
"Ngapain lu disini?" tanya Sandi berubah jadi dingin.
"Mau ngapain lagi, ya ngemall dong ..." saut Sasa. "Emang kamu kira aku mau ngapain? atau kamu kira aku mau nemuin kamu gitu disini?" imbuhnya lagi.
Sementara Sandi tersenyum sinis dan geleng - geleng kepala. Ditanggapi pun percuma. Karna Sasa baginya cuma orang gila yang kebetulan terlahir kaya.
"Oh iya, karna kita udah ketemu. Gimana masalah kompensasi? kamu sanggupkan bayarnya? ini udah tanggal 17 lo San, cuma tersisa seminggu lagi buat batas pembayarannya."
"Jangan khawatir, pasti gue bayar."
"Ya memang harus dibayar, biar gak mau masuk penjara. Tapi, seandainya kamu gak sanggup dan kamu butuh bantuan, aku bisa bantuin." timpal Sasa mendekat ke Sandi dan mengaitkan tangannya dilengan kekar Sandi.
"Ya ... asalkan kamu mau balikan sama aku." godanya kemudian.
"Jangan deket - deket!." Sandi menangkis tangan Sasa kasar.
"Heh," Sasa tersenyum sinis, dan melirik ke Randi lagi. "Padahal dulu kamu sayang banget sama aku. Tapi sejak ada seseorang yang gak penting datang, kamu jadi berubah dingin ke aku."
"Sejak kapan gue sayang sama lu? lu lagi mimpi?" jawab Sandi dengan senyum sinis.
"Ya, terserah kamu mau mengakui atau enggak, tapi yang jelas aku bisa ngerasain perbedaannya." timpal Sasa membuat kesimpulan sendiri.
"Aku denger, kamu lagi mau nyiapin tuntun lagi, ya?" Kali ini Sasa berdiri melipat tangan didada.
"Kabar memang cepet beredar."
"Kamu yakin? mau nuntut kita lagi? kamu masih belum kapok udah bayar kompensasi 2,5 M?"
"Kenapa lu gak siap?"
"Yang harusnya tanya gitu, itu aku. Kamu siap ngelawan wiraka grup dan bayar kompensasi lagi? kamu mau jadi orang miskin beneran?"
"Ya emang kenapa? lu kira meskipun yang dilawan wiraka grup, gue harus takut?"
"Ya silahkan aja kalau emang itu mau kamu. Tapi, ngomong - ngomong jangan bilang kamu mau ngelawan kita sama PT beton jaya, ya ..." ucap Sasa jelas membuat Sandi mengernyit, karna memang itu yang sudah direncanakan. "Aku kasih bocoran. Kalau kamu mau ngelawan kita pakai beton jaya, itu percuma. Kamu gak akan bisa menang, karna kita udah megang segala bukti - bukti kalau apa yang kalian klaim itu gak benar."
__ADS_1
"Oh, gitu." Sandi menyeringai. "Kalau gitu, terima kasih bocorannya. Bocoran dari lu sungguh bermanfaat banget buat gue. Kalau gitu, gimana kalau sama So Ra foundation? kira - kira berapa persen peluang kemenangan gue?"
"Jangan macem - macem!." hardik Sasa dengan tatapan tajam.
"Kenapa? lu takut? lu kira gue gak ngerti, tentang So Ra foundation." jawab Sandi dengan senyum sinisnya.
So Ra foundation, adalah yayasan yang dibangun oleh Sasa dimana banyak kegiatan ilegal didalamnya. Mulai dari penggelapan dana amal, sampai penjualan obat - obatan terlarang tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Jangan sekali - sekali kamu ngulik - ngulik So Ra. Meskipun aku suka sama kamu, aku gak bakalan diem aja!. Aku pastiin kamu juga bakalan menderita dan menyesal sekali lagi dalam hidup kamu!." hardik Sasa lagi, dan sekali lagi melirik ke Randi dan kemudian tersenyum sinis sebelum melenggang pergi.
Setelah Sasa pergi. Sandi dan Randi kembali melanjutkan langkah mereka. Keduanya berjalan menyusuri mall yang ramai menuju butik.
"Om, tante tadi itu siapa? kok Om Sandi kenal?" tanya Randi ditengah langkahnya.
