Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 68


__ADS_3

Setelah dapat kabar kalau Randi menghilang. Sandi langsung memacu mobilnya menuju mall. Kakinya menginjak gas dengan dalam agar bisa segera sampai ditujuan. Dan cuma butuh waktu beberapa menit saja, mobil Sandi akhirnya sampai di baseman mall.


"San, gimana kok bisa Randi ngilang?" tanya Gilang ikut khawatir, dimana sedari tadi dia memang sengaja menunggu kedatangan sobatnya di pintu masuk.


"Gak tahu, lu tolong hubungi keamanan, gue mau periksa CCTV." saut Sandi dalam langkah kakinya yang cepat yang diselingi dengan berlari menuju butik lebih dulu.


"Tar," seru Sandi begitu melihat Tara yang tampak termanguh dengan air mata yang membasahi pipi.


"Mas, Randi ..." desisnya lirih dengan mata bergetar.


"Iya, kita cari Randi." saut Sandi memegang bahu Tara.


"Tapi, udah kalian cari disekitar sini, kan?" tanya Sandi.


"Gak ada Mas, bahkan aku udah muter berulang kali tapi tetep gak ketemu." saut Kila yang berdiri disamping Tara dengan wajah yang tak kalah cemas.


"Oke, kalau gitu kita periksa CCTV dulu."


Mereka bertiga kemudian pergi keruang keamanan dimana disana sudah ada Gilang yang menunggu.


Dengan teliti, mereka semua menonton setiap rekaman video yang ada di layar. Dan dari sekian banyak video yang ditampilkan, tak ada satu pun yang menunjukkan keberadaan sang anak.


"Huft," Sandi menghela nafas kasar dan juga mengusap wajahnya kasar. Sementara Tara terlihat gusar masih dengan air mata yang menetes di pipi.


"Jam berapa terakhir kalian liat Randi?" tanya Sandi pada Tara dan Kila.


"Selepas pulang sekolah." jawab Kila.


"Pak, tunjukkin rekaman di jam 1." perintah Sandi pada petugas keamanan.


Rekaman CCTV diundurkan ke jam 1. Dari rekaman itu, tampak Randi yang berjalan keluar butik menuju playground. Sampai di playground, Randi kemudian tampak bermain bersama dengan beberapa anak kecil lainnya. Sampai akhirnya, terekam sosok wanita yang datang mendekati Randi.


"Stop Pak, coba perbesar gambarnya di perempuan itu." seru Sandi lagi pada petugas keamanan.


Gambar CCTV diperbesar secara perlahan. Dan wajah wanita itu perlahan terdeteksi meskipun sedang menggunakan masker dan topi.


"San," pungkas Gilang, menatap sahabatnya.


Sandi kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dengan kasar, Sandi mengusap ponselnya dan menekannya untuk menghubungi Sasa. Namun saat itu, nomor Sasa sedang tak aktif.

__ADS_1


"BANGSAT!!!" umpat Sandi, mengatupkan gigi dan mengepalkan tangan, geram.


"Pak, putar lagi."


CCTV kembali diputar. Dalam video CCTV itu memperlihatkan, kalau keduanya sedang mengobrol untuk beberapa waktu. Dan entah apa yang dikatakan oleh wanita jahat itu. Randi terpedaya dan lantas mengikutinya pergi.


"Mas, itu Sasa kan? Sasa bener - bener bawah Randi kan mas? Mas, gimana kalau ada apa - apa sama Randi? Gimana kalau dia nyakitin Randi? Atau ngelakuin sesuatu yang aneh sama Randi. Mas, ayo cepet kita cari Randi Mas, Mas aku takut, apa yang diomongin dia ke aku -" seloroh Tara yang terpotong.


"Tar, kamu yang tenang. Kamu gak usah khawatir, Randi gak kenapa - kenapa. Karna aku pasti nemuin Randi." jawab Sandi, memegang bahu Tara supaya Tara lebih tenang.


"Tapi Mas, Sasa itu -"


"Iya aku tahu." saut Sandi memotong ucapan Tara lagi.


"Kil, kamu ajak Tara pulang dulu, tolong kamu tenangi Tara, aku sama Gilang mau cari Randi." tukas Sandi pada Kila.


"Enggak! aku gak mau. Aku mau ikut, aku gak bisa diem aja nunggu Randi yang gak tau dia gimana sekarang." saut Tara.


