
Tara masih melanjutkan aktifitasnya sendirian di apartemen Sandi. Membersihkan bagian dapur dan kemudian lanjut ke kamar mandi dan balkon. Rasa lelah dan lapar sudah sangat terasa diperut dan juga tubuhnya. Tapi dia bisa apa, karna pasti sibiang kerok tak akan kembali kesini.
Tebakkannya tak pernah salah, ditengah kesibukannya, Kila mengiriminya pesan dan beralasan kalau butik sedang ramai pembeli jadi tak bisa kembali.
"Hem, emang manusia satu ini!" gerutunya seorang diri sambil geleng - geleng kepala.
Tara cuma bisa pasrah saja. Mau marah pun percuma, Kila tak ada disini. Sekarang yang bisa dilakukan cuma browsing aplikasi diponsel untuk membeli makan agar rasa laparnya hilang.
30 menit kemudian, bel apartemen berbunyi. Makanan yang dipesan akhirnya datang. Tara beristirahat sejenak mengeluarkan semua isi makanan dan minuman dari dalam kantong kresek. Es kopi, bento, puding dan juga sekotak brownis.
Tara meneguk es kopinya lebih dulu sambil duduk dimeja makan.
"Ahhhhh ..." Rasa segar sekaligus lega lewat ditenggorokannya, seolah rasa penatnya baru saja terangkat.
"Makan apa dulu enaknya?" Tara bingung memilih.
"Em, makan ini dulu, terus ini kalau dingin lebih enak kayaknya." gumam kemudian memasukkannya kekulkas dan setelah itu lanjut makan.
Selesai makan dan istirahat. Tara kembali melanjutkan bersih - bersih. Tak terasa pekerjaan yang begitu melelahkan akhirnya selesai juga. Semua ruangan telah bersih dan tertata rapi.
"Huft" Tara membuang nafas lega.
Waktu sudah pukul 6.30 malam. Dengan rasa lelahnya, Tara kemudian meninggalkan apartemen Sandi untuk pulang kerumah.
****
Sandi sampai diapartemennya dan masuk kedalam. Tampak pemandangan apartemen yang sudah bersih. dan menarik perhatiannya. Satu persatu Sandi memeriksa setiap sudut apartemen yang baginya melebihi ekspektasinya. Apartemennya jadi benar - benar bersih bahkan baju kotor miliknya juga dicuci dan sekarang sudah tergantung dibalkon. Dan terlebih, pesannya agar tak membersihkan meja kerja juga didengar.
Sandi meletakkan ponselnya di meja ruang tengah. Dia kemudian pergi mandi dan setelah mandi langsung membuka kulkas untuk mengambil sekaleng bir.
Begitu kulkasnya dibuka. Matanya terpengarah pada puding dan juga brownis yang ada didalam sana.
'Apa ini?' batinnya, sambil mengeluarkan 2 makanan disana dan menciumnya lebih dulu.
Merasa makanannya tak basi, dengan sedikit ragu Sandi kemudian menyantap puding tersebut sesuap dulu.
"Hem," gumamnya, pudingnya meleleh di mulutnya, lezat.
"Yanzi cake." Sandi membaca logo pada wadah puding tersebut sambil manggut - manggut.
Tanpa ragu lagi, dia kemudian menyantap semuanya hingga habis begitu juga dengan browniesnya hanya tinggal beberapa potong saja.
Senang dengan keadaan apartemen dan juga kerja dari si pembersih. Sandi lantas meraih ponselnya dan menghubungi Gilang.
"Lang, lu kasih lebih yang bersihin apatemen gue." Kata Sandi selepas telponnya diangkatz
__ADS_1
"Lebih? maksudnya lu puas nih sama kerjanya dia?"
"Iya gue puas, jadi lu lebihi. Sejuta dua juta boleh."
"Syukur deh kalau lu puas."
"Terus Lang, coba lu tanya kira - kira dia mau gak kalau tiap hari dia datang kesini."
"Maksud lu, lu mau memperkerjakan dia gitu?"
"Iya"
"Waduh, kalau itu gue yakin pasti gak bakalan mau deh San."
"Lu tanya dulu baru jawab."
"Gak usah ditanyapun pasti gak mau." Gilang tetap bersikekeh karna tak mungkin seorang pemilik butik mau jadi babu.
"Pokoknya lu tanya dulu, atau kalau enggak lu kasih nomornya dia, biar gue hubungin sendiri."
"Eh, jangan!" jawab Gilang cepat, tak ingin Sandi tahu kalau yang membersihkan rumahnya adalah Kila si pemilik butik yang blowernya rusak. "Iya entar coba gue coba tanya deh."
"Iya, lu bilang nanti gue bayar 10 juta sebulan."