"Tante?" Sandi mengernyit mengingat - ingat. "Tante yang diparkiran?"
"Iya." jawab Randi sambil ngangguk.
"Oh, itu. Itu tante - tante gila."
"Om, sebenernya aku pernah liat tante itu. Tante itu waktu itu datang ke butik."
"Oh iya, ngapain kesana? beli baju?"
"Enggak, tante itu ngobrol sama Bunda." saut Randi membuat Sandi menghentikan langkahnya.
"Ngobrol sama Bunda?" Sandi mengernyit, kenapa bisa Sasa ngobrol dengan Tara, ada urusan apa. Padahal setahunya mereka tak saling kenal.
"Iya,"
"Terus kamu tahu mereka ngobrol apa?" tanya Sandi mencari tahu lebih banyak.
"Gak tahu." Randi mengangkat bahunya. "Aku sama bunda disuruh masuk kedalam. Jadi aku gak bisa denger apa - apa. Tapi habis ngobrol sama tante itu bunda langsung pergi terus nangis lagi."
"Oh iya? Bundamu nangis? kenapa?" Sandi semakin mengernyit dan wajahnya berubah mengeras mendengar Tara yang menangis gara - gara Sasa.
__ADS_1
"Gak tahu." Lagi - lagi Randi bilang tidak tahu. "Tapi, kata mami, tante itu jahat, kalau aku ketemu dia, aku disuruh kabur."
"Kenapa mamimu bilang gitu?" Sandi semakin mengernyit.
"Gak tahu mami. Mami juga bilang, katanya aku disuruh minta belikan hp juga ke Om, jadi kalau ada apa - apa aku bisa langsung telpon bunda, mami atau Om." ungkap Randi membuatnya semakin terpengarah sambil mengusap kasar wajahnya. Sepertinya ada hal yang tidak beres sudah terjadi antara Tara dan Sasa.
"Ran," Sandi menatap lekat anaknya. "Apa tante tadi ngancam bunda?"
"Gak tahu." Lagi - lagi Randi mengangkat bahunya.
"Om, tapi apa tante itu beneran jahat? soalnya aku takut sama tante itu." kata Randi polos.
Sandi tersenyum tipis ditengah kekhawatirannya. "Meskipun tante itu jahat, kamu gak usah khawatir. Sekarang ada Om Sandi disamping kamu. Kalau dia macem - macem nanti Om yang balesin. Ok?"
Yang penting sekarang membuat Randi tenang dulu. Nanti urusan Sasa bisa dicari tahu lewat Tara atau ke Kila langsung.
"Terus Om, boleh gak aku tanya lagi?" tukas Randi yang kini wajahnya berubah sedikit muram.
"Iya, mau tanya apa?"
"Om, apa bener Om Sandi itu papaku?" tanya Sandi, langsung merubah wajah Sandi ikut muram.
"Iya, Om Sandi papa kamu." jawab Sandi lirih yang matanya bergetar, karna ditanyai anaknya.
"Kalau Om beneran papaku, kenapa bunda bilangnya papaku udah meninggal? apa karna Om Sandi dulu gak suka sama aku sama bunda terus pergi?"
"Enggak. Om gak pergi. Om malah cari kalian kemana - mana. Tapi gak ketemu - ketemu, dan baru sekarang Om bisa ketemu sama kamu sama bunda."
"Berarti kalau gitu, Om gak pernah ninggalin kita?"
"Iya, Om gak pernah tinggalin kamu sama Bunda. Om sayang sama kamu sama bunda. Jadi Om gak mungkin ninggalin kalian." jawab Sandi menatap lekat pada anaknya dengan pandangan berharap agar Randi bisa mengerti.
"Om Sandi sayang banget sama kamu. Maafin Om, karna kita baru bisa ketemu." ucap Sandi lirih dengan mata yang sudah memerah dimana air mata siap keluar lagi. "Kamu mau kan maafin Om?"
Randi diam sejenak. Dia menatap lekat lelaki yang sedang jongkok di hadapannya. Wajah lelaki itu begitu muram dan hendak menangis. Tak tega, Randi pun mengangguk secara perlahan.
__ADS_1
"Iya, Pa ..." seru Randi, memanggil Sandi dengan sebutan Papa. Membuat Sandi tak kuasa menahan air matanya dengan bibir yang tersenyum lebar.