
BRAKKKK...
suara meja, digebrak dengan kuat oleh Sandi, Sampai membuat orang yang duduk di hadapannya tersentak.
"Arrgghhhh ... Apaan sih San? bikin kaget aja!!" dengus Gilang, seolah jantungnya mau copot ketika mendengar gebrakan meja dari Sandi.
"Aiiishhhh!!!" Sandi mengucel - ngucel rambutnya karna frustasi.
"Ada apa sih? sedari tadi kayak orang frustasi? kenapa? ada masalah sama acara launching besok?" tanya Gilang cemas.
"Lang, menurut lu, masuk akal gak? kalau gue tuh udah nikah. Nikahnya udah seminggu yang lalu, tapi sampai sekarang, aku sama Tara masih belum bisa ngapa - ngapain? Bahkan buat pelukan sama ciuman aja susah."
"Aissshhh! Dasar! gue kirain apa. Gue kirain lu dari tadi mikirin prima toserba yang mau launching besok. Ternyata lagi mikirin begituan!." timpal Gilang jadi kesal sendiri.
"Lang enaknya gue harus gimana biar bisa berdua sama Tara? Lang, lu tahu gak, setiap kali gue berdua sama Tara, Randi selalu datang. Setiap malem, Randi juga selalu minta tidur sama kita. Kan, gue jadinya sama Tara jadi gak bisa ngapa - ngapain..." ungkap Sandi frustasi sambil menggosok - gosok rambutnya hingga tampak berantakan.
"Ckckkckc, dasar! bisa - bisanya, frustasi gara - gara begituan. Lu kalau ceritanya ke gue juga percuma, gue belum punya pengalaman. Jadi gue gak bisa kasih solusi."
"Huft!! gak bisa. Ini udah gak bisa." gerutu Sandi sendiri. "Lang, mulai besok gue cuti 3 hari. Tolong lu urus semua kerjaan ini semuanya sendiri dan jangan ganggu gue selama 3 hari kedepan." seru Sandi sambil memakai jasnya yang sedari tadi diletakkan di kursi.
"Eh, enak aja, besok launching toserba woy ... gila lu ya! jangan macem - macem lu!." pekik Gilang tak sabar.
"Bodoh! terserah lu. Lu urus sendiri!." jawab Sandi melangkah pergi keluar dari dalam kantor. Meninggalkan Gilang yang sedang menggerutu dan memaki - maki sendirian.
****
Esok harinya. Di pagi hari, Mita dan Sofia sudah berada di apartemen Sandi. Mereka sedang menunggu Randi berkemas.
"Ran, jangan nakal ya, kalau main jangan jauh - jauh, kamu biasanya kalau udah ditempat baru suka ngilang. Jangan sampai nanti Oma sama Tante Mita bingung cari kamu." pesan sang ibu sambil menutup resleting koper yang sudah terisi penuh.
"Iya, bunda. Bunda tenang aja..."
"Awas lo, dengerin pesannya bunda." pekik Tara lagi yang wajahnya masih cemas.
"Iya, iya bundaku sayang, aku ngerti..." jawab Randi, lagi sedikit ditekan.
"Gimana udah selesai?" tanya Sandi.
"Udah Pa," saut Randi yang mana kemudian koper itu, dibawahkan sang papa.
"Mit, titip Randi ya ..." seru Sandi pada sang adik yang terlihat jengah. "Kalau pulang jangan cepet - cepet ..." bisiknya kemudian.
__ADS_1
"Iiihhhh, dasar!" dengus Mita semakin jengah. Membuat sang abang malah cengengesan.
"Ya udah yuk Ran, kamu udah siap kan?" tanya sang tante.
"Udah tante..."
"Ya udah, berangkat yuk. Tar, aku berangkat dulu ..." seru Mita berpamitan pada Tara. Sedangkan kalau ke Sandi malah melengos sambil lirikan tajam.
"Hahaha, ati - ati ya Mit, gak usah keburu - buru, nikmatin aja liburannya ..." seru Sandi melambaikan tangan kepada semuanya.
Setelah mengantar sang anak dan sang adik ke depan pintu. Tara dan Sandi pun kembali masuk kedalam rumah.
"Mas, udah mau berangkat?" tanya Tara menoleh pada Sandi yang berjalan dibelakangnya.
"Enggak, aku udah cuti, 3 hari." jawab Sandi, memeluk Tara dari belakang dengan kepala yang sengaja diletakkan dibahu sambil mendorong tubuh wanita itu untuk terus masuk kedalam rumah.
"Lo, bukannya hari ini ada acara lounching toserba, ya?"
"Iya, biarin Gilang yang ngurus. Soalnya 3 hari ini, aku cuma mau sama kamu berdua..." bisik Sandi, yang kemudian ditiupnya telinga sang istri hingga membuat Tara geli.
"Ehh..." Tara menyentuh daerah sekitar telinganya yang ditiup. "Jangan ditiup, geli ..."
Sandi kembali meniup telinga Tara.
"Kan, biar merangsang..." ucap Sandi dengan nada genit.
"Ih,... Mas Sandi jangan mesum!."
