
Bu Yanti duduk sendiri di meja makan. Terlihat raut kecewa diwajahnya saat itu. Bu Yanti kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan memandangi foto Tara yang tersimpan di galeri hpnya.
Sayang sekali, gak ada yang setuju dengan idenya. Padahal menurutnya meskipun Tara sudah punya anak, dia adalah wanita yang baik dan cocok dengan anaknya yang punya sifat keras hati. Tapi, meskipun begitu, Bu Yanti tak mungkin memaksakan kehendaknya jika anak dan semua keluarganya tak ada yang mau. Jadi saat itu Bu Yanti hanya bisa menghela nafas pasrah.
Sore sudah datang, Randi mulai mengemasi barang - barangnya untuk bersiap pulang.
"Ran, ini kamu bawah pulang, ya ..." Bu Yanti menjulurkan paparbag ke Randi. "Oma punya cookies, bisa kamu makan dijalan atau kalau udah sampai rumah."
"Terima kasih Oma..."
Bertepatan dengan itu terdengar suara pintu kamar baru saja dibuka membuat Randi dan Bu Yanti yang tak jauh dari sana menoleh. Dari dalam kamar keluarlah Sandi sudah memakai jaket dan juga menggenggam kunci mobil miliknya.
"Ma, aku pulang dulu." pamit Sandi dengan wajah datar seolah tampak masih marah.
"Udah mau pulang? kamu gak mau nginep aja?" saut Bu Yanti.
"Enggak, aku masih harus cek pekerja yang di mall."
"Em, kamu mau ke mall?"
"Iya."
"San, kalau gitu, Mama titip Randi boleh ya? Tolong sekalian kamu anterin dia pulang." Bu Yanti yang tiba - tiba punya inisiatif, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Tara dengan cara yang disamarkan ini.
"Ma!" Sandi mengernyit dan wajahnya berubah masam.
"San, Mama minta tolong karna rumahnya kebetulan searah sama tujuanmu." timpal Bu Yanti.
"Ma, aku masih banyak kerjaan!" dengus Sandi.
"San, Mama cuma minta tolong sebentar. Lagian apa salahnya cuma nganterin aja kok." timpal Bu Yanti cepat. "Kamu itu jangan salah paham. Mama udah gak berusaha jodohin kamu sama ibunya Randi, Mama udah nyerah. Mama paham, sudah gak mungkin karna dia udah punya anak dan kamu masih lajang. Jadi Mama minta kamu tolong anterin dia pulang. Kasian Randi San kalau harus naik taksi sendirian soalnya Pak Ono lagi keluar jemput papamu."
"Ma!."
"San, please ..." potong Bu Yanti sambil mengkode melirik Randi supaya Sandi ikut menatapnya dan melihat ekspresi Randi yang polos.
Sandi melirik sejenak pada Randi seperti perintah ibunya. Hembusan nafas kasar terdengar dari hidungnya. Sandi kemudian membuang mukanya yang mengeras dan masam. Hatinya serasa kesal sampai ubun - ubun karna tak bisa membantah kehendak ibunya kali ini. Wajah Randi tampak sendu dan polos dimatanya. Sedikit membuat hatinya jadi tak tega.
Sekarang, ayah dan anak itu sudah dalam perjalanan. Saat itu, Randi terlihat santai menikmati cookies pemberian Bu Yanti. Tak peduli dengan sikap orang dewasa yang duduk disampingnya dengan wajah datar.
__ADS_1
"Enak?" tanya Sandi melirik Randi dimana remahan cookiesnya sudah berantakan di dalam mobilnya.
"Enak, Om mau?" Randi menyodorkan toples yang berisi cookies.
"Enggak." jawab Sandi cepat dengan nada datar dan membuang muka kedepan, memperhatikan jalanan yang ramai lagi.
Dapat reaksi seperti itu, Randi perlahan menarik tangannya. Wajahnya berubah kecewa dan takut. Pelan - pelan Randi kemudian menutup toples cookiesnya dan meletakkan didasbor mobil. Dia kemudian meraih tisu didekatnya dan mulai membersihkan semua remahan yang bercecaran.
"Kamu ngapain?" tanya Sandi melihat Randi yang tiba - tiba jongkok dibawah kursi.
"Bersihin remahan, biar gak kotor." saut Randi yang berubah muram menatap Sandi sejenak.
"Jangan. Gak usah!"
Randi tak mengidahkan.
"Om bilang jangan. Gak usah dibersihin. Biar nanti Om bersihin sendiri."
"RANDI!." Sandi sedikit membentak.
