
Tara sedang mondar mandir di teras rumahnya. Dia sedang menunggu kedatangan sang anak yang belum juga pulang padahal hari sudah mulai larut. Sudah jam 8 malam. Membuatnya jadi risau, kemana saja Randi yang dibawah ayahnya itu.
Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu - tunggu datang. Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Dari kaca depan mobil, sudah bisa dipastikan kalau itu adalah Randi.
"Bunda,..." sapa Randi riang, begitu keluar dari dalam mobil, sambil berlari kearah bundanya yang berdiri di teras rumah. "Bunda, Bunda. Coba liat bunda, ini aku dibelikan hot wheels edisi fast and furious bunda, sama Om Sandi. "
"Iya, Bunda tahu, sekarang kamu masuk ke dalam, ya ..." pinta Tara pada Randi dengan senyum tipis.
"Iya Bunda," jawab Randi. "Om Ayo Om, masuk kerumahku," ajak Randi yang polos pada Sandi yang berdiri menatap sang ibu dengan pandangan penuh harap diperbolehkan.
"Randi. Kamu masuk sendiri." pungkas Tara dengan nada tegas dan mata menatap dingin anaknya, dimana sang anak pun tak berani membantah dan langsung tertunduk sambil lalu masuk kedalam rumah.
Tara menutup pintu rumah dengan rapat setelah Randi masuk. Dia tak mau kalau sampai Randi mendengar apa yang akan diucapkan.
"Mas." Kali ini Tara menatap dingin Sandi. "Tolong jangan pernah bawah Randi kayak gini lagi dan jangan juga Mas Sandi buang - buang uang untuk dia. Aku minta Mas Sandi jauhin dia, karna dia bukan anaknya Mas Sandi." pungkas Tara melangkah membuka pintu hendak masuk ke dalam rumah.
"Terus, kalau dia bukan anakku, dia itu anaknya siapa?" tanya Sandi lirih, membuat langkah Tara berhenti dan sedikit gugup.
"Yang pasti dia bukan anak Mas Sandi." jawab Tara tanpa membalik badannya dan tetap menghadap pintu.
"Jawab. Dia anak siapa?"
"Dia anakku!." jawab Tara berbalik menatap dingin pada Sandi lagi.
"Berarti dia anakku."
"Terserah Mas Sandi mau berasumi gimana, yang pasti, jangan pernah bawah Randi kayak sekarang lagi, jangan pernah temuin dia juga, dan jangan pernah ganggu kita lagi, karna kita udah gak ada hubungan apa - apa lagi, dan aku benci sama Mas Sandi!." pekik Tara yang kemudian masuk kedalam rumah dan menutup pintunya dengan kasar meninggalkan Sandi yang sedang tertawa getir.
***
Sandi duduk sendirian didalam kantornya yang gelap. Dimeja sudah ada beberapa botol alkohol yang 2 diantaranya sudah terlihat kosong. Beberapa kali nafas berat dihembuskannya diselah mulutnya yang meneguk alkohol tersebut hingga menyisakan sedikit dalam botolnya.
"Ahhh..." teriakan Gilang yang baru saja membuka pintu kantor memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut.
"Astaga, lu ngagetin aja." sergahnya sambil mengelus dada karna begitu kaget, dikiranya Sandi yang duduk sendiri disana adalah hantu.
__ADS_1
Sandi tak beraksi. Wajahnya tetap dingin dan muram serta sudah terlihat kusut tak karu - karuan. Sementara Gilang yang melihat mengernyit dan kemudian duduk salah satu sofa yang ada dihadapan Sandi.
"Kenapa lu?" tanya Gilang, tapi Sandi diam tak beraksi.
"Ada masalah apa lagi?" tanyanya lagi sambil melirik beberapa botol alkohol dimeja yang beberapa diantaranya sudah kosong.
"Mikirin Tara lagi?" timpal Gilang, karna biasanya kalau sudah begini pasti karna seseorang yang bernama Tara.
Sandi menghembuskan nafasnya kasar, dan itu cukup menjawab pertanyaan Gilang.
Gilang membalas Sandi dengan hembusan nafas kasar juga. Dia kemudian duduk menyandarkan kepala ke sofa.
"Lang," seru Sandi.
"Hm..."
