
"Mbak Kila ..." sapa Yuni begitu melihat Kila yang baru saja masuk dalam butik sambil melangkah mendekat.
"Tara mana?" tanya Kila yang malah bertanya tentang keberadaan Tara.
"Gak tahu mbak kemana." saut Nila yang saat itu juga mendekat ke Kila. Seolah menandakan kalau Yuni dan Nila sudah menunggu Kila sedari tadi.
"Mbak, Mbak .." kata Yuni dengan nada tak sabar, siap bergosip setelah berhadapan dengan bosnya. "Mbak Kila, tahu gak? tadi yang punya mall datang, terus tiba - tiba langsung peluk Mbak Tara lo Mbak."
"Iya Mbak, tadi tiba - tiba aja datang, terus langsung peluk - peluk, sambil kayak mau nangis gitu Mbak," Nila ikut nimbrung.
"He'e lo Mbak, tapi Mbak Taranya nolak, gak amu dipeluk. Iya kan Nil," Yuni mengarahkan pandangannya ke Nila, dan Nila mengangguk mantap.
"Mbak, kalau boleh tahu, emang mereka itu punya hubungan apa ya Mbak? kok bisa mereka saling kenal? apa mereka punya hubungan kekasih lama belum kelar ta Mbak? atau mereka mantan suami istri?" berondong Yuni ke Kila, sementara Nila memperhatikan dengan seksama, menunggu jawaban dari mulut Kila.
"Aissh, kalian ini! mau tahu aja urusan orang. Ini nanti kalau jam 6 aku atau Tara gak datang, langsung tutup aja butiknya. Aku mau pergi dulu." dengus Kila yanh jadi kesal sendiri karna di brondong sejumlah pertanyaan oleh kedua anak buahnya.
Kila kemudian meninggalkan butik sambil berusaha menghubungi Tara. Tapi tak satu pun panggilannya diterima oleh sahabatnya tersebut. Membuat Kila jadi khawatir, takut Tara kalut sendirian.
Kila memacu mobilnya menyusuri jalanan. Dia kemudian membelokkan stir setelah sampai di gang perumahan tempat mereka tinggal. Setelah sampai di depan rumahnya, Kila kemudian langsung turun dan masuk kedalam rumah.
"Tar, ..." seru Kila setelah matanya menemukan sahabatnya duduk sendiri menangkupkan wajahnya yang merebak dipenuhi air mata.
"Kil, Mas Sandi ..." Tara mengangkat wajahnya memandang Kila dengan wajah muramnya.
"Iya aku udah tahu," Kila mendekat ke sabahatnya. Lalu duduk disampingnya.
"Terus aku harus gimana Kil? Aku harus pergi kemana lagi Kil?" tanya Tara dengan mata gusarnya.
"Tar," Kila menjedah sejenak ucapannya. "Bisa gak kalau jangan kabur lagi." pintah Kila hati - hati.
__ADS_1
"Kila!" Tara meninggikan suaranya lagi.
"Tar, udah percuma juga kalau mau kabur lagi. Sandi udah tahu semuanya, kan?"
"Tahu atau enggak, gimana pun aku harus pergi!."
"TARA!." pekik Kila menaikkan suaranya beberapa oktaf, gemas. "Sebetulnya apa sih yang kamu takutin? kenapa harus kabur? kenapa harus menghindar? Ini udah 10 tahun lo Tar! 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Selama 10 tahun, Randi gak tahu muka bapaknya. Dan setelah baru aja tahu, langsung mau kamu pisahin, hah?"
"Randi gak butuh ayah Kil. Yang Randi butuhin cuma aku. Selama Randi belum tahu kebenarannya, aku harus bawah dia sejauh mungkin."
"Sayangnya, Randi sekarang udah sama Sandi." celetuk Kila sontak membuat mata Tara membulat.
"KILA!!" hardik Tara.
"APA? KENAPA? kamu gak terima?" Kila tak kalah menghardik, sementara Tara diam menatap gusar wajah sahabatnya.
"Kenapa kamu biarin Randi sama Mas Sandi, Kil?" kata Tara dengan suara yang berubah lirih dan bergetar, begitu juga dengan tatapan matanya.
Kila mengernyit dan wajahnya berubah mengeras. Perubahan sikap Tara jelas membuat wanita itu jadi heran.