"Tar, ini bahaya kalau kamu ikut. Aku gak mau kalau sampai kamu kenapa - kenapa juga."


"Mas, aku ini ibunya. Aku gak bisa cuma nunggu." Tara menggenggam lengan Sandi. "Mas, aku ikut ..." pintahnya lirih.


"Ya udah, ayo ..." Sandi secara perlahan menurunkan tangan Tara yang mencengkram lengannya. Dan kemudian menggengamnya.


"Lang, salin CCTV ini dulu, terus cepet lapor polisi." perintah Sandi sebelum pergi.


Sandi dan Tara kini sudah berada di dalam mobil.


"Bar, gue butuh bantuan lu lagi." pekik Sandi yang saat itu menelpon Bara.


"Butuh bantuan apa bro? dari suaranya kayaknya mendesak banget?"


"Iya, tolong cari lokasi seseorang. Bentar lagi gue kirim nomor hpnya."


"Oh, oke, oke.."


"Gue butuh cepet Bar..." Yang setelah itu telpon pun dimatikan.


Sandi menatap Tara yang duduk disampingnya. Sekujur tubuh wanita itu tampak bergetar hebat karna terlalu cemas.

__ADS_1


"Jangan khawatir." Sandi menggenggam tangan Tara lagi. "Kita pasti bisa temuin Randi."


Tak begitu lama menunggu. Ponsel Sandi kembali bergetar. Saat itu, Bara menelponnya kembali.


"Hallo ..." saut Sandi.


"Bro, sorry gue gak bisa nemuin lokasi pasnya dimana. Soalnya sekarang nomornya lagi gak aktif. Tapi kalau dari trackingnya, kayaknya tadi dia jalan ke arah puncak."


"Puncak? puncak mana?"


"Gak tau, tapi yang jelas arah utara."


"Oke, thank Bar..." jawab Sandi yang langsung paham tempat yang dimaksud.


Sebelum menjalankan mobil. Sandi melepon Gilang lebih dulu.


"Lang, tolong cari info villa punya wiraka grup yang ada di puncak tirta. Sasa sekarang ada disana. Terus cepet lu susul gue sama polisi."


"Oke San." jawab Gilang yang kemudian langsung mengakhiri panggilan.


"Tar, pengangan." perintah Sandi karna akan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Beberapa waktu perjalanan. Melewati jalanan menanjak yang berkelok - kelok dengan kecepatan tinggi. Sandi akhirnya sampai didaerah vila milik wiraka grup.


Sandi menghentikan mobilnya dan memarkirnya dihalaman. Tapi sayang, belum sempat turun dari mobil. Tiba - tiba ada 2 orang penjaga yang menghampiri mereka.


"Mas, ..." desis Tara khawatir, melihat kedua penjaga yang bertubuh kekar.


"Iya, kamu jangan turun. Tunggu disini. Telpon Gilang, tanyain dia udah sampai mana." saut Sandi sambil melepas sabuk pengamannya dengan tatapan waspada. Dan kemudian dengan gentle turun dari mobil menghadapi kedua penjaga itu.


Tara mengikuti perkataan Sandi. Dia langsung menelpon Gilang. Tapi setelah itu, matanya terpengarah melihat pemandangan didepannya.


Sandi sedang berkelahi dengan kedua penjaga. Menyaksikan itu, Tara pun berteriak takut sekaligus khawatir. Beberapa kali Sandi dihajar oleh kedua penjaga tersebut sampai bibirnya terlihat berdarah. Tapi untungnya meskipun begitu, Sandi masih bisa melawan dan mengalahkan keduanya.


"Tar, ayo cepet turun..." ajak Sandi dengan nafas tersengal - sengal, setelah kedua penjaga itu limbung.


Tara dan Sandi berlari memasuki vila. Mereka berdua mencari - cari keberadaan Randi. Tapi kemudian, disatu ruangan. Sandi melihat sebuah bayangan.


Secara perlahan Sandi melangkahkan kakinya waspada dengan diikuti Tara dibelakangnya. Sandi mendorong pelan pintu ruangan tersebut. Dimana ternyata memang sudah ada Sasa yang duduk santai seolah memang sudah menunggu kedatangan keduanya.

__ADS_1


"Kalian, cepet juga ya sampai disini ..." pekik Sasa dengan senyuman lebar tapi tampak menakutkan.


__ADS_2