke uang yang ada dihadapannya lagi.
Begitu selesai, Tara kemudian beranjak ke dapur. Dia membuatkan Sandi segelas teh hangat. Dan setelah siap langsung disajikan dihadapan Sandi.
"Makasih" ungkap Sandi dengan bibir yang tersenyum.
"Jangan salah sangkah. Ini janjiku yang bilang mau traktir tadi." Jelas Tara sambil menarik kursi yang ada dihadapan Sandi. Dan kemudian duduk bergabung disitu.
"Hah? yang bener aja. Masak traktirannya cuma ini?" keluh Sandi merasa dipermainkan.
"Terus maunya apa?"
"Ya yang spesial dong, aku kan udah nganterin kamu, udah bantuin kamu. Masak cuma ditraktir teh anget." protes Sandi tapi sambil meneguk teh hangat tersebut.
"Em, kalau gitu," kata Tara clingak clinguk mencari sesuatu kearah stand pembuatan minuman.
"Jus mau?" imbuhnya ketika matanya menangkap berbagai buah yang tertumpuk dietalase.
"Dasar pelit!." gerutu Sandi pelan tapi terdengar. Sementara Tara tersenyum merasa berhasil menggoda Sandi.
__ADS_1
"Mas, makasih, ya ... udah bantuin" ucap Tara yang nada bicaranya begitu manis ditelinga Sandi. "Terima kasih yang banyak..."
Sandi sejenak terpaku. Dihadapannya ada seorang gadis yang sedang tersenyum manis padanya. Seolah cuma dengan satu senyuman itu mampu menghentikan kerja jantungnya dan membuatnya gugup.
Sedikit salah tingkah. Sandi meraih teh dimeja. m Cuma satu tegukan saja, Sandi langsung tersedak.
Uhhukkkk ... uhhuukkk ...
"Astaga, pelan - pelan Mas." Tara menatapnya khawatir dengan tangan yang menjulurkan tisu.
Uhukk.. uhukk...
Tara mendekat lalu menepuk - nepuk punggung Sandi.
"Gimana? udah baikan?" Tanya Tara karna Sandi sudah berhenti batuk - batuk. Sementara Sandi mengangguk.
"Kamu, jangan senyum - senyum gitu, bikin aku gagal fokus." kata Sandi kemudian.
"Jangan ngadi - ngadi!" Tara mendengus dan juga mengerlingkan mata. Gombalan gak penting mulai keluar dari mulut lelaki dihadapannya. Malas dengerinnya, Tara pun beranjak pergi kedapur.
Saat itu, dapur dalam keadaan berantakan. Piring kotor dan gelas kotor ada dimana - mana. Begitu juga dengan peralatan memasak yang lainnya.
"Mas Sandi," panggil Tara dari dapur, sambil mengarahkan separuh tubuhnya ke pintu.
"Hem...." saut Sandi.
"Kalau mau pulang, pulang aja. Aku gak bisa nganter ke depan. Terus, minta tolong, kalau bisa sebelum pergi, tolong, tutupin separuh rukonya juga, ya.."
Sandi memenuhi permintaan Tara. Dia membereskan kursi - kursi yang ada di depan dan memasukkannya ke dalam ruko. Setelah itu, tak lupa Sandi juga menutup pintu ruko dan menyisakannya sedikit, untuk dijadikan jalan saat mereka pulang nanti.
"Tar, kamu mau pulang kapan?" seru Sandi yang menghampiri Tara di dapur.
"Waaaahhhh ..." Mata Sandi membelalak melihat pemandangan didepannya. Sementara Tara cuma menoleh sambil melanjutkan cuci piring.
Sigap, Sandi menggulung lengan kemejanya dan langsung membantu Tara untuk bersih - bersih.
"Eh, ngapain?" tanya Tara.
"Mau ngapain lagi, ya bantuin kamu."
"Eh, gak usah, sana cepat pulang! udah malam."