"Udah lu tawarin dulu, kalau bisa sampai mau."
"Iya, oke, oke. Nanti gue tanyain."
"Oke, gue tunggu kabarnya segera." Dan telponpun terputus.
Sandi memasukkan kembali sisa brownisnya ke dalam kulkas. Dia kemudian menuju meja kerjanya dengan sekaleng bir ditangannya. Dia kemudian mulai bekerja lagi membuka lembar demi lembar dokumen yang ada disana.
***
Esoknya, Pak Danu dan Randi baru saja sampai dilokasi cerdas cermat. Mereka kemudian duduk di kursi yang disediakan panitia untuk para peserta cerdas cermat.
"Kita duduk disini ya Ran," kata Pak Danu yang dijawab anggukan oleh Randi.
Beberapa saat kemudian, ruangan mulai ramai. Para peserta yang lain mulai berdatangan begitu pula dengan penyelenggara serta juri. Diantara para penyelenggara yang hadir. tampak Bu Yanti ada diantara mereka. Dengan spontan Pak Danu yang mengetahui, dan kebetulan kursinya dilewati berdiri menyapa.
"Pak Danu, selamat pagi." Sapa Bu Yanti lebih dulu dan bersalaman.
"Pagi Bu Yanti"
"Gimana Pak, udah siap?"
__ADS_1
"Sudah Bu, sudah siap." jawab Pak Danu yang setahunya Bu Yanti adalah ketua penyelenggara, karna cerdas cermat ini merupakan acara tahunan yayasannya.
"Randi." Sapa Bu Yanti pada Randi kemudian.
"Oma," Randi menjabat tangannya.
"Ini kamu yang mewakili cerdas cermatnya?"
"Iya Oma,"
"Wah, hebat dong, ini kamu lo peserta yang paling kecil."
"Iya Bu, kebetulan karna memang meskipun Randi kecil tapi dia yang mampu." saut Pak Danu.
"Oh, iya, iya." Bu Yanti senyum kagum sambil manggut - manggut. "Yang semangat ya sayang, kalau bisa jadi juaranya, kalahin yang besar - besar, oke?"
"Iya Oma, pasti" jawab Randi yakin.
"Oke, kalau gitu Oma kesana dulu ya, semangat!" Bu Yanti memberi semangat. "Pak Danu saya kesana dulu ya." Pamitnya sebelum meninggalkan keduanya.
Tepat jam 8 pagi. Sesi awal cerdas cermat dimulai. Disesi ini semu peserta masuk dalam babak penyisihan. Siapa yang bisa menjawab dengan cepat dan benar maka akan lolos kebabak selanjutnya.
Babak penyisihan, babak 10 besar dan babak 5 besar berhasil dilalui oleh Randi. Sekarang yang tersisa adalah babak final yang hanya menyisakan 3 orang peserta.
Dibanak final ini, satu persatu anak disuruh maju dan menjawab pertanyaan dari para penyelenggara. Pertanyaannya berkisar tentang pengetahuan umum maupun matematika. Dari speaker, terdengar nama Randi dipanggil.
"Ran, jangan gugup ya, seandainya gak bisa gak apa - apa, sudah sampai di final itu sudah bagus, jadi jangan jadikan beban seandainya tidak menang, oke?" Pak Danu memberi sedikit pengertian agar Randi tak gugup.
Randi berdiri di depan panggung dengan mic ditangan. Randi fokus mendengar lalu menjawab semua pertanyaan yang diberikan. 1,2,3,4,5,6 pertanyaan berhasil di jawab dengan benar oleh Randi. Sekarang giliran pertanyaan ke 7 yang mana merupakan pertanyaan penentu kemenangan.
Dengan rasa gugup dan tengang, Randi mengatur nafasnya dalam.
"Randi, coba jawab pertanyaan matematika ini." kata Bu Yanti sebagai penanya terakhir.
"Jumlah murid kelas 5 adalah 40. Hari ini, 4 murid tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Dari kasus tersebut, berapa persentase murid yang tidak masuk sekolah?"
Randi berpikir.
' 4/40 x 100% \= 10%'. Randi menghitung cepat dalam hati.
"10% Bu." jawab Randi lantang.
"Iya betul sekali.." seru Bu Yanti yang dibarengi dengan tepuk tangan riuh dari semua hadirin yang datang.
Randi, berhasil mengantongi juara 1 cerdas cermat. Semua orang bertepuk tangan untuknya. Semua orang juga tersenyum kepadanya. Randi merasa bahagia begitu juga Pak Danu sebagai gurunya, sedangkan Bu Yanti menatap bangga pada Randi si anak kecil yang menurutnya sangat istimewa.
__ADS_1