
Setelah mengantar Tara dan Randi pulang. Bu Yanti dan Sofia melanjutkan perjalanannya pulang kerumah. Sekitar 1 jam perjalanan, mereka akhirnya sampai dirumah. Sofia berlari riang turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Ommm Saaannndddddiiiiiiiiii ..." jeritnya ceria saat berlari kearah Sandi yang saat itu berdiri di depan kulkas yang ada di dapur hendak mengambil minum.
Sekejab, Sofia langsung memeluk pinggang Sandi dan bergelantung manja sementara Sandi menanggapi Sofia dengan datar.
"Om capek jangan manja!" celetuk Sandi datar dengan wajah dingin.
Ditatap dingin, Sofia pun perlahan menjauh diri dari Sandi.
"Sofia, kangen sama Om." ungkap gadis kecil itu dengan mata yang sudah merebak menahan tangis, tapi walaupun begitu Sandi tidak peduli dan malah meninggalkan Sofia begitu saja.
Bu Yanti yang berdiri tak jauh dari mereka langsung sigap berjalan ke cucunya untuk memberi pengertian agar Sofia tak menangis sambil menatap anaknya kesal.
"Sofia, ganti baju dulu ya ... Om Sandi juga baru datang, mainnya nanti aja" kata Bu Yanti menggiring Sofia masuk kekamarnya.
Beres dengan urusan Sofia. Bu Yanti kemudian pergi ke kamar Sandi. Saat dia masuk, Sandi sedang beres - beres barangnya, memasukkan semua baju dalam lemari ke dalam koper yang diletakkan di atas kasur.
"San, kamu ini jangan gitu dong ke Sofia, masak setiap kali dia pengen deket sama kamu, kamu selalu gitu?" Omel Bu Yanti yang sudah berdiri di samping putranya yang tak bereaksi dan fokus pada kegiatannya.
"San, Sofia itu gak tau apa - apa. Dia itu masih kecil. Jangan sampai kamu ngerusak mentalnya gara - gara sikap kamu ke dia. Dan juga San, ini sudah bertahun - tahun lamanya sikap kamu berubah jadi dingin gini. Oke kalau ke Mama ke Papa, Mita, Pak Romy, Gilang atau siapa pun itu orang yang kamu temui kamu bersikap dingin. Tapi Mama minta tolong, tolong jangan kalau ke anak kecil, ya ..." pinta Bu Yanti memegang lengan Sandi dan menatapnya memohon.
Sandi hanya melirik dingin sejenak dan menghembuskan nafasnya panjang. Dan kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya membereskan barang - barangnya.
"Kita makan dulu sebelum kamu pergi, Mama minta kamu sapa Sofia dulu meskipun cuma basa basi" ucap Bu Yanti tegas sebelum kemudian pergi sementara Sandi tetap berwajah datar.
Sandi datang saat di meja makan sudah ada Pak Dani, Bu Yanti dan Sofia yang sudah makan lebih dulu. Sandi kemudian duduk dikursi yang berhadapan dengan Bu Yanti dan Sofia, Sedangkan Pak Dani duduk dikursi kepala meja.
__ADS_1
"Kamu jadi pindah sekarang?" tanya Pak Dani beberapa saat kemudian setelah Sandi menyantap makannya.
"Iya" jawab Sandi datar.
"Jadi di apartemen mana? Hanna atau yang Graha indah?"
"Graha"
"Meskipun kamu pindah, Papa minta kamu setiap weekend kesini. Karna setiap weekend Papa minta kamu melaporkan perkembangan mall cempaka. Papa dengar dari Pak Romy katanya separuh dari gedungnya sudah gak layak dan harus segera di renovasi, hasil inspeksi juga jelek."
Sandi tak menjawab dia hanya bermuka datar dan terus saja makan. Bu Yanti yang memperhatikan hanya bisa menarik nafasnya dalam sambil menyuapi Sofia makan.
Sandi menyelesaikan lebih dulu makannya. Saat minum pandangannya bertemu pandang dengan Sofia yang menatapnya penuh harap bisa disapa oleh pamannya meskipun hanya sepatah kata.
"Ayo ikut Om" perintah Sandi pada Sofia karna tak tahan ditatap dengan wajah polos ponakannya.
"Sekarang kamu pilih apapun yang kamu mau, asalkan jangan coklat" kata Sandi masih dengan nada datar tapi tetap membuat Sofia bahagia karna bisa membeli sesuatu yang sangat diinginkan.
"Mobil - mobilan boleh Om?" tanya Sofia dengan senyum lebar.
"Mobil - mobilan?" Sandi mengernyit heran.
"Iya, Sofia mau beliin Kak Randi mobil - mobilan" jawab Sofia dengan wajah polos.
"Kak Randi?" Sandi semakin mengernyit. "Gak boleh! jangan pacaran - pacaran kamu masih piyik, udah pacaran - pacaran!" Sandi tegas.
"Iiiih, Om Sandi, yang pacaran itu siapa??? Kak Randi itu Kakakku, dia baik suka menolong jadi harus dikasih hadiah" teriak Sofia kesal.
__ADS_1
"Enggak tetep gak boleh! Om Sandi belikan buat kamu bukan buat pacar kamu. Beli yang lain."
"Aku itu gak pacaran! pacaran - pacaran" Sofia cemberut.
"Mau Om Sandi beliin atau kita pulang aja?" Sandi menatap Sofia yang cemberut.
Merasa tak akan menang melawan Omnya, Sofia kemudian berjalan ke rak lain dan kemudian mengambil krayon buku gambar. Wajahnya tetap cemberut dan terlihat sedikit marah. Merasa cukup, dan Sofia tak meminta hal lain. Sandi kemudian membayar krayon dan buku gambarnya lalu kemudian keduanya pun kembali kerumah.
Mobil baru saja berhenti di depan rumah. Mesin juga belum dimatikan tapi Sofia sudah membuka pintunya karna ngambek.
"Om Sandi jahat, Sofia gak mau sama Om Sandi lagi!" hardik Sofia dengan muka masamnya dan berlalu pergi begitu saja.
Dapat hardikan dari Sofia, wajah Sandi yang tadinya dingin berubah jadi mengeras dan perlahan muram. Ditariknya nafas kasar dari hidungnya dengan diiringi menyandarkan kepala ke kursi mobil. Matanya perlahan memejam erat. Rasa luka dihatinya masih belum sembuh.
Sudah 10 tahun sejak ditinggal Tara tanpa kabar Sandi menjalani hidupnya seperti seseorang yang mati rasa. Hidup yang penuh semangat sekarang hilang berubah jadi seseorang yang begitu dingin. Rasa trauma begitu menggrogoti jiwanya. Apa alasan sebetulnya Tara sampai tega meninggalkannya? apa rasa bosan atau sudah tak tahan karna dia tinggal jauh terlalu lama? atau pikiran bagaimana jika kabar kehamilan Tara itu memang benar? apa dia melahirkan anaknya? apa Tara merawat anaknya seorang diri? atau malah sebaliknya Tara sudah menggugurkan kandungannya dan hidup bahagia dengan orang lain? yang pasti, hatinya sangat ingin tahu kabar dari gadis yang sudah sangat dia cintai itu.
tok ... tok ... tok ...
Suara kaca mobil diketuk oleh Sofia, membuyarkan lamunan dan pikiran Sandi didalam mobil. Sandi yang baru sadar, kemudian mematikan mesin mobilnya dan berjalan keluar menghampiri Sofia yang memandangnya dengan tatapan penyesalan.
"Om Sandi, maafin Sofia ya ... jangan marah lagi" kata Sofia dengan wajah sedikit tertunduk.
Sandi menatap sejenak keponakannya yang lucu itu. Tanpa menjawab dia kemudian mengacak - ngacak rambut Sofia sebagai tanda bahwa sudah memaafkan dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Sofia begitu saja.
"Om Sandi, Sofia sayang banget sama Om Sandi" seru Sofia yang paham maksud Sandi dengan suara lantang.
Sandi tersenyum simpul tanpa menoleh kebelakang. Dia juga terus berjalan masuk kerumah dan kemudian masuk kedalam kamar.
__ADS_1