"Dimana mereka, Kil? mereka itu gak boleh sama - sama. Mereka gak boleh ketemu. Jadi, ayo, kita susul mereka, ya ..." Tara memelas, memohon kepada sahabatnya sambil menggenggam tangan Kila.
"Tar," Kila memandang lekat sahabatnya mencari tahu maksud dari perkataan sahabatnya. "Kenapa mereka gak boleh sama - sama? apa alasannya?"
"Kil, ayo susul mereka, ya ..." Tara tak menggubris pertanyaan Kila, Tara masih memelas dan memohon.
"Tar, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku selama ini, kan?" tungkas Kila dengan tatapan mencari kebenaran dari wajah sahabatnya yang gusar.
"Iya, kan? pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku?"
__ADS_1
Tara diam. Wajahnya menunduk dengan tubuh mulai bergetar. Itu semua cukup menjawab pertanyaan Kila. Kila yang menyaksikan ekspresi Tara lantas menghela nafas kasarnya.
"Jadi apa yang gak aku tahu selama ini? kamu diancam sama keluarganya Sandi? kamu disuruh gugurin kandungan kamu waktu kamu hamil Randi? atau kamu dapat intimidasi dari orang lain?" Kila menebak - nebak.
Tara tak menjawab. Dia cuma menunduk dengan tangan meremas ujung bajunya. Gugup.
"Mana yang bener, jawab!"
Tara tetap diam.
"Tar!"
"TARA." pekiknya, sekali lagi menaikkan nada suaranya. Sahabat satu - satunya ini benar - benar membuatnya frustasi.
"Tar, aku mau tanya deh ke kamu, kamu ini sejak kapan sih jadi orang bego gini?" celetuk Kila mulai geram.
"Jangan jadi orang Oon deh, Tar. Seharusnya kalau kamu dulu beneran dapat intimidasi atau ancaman dari keluarganya Sandi, seharusnya kamu itu cerita ke aku, bukan malah diem nerima gini." dengus Kila tak tahan dan geram sendiri.
"Kalau kamu cerita, aku kan bisa bantu, kalau kamu gak cerita gimana aku bisa bantuin kamu. Kamu bilang kita sahabat. Aku bahkan rela temenin kamu tinggal disini selama bertahun - tahun. Tapi kamu, Huh!." Kila yang gemas mencengkram angin dihadapannya demi melampiaskan rasa frustasinya. Sementara Tara masih diam menunduk tak menjawab karna merasa bersalah.
Kila kembali menetralisis perasaannya. Dia menghembuskan nafas panjang beberapa kali.
"Ayo, sekarang kamu cerita ke aku semuanya, jangan ada yang ditutup - tutupi, apa yang sebetulnya terjadi dan siapa yang udah buat kamu jadi pengecut gini." todong Kila pada sahabatnya yang sejak tadi cuma diam menunduk.
Dengan berlinang air mata. Tara akhirnya menceritakan pertemuan antara dirinya dengan Sasa diwaktu itu. Jelas saja semua kisah itu membuat emosi Kila kian meluap - luap. Tak diduganya kalau Tara dapat ancaman seperti itu dari seorang wanita yang kenal pun tidak.
"Astaga Tar, kenapa kamu baru cerita sekarang sih? Seharusnya, kamu langsung cerita ke aku begitu kamu dapat ancaman kayak gitu." timpal Kila menatap lekat sahabatnya.
"Aiiishhh! dasar brengsek!!! wanita gila, berani - beraninya dia gitu, Aaarrrrggghhhh!!!!" maki Kila geram, mengingat perbuatan Sasa pada sahabatnya. "Coba aja kamu cerita ke aku dulu, pasti aku gak akan biarin kamu menderita gini."
__ADS_1
"Huft ..." Hembusan nafas kasar yang sudah tak tahu keberapa kalinya di tiupkan Kila dihadapan Tara saat itu.
"Udahlah kita jangan bahas yang lalu. Mulai sekarang kamu jangan takut lagi. Ini udah 10 tahun lamanya dan sekarang ada aku. Jadi kamu tenang aja. Kalau ada apa - apa sama kamu, aku yang akan jadi tameng buat kamu. Oke?" kata Kila setidaknya membuat Tara jadi tenang dan perlahan menganggukkan kepala.