Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 39


__ADS_3

"Siang Pak ..." Sapa semua karyawan yang ada kantor managemen Mall pada Sandi yang baru saja tiba.


"Gilang dimana? suruh keruang meeting." Sandi yang berjalan cepat dengan wajah datar tak memperdulikan sapaan para karyawan yang menyambutnya, karna baginya memang biasanya begitu.


"Gas, laporan kontrak kontraktor" perintahnya lagi yang kemudian masuk kedalam ruang meeting. Sementara Bagas dengan sigap dan sedikit tertatih langsung mengikuti bosnya dengan membawa berkas yang diminta.


"Ini Pak laporannya, itu sudah saya tandai masalah - masalahnya." Bagas menjulurkan berkas yang dibawahnya.


"Oke, terus ini tolong kamu kerjakan, ini rancangan proposal kerja sama dengan Lion grup, Kamu pelajari." perintah Sandi tanpa menoleh dan masih fokus pada laporan Bagas tadi.


"Baik Pak." jawa Bagas yang kemudian keluar ruangan dan disaat itu sedikit membungkukkan badannya sambil senyum karna sedang berpapasan dengan Gilang yang hendak masuk.


"Gimana pengajuan tuntutan?" tanya Sandi sedikit melirik kearah Gilang baru masuk.


"Ada masalah, PT Hareski ternyata anak perusahaannya Wiraka grup." jawab Gilang menyodorkan berkas kehadapan Sandi, agar Sandi segera memeriksa.


"Wiraka?" Wajah Sandi mengeras dengan tangan yang bergerak menerima dokumen lalu memeriksanya.


"Iya, lu liat. Pemegang saham terbesar adalah Wiraka grup. Dan kontraktor yang kita kontrak sekarang juga anak perusahaan dia. Ini 2 hari lalu Wiraka baru aja ambil ahli. Jadi kalau kita terusin tuntutan, otomatis PT Beton bakal langsung mutusin kontrak kita secara sepihak dan kita harus cari kontraktor baru sedangkan kerjaan udah jalan."


Sandi berfikir keras sambil membolak - balik dokumen dihadapannya. Tampak juga tangan yang mengusap kasar wajahnya yang tampan.


"Kita tetap ajuin tuntutan. Suruh Bagas cari kontraktor lain buat jaga - jaga." putusnya kemudian.


"Huft, oke kalau gitu." jawab Gilang menghela nafas pasrah.


"Oh iya, hampir lupa, orang yang bersihin apartemen lu mau katanya, jadi mulai kapan lu mau dia kerja?" tanya Gilang yang kala itu berbalik lagi ketika hendak keluar dari ruang meeting.


"Besok." jawab Sandi datar sembari beranjak dari duduknya dengan dokumen ditangan pergi keluar dari ruang meeting.


***

__ADS_1


Hari itu, jam di dasbord mobil menunjukkan pukul 9 pagi. Sandi baru saja memarkir mobilnya di basemen apartemen. Wajahnya tampak letih dengan mata yang merah karna semalaman tak tidur. Sedikit sempoyongan Sandi berjalan masuk ke gedung apartemen dan menaiki lift untuk pulang ke unitnya.


Sandi melemparkan tas yang sejak tadi dijinjingnya ke sofa ruang tengah. Dia kemudian merebahkan badannya dengan posisi tengkurap di kasur yang ada didalam kamar. Sayup - sayup tak lama Sandi langsung tertidur pulas masih dengan stelan jas yang dikenakannya.


***


Dekat tapi terasa jauh. Adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan keberadaan Tara dan Sandi saat itu.


Hari itu, Tara baru saja sampai di apartemen kala sore menjelang. Dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi beberapa bahan untuk memasak, dia kemudian masuk kedalam apartemen setelah menekan tombol paswod di gagang pintu.


Tak sengaja mata Tara menangkap sepasang kaki yang masih mengenakan kaos kaki sedang bergelantung diatas kasur dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Kaki itu berasal dari seorang lelaki yang tak dikenalnya yang merupakan si pemilik apartemen. Pelan - pelan dan hati - hati, Tara lantas menutup pintu kamar agar tak mengganggu tidur sang majikan.


'Huft, itu pasti yang punya apartemen' batinnya yang tak tahu kalau pria tersebut adalah Sandi, sambil mengelus dada setelah berhasil menutup pintu.