"Sana pulang!" kata Tara lagi yang nadanya sedikit menekan.
"Mas Sandi!!!" pekiknya lagi.
"Ssssttt, jangan banyak omong, udah ayo biar cepat kelar." jawab Sandi mengangkat tumpukan piring dilantai ke atas tempat cuci piring.
__ADS_1
"Mas Sandi!!!!" Yang kali ini melotot.
"Aku yang kasih sabun, kamu yang bilas, oke." Sandi masih tak menggubris dan mulai membantu mencuci piring - piring kotor.
"Mas Sandiiiii!!!!."
Sandi akhirnya mengarahkan pandangannya ke Tara. Ditariknya nafasnya kasar. Sejenak Sandi, mencari cela, lalu memercikkan air dalam baskom kewajah Tara.
"Aduh ..." rintihTara, matanya perih terkena percikan air sabun dalam baskom.
"Eh, eh, eh, sory - sory ..." seru Sandi bingung sendiri, lupa kalau airnya penuh dengan sabun. Sementara Tara langsung mengarahkan wajahnya pada air yang sedang mengalir di kran.
"Maaf ya, maaf ... aku gak sengaja."
Tara menghembuskan nafas kasarnya karna kesal. Diliriknya Sandi dengan tajam dan muka masam.
"Maaf, ya ... maaf banget." Sandi memelas. "Habisnya kamu, aku bantuin gak mau."
"Oh mau bantuin, toh ..." kata Tara dingin. "Ya udah kalau gitu, karna maksa, ini cuci semuanya."
"Oke, aku cuci semuanya, tapi maafin, ya ... oke?"
"Pokoknya cuci semuanya! sampai bener - bener bersih, sendiri!"
"Iya, pasti aku cuci, tapi, udah ya jangan marah lagi, oke?"
Sandi memenuhi permintaan Tara. Tanpa mengeluh, Sandi membersihkan semua barang - barang kotor didapur. Malah dia terkesan menikmati pekerjaan yang dilakukannya saat itu.
"Huft... akhirnya ..." ucap Sandi lega, setelah berhasil membersihkan dapur sampai kinclong.
"Aish, jadi kotor semua, hm ..." gumamnya sekaligus mendengus mencium bajunya yang bau dan kotor.
Sambil membersihkan bajunya yang kotor. Sandi melangkah keluar dari dapur. Saat itu, dia mendapati Tara sudah tertidur lelap di atas meja. Sandi kemudian menghampirinya. Dia lantas duduk menompang wajah memandang wajah ayu Tara.
Wajah yang putih halus. Alis yang tebal. Bulu mata yang lentik dengan hidung sedikit pesek serta bibir yang mungil tipis berwarna merah. Sungguh indah makhluk ciptaan tuhan dihadapannya ini.
Tara terbangun. Badannya menggeliat dan mulut mulai menguap. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, Tara menangkap sosok Sandi dihadapannya. Reflek, Tara lantas tercekat bangun dan duduk tegak.
"Gimana? enak tidurnya?" tanya Sandi tersenyum, menunjukkan lesung pipitnya yang manis.
"Mas, maaf, aku ketiduran..."
"Kalau masih ngantuk lanjutin aja tidurnya."
"Hah, enggak kok. Mas Sandi udah selesai?"
"Udah, Liat aja dibelakang kurangnya gimana..."
__ADS_1
Tara berjalan ke dapur. Dapur saat itu benar - benar terlihat berbeda. Semuanya bersih dan tertata rapi. Melihat itu, Tara memandang Sandi takjub. Tak disangkah, Sandi benar - benar bisa menyelesaikan pekerjaan darinya.
"Gimana? kamu puas?" ucap Sandi yang sudah berdiri dibelakangnya. Sementara Tara tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyum yang menunjukkan kalau dirinya sedikit demi sedikit mulai membuka hati untuk lelaki yang tengah berdiri dibelakangnya tersebut.