"Hari ini, aku ketemu dia." ungkap Sandi, membuat Gilang mengangkat kepala yang tadi sembat disandarkan ke sofa.
"Oh, ya? kok bisa?"
"Oh, ya?"
"Dan ternyata, dulu dia beneran hamil dan sekarang anak itu udah besar."
"Hah?" Gilang mengernyit tak percaya. "Lu serius? dia beneran hamil dan punya anak?"
"Iya," jawab Sandi sambil mengusap wajahnya kasar. Sementara Gilang menghembuskan nafasnya berat.
"Terus, tadi lu ketemu juga sama tuh anak?"
Sandi mengangguk dan kembali meneguk alkohol dalam botol yang ada ditangannya.
Sandi tertawa getir. "Padahal selama ini mereka begitu dekat. Aku dan anakku, udah beberapa kali ketemu dan kita bahkan main bareng. Tapi kenapa ... kenapa aku gak tahu." Yang diiringi dengan tegukan alkohol lagi.
Gilang mengernyit. Ingatannya melayang pada sosok Randi kala sedang bersama Sandi di timezone.
__ADS_1
"Maksud lu, San? Jangan bilang kalau anak yang lu maksud itu adalah anak yang waktu itu."
Sandi mengangguk dan kemudian hendak meneguk alkoholnya lagi, tapi saat itu dalam botolnya sudah habis.
"Bentar San, bukannya tuh anak, anaknya Kila? tenant stand 24 lantai 2."
"Bukan."
"Tapi kok." Gilang jadi bingung sendiri. Tapi kemudian dia ingat, memang ada salah satu wanita yang dipanggil bunda oleh anak kecil itu.
"Astaga." Gilang menepuk jidatnya. "Selama ini gue kira dia anaknya si Kila, ternyata ..." gumamnya sendiri.
"Lo, berarti, temen Kila yang cantik itu, itu yang namanya Tara dong San?" celetuk Gilang lagi, yang selama ini hanya tahu namanya saja tanpa tahu wajahnya. Dan Sandi kembali mengangguk sambil tersenyum getir. Sementara Gilang, kini yang mengusap wajahnya kasar. Sungguh tak disangkah kalau ternyata orang yang selama ini dicati ternyata ada didekatnya.
"Jadi, sekarang gimana? apa rencana lu selanjutnya?"
"Gak tahu." jawab Sandi, Gilang mengernyit kembali.
"Tara bilang dia benci sama gue. Dan dia minta, gue jangan ganggu mereka." ungkap Sandi lirih, dan kembali meraih botol di meja yang masih utuh, tapi Gilang menghentikan.
Sandi melirik ke Gilang karna menghalanginya untuk meneguk alkohol lagi.
"Terus lu mau nurutin kemauan dia?" Gilang membalas lirikan Sandi dengan menatapnya.
Sandi mendengus, dia kemudian mencoba meraih botol itu lagi dengan cara menampik tangan Gilang. Tapi Gilang tak bergeming dan malah menjauhkan botol alkohol itu dengan sedikit mengangkatnya.
"Jangan mabuk sekarang, karna besok kita ada sidang penting." Gilang mengingatkan. Membuat Sandi melengos dan kemudian menghempaskan tubuhnya menyandarkan diri di sofa dengan muka masam.
"Sekarang rencana lu apa? jangan bilang lu nyerah gitu aja cuma karna Tara bilang dia benci sama lu."
Sandi diam saja, dia malah memejamkan matanya. Apa yang dikatakan Gilang benar adanya. Hatinya serasa runtuh hendak menyerah karna ucapan itu.
"San, coba buka pikiran lu. Posisiin diri lu jadi Tara. Bayangin selama bertahun - tahun dia hidup sendiri, ngerawat anak sendiri, tanpa kehadiran lu dan sekarang lu tiba - tiba datang, minta langsung diterima dengan hati terbuka. Apa itu mungkin?" timpal Gilang. "Gak mungkin, kan."
"Jadi san, anggap aja ini tantangan buat lu. Tunjukkin kalau lu itu bener - bener menginginkan dia dan cinta sama dia. Kalau lu berusaha dengan keras, siapa tahu Tara jadi luluh." imbuh Gilang, meskipun tak dijawab oleh sahabatnya tapi dari ekspresinya, Gilang tahu kalau Sandi sedang mendengarkan sarannya.
__ADS_1