
Peringatan! di episode ini mengandung adegan 21+
Jadi reader harap bijak ya ...
*****
Sepasang kekasih tersebut sampai dihotel. Kebetulan hotel yang diinapi Sandi pintunya menghadap ke bibir pantai, jadi tak perlu repot - repot berputar lewat loby saat masuk.
"Bentar ya, aku mandi dulu." Ucap Sandi diselah bersinnya sesaat sesudah mereka masuk dalam kamar hotel.
Terdengar gemericik air mulai mengalir dari dalam kamar mandi. Tara yang sendirian dan tak punya aktivitas menghabiskan waktunya dengan memperhatikan sekeliling isi kamar.
"Huft ..." desis Sandi membuang nafasnya lega selepas mandi.
"Yang, aku mau pesen sesuatu. Kamu mau apa? biar aku pesenin" tanyanya kemudian yang kini sudah berdiri memegang gagang telpon.
"Em. Teh anget, sama nasi goreng boleh?"
Sandi mengangguk. Kemudian menghubungi nomor restaurant hotel yang tertera di atas meja.
"Mas Sandi udah enakan?" tanya Tara yang sudah tak melihat Sandi bersin - bersin lagi hanya saja hidungnya masih tampak merah.
"Udah. Aku emang suka gini kalau kena air hujan langsung pilek tapi kalau udah mandi langsung ilang" jawabnya sambil menjulurkan kaos berwarna putih kehadapan Tara. "Ini, bajumu basah biar gak masuk angin"
Tara menengada, dia menerima baju yang disodorkan Sandi dan kemudian memakainya di kamar mandi.
"He, kebesaran ya?" ucap Sandi saat Tara baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya ..." Jawab Tara memperlihatkan lengannya yang tampak kedodoran.
"Biarin deh pakai aja meskipun besar dari pada masuk angin terus sakit, bikin aku jadi khawatir"
Tak lama berselang, bel kamar berbunyi. Minuman dan makanan yang dipesan datang diantar pelayan.
Setelah selesai makan. Sandi dan Tara duduk berdampingan di sofa dengan posisi Sandi sudah merangkul Tara dan Tara bersandar di dada Sandi.
"Mas Sandi kok udah pulang? kemarin katanya 3 bulan. Emang, urusan disana udah selesai?"
"Masih belum. Cuma beberapa yang beres, masih lebih banyak yang belum selesai" jawab Sandi sembari memainkan jemari Tara.
"Kalau belum selesai kok pulang?" Tara sedikit menengok kebelakang untuk menatap sejenak wajah Sandi.
"Ya, soalnya udah kangen berat sama kamu" Sandi menoel hidung Tara membuat Tara tersenyum.
"Terus kapan balik lagi ke korea?" Tara menyandarkan lagi kepalanya di dada Sandi.
"Lusa."
"Lusa? Hem, sayang banget kalau gitu."
"Kenapa? sedih ya? karna cuma bisa ketemu sebentar?" Sandi mencondongkan tubuhnya untuk bisa menatap wajah Tara.
"Enggak, bukan itu maksudnya."
__ADS_1
"Bukan?" Sandi mengernyit dan menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi memainkan jemari Tara. "Terus?"
"Maksudnya, yang sayang itu ongkosnya. Pastikan mahal, pulangnya juga cuma 2 hari. Nanggung."
Membuat Sandi semakin mengernyit.
"Terus kalau cuma 2 hari emang kenapa? yang penting kan kita bisa ketemu"
"Ya tapi kan sayang. Dari pada ongkosnya mubadir mending uangnya dikumpulin terus dipakai yang lebih bermanfaat"
Wajah Sandi berubah kesal.
"Ini kan juga bermanfaat Taraku sayang. Kita bisa ketemu. Bisa melepas kangen. Bisa pacaran gini terus menikmati waktu berdua yang belum sempet kita nikmati selama ini"
Sandi menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Tara lalu menatapnya curiga dengan wajah kesalnya.
"Jangan - jangan sebenernya, kamu ini gak seneng ya aku datang?"
"Lo kok gitu?" Tara yang jadi ikutan kesal.
"Ya kamu, aku pulang malah itung - itungan"
"Ya gak itung - itungan gimana? uang ongkos yang dikeluarin kan gak dikit. sayangkan? Kan lebih baik uangnya disimpen dari pada buat beli tiket pesawat yang mahal. Belum lagi capeknya. Capeknya belum ilang udah berangkat lagi. Toh nanti kalau udah 3 bulan, setelah urusan Mas Sandi selesai kita juga bisa ketemu"
"Tuh kan kamu gak seneng. Kamu masih itung - itungan padahal bagiku itu hal yang memang harus dibayar biar bisa bareng kamu" Sandi mendengus, wajahnya cemberut.