Tara dengan cepat membersihkan apartemen. Menyapu, mengelap, cuci - cuci sampai memasak. Selama 2 jam akhirnya Tara bisa menyelesaikan semua pekerjaan. Apartemen sudah bersih dan beberapa makanan sudah tersaji di atas meja makan.


'Udah jam 6," batinya yang sedang duduk menunggu di sofa ruang tengah sambil melirik ke pintu kamar yang tak kunjung dibuka sang pemilik padahal dia sudah harus kembali untuk kerja di butik.


***


Tak terasa malam sudah kembali menjelang. Jam sudah jam 8 malam. Getaran ponsel yang berterus - terus membangunkan Sandi yang sedari pagi tidur tengkurap. Setengah sadar, Sandi mengintip nama yang muncul dilayar dengan menyipitkan mata.


"Hallo ..." kata Bu Yanti, sang penelpon.


"Hem, iya ma, ada apa?" tanya Sandi masih dengan setengah mengantuk.


"San, kamu kemana aja? dari tadi mama telpon kok gak diangkat - angkat?"


"Aku ketiduran ma,"


"Kok tumben? kamu sakit? atau habis kehujanan?"

__ADS_1


"Enggak Sandi gak apa - apa, cuma capek aja."


"Beneran kamu gak apa - apa? gak sakit kan?"


"Iya, aku gak apa - apa."


"Ya sudah kalau kamu gak apa - apa, syukur kalau gitu. Oh iya San, kamu besok hari minggu bisa kan pulang kerumah? Mita kan kemarin pulang, kamu belum ketemu sama dia, mama pengen kita makan siang bareng di hari minggu."


"Liat entar ma,"


"Jangan liat entar dong San. Mama tahu kamu lagi sibuk di kantor tapi kan hari minggu waktunya libur, meluangkan waktu buat makan siang sebentar untuk kumpul keluarga masak kamu gak bisa." Bu Yanti mulai ngomel, sementara Sandi cuma bisa garuk - garuk kening yang tak gatal malas mendengar.


"Oke, Sandi usahain." jawab Sandi mengiyakan saja. Tubuh dan pikirannya sudah lelah jadi tak ingin mendengar omelan yang sangat panjang dari mulut ibunya.


"Nah gitu dong, mama tunggu ya... jangan sampai kamu gak datang dan ingkar janji sama mama!" ingat Bu Yanti.


"Iya, iya."


Sandi cuma bisa geleng - geleng kepala selepas telpon itu berakhir. Begitulah ibunya dimata Sandi. Suka ngomel, memaksakan kehendak dan khawatir berlebih.


Sandi beranjak dari kasur dan lantas menghidupkan lampu kamar yang gelap. Dia kemudian meletakkan ponselnya di meja lalu melepas kaos kaki, jas, dasi dan sabuk yang sudah nyangkut ditubuhnya sejak kemarin.


Sandi membuka pintu kamarnya. Wajahnya langsung mengernyit saat melihat lampu apartemen yang sudah menyala. Tapi kemudian dia tahu kalau tadi pasti si pembantu yang datang menghidupkan lampu ketika melihat makanan sudah tersaji diatas meja.


Sandi mencium salah satu makanan dimeja. Baunya tampak normal dan juga harum di hidungnya. Setelah ditatapnya sejenak makanan yang ada di sendok, dia kemudian menyuapkannya kemulut.


"Hem, ..." gumamnya dengan mata melebar. Rasanya masakan dihadapannya begitu lezat dilidahnya.


Sandi yang dasarnya sudah lapar karna tidur seharian kemudian makan dengan lahap.


Pada dasarnya, Sandi baru kali ini saja merasakan masakan yang dibuat oleh Tara. Begitu banyaknya pekerjaan serta tuntutan hukum yang sedang di ajukan perusahaan membuat Sandi semakin sibuk.

__ADS_1


Sudah beberapa minggu ini dia selalu pulang malam dan berangkat dipagi buta. Jadi karna itu, tak sedikit pun Sandi menyentuh makanan yang sudah disiapkan Tara selama ini. Jangankan menyentuh melirik makanan pun tak pernah. Dan makanan yang dibuat berakhir di tong sampah atau kadang dibawah pulang oleh Tara esok harinya.


__ADS_2