"Biarin, aku udah gak tahan..." Desis Sandi, yang langsung menggendong Tara kedalam kamar.
"Eh, Mas Sandi..." seru Tara yang sedikit tersentak karna tiba - tiba digendong.
Sandi meletakkan sang istri secara perlahan diatas kasur. Bibirnya sudah sibuk memungut bibir Tara dengan hikmat sejak tadi. Begitu juga dengan Tara yang membalas ciuman itu sambil memejamkan mata hingga membuatnya terhanyut.
Sandi melepas sejenak pungutannya untuk melepas baju mereka satu - satu. Bibirnya tersenyum simpul karna sang istri yang sudah tak memakai baju sehelai pun dihadapannya. Apalagi nafas berat yang terlihat naik turun di dadanya, membuatnya semakin bergairah. Tak mampu mengulur waktu lagi, Sandi pun kemudian mulai menggulati tubuh sang istri. Apa yang bisa dicium, dia cium dan apa yang bisa disentuh dia sentuh. Hingga nafas keduanya tampak terengah - engah karna rasa lelah menjalar keseluruh tubuh.
***
"Yang, kamu gak mau kuliah lagi?" tanya Sandi selepas keduanya membersihkan diri dari pergulatan mereka tadi.
Saat itu keduanya sedang menikmati melon sambil nonton TV di ruang tengah. Dimana posisi Tara sedang didekap dan seluruh tubuhnya menyandar ke tubuh Sandi yang duduk dibelakangnya.
__ADS_1
"Kuliah, ngapain?" Tara mendongak sejenak, sambil menyuapkan sepotong melon ke mulut Sandi.
"Ya, siapa tahu kamu masih pengen kuliah lagi. Karna dulu, gara - gara aku, kuliah kamu jadi terbengkalai sampai kamu DO. Terus kamu juga harus merelakan cita - cita kamu sebagai dosen."
"Mas, itu kan dulu. Dan itu udah terjadi. Jadi biarin aja, jangan merasa bersalah."
"Ya tapi kan, kalau seandainya sekarang bisa diwujudkan kenapa gak diwujudkan. Kamu bisa kuliah sampai S3 terus nanti kamu juga bisa jadi dosen."
"Em, tapi sayangnya aku udah gak minat. Aku udah gak mau kuliah atau jadi dosen."
"Lo, kenapa?"
"Ya, karna emang udah gak pengen. Umurku udah 32 tahun dan otakku udah gak mampu kalau disuruh mikir tugas kuliah lagi."
"Kamu kok jadi pesimis gitu, belum juga di coba, kan?" kata Sandi membuat Tara memutar posisi duduknya kebelakang untuk menatap Sandi.
"Mas, bukannya aku pesimis. Tapi coba Mas Sandi bayangin. Kalau aku kuliah sekarang usiaku udah 32 tahun S1 4 tahun S2 dan S3 paling enggak juga 4 tahun. total jadi 8 tahun lama. Kalau gitu, nanti aku baru selesai pendidikan di usia 40 tahun. Itu udah tua banget. Sedangkan aku, aku harus jagain Mas Sandi, aku harus jagain Randi dan aku juga harus jagain calon anak kita yang lainnya lagi. Jadi, biarin aku tetep jadi istrinya Mas Sandi sama ibunya anak - anak, sama biarin aku tetep kerja di butik sama Kila. Itu udah lebih cukup buat aku."
"Kamu serius kamu gak bakal nyesel sama keputusan kamu?"
"Iya, aku yakin, yakin banget malahan." jawab Tara mantap. "Sekarang prioritasku cuma satu, yaitu keluargaku yang isinya, Mas Sandi sama anak - anak kita." imbuh Tara sambil merangkulkan tangannya ke leher Sandi. Lalu mengecup lembut bibir sang suami. Sementara yang dicium terlihat tersenyum.
"Ohhh ... kalau gitu, biar cita - cita kamu cepet terwujud, biar kita bisa cepet punya banyak anak, berarti kita harus kerja keras lagi dong ..." ucap Sandi genit, dengan tangan mulai membuka satu per satu kancing baju Tara.
"Eh, ngapain! Kita kan barusan aja selesai gitu!." seru Tara menghentikan tindakan sang suami yang terus melucuti bajunya.
"Kan, biar cepet jadi." Sandi tqk menggubris.
"Ya tapi gak sekarang juga! Bisa nanti lagi. Aku masih capek!." Tara merontah dan menangkis tangan Sandi. Tapi yang ditangkis tenaganya lebih besar hingga tak berhasil.
"Jangan ditolak, ini rejeki ..." seru Sandi mulai melancarkan aksi, meraba seluruh bagian tubuh sang istri.
"Mas, Sandi, berhenti!"
"Jangan!"
"Ih, Mas Sandi, nanti lagi!"
Rontahan penolakan itu, terus dilakukan Tara. Tapi, meskipun begitu, tak lama perlahan hilang berganti dengan ******* karna perlakuan sang suami. Tara dan Sandi kembali menyatukan diri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=End\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Thank you para reader, udah baca karya pertamaku.
Terima kasih juga sama yang udah kasih dukungan like, vote sama komennya.