"Tapi, Om," Wajah Randi merebak. "Kalau ini gak aku dibersihin, Om marahkan ke aku?" tanyanya polos dengan suara yang bergetar dengan air mata yang sudah siap jatuh kapan saja.
Sandi tersentak. Tak disangkah reaksi Randi jadi seperti ini.
"Oke, kamu lanjutin..." ucapnya yang kali ini dengan nada halus.
Sandi menarik nafasnya kasar. Pandangannya menatap jauh ke jalan. Hatinya sedang merasa bersalah pada anak kecil yang masih jongkok membersihkan remahan dari cookiesnya. Tak seharusnya dia melampiaskan rasa kesalnya pada Randi. Padahal Randi hanyalah seorang anak kecil yang tak tahu apa - apa.
Untuk mengurangi rasa bersalahnya. Sandi kemudian memutar setir dan menghidupkan sein, berbelok ke sebuah mini market yang ada disalah satu pinggir jalan.
"Ayo ikut Om." Ajak Sandi ditengah tangannya yang sibuk mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman.
Masih berwajah muram, Randi menuruti perkataan Sandi. Anak kecil itu lantas melepas sabuk pengamannya dan kemudian membuka pintu menuruni mobil mengikuti Sandi dari belakang yang baru saja masuk dalam mini market.
"Kamu mau beli apa?" tanya Sandi yang berdiri disamping Randi didalam mini market tapi Randi menggeleng.
"Kamu suka mobil - mobilan?" tanya Sandi yang tiba - tiba ingat ,dulu Sofia sempat meminta agar dibelikan mobil - mobilan yang akan diberikan pada salah satu teman lelakinya. Dan hari ini besar kemungkinan kalau teman lelaki yang dimaksud Sofia adalah Randi.
Randi mengangguk, tapi kemudian langsung diralat dengan gelengan lagi, karna merasa tak ingin lebih merepotkan Sandi. Sedangkan Sandi tersenyum tipis melihat Randi yang langsung meralat jawabannya. Tanpa berkata apa - apa, Sandi kemudian berjalan ke rak mainan diletakkan.
__ADS_1
"Kamu mau ini?" tawar Sandi yang saat itu langsung meraih mobil - mobilan kecil hotwheels yang kebetulan saat itu adalah edisi terbaru.
"Wah ..." kata Randi cepat, merebut mainan ditangan Sandi.
"Ini itu edisi yang terbaru Om." Randi menatap Sandi lekat dengan wajah yang berubah dari sebelumnya muram langsung antusias.
"Ini udah dikeluarin 2 bulan lalu."
"Tapi ini aku belum punya Om."
"Kamu mau itu?"
"Mau..." Randi mengangguk cepat.
Lagi - lagi Sandi tersenyum tipis. Dia kemudian meminta kembali mobil - mobilan yang ada ditangan Randi untuk dibawah ke kasir untuk dibayar san setelah itu ayah dan anak itu kembali melanjutkan perjalanannya pulang.
Sepanjang perjalanan, Randi tampak bahagia. Dia juga begitu fokus pada mainan yang sudah sejak dulu sangat diidam - idamkan. Melihat reaksi Randi yang kembali ceria Sandi pun puas.
"Om, terima kasih, ya ... sudah belikan ini. Besok kalau kita ketemu, uangnya pasti aku ganti." kata Randi yang tampak begitu polos dimata Sandi.
"Emangnya kamu punya uang mau ganti itu?"
"Punyalah, aku punya banyak uang."
"Uang mamamu" timpal Sandi.
"Bukan. uangku sendiri." Randi menjawab cepat. "Aku dapat hadiah dari cerdas cermat."
"Masak?"
"Iyaaa. Aku kemarin menang juara 1 lomba cerdas cermat terus aku dikasih uang 5 juta. Jadi sekarang uangku banyak."
"Oh ya? masak sih?" Sandi masih tak percaya.
"Iyaaaa. Om coba tanya sama Oma, orang Oma juga jurinya, kok."
"Oh ya? Mamaku?" tanya Sandi memastikan dan Randi mengangguk cepat beberapa kali. Tapi kemudian Sandi ingat kalau memang yayasan yang dipimpin ibunya memang lagi gencar - gencarnya memberikan beasiswa pada anak - anak yang berprestasi.
"Wah, hebat dong kamu kalau bisa jadi juara."
__ADS_1
Dan dijawab Randi dengan sedikit mengangguk sambil menggerakkan alis urunkan naik dengan gaya sedikit sombong. Sementara Sandi kembali tersenyum yang kali ini, tersenyum lepas menunjukkan lesung pipitnya yang manis.