Positif Denganmu

Positif Denganmu
bab 42


__ADS_3

Pagi itu, sebuah angkot baru saja berhenti di depan sekolah. Begitu juga dengan sebuah mobil mewah dibelakangnya. Dari dalam angkot, turunlah Tara dan Randi. Sedangkan dari dalam mobil mewah tadi turunlah Sofia.


"Kak Randi..." panggilan Sofia yang nyaring membuat Randi dan Tara menoleh kearahnya.


Gadis kecil itu, selain memanggil juga berlari riang menghampiri Randi yang masih berdiri dipinggir jalan bersama ibunya.


"Sofia..." saut Randi tak kalah riang.


"Tante..." sapa Sofia, langsung bersalaman dengan Tara.


"Hai, anak cantik ..." sambut Tara setelah salaman langsung memainkan pipi gembul gadis kecil itu.


"Tante, aku hari ini dianterin Mama."


"Oh, ya? mana mamamu?" tanya Tara sambil mengangkat pandangannya ke mobil yang tadi dinaiki Sofia.


Bertepatan dengan itu. Dari dalamnya baru saja keluar seorang wanita yang membuat Tara terpegun untuk beberapa lama.


"Itu Mamaku Tante..." tunjuk Sofia pada Mita.


'Bukankah itu Mita?' batin Tara.


Benar itu, Mita. Itu Mita yang itu. Mita teman kuliahnya. Mita adik dari seorang lelaki yang ingin sekali dilupakannya. Kenapa Mita ada disini? Bagaimana bisa? Dan sekarang terungkap fakta baru, kalau Mita adalah ibunya Sofia. Yang artinya Bu Yanti adalah Ibunya Sandi. Dan Randi setiap minggu selalu mengunjunginya.


Mita berjalan mendekat pada Sofia yang tengah bersama Randi dan Tara. Alisnya terlihat menaut dengan pandangan yang tak menduga akan bertemu dengan Tara yang sudah bertahun - tahun ini tak terdengar kabarnya bagai ditelan bumi.


"Lo, kamu, Tara kan?" pekik Mita sesaat setelah berdiri berhadapan.


"Mit," jawab Tara dengan suara bergetar dan sedikit gugup. Fakta bahwa dirinya bertemu dengan Mita secara tak terduga sungguh mengguncang hatinya.


"Mama, ini Bundanya Kak Randi." kata Sofia ditengah kegusaran hati Tara.


"Bunda?" Mita mengernyit, yang baru tahu fakta ini. "Jadi kamu ibunya Randi?."


"Iya," jawab Tara, reflek menyembunyikan Randi dibelakangnya dengan senyum yang dipaksa.


Rasanya pikiran Tara sedang kacau. Dia cuma ingin melindungi Randi saja serta tak ingin tahu kalau sebetulnya Randi adalah anak kakaknya yang selama ini disembunyikannya.


"Ya ampun, jadi si Randi ini anak kamu, toh?" kata Mita yang kemudian mengalihkan pandangannya ke Randi. "Randi, kamu kok gak cerita sih ke tante kalau Bunda kamu ini, tante sama Bundamu ini temenan, lo ..."


"Iya Bunda?" Randi menengadakan matanya ke Bundanya, bertanya tentang kebenarannya.


"Iya." jawabnya masih dengan wajah tegang sekaligus gugup.


"Tar, gimana kabar kamu? luama banget lo kita gak ketemu. Em, ada kali ya 10 tahunan?"

__ADS_1


"Iya."


"Seneng deh bisa ketemu kamu lagi. Apa lagi ternyata kamu Bundanya Randi. Pantes aja Randi pinter, nurun kamu tuh nih anak."


Tara senyum tipis.


"Oh, ya. Jadi, kamu selama ini tinggal disini?"


Tara mengangguk.


"Hem, pantes, udah gak pernah denger lagi kabar tentang kamu. Ternyata kamu udah pindah kesini toh."


Tara tetap cuma menjawab dengan senyuman tipis. Baginya, rasanya sudah ingin sekali kabur dari hadapan Mita.


"Terus sekarang kamu tinggal dimana?"


Teng ... teng ... teng ...


Suara bel mengalihkan perhatin semua anak yang sudah datang termasuk Tara dan Mita.


"Ran, udah bel, kamu cepat masuk sana." perintah Tara pada anaknya sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kalian cepat masuk sana, nanti telat." timpal Mita juga pada kedua anak kecil dihadapannya.


Randi dan Sofia kemudian berpamitan dengan mereka. Setelah itu keduanya kemudian berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke halaman sekolah dan berpisah untuk masuk kedalam ruang kelas masing - masing.


"Oh, gitu ya, sayang banget kalau gitu," Mita yang tampak kecewa karna harus mengakhiri pertemuan yang berlangsung cuma sebentar ini.


"Oh, iya Tar, boleh dong kalau aku minta nomor whatsappmu?" Mita mengeluarkan ponselnya.


"Hah?" Tara tertegun dimintai nomor telponnya. Bimbang antara memberi atau tidak.


"Berapa?" Mita sudah siap mencatat.


"Sorry ..." jawab Tara lirih. "Sorry, sorry banget ..."


Tanpa berkata apa - apa lagi. Tara langsung bergegas menghentikan angkot yang datang. Tanpa pamit, dia kemudian meninggalkan Mita yang berdiri mematung dengan wajah mengernyit heran.


'Kok?' batin Mita, serasa dejavu dengan sikap Tara yang lagi - lagi seperti menghindarinya.


Setelah pertemuannya dengan Mita. Seharian Tara tak fokus pada pekerjaannya. Karna pikirannya yang kalut dan dipenuhi dengan rasa cemas membuatnya menjadi beberapa kali melakukan kesalahan saat melayani pelanggan.


"Tar," dengus Kila menghampiri Tara di meja kasir setelah para pembeli pergi dengan wajah masamnya.


"Tar, kamu liat deh ini!" Kila menunjuk layar komputer dimana Tara salah memberikan diskon pada beberapa baju yang dibeli tadi. Padahal seharusnya baju itu tidak sedang ada diskon.

__ADS_1


"Ya ampun Kil, sorry ..." jawab Tara dengan wajah yang tampak merasa bersalah. Apa lagi saat itu diskon yang diberikan mencapai nominal lebih dari 1 juta.


"Kamu kenapa sih hari ini? kok gak fokus gitu?" emang lagi mikiran apa sih? Asli lo Tar, mulai pagi kamu ngelamun terus." Kila mulai mengomel.


"Sorry ..." Cuma kata itu yang keluar dari mulut Tara dengan ekspresi wajah yang muram.


Kila menghembuskan nafas kasarnya. Mau ngomel lebih pun percuma. Bajunya yang tadi sudah terlanjur dibawah pembeli. Dan temannya sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.


"Ayo kita ngomong dibelakang." Kila kemudian berjalan masuk keruang belakang dengan diikuti Tara dibelakangnya.


Tara langsung duduk di kursi. Sementara Kila mengambil segelas air putih dimana kemudian air putih itu dijulurkan ke Tara.


"Nih, kamu minum dulu biar fokus."


Tara menerima segelas air putih dari tangan Kila.


"Sekarang, kamu cerita ke aku ada apa sebenarnya. Kenapa seharian ini kamu ngelamun terus." Timpal Kila yang sudah duduk dihadapannya.


"Kil," Tara tampak ragu - ragu.


"Iya, apa?"


"Kil, aku ketemu Mita." ucap Tara lirih.


"Mita?" Kila sedikit menaikkan suaranya sambil mengernyit.


"Mita siapa? Mita adiknya Sandi? papanya Randi???" tanyanya lagi dengan nada lebih menekan lagi.


Tara mengangguk pelan. Wajahnya muram dan sedikit menunduk.


"Kapan? dimana?" selidik Kila.


"Tadi pagi, disekolah. Kil, Sofia ternyata anaknya Mita..." Tara mengangkat arah pandangnya ke Kila.


"WHATTT????" Kila membulatkan matanya dan mengangah tak percaya.


"Serius? Sofia anaknya Mita?" tanyanya lagi yang masih tak percaya dan Tara kembali mengangguk beberapa kali.


"Terus, kalau gitu? berarti tiap minggu???" lanjut Kila yang tak habis pikir sekaligus tak menduga kalau selama ini ternyata mereka saling berhubungan.


"Kil, aku harus gimana?" Wajah Tara mulai terlihat gusar lagi. "Apa aku pindah lagi aja? aku kembali ke Jakarta, ikut Mas Ilham? Disini, sepertinya mereka udah pindah kesini semua. Jadi, aku gak mau kalau harus ketemu sama mereka, apa lagi berhubungan. Aku gak mau kalau sampai nantinya mereka tahu kalau Randi itu ..."


"Tar," Kila memotong ucapan Tara. Sambil sedikit mencondongkan badannya kedepan, Kila kemudian menggenggam tangan Tara yang sudah terlihat gemetar.


"Kil ..."

__ADS_1


"Tar, bukannya gak apa - apa kalau seandainya mereka tahu kalau Randi anaknya Sandi?" timpal Kila menatap Tara lekat. Sementara Tara wajahnya berubah mengeras dan perlahan melepas genggaman tangan sahabatnya.


__ADS_2