Tara menghembuskan nafasnya keras menahan agar tetap sabar. Toh ini dilakukan sebetulnya juga untuk membahagiakan dirinya.
"Tuh kan bener kamu gak suka kalau aku datang"
"Mas, jangan muter - muter omongan deh." Tara menatap jutek Sandi yang ada disampingnya tapi Sandi tak bergeming dan masih ngambek.
"Ya udah kalau masih mau ngambek aku balik aja!" Tara yang kesal kemudian berdiri hendak kembali ke tenda tapi berhasil dicegah oleh Sandi hingga dirinya jatuh dipangkuan Sandi.
"Eh, mau kemana?" Sandi mengeratkan rangkulannya di pinggang Tara agar Tara tak bisa kabur kemana - mana.
"Mau balik! males. Baru ketemu udah diajakin ribut!" jawab Tara dengan wajah ketus tapi terlihat manis di mata Sandi.
"Jangan dong, ya .." Sandi sudah kembali ke mood semula sementara Tara masih mood jutek dan mengarahkan pandangannya ke sisi lainnya. tak mau menatap Sandi.
"Disini aja, ya ..." desis Sandi yang terdengar manja.
Melihat kekasihnya tak bergeming dan masih ngambek Sandi kemudian menggodanya. Ditiupnya telinga Tara yang ada dihadapannya hingga membuat bulu kuduk Tara berdiri.
"Mas," Tara akhirnya bereaksi.
"kenapa?" Sandi tertawa menggoda dan kembali meniup.
"Mas Sandi!" Tara melotot membuat Sandi semakin ingin menggoda.
"Mas Sandi! Ih! udah, cukup. Kalau enggak aku pulang beneran nih!." Ancam Tara saat sudah berhasil melepaskan dirinya dan kini berdiri dibelakang sofa tak jauh dari Sandi.
"kenapa sih orang aku gak ngapa - ngapain" jawab Sandi tertawa.
__ADS_1
"Pokoknya udah! atau aku beneran pulang" ancam Tara dengan nada ketus.
"Iya, iya udah ... sekarang kamu sini" Sandi memukul sofa disampinganya agar Tara duduk disampingnya.
Tara tampak ragu. Ditatapnya Sandi yang masih tertawa dengan curiga. Secara perlahan Tara mendekat tapi begitu melihat Sandi bereaksi hendak menangkapnya Tara langsung lari menghindar.
Mereka jadi kejar - kejaran seperti kucing dan tikus hingga tak berselang lama Tara berhasil ditangkap dan digelitiki hingga gadis itu jatuh kekasur.
Sisa tawa masih menghiasi keduanya saat mata mereka bertemu. Sandi yang posisinya berada di atas Tara kemudian mengusap lembut pipinya.
"Huh, dasar." Tara memukul dada Sandi pelan karna sedari tadi mengganggunya.
"Emangnya kenapa sih?" tanya Sandi menghentikan pukulan itu dan menatapnya lembut.
"Capek tahu."
"Sama..." Sandi tertawa.
Suasana berubah menjadi hening dan canggung. Hanya terdengar gemericik air hujan dari luar saat keduanya saling beradu pandang menanti momen yang pas untuk berciuman.
Emuachh...
Kecupan hangat kemudian diberikan Sandi pada bibir Tara supaya tak berlama - lama lagi bertatapan.
Emuachhh...
Kecupan kedua.
Emuachhh...
Kecupan ketiga.
Emuachh... emuachh ... emuachh..
Kecupan bertubi - tubi yang sengaja diberikan hingga Tara tersipu malu.
"Mas Sandi, udah ah." Tara sedikit mendorong tubuh Sandi agar tak terlalu dekat.
"Kenapa?" Ucapnya yang kemudian kembali melayangkan ciumannya dengan sedikit ******* bibir Tara.
"Malu." desisnya setelah Sandi melepas ciumannya lalu ditutupi wajahnya yang sudah merona dengan telapak tangan.
Sandi menarik tangan Tara dan menggenggamnya sambil menatap lekat wajah kekasihnya itu.
"Tar, I love you ..." ucap Sandi membuat jantung Tara semakin berdegup kencang dan serasa melayang.
Eeemmmmuuuucccchhhhhh...
Kali ini sebuah ciuman yang dalam diberikan Sandi untuk melepas kerinduan yang selama ini ditahan.
Ciuman itu semakin lama semakin berani dan tak terkontrol menghilangkan akal sehat pemiliknya karna sudah dipenuhi oleh nafsu.
Dari ciuman itu, dimalam itu, ditengah suara gemericik hujan yang lebat, di dalam kamar hotel yang menghadap pantai, Tara dan Sandi memadu kasih, menyatukan diri, melakukan hubungan intim yang seharusnya tak mereka lakukan.
__